KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 4 – Keputusasaan

    BAB 4 – Keputusasaan

    BY 05 Mei 2026 Dilihat: 9 kali
    BAB 4 – Keputusasaan_alineaku

    Alarm kamarku berbunyi. Seperti biasa, aku bangun pukul lima pagi.

    “Ara.. Kamu biasa bangun jam segini?!” ucap Kak Sisi sembari mengucek kedua matanya pelan.

    Aku mengiyakan hal itu, lalu beranjak dari tempat tidur meninggalkan Kak Sisi yang masih berkutat di atas tempat tidur. Ku kunjungi area dapur guna menyiapkan sarapan baik untukku maupun Kak Sisi. Dua buah telur mata sapi dan roti panggang serta kimchi sawi putih ukuran 500 gram dihidangkan di atas meja bersama dua kotak kemasan rasa susu pisang merk Indomilk.

    “Kak, sarapan sudah siap ya. Kalau Kakak masih mau tidur lagi, sarapan untuk Kakak diamankan dahulu sama saya,” kataku dari balik pintu kamar bagian luar.

    “Nanti saja.. Saya masih ngantuk soalnya,” ucap Kak Sisi dengan suara sengaunya.

    Ku tinggalkan Kak Sisi dan pergi menuju ruang meja makan untuk makan pagi. Kemudian kusimpan sarapan milik Kak Sisi dalam beberapa wadah kedap udara. Kemudian kubuka beberapa tirai rumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.30.

    Pelan dan hati-hati, kubersihkan seisi rumah tanpa ingin membangunkan Kak Sisi yang masih terlelap dalam istirahatnya. Kali ini, aku tidak menyalakan musik sebagaimana rutinitas harianku di rumah. Butuh waktu sekitar satu jam lima puluh menit hingga sudut rumah sekaligus tempat usahaku bersih dan rapi. Keringat tubuh mulai menyelimuti bak permen lengket yang mengganggu. Kuputuskan untuk mengganti baju dan menyeka diri sehingga tubuh kembali segar dan semangat beraktivitas.

    “Ara, ada yang datang ke rumahmu,” ujar Kak Sisi.

    “Kakak sambut aja. Minta dia tunggu dahulu di luar. Sebentar lagi saya akan selesai,” balasku padanya.

    “Tidak. Saya malu menemuinya karena orang yang datang wanita paruh baya dan seorang laki-laki dewasa,” ungkap beliau yang sontak membuatku penasaran pada sosok keduanya.

    Siapa mereka? Apakah mungkin Hae-Joon dan Tante So-ra? Pikiranku mulai dipenuhi tanda tanya hingga aktivitasku di kamar mandi sejenak berhenti. Agar Kak Sisi tenang, aku katakan padanya bahwa aku akan selesai dalam waktu dua menit.

    Aku keluar dari kamar mandi dengan kondisi sudah rapi dari atas hingga ke ujung Kaki. Aku coba mengintip dari balik jendela guna memastikan sosok tamu yang datang ke rumahku. Ternyata sebagaimana dugaanku, kedua tamu tersebut ialah Hae-Joon dan ibunya.

    “Tante, Hae-Joon. Ada apa kemari?” tanyaku ingin tahu.

    Mataku seketika mengarah pada amplop coklat yang dipegang oleh Tante So-ra. Aku bertanya pada beliau apa gerangan isi amplop tersebut? Apakah itu sesuatu yang ditujukan untukku? Tante So-ra mengiyakan. Namun dia ingin menjelaskan lebih lanjut hal itu secara privat alias dalam rumahku tanpa banyak orang luar tahu. Aku gegas mempersilahkan beliau dan Hae-Joon untuk memasuki rumahku.

    “Eh.. Ternyata ada tamu lain ya.. Tante dan Hae-Joon ganggu kalian tidak ya?” ucap Tante So-ra kala melihat Kak Sisi tengah berada di area dapur dengan minuman susu pisang dalam jemari tangannya.

    Aku mengatakan pada Tante So-ra, Kak Sisi bukanlah orang luar. Kak Sisi sudah dianggap olehku sebagai bagian keluarga  ̶ terutama Kak Sisi sudah tahu trauma yang kualami ̶  sehingga tak mengapa bila ia tahu tentang pembicaraanku dengan Tante So-ra.

    Secara perlahan, Tante So-ra membuka isi amplop dan memberikan sebuah arsip padaku. Di tengah sorot mataku yang membaca isi dokumen tersebut dengan hati-hati, Tante So-ra mengatakan berkas itu adalah undangan persidangan kasus kematian ibuku. Tanganku mulai goyah, seluruh saraf mata menjadi tegang dan napasku kembang-kempis secara tak beraturan. Setelah satu bulan, kabar baik ini tiba. Luapan air mata menyeruak keluar hingga pipi basah seraya bahu dan kepala menunduk mensyukuri kehadiran berita tersebut.

    Kak Sisi meletakkan kepalaku dalam sandaran bahunya sembari mengusap pelan beberapa helai rambutku. Hae-Joon bertanya padaku apakah aku baik-baik saja dengan nada lembut yang tak pernah sekalipun kudengar. Tante So-ra mengatakan padaku bahwa dia akan menemaniku menghadiri persidangan. Ia menggenggam tanganku dengan cukup kuat sehingga kurasakan kehangatan dari balik sentuhan tangannya.

