Dalam dunia imajinasi apapun bisa terjadi, termasuk desa, kota, dan berbagai tempat indah. Nah salah satunya adalah Air Terjun Stroberi, tapi sebelum itu terjadi terdapat kisah sedih di dalamnya. Apakah kisahnya? mari kita simak ya.
Di sebuah desa yang dikenal dengan kualitas buah yang melegenda bernama Desa Stroberi, tapi hampir semua penduduk di desa itu pelit dan kejam. Kenapa begitu? Karena mereka semua serakah, mereka lebih suka pamer dan menindas yang lemah. Tidak sedikit juga penduduk yang miskin menjadi korban ketidak adilan. Itulah yang membuat desa ini tidak berkembang.
Ada satu keluarga yang kurang mampu dan tidak memiliki lahan untuk menanam buah Stroberi, padahal mereka memiliki bibit bagus. Keluarga itu bernama keluarga Stroberi Kuning karena memiliki rumah yang berwarna kuning terang. keluarga tersebut berusaha meminta sebidang tanah pada pemilik tanah untuk menanam buah Stroberi, akan tetapi tidak ada satu pemilik tanah yang peduli dengan mereka.
Sang Ibu telah meninggal disebabkan penduduk desa yang serakah. Sang ibu berpesan untuk memaafkan mereka, sang ibu tidak mau anaknya menjadi seorang pendendam. Nama anak mereka adalah Merah.
“Ayah… Merah lapar… Merah lapar…” Merah sudah tidak makan seharian, ayahnya datang dan memeluknya.
“Iya Merah… Ayah akan carikan makanan buatmu ya…. tunggu di sini dan pegang benih ini.”
“Baik, Ayah… cepat pulang, Ayah…”
“Iya anakku…” sang ayah mulai menjauh pergi.
Keesokan harinya, Merah bangun dan ayahnya belum pulang dari semalam. Merah masih usia kecil kira kira berusia lima tahun. Merah menunggu sambil menangis.
“Ayah dimana…. ayah dimana…” Merah keluar rumah dan menaruh benihnya pada meja di ruang tengah.
“Om…. tante…. lihat ayahku?” Merah terus bertanya pada orang disekitar kemanakah ayahnya berada. Mereka semua hanya menundukkan kepala dan menghindar dari anak itu.
“Peri Bintang…. kembalikan ayahku….” Merah berdoa dalam hatinya.
Sehari, dua hari, tiga hari, tidak ada kabar sedikitpun tentang ayahnya. Merah keluar rumah lagi sambil memegang perut dan menangis.
“Om…. tante… bisakah minta makanan sedikit saja?” Merah sudah sangat lapar, hanya bisa meminta pertolongan orang sekitar. Akan tetapi semua orang memarahinya, bahkan mengusirnya.
“Peri Bintang.. Merah lapar dan lelah.. peri.. bolehkah Merah istirahat sebentar?” Merah merasa tubuhnya semakin lemah, dia sudah tidak sanggup untuk melangkah. Sesampai di rumah Merah jatuh dan membuat benih di meja tumpah menyelimuti badannya.
“Kemana anak itu?”
“Kok tidak terlihat lagi?”
“Sudah mati ya?”
Para penduduk disana bergosip tentang anak itu yang tidak terlihat lagi. Tidak ada rasa penasaran dari semua orang disekitarnya.
Sehari, seminggu, sebulan, hingga tiga bulan. Sesuatu terjadi di desa Stroberi. Para penduduk mencium wangi yang begitu harum dan manis. Mereka mengira harum itu adalah Stroberi yang paling legendaris yang pernah ada puluhan tahun yang lalu. Para penduduk mulai mengikuti harum itu dan semakin tercium dari rumah keluarga Stroberi Kuning. semua orang tidak ada yang berani masuk ke rumah itu karena merasa malu dengan perbuatan mereka.
Beberapa saat mereka menunggu datanglah Peri Bintang dengan sinar yang terang, lalu berkata, “Kalian tidak penasaran apa isi di dalamnya? kenapa kalian diam di depan pintu? masuklah dan lihatlah.” Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah Stroberi Kuning.
Terkejutlah mereka melihat ruangan sempit tumbuh pohon besar dan banyak sekali buah Stroberi dengan kualitas yang melegenda. Seketika salah satu dari mereka berteriak, karena melihat hal yang mengejutkan. Merah, anak yang mereka abaikan telah menjadi tanah bagi benih Stroberi.
Peri Bintang masuk dan berkata pada mereka “Inikah yang kalian harapkan? inilah yang kalian ingin cari dalam hati kalian?” lalu Peri Bintang pergi.
Setelah Peri Bintang pergi, satu per satu dari mereka mencicipi buah legendaris tersebut. Mereka menangis, karena buah legendaris itu mengingatkan keserakahan mereka terhadap keluarga Stroberi Kuning.
“Merah… Tante merasa malu dengan perbuatan tante… ini ada roti yang diinginkan olehmu dari lama.”
“Merah… Om… menyesal telah memukul kamu… ini ada mainan yang kamu inginkan..”
Satu per satu dari mereka merasa menyesal.
Akhirnya mereka membuat sebuah tradisi yang bernama Stroberi untuk Merah. Tiap seminggu sekali penduduk desa Stroberi yang memiliki lahan harus meremas lima buah stroberi kualitas terbaik dan dijatuhkan pada sungai.
Bertahun tahun desa Stroberi terus melakukan tradisi itu hingga sungai mereka memiliki aroma stroberi yang harum. Ujung dari sungai itu adalah air terjun. Yang kini diberi nama oleh dunia imajinasi dengan Air Terjun Stroberi.
Desa Stroberi memahami bahwa keserakahan hanya akan bawa petaka dan rasa malu, serta rasa bersalah yang tak berujung. Itulah makna asli dari Keindahan Air Terjun Stroberi.
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: bab 1. Keindahan Air Terjun Stroberi
Sorry, comment are closed for this post.