Waktu Kecil, saya terlahir dari keluarga petani di sebuah kampung terpencil. Orang tua hari-harinya bertani. Suasana kampung yang asri dipenuhi dengan pohon-pohon besar, hutan yang masih asli dan ditambah dengan suasana sawah yang menghijau. Tentu akan semakin betah masyarakat tinggal di kampung ini.
Namun, kampung ini hanya memiliki jalan akses yang masih jalan setapak yang hanya bisa dilewati sepeda. Kalau musim hujan tiba jalan dipenuhi lumpur sepanjang jalan. Akses ke kota cukup merepotkan. Musim hujan adalah kondisi sangat sulit bagi warga kampung untuk akses ke perkotaan.
Sewaktu kecil, Saya diceritakan oleh Mamak. Bagaimana kondisi saya waktu kecil ketika Mamak turun kesawah sementara saya masih sangat kecil. Terkadang saya ditinggalkan pada seorang tetangga yang sangat baik hati kepada saya. Namanya Rukiah, sekarang ia sudah wafat. Namun sampai sekarang waktu mengingat namanya perasaan sayang cinta yang berujung perasaan haru dan sedih tetap menyelimuti jiwa saya. Mungkin ia bagaikan Mamak kedua bagi saya. Saya juga terkadang dibawa ke sawah dan ditempatkan pada sebuah rangkang dan sesekali ia menjenguknya. Begitulah sepanjang tahun saya tumbuh dari kecil dalam pangkuan dan kasih sayang seorang ibu dan ayah yang penuh perjuangan dan sangat melelahkan.
Maka sangat wajar Ketika Allah memerintahkan kepada kita untuk berbakti kepada orang tua dan ini tidak ada nilai tawar selain berbakti.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra’: 23)
Ketika Usia Sekolah Dasar, saya menamatkan sekolah dasar di SD Idi Rayeuk di wilayah kecamatan saya tinggal. Untuk menempuh ke sekolah memang tidak terlalu jauh, lebih kurang tiga kilometer. Namun, jalan untuk menempuh ke sekolah hanya jalan tanah yang kecil dengan berjalan kaki yang dipenuhi dengan lubang dan rumput-rupung yang panjang.
Di usia SD ini, sayang sudah mulai aktif membantu orang tua saya dalam bertani. Setelah subuh saya sudah ada tugas khusus yang harus dikerjakan yaitu mengeluarkan lembu-lembu dari kandangnya dan pada sore harinya saya ditugaskan untuk menggembala dan memasukkan lembu-lembu ke kandangnya.
Pekerjaan ini saya lakukan tiap hari. Terlebih lagi kalau sudah datang waktu turun kesawah tugas saya bertambah yaitu memotong rumput untuk diberikan kepada lembu atau kerbau yang digunakan untuk membajak sawah di pagi harinya. Maklum saja, karena dulu membajak sawah dengan lembu atau kerbau karena waktu itu belum ada mesin traktor pembajak sawah. Begitulah saya diasuh sejak kecil hingga menjadi remaja oleh orang tua saya.
Sejak sebelum SD yang sudah didik dengan ilmu agama yang kuat. Saya belajar Al-Quran dari orang tua. Sebelum SD saya sudah bisa membaca Al-Quran sendiri dengan baik, berkat disiplin orang tua dalam mengajari saya. Tidak hanya Al-Quran yang diajarinya, akan tetapi semua ilmu yang berhubungan dengan Islam diajarkan kepada saya.
Setelah kami belajar Al-Quran beberapa jam, kemudian kami diajarkan dengan fiqih, akidah dan kitab akhlak. Kitab fiqih yang pertama diajarkan adalah kitab “masailal muhtadin li ikhwanil muhtadin” kitab ini sangat masyhur di bumi Aceh. Karena kitab ini ditulis oleh seorang ulama Aceh berdarah Turki yaitu Syeikh Baba Dawod. Beliau merupakan seorang ulama besar Aceh yang sangat luas ilmunya dan pebantu mufti Aceh Syeikh Abdur Rauf As Singkili pada masa kejayaan Kesultanan Aceh.
Untuk pelajaran akidah disamping diajarkan melalui kajian kitab jawi juga diajarkan melalui hafalan rukun yang bersajak yang di karang oleh seorang besar Aceh yaitu Syekh Abu Hasan kreung Kalee. Dan sampai hari ini rukun ini masih diajarkan kepada anak-anak Aceh seusia dini yang belajar pada kami.
Walau ayahku seorang petani beliau juga seorang alim yang memiliki ilmu agama yang luas. Diceritakan setelah ia menamatkan sekolah SRI Sekolah Rakyat Indonesia ia melanjutkan belajar ke Zawiyah Cot Plieng yang ada di Aceh Utara sekarang. Sepulang dari sana beliau mengajar di kampung halamannya pada Zawiyah (Pesantren) Abang kandungnya. Dan setelah berkeluarga ayah saya mendirikan Zawiyah sendiri dan sampai hari ini Zawiyah tersebut masih aktif.
Setelah saya menamatkan SD, saya melanjutkan pendidikan formal pada Madrasah Tsanawiyah di Wilayah Kecamatan tempat saya tinggal. Pada masa usia saya ini, Aceh sedang tidak baik. Aceh didera konflik antara GAM Gerakan Aceh Merdeka dan TNI. Hampir setiap hari ada kontak senjata. Kondisi Aceh sangatlah berbahaya terkadang dimalam hari sunyi senyap. Warga tidak berani keluar rumah.
Hampir setiap hari ada mayat yang tergeletak di pinggir jalan raya. Kebetulan waktu itu ayah saya seorang Kepala Kampung dan merangkap Imam Kampung. Seorang kepala kampung pasti terkontaminasi dengan konflik. Hingga Ayah saya sempat dipanggil ke kantor koramil selama tujuh hari. Setelah diinterogasi dan diminta keterangan dengan kondisi kampung alhamdulillah dilepaskan kembali.
Namun, situasi tentu berubah dari dulu saya, Mamak, adik dan keluarga ceria berubah menjadi mencekam. Kekhawatiran Mamak dan saya serta keluarga tentang Ayah sangatlah memprihatinkan. Suasana berubah drastis setelah Ayah ditahan oleh TNI, karena biasanya kalau sudah dipanggil jarang ada yang kembali dengan selamat, umumnya jadi mayat.
Inilah sekelumit cerita hidup saya yang bisa diceritakan kepada kawan-kawan semoga bermanfaat. Untuk selanjutnya mungkin bisa saya ceritakan sampai tuntas.
Kreator : Anwar Sulaiman
Comment Closed: Cerita Hidup
Sorry, comment are closed for this post.