    “Kak Sisi, hari Jumat kan jadwal saya latihan fisik. Apakah nanti saya akan kena masalah jika melewatkan latihan untuk hadir dalam persidangan lusa?” ujarku.

    Kak Sisi akan membahasnya dengan Kak Hoseok untuk mengizinkan aku datang dalam jadwal persidangan. Kedua tanganku melingkar menutupi punggung Kak Sisi seraya berkata, “Terima kasih Kak. Kakak selalu ada untuk saya.” 

    Kak Sisi melepas dekapan, lalu memegang kedua pipiku dan berkata dia juga bahagia bisa membantuku sepenuh hati. 

    Tiba-tiba Hae-Joon mengingatkan aku untuk bersiap-siap menyambut pelanggan toko karena kini waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi. Kak Sisi berkata hendak pergi keluar sebentar untuk mencari udara segar. Tante So-ra menawarkan bantuan mendampingi Kak Sisi. Senyum tulus dan rona bahagia tampak menghiasi wajahnya. Ia gegas memasuki kamar mandi dengan mengambil satu set pakaian milikku yang cocok untuknya.

    Aku hanya bisa tertawa geli melihat tingkah lakunya. Hae-Joon bertanya padaku tentang jadwal harianku ke depannya. Aku menuturkan beragam agenda yang telah disusun oleh Kak Sisi dan Kak Hoseok untukku. Hae-Joon memangku telapak tangan kirinya dengan tatapan yang cukup dalam.

    “Hae-Joon, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyaku. 

    Hae Joon menyampaikan sejak pertemuanku dengan Kak Hoseok, aku berubah menjadi orang yang sibuk. Ia justru menanyakan pendapatku apakah aku bahagia bertemu dengan Kakak kandungku? Pikiranku terhenti, mencoba menemukan maksud perkataannya dan bagaimana aku harus memberi reaksi pada sahabatku itu. Dengan cermat, ku sampaikan bahwa saat ini aku bersyukur bisa mengenal Kak Hoseok dan para kenalannya  ̶ termasuk Kak Sisi ̶  karena tanpa mereka aku tidak bisa memiliki kesempatan menjadi versi terbaik diriku. Hae-Joon memalingkan wajahnya dengan so9rot mata yang terlihat tidak tenang.

    “Kamu kenapa selalu diam membisu? Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu, Hae-Joon?” celotehku. 

    Akan tetapi, Hae-Joon menolak menyampaikan hal itu. Jiwaku mendadak terguncang dengan beragam tanda tanya yang tidak tuntas memperoleh balasan. Mengapa Hae-Joon berusaha menghindar? Hal apa yang membuat dia sangat enggan menjawab pertanyaanku? Monolog pikiran terangkai tanpa susut.

    Kak Sisi berpamitan padaku lalu melangkah bersama dengan Tante So-ra, diikuti langkah Kaki Hae-Joon di belakang mereka. Setelah ketiganya menghilang dari pandangan, aku gegas menata diri sehingga tampil menawan di hadapan pengunjung toko. Kubuat guratan halus di atas media gambar selagi menanti kedatangan para pelanggan. Sketsa yang berisikan member-member seventeen baik kesukaan, ketidaksenangan, maupun proporsi tubuh masing-masing. Kesyahduan terbalut hingga pikiran jernih pada rancangan mengalir halus tanpa hambatan. Dengan bertumpu pada berbagai aktivitas Seventeen  ̶ termasuk acara Going Seventeen ̶  kususun tulisan dan coretan yang terlihat apik dan sistematis.

    Tiba-tiba dua orang datang. Satu orang perempuan tua dan seorang lagi remaja perempuan. Rupanya hubungan mereka ialah ibu dan anak. Ibu dari anak tersebut mengatakan bahwa putrinya sedang mencari hanbok untuk acara kelulusan para senior SMA-nya dua pekan berikutnya. Ia ditunjuk oleh gurunya sebagai salah satu siswa pemberi pertunjukkan dalam acara tersebut. Ternyata anak perempuan itu ingin menggunakan hanbok karena ia terinspirasi dari sosok Song So-Hee. Seorang penyanyi yang selalu tampil cantik menggunakan beragam hanbok. 

    Binar mata dan senyum lebar saat gadis tersebut menerangkan sosok penyanyi itu membuatku sadar, anak itu ingin tampil cantik layaknya sang idola. Tanpa sadar, kedua bibirku menyungging ke atas menyikapi tingkah laku anak perempuan tersebut.

    “Oke, saya akan membantumu menjadi gadis cantik untuk pementasan nanti. Namun sebelumnya saya minta maaf, kemungkinan saya hanya akan memodifikasi hanbok-mu dari model-model pakaian yang sudah ada akibat keterbatasan waktu yang saya punya. Kamu tidak keberatan?”

    Gadis itu menampilkan senyum tulusnya dan mengatakan kalau ia tidak keberatan tentang hal yang kusampaikan. Tangan kananku menyentuh lengan kiri atas remaja tersebut dan kukatakan hendak mengukur proporsi tubuhnya. Mulai dari lingkar leher, lebar bahu, lingkar dada maupun pengukuran tubuh lainnya supaya meminimalisir kesalahan dalam membuat hanbok sesuai permintaan sang gadis. Usai kulakukan metode pengukuran, aku menyerahkan secarik kertas pada ibunya. Agar saat hanbok yang kubuat selesai, ibu dan anak tersebut dapat mengambil pesanannya dari tokoku.

    Akhirnya ibu dan anak perempuannya itu pergi meninggalkanku sendiri di dalam toko yang juga rumah pribadi. Selang dua puluh menit kemudian, Kak Sisi kembali bersama dengan Hae-Joon dan ibunya. Namun tiba-tiba ia mendekap tubuhku dengan sangat erat sembari berkata, “Saya tidak tahu kamu sudah melalui hal yang berat setelah kepergian ibumu.” Perkatan Kak Sisi membuat kening wajahku berkerut dan kulepas pelukannya tersebut.

    “Kak Sisi kenapa? Memangnya ada apa dengan saya?” soalku dengan menatap dalam pada dua bola matanya.

    “Saya baru diberitahu oleh Tante So-ra kalau kamu sempat depresi hingga ingin bunuh diri akibat rasa bersalahmu pada ibumu,” ucap Kak Sisi.

    Kualihkan pandanganku pada Tante So-ra sembari berucap, “Tante sudah menjelaskan semuanya pada Kak Sisi tentang kondisi saya seluruhnya?” 

    Beliau mengangguk dan aku hanya bisa menghembuskan nafas cukup dalam. 

    “Saya minta maaf bila selama ini merahasiakannya dari Kakak. Bagi saya, tidak menceritakan hal itu pada Kakak adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri saya sendiri yang sampai saat ini masih butuh pemulihan jiwa. Mungkin Kakak sudah mendengar dari Tante So-ra kalau saya pernah ikut komunitas terapi psikologis demi mengurangi keinginan menyakiti diri saya sendiri?”

    Kak Sisi mengangguk dan kulihat genangan air mata mulai memenuhi kedua pelupuk matanya.

    “Sebenarnya saya juga mengalami hal buruk terkait orang tua saya,” ucap Kak Sisi.

    Kugenggam kedua tangan Kak Sisi dan memandang ke arahnya dengan sorot mata dalam. Kemudian mengarahkan seluruh indra pendengaranku supaya tak ada miskomunikasi antar kami berdua.

    “Orang tua saya bercerai pada waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA. Semua bermula sejak perusahaan ayah bangkrut. Akibatnya, ayah sering mabuk-mabukan setiap hari dan beberapa kali menyakiti ibu saya tiap ia hilang kesadaran. Paman dan bibi saya yang merupakan orang tua dari sepupu saya tahu tentang perbuatan ayah saya tersebut. Akhirnya berkat paman dan bibi, ibu saya bisa mengurus perceraian dengan ayah saya. Namun, ayah saya tidak setuju dengan perceraian tersebut. Bahkan dia sempat menikam ibu saya hingga kehabisan darah. Saat ibu saya dilarikan ke rumah sakit, nyawanya sudah tak tertolong.” 

    Pandangan mata tertunduk dan linangan air mata Kak Sisi membuatku mengerti kami memiliki kesedihan yang sama. Kehilangan sosok ibu yang merupakan pukulan berat bagi kami masing-masing.

    “Lalu, Ayah Kakak sekarang dimana?” tanyaku lirih.

    “Karena perbuatan Ayah itu, dia dimasukkan ke penjara oleh Paman dan Bibi saya. Sejak kepergian Ibu, saya tinggal bersama sepupu saya dan orang tuanya,” ujar Kak Sisi dengan sedikit terbata-bata karena masih beradu dengan suara isak tangisnya.

    Kurangkul Kak Sisi dan berkata, “Sekarang di antara kita sudah tidak ada rahasia. Kita juga sama-sama pernah terluka karena kehilangan seorang ibu. Apakah Kakak mau sama-sama menguatkan diri dengan saya yang juga masih belajar ini?” 

    Kak Sisi ikut merangkulku dengan cukup kuat sembari mengucapkan ia bersedia belajar bersamaku. Dalam dekapan erat kami, kulihat Tante So-ra tersenyum hangat ke arahku. Aku membalas senyumannya dengan senyuman tulus pula.

    Setelah sepuluh menit berlalu, perasaan sedihku dan Kak Sisi telah hilang. Kemudian Kak Sisi melihat rancangan gambarku sebelumnya. Ia bertanya apakah aku yang membuat sketsa tersebut? 

    “Iya, maaf masih gambaran kasar saja Kak,” tuturku sembari tertawa kecil. 

    “Menurutku ini sudah bagus. Ini saja masih sketsa kasar. Apalagi coretan halusnya. Saya tidak sabar melihat desain pakaian buatanmu untuk acara Going Seventeen nanti,” sanjung Kak Sisi yang berhasil membuatku tersipu malu. 

    “Jadi, kapan kamu mau buat sketsa baju untuk acara itu?” tanya Kak Sisi yang sontak membuatku terdiam dan kedua bola mataku berputar cepat ke sana ke mari. Butuh waktu dua menit hingga aku mantap memberi jawaban pada Kak Sisi.

    “Sepertinya saya butuh satu bulan lebih Kak untuk mendapatkan ide desain yang cocok, Kak. Oh iya Kak, sebenarnya Going Seventeen yang akan diadakan itu konsep acaranya seperti apa selain layanan cafe dan menggunakan saya sebagai model sementara acara tersebut?” tanyaku memastikan.

    “Sejauh ini saya hanya tahu Going Seventeen yang melibatkan kamu dan cafe saya, itu untuk memperingati anniversary day ke 17 debut Seventeen. Dari penjelasan Mingyu, semua member Seventeen akan menampilkan tiga lagu dengan tambahan IU sebagai guest star acara mereka,” tutur Kak Sisi.

    Mulutku terbuka lebar tak sengaja dan mencondongkan bahu lebih dekat dengan Kak Sisi, memastikan perkataan Kak Sisi tersebut tak salah kucerna. 

    “IU, Kak? Diundang dalam hari perayaan ke 17 grup Seventeen? Saya gak salah dengar kan Kak?” ungkapku tak percaya.

    Bahkan Tante So-ra dan Hae-Joon ikut mendekat ke arahku dan Kak Sisi. Seolah mereka juga penasaran tentang kepastian berita itu. 

    “Saya dengar seperti itu langsung dari Mingyu. Entah benar atau tidak, IU akan berpartisipasi dalam perayaan debut Seventeen ke-17,” ucap Kak Sisi yang membuat tubuhku sedikit lemas dan bibir bawah yang menonjol ke depan. Rupanya Tante So-ra juga terlihat serupa dengan apa yang kulakukan.

    “Tante sama Ara kecewa ya?” tanya Kak Sisi dengan sorot matanya yang melebar.

    “Tante hanya ikut sedih saja. Kasihan Ara tidak bisa ketemu idola lainnya,” ujar Tante So-ra.

    “Haha, tante bisa aja. Padahal tante juga penggemarnya IU, kan?” sindirku seraya tertawa kecil.

    Tante So-ra tersenyum lebar sembari meletakkan telapak tangannya di belakang leher. Aku, Kak Sisi dan Hae-Joon tertawa menimpali perilakunya itu. 

    “Lalu selain mengundang IU, ada informasi apa lagi terkait konsep perayaan Seventeen ke 17, Kak?” 

    Bola mata Kak Sisi tampak berputar cepat. Semenit kemudian, Kak Sisi memberitahu jumlah Carat yang dipilih menjadi tamu peserta Going Seventeen sesuai dengan total member grup Seventeen  ̶ yang tidak lain berjumlah 17 orang ̶  itu akan diberikan gift satu set pakaian berciri khas Seventeen. 

    “Kamu yang akan mendesain 3 set pakaian untuk tiga carat terpilih dari keseluruhan peserta acara,” terang Kak Sisi. 

    Sejenak aku terdiam, kemudian berucap, “Lalu apa yang saya lakukan saat menjadi model dalam acara perayaan grup Seventeen Kak?” 

    “Kamu hanya ikut serta dalam koreografi dance Fallin’ Flower,” tutur beliau.

    “Tunggu, jadi saya harus menari bukan melakukan fashion show?!” teriakku dengan pupil mata yang melebar.

    Kak Sisi menggeleng. Seketika tubuhku merosot ke lantai dan menutup bagian wajahku. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Kulitku mulai basah dengan keringat dingin, pacuan jantungku menjadi tak beraturan. Aku kalah pada kenyataan yang baru saja kudengar. 

    “Sebenarnya kamu sedikit melakukan pertunjukan fashion, tetapi tugas utama kamu lebih tepatnya dancer grup Seventeen saat lagu Fallin’ Flower versi korea diputar,” jelas Kak Sisi. Beliau menambahkan bahwa hanya sedikit bagian untukku dalam pertunjukan dance tersebut.

    “Seberapa sedikit, Kak?” tanyaku memastikan.

    “Kamu akan tahu setelah kamu berlatih langsung dengan para member Seventeen ya,” ucap Kak Sisi yang membuatku tertegun. 

    Berlatih dengan member Seventeen? Oh, betapa senangnya bisa mendapatkan kesempatan itu. Batinku bahagia hingga kedua sudut pipiku terangkat lebar.

    “Oh iya, sore ini latihan pertama kamu dengan para coach ya. Nanti Hoseok akan jemput kita dengan mobilnya,” ujar Kak Sisi. Benar, hari ini awal latihan menguruskan badan. Akan kuatkah aku menjalani latihan-latihan ke depannya? Pandanganku sedikit kabur, rahang dan pipi ikut menegang hingga lamunan buyar saat Kak Sisi menjentikkan tangannya ke arahku.

    “Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Kak Sisi.

    “Tidak ada apa-apa Kak,” ucapku mengalihkan rasa penasaran Kak Sisi padaku.

    ——————————

    Waktu sudah menunjukkan jam setengah empat sore. Namun Kak Hoseok belum juga datang. Sedangkan jadwal latihan dengan coach pukul 16.15. Bulir keringat pada kening Kak Sisi mulai bercucuran dan ia berjalan bolak-balik. 

    “Kak, jadi sebaiknya bagaimana? Apa kita tetap menunggu Kak Hoseok datang kemari?” tanyaku lirih. Tangan kanan Kak Sisi menopang pada dagunya dan dahi mengernyit cukup lama. Semenit kemudian Kak Sisi meminta tolong pada Hae-Joon untuk bisa mengantarkanku ke tempat latihan. Hae-Joon tidak keberatan atas ide Kak Sisi tersebut. 

    “Ara, kamu lekas berangkat dengan Hae-Joon. Nanti biar saya sampaikan ke Hoseok kalau kamu sudah diantar oleh Hae-Joon ke tempat latihan,” imbuhnya sembari menepuk dua kali bahu kiriku.

    Aku menaiki motor Hae-Joon setelah berpamitan pada Tante So-ra dan Kak Sisi. Aku melihat map untuk memberikan arahan yang tepat bagi Hae-Joon menuju tempat latihanku. Akhirnya aku dan Hae-Joon tiba di lokasi setelah dua puluh satu menit berlalu. Kuberikan helm pada Hae-Joon dan mengajaknya bertemu dengan para coach.

    Kusapa kedua pelatihku lalu memperkenalkan Hae-Joon pada mereka. Begitu pula masing-masing pelatihku memperkenalkan diri mereka padaku dan Hae-Joon.

    “Mungkin kamu sudah tahu tentang informasi kami berdua lewat data identitas dari Kakakmu. Jadi kami tidak perlu panjang lebar memperkenalkan diri masing-masing. Kita langsung ke sesi latihan saja ya.. Namun sebelum kamu latihan, saya catat proporsi dan komposisi tubuh awal kamu dahulu,” terang pelatih Jang. 

    Aku menuruti semua arahan pelatih tersebut. Hasil pengukuran menunjukkan berat badanku 75 kg, tinggi badan 164 cm dan pengukuran lingkar tubuh serta kadar komposisi tubuh lainnya  ̶ seperti lingkar perut, lingkar panggul, lingkar lengan, lingkar paha, lingkar dada, komposisi air, kadar lemak organ dalam, massa tulang, persentase lemak tubuh juga massa otot rangka ̶  menunjukkan bahwa tubuhku masuk kategori berat badan yang lebih dari batas normal. Kemudian pelatih Jang menetapkan body goal untukku antara 44-50 kg demi mencapai keberhasilan acara perayaan debut Seventeen ke 17.

    “Ara, selama tiga hari ke depan, kamu akan fokus jogging selama 30 menit. Kemudian bermain skipping dalam sepuluh menit. Setelah itu, 20 menit kamu latihan kardio intensitas tinggi dengan dibimbing oleh pelatih Park,” tutur pelatih Jang. Beliau juga menambahkan bahwa mulai besok aku akan mendapatkan menu diet dengan bahan-bahannya sudah disiapkan oleh pelatih Jang. Aku hanya diminta untuk mengolah bahan-bahan tersebut supaya aku terbiasa konsumsi harian sehat dan seimbang dengan step pengolahan bahan sudah disusun amat baik oleh pelatih Jang.

    Aku mulai mengitari area latihan. Sementara pelatih Park melihatku dari kejauhan. Baru lima menit, kulit lenganku dipenuhi bulir keringat dan nafas kembang kempis tak beraturan. Kala waktu sudah dua puluh menit berjalan, keningku basah dan Kakiku mulai bergetar hingga beberapa kali aku berteriak, “Pelatih! Saya sudah menyerah. Saya ingin berhenti saja!.” Namun pelatih Jang justru mendorongku menyelesaikan tugas lari yang telah diperintahkan. 

    “Pelatih Jang, bolehkah saya beristirahat sebentar? Rasanya telapak Kaki saya sudah terasa panas karena berlari ke sana kemari. Nanti saya lanjutkan bila sudah lebih baik kondisi tubuh saya,” ucapku dengan tarikan nafas dangkal. 

    “Kamu tidak perlu berlari, lanjutkan saja dengan berjalan sampai 30 menit berakhir,” ujar Jang kochi-nim.

    Astaga.. Aku masih harus menyelesaikan sepuluh menit dengan berjalan?! Bagaimana aku bisa melakukannya sampai akhir jika pahaku saja tegang semua.. Keluhku dalam hati.

    Dengan sisa tenaga yang ada, aku melangkahkan Kaki dengan bimbingan pelatih Jang di samping kiriku. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan tugas lari dalam waktu 30 menit, meskipun detak jantungku rasanya mau copot dari tempatnya. Aku hendak bersandar dengan mengistirahatkan Kakiku yang sudah berdenyut-denyut. Namun Park kochi-nim melarangku untuk rehat sejenak. Ia justru memintaku untuk mengatur nafas dan minum air putih. Agar aku tidak nyaman dengan waktu istirahat di saat aku masih harus melanjutkan rangkaian program latihan yang ditetapkan oleh pelatih Park.

    “Pelatih, tapi saya sudah sangat lelah. Tidak bisakah saya beristirahat sebentar?” pintaku sembari menatap dalam ke arah Park kochi-nim. Akan tetapi, hanya jawaban tidak yang keluar dari mulut beliau. 

    Oh tidak! Aku harus menjalani latihan neraka ini hingga dua hari ke depan dan beberapa pekan berikutnya. Pekikku dalam hati seraya menutup setengah wajahku dengan kedua tangan. 

    Tiba-tiba kurasakan udara sejuk menghampiri, rupanya Hae-Joon tengah menyalakan kipas mini portable ke arahku. “Kamu dapat kipas itu dari mana? Kamu bawa dari rumah?” soalku sembari kerutan dahi keluar dan pupil mata yang melebar. 

    “Tidak, saya diminta pelatih Park untuk menyalakan ke arahmu,” ungkap Hae-Joon yang sontak mengalihkan pandanganku pada pelatih kebugaran.

    Tak kusangka, pelatih Park amat perhatian padaku. Batinku senang hingga mataku berbinar-binar. Kulanjutkan latihan fisikku. Walaupun saat aku bermain lompat tali dan mengikuti gerakan pelatih Park kala waktu HIIT (High-Intensity Interval Training) berlangsung, kulakukan dengan kurang sempurna. Namun setelah aktivitas pendinginan, pelatih Park berkata, “Proses tumbuh terbaik bukan dilihat dari hasil yang sempurna, tapi bagaimana tubuh terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baik. Kunci keberhasilan setiap proses itu terletak pada konsistensi. Hanya orang-orang cerdas yang selalu menikmati proses pertumbuhannya menjadi lebih baik. Teruslah semangat dan jaga konsistensi itu!” Ucapan pelatih olahragaku itu berhasil membuat wajahku merona. Aku sungguh tak menyangka beliau memberikanku motivasi berharga. Padahal ia bukan seorang motivator. Kata-katanya itu membuatku percaya bahwa aku mampu meraih impianku menjadi seorang model untuk perayaan grup Seventeen nanti.

    Aku pamit pulang pada kedua pelatihku dengan membawa bahan-bahan untuk persiapan dietku selama seminggu ke depan. Kunaiki motor milik Hae-Joon dan kami pergi ke arah rumahku berada. Di tengah perjalanan, Hae-Joon sempat mengajakku bicara. Dia berkata bahwa kedua pelatihku sangat baik dan bertanya bagaimana caraku hingga bisa mengenal mereka berdua? Kusampaikan hubunganku dengan para coach bermula dari Kak Hoseok dan Kak Sisi yang membantuku. Namun, aku tak mengerti tiba-tiba Hae-Joon hanya diam tak berbicara kembali. Akhirnya kami sampai di rumahku tanpa membahas hal lain setelah pembicaraan tersebut.

    Kak Sisi menyambut kedatanganku. Di belakangnya, kulihat Tante So-ra dan Kak Hoseok. Kami semua masuk ke dalam rumah termasuk Hae-Joon yang selesai memarkirkan motornya. Aku menceritakan bagaimana hasil latihanku setelah Kak Sisi mencoba bertanya padaku. Kak Sisi tersenyum dengan barisan giginya yang terlihat rapih kala mendengar penuturanku. Akan tetapi, sorot matanya seakan sendu yang bertolak belakang dengan makna kebahagiaan.

    “Kak, apa ada hal yang mengganggu pikiran Kakak saat ini?” tanyaku pelan. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” soal beliau. Kujelaskan dengan sedikit terbata-bata bahwa aku mengira Kak Sisi sedang menyembunyikan kesedihan hatinya di balik senyum palsu. Kak Sisi mengelus rambutku dan menyatakan bahwa dia hanya sedang khawatir pada kondisiku apakah aku akan kuat menjalani proses latihanku beberapa bulan ke depan. Namun aku sampaikan tidak akan menyerah, meskipun jalannya memang tidak mudah. Kak Sisi tersenyum tipis lalu mencondongkan tubuhnya sembari mengusap daguku dengan jari-jari dan berucap, “Saya benar-benar senang kamu menjadi pribadi yang lebih optimis.” Ia juga mengingatkan hari minggu nanti adalah bimbingan modeling perdana dan berharap aku bisa terus optimis terutama pada kelas tersebut.

    Kurangkul lengan kanan Kak Sisi dan menyandarkan kepalaku pada bahu kanannya seraya berkata, “Kakak doakan saja supaya selalu menjaga semangat konsisten saya setiap harinya.” Kak Sisi menyentuh sekejap batang hidungku dan mengatakan akan selalu mendoakan yang terbaik untukku. Kak Hoseok berkata di tengah sikap manjaku pada Kak Sisi, “Saya minta maaf tidak jadi mengantarmu ke tempat latihan. Kamu bisa maafkan Kakak kandungmu ini, Ara?.” 

    “Tenang saja Kak. Masalahnya juga sudah diselesaikan” ucapku. Kak Hoseok tersenyum, kemudian memberikan sebuah wadah kedap udara padaku. “Apa isinya Kak?” ujarku sembari membuka dan mencium aromanya. “Itu es krim strawberry dengan campuran pisang, almond milk dan sedikit perasan lemon. Makanlah itu sedikit untuk mengembalikan mood happy-mu. Tenang saja, itu aman untuk masa dietmu” tutur Kak Hoseok. 

    “Kakak beli ini di mana?” tanyaku ingin tahu. “Beli? Saya buat sendiri untuk adik saya yang lelah habis olahraga” jawabnya. Ya ampun, hari ini aku benar-benar mendapatkan banyak perhatian dari orang-orang terdekatku. Betapa bahagianya bila ini terus berlanjut. Gumamku, disertai lengkungan bibir lebar hingga kedua sudut pipi terangkat ke atas.

    Waktu demi waktu berlalu, seluruh tamu  ̶ Kak Hoseok, Kak Sisi dan yang lainnya ̶  pulang ke rumah meninggalkanku sendiri. Aku mengunci seluruh akses rumah dan menutup tirai, kemudian duduk di meja yang biasa menjadi tempatku menerima pesanan para pengunjung toko. Kutulis kalimat “Harus selesai mendapatkan referensi desain dalam waktu satu bulan!” pada secarik kertas yang berisi coretan gambar tujuh belas member Seventeen. Lalu menaruhnya dalam laci dan gegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

    —————————

    Hari ini adalah hari persidangan. Hari yang sudah kunantikan pelaksanaannya. Kak Sisi, Hae-Joon dan Tante So-ra mendampingiku, sedangkan Kak Hoseok belum tiba. Padahal dua hari yang lalu aku sudah memberitahu Kakak kandungku hari ini merupakan hari penting. Hari ketika aku tahu siapa pelaku tabrak lari yang telah merenggut nyawa ibuku. Namun, aku melihat hal aneh. Kak Hoseok justru duduk di meja saksi bersama teman psikiater-nya. Seketika otot-otot wajahku tegang disertai pandangan yang mulai kabur. Apa yang sebenarnya terjadi? Kedua tanganku terapit dan berkali-kali saling bergesekan mencari jawaban tepat terhadap situasi yang ambigu.

    Selama persidangan, kudengar penjelasan dari pihak-pihak peserta sidang  ̶ termasuk penuturan dari Kak Hoseok dan teman psikiaternya ̶  yang membuatku trauma dan bisu. Ternyata Kak Hoseok adalah anak dari pelaku tabrak lari yang selama ini aku cari? Ditambah lagi ibu Kak Hoseok sengaja menabrak ibuku hanya bermula dari rasa iri atas kedalaman cinta ayah terhadap ibuku? Air mata mulai mengalir hingga kedua pipiku basah. Beragam fakta dilemparkan ke arahku sampai aku benar-benar tak berdaya. “Ara, kamu harus kuat. Masih ada Kak Sisi, Hae-Joon dan Tante So-ra yang selalu ada di samping kamu..” ucap Kak Sisi sembari mendekapku erat. 

    Kuat? Bagaimana aku bisa kuat setelah orang yang selama ini aku percaya membantu proses perubahanku justru adalah orang yang menikamku hingga tak berdaya? “Kakak tidak tahu aku benar-benar terpukul atas semua kenyataan yang baru kudengar” jeritku seraya menatap tajam kedua mata Kak Sisi. Seluruh peserta sidang melihat ke arahku. Kudengar Kak Sisi berusaha menenangkan pengunjung lain. Ia gegas duduk kembali, kemudian berbisik melalui telingaku. “Setelah sidang ini selesai, kamu boleh melampiaskan amarahmu pada Hoseok dan meluapkan kesedihanmu, Ara. Tapi Kakak mohon, kamu harus tenang sampai kegiatan selesai ya. Hanya satu permintaan Kakak sekarang” ungkap Kak Sisi yang perlahan membuat emosiku turun hingga dalam fase tenang. Ya, aku harus tabah untuk saat ini. Setelah proses sidang selesai, aku akan menuntut semua rahasia yang selama ini disimpan oleh Kak Hoseok. Aku juga akan melampiaskan semua amarahku pada sosok Kakak yang bernilai buruk untukku!

    Sidang rapat selesai. Hakim memutuskan hukuman tiga puluh tahun penjara untuk ibu kandung Kak Hoseok. Cih, hanya 30 tahun? Bagiku, lebih baik dia dihukum mati karena telah mengambil nyawa ibuku! Hatiku penuh gusar, seluruh kulitku menegang dan nafas tersengal-sengal. Tiba-tiba Kak Hoseok menghampiriku usai seluruh peserta meninggalkan ruangan  ̶ terkecuali Kak Sisi, Tante So-ra, Hae-Joon dan Kak Baek Chung-Ho ̶  memohon untukku berbicara empat mata dengannya. Bagus, aku memang ingin menuntut semua kebohongannya! 

    “Anda mau berdalih apa sekarang? Bagi saya, anda adalah Kakak terburuk dan tidak ingin saya anggap hubungan darah yang sungguh memuakkan! Selama ini anda hanya berpura-pura baik di depan saya. Kehadiran anda hanya menambah trauma buruk saya! Saya benci anda!” teriakku sembari mengepalkan tangan kanan di hadapan Kak Hoseok. Kak Hoseok tak membalas perkataanku, ia hanya menunduk yang membuatku benar-benar jengkel padanya. “Anda bilang mau ajak saya bicara? Kenapa anda hanya diam? Apakah anda menyadari bahwa anda adalah orang munafik?!” ujarku dengan nafas cepat dan pacuan jantung yang bekerja lebih keras.

    Kak Hoseok menatap wajahku dengan pandangan kosong. “Apakah sekarang saya boleh mengatakan sesuatu?” lirihnya. “Katakan saja apa yang anda mau! Saya sungguh benci jika anda terus membohongi saya!” pekikku. “Saya tahu saya bukan Kakak terbaik. Saya boleh dibenci dan dianggap orang munafik oleh kamu. Tapi jika kamu tahu, saya juga benci lahir dari rahim ibu saya dan punya hubungan satu ayah denganmu” terang Kakak laki-lakiku.

    Perkataan Kak Hoseok membuat bola mataku berputar cepat. Apa maksud ucapannya itu? Jadi dia benci dengan orang tuanya, termasuk ayah kami? Tanda tanya besar mulai menghantui pikiranku. “Sebenarnya apa maksud ucapan Kakak barusan?” lirihku. “Saya adalah anak yang lahir tanpa rasa cinta utuh kedua orang tua. Sebelum ibumu hamil di luar nikah, ayah kandung kita lebih dahulu menikah dengan ibu saya. Namun, mereka tidak saling mencintai. Akibat rasa gengsi yang besar, ayah dan ibu mengikuti program bayi tabung. Saya pun berhasil lahir melalui rahim ibu saya. Walaupun ibu tidak mendapatkan cinta ayah, ibu selalu mendapatkan harta ayah termasuk perusahaan yang diwariskan untuk saya sebagai penerusnya. Namun, saat ayah menghadapi masa sekarat, ayah memberikan wasiat akan memberi ibumu sepuluh juta won untuk permintaan maaf telah menyakiti perasaan ibumu yang merasa dibohongi oleh ayah kita. Dahulu ayah sempat membohongi ibumu kalau dia belum ada ikatan pernikahan dengan siapapun. Hingga ayah dan ibumu berpacaran dan berakhir setelah ibumu tahu kebenaran bahwa ayah sudah punya istri dan anak laki-laki yakni saya. Kepergian ibumu menjadi pukulan berat untuk ayah, terutama setelah dia tahu ibumu sedang mengandung kamu” terang Kak Hoseok yang membuatku diam terpaku.

    “Masalah semakin rumit setelah ayah tahu ibumu mengalami kesulitan biaya menghidupi kamu. Dia tahu lewat mata-mata yang dikirim olehnya. Namun ibumu tahu soal itu, bahkan mengecam ayah untuk tidak ikut campur dalam kehidupan ibumu. Saat ayah sakit, rasa bersalahnya terus menghantui. Hingga keluarlah rencana wasiat untuk ibumu, tapi ditolak keras oleh ibu saya karena ayah pernah berjanji pada ibu saya tidak akan memberikan hartanya sedikitpun untuk ibumu. Akibat ayah yang melanggar janjinya, ibu saya merasa dikhianati. Dia benci ibumu yang telah mengambil hati ayah, ditambah lagi diberikan uang meski hanya sebuah rasa iba ayah terhadap ibumu. Rasa benci ibu saya membuat dia kehilangan akal hingga tega menabrak ibumu saat itu. Setelah ayah kita tahu ibu saya adalah pelaku tabrak lari ibumu, ayah semakin jatuh sakit. Namun, dibalik kesedihan ayah atas kematian ibumu, dia juga merasa bersalah pada ibu saya. Saat polisi hendak menangkap ibu saya, ayah memohon kepada pihak kepolisian untuk memberikan jangka waktu satu bulan. Dia berjanji akan mengumpulkan bermacam-macam bukti yang berusaha dihilangkan oleh ibu saya dan menerima sepenuhnya keputusan pengadilan untuk memenjarakan ibu saya. Sebenarnya saya tahu, ditengah pencarian bukti tersebut ayah juga mencoba menyembuhkan mental ibu saya yang menjadi tidak waras sejak insiden tabrak lari ibumu. Ayah kita memang salah, Ara. Akan tetapi, saya tahu ayah melakukan yang dia bisa untuk kita berdua. Bahkan dia yang meminta saya melindungimu setelah kepergian ibumu dan ayah” tutur Kak Hoseok yang lagi-lagi membuatku kehabisan kata-kata.

    “Kak, sepertinya saya perlu waktu untuk sendiri. Saya mohon beri saya kelonggaran untuk tidak mengikuti bimbingan apapun yang telah disusun oleh Kak Hoseok dan Kak Sisi sampai saya benar-benar mampu untuk bangkit kembali” jelasku dengan suara pelan. Aku pamit meninggalkan Kak Hoseok dan lainnya, memilih berjalan Kaki menuju halte bus terdekat. Saat ini aku hanya butuh ketenangan untuk bisa menjernihkan pikiran yang sudah kusut oleh beragam kenyataan pahit bagiku.

     

     

    Kreator : Rofa Sholihatunnisa (Fatuni_Shigeru)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 4 – Keputusasaan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021