Kau datang dulu, dengan wajah tenang,
Membawa janji, seakan takkan hilang.
Kupeluk hatimu, kugenggam terang,
Tak kusangka cinta hanyalah belang.
Sekian tahun kujalin setia,
Menganyam rindu dalam doa yang maya.
Di bawah langit kusulam bahagia,
Tak kuduga palsu segalanya.
Kau pilarku, imam dalam rumah,
Namun sembunyimu busuk dan basah.
Bersama dia, jiwa kau serah,
Mengukir dusta di dinding megah.
Kucium lehermu, aroma laknat,
Rasa asing yang menusuk tepat.
Kutanya lirih, kau jawab sesat,
Demi Tuhan, katamu, tak ada maksiat.
Namun mataku telah membaca luka,
Dari layar sunyi, dari pesan durja.
Satu per satu kutulis nyata,
Kisah kelam di ponsel tua.
Kata-kata mesra kepada sesama,
Panggilan cinta pada dia bermata hampa.
Apakah ini cinta? Ataukah nista?
Kau sembah tubuh, tak peduli jiwa.
Hatiku muntah oleh bau tengik,
Cinta berubah menjadi retik.
Kau peluk aku, tanganmu licik,
Tertawa palsu dalam gerak mimik.
Di malam senyap, kau bercerita,
Tentang kerja, lelah, dan dunia fana.
Namun kau pulang dengan wajah gila,
Dengan luka baru di bawah dada.
Kujaga rumah, kutempa harap,
Kupanggang rindu dengan bara tetap.
Namun kau tukar hangat peluk lelap,
Dengan sentuhan kawan gelap.
Ku pendam marah dalam bantal,
Ku menangis diam seperti kriminal.
Kau berjalan tenang, tanpa moral,
Meninggalkan hatiku sebagai rival.
Kau sangkal semua, matamu sembilu,
Namun bibirmu getir, jiwamu kelu.
Ada aroma dusta di setiap suku,
Ada luka dalam tatap yang beku.
Lalu dia datang—temanmu dahulu,
Mengirim bukti, menusuk kalbu.
Gambar dan kata, bagai hantu,
Menyayat dada dalam sunyi syahdu.
Kau bilang dia pendengki kawan,
Namun tak bisa kau bunuh kenyataan.
Kata yang dikirim mengandung hujan,
Yang menenggelamkan segala harapan.
Sebenarnya akulah teror malam,
Bukan dia, bukan dendam kelam.
Aku adalah badai yang diam,
Yang kau ciptakan dari tangis yang dalam.
Ku simpan semua—dari jari ke jari,
Setiap klik, setiap emoji.
Ku jahit dendam dengan senyum sendiri,
Ku kirimi kau bayangan tragedi.
Kupilih jadi hantu tak kasat mata,
Menjadi nyeri yang kau sangka fana.
Namun di balik akun dan nama,
Akulah jiwamu yang menahan luka.
Ingin ku berteriak, pada dunia fana:
“Lihat, lelaki ini membakar surga!”
Namun ku tahan, ku bungkus nista,
Karena harga diriku lebih berharga.
Kau tertawa di layar malam,
Berbagi kata pada kawan kelam.
Kau peluk mereka dengan salam,
Sementara aku terbungkus diam.
Kau bilang: “Tak ada, semua dusta.”
Namun siapa yang mencium fakta?
Siapa yang melihat luka?
Akulah saksi yang kau hina.
Kubenci kau lebih dari maut,
Lebih dari bara yang membakar tersulut.
Kau buang aku seperti debu di sudut,
Setelah cinta ini kau kerat, kau pupus.
Ku pandangi bingkai mahligai dulu,
Di altar senyum itu semu.
Kini kutahu, janji yang biru,
Telah kau buat pada yang lain, bukan aku.
Lalu apa arti rumah ini?
Jika kau adalah musuh abadi?
Jika ranjang ini bukan suci,
Melainkan panggung sandiwara keji?
Kau imamku di siang hari,
Namun malam kau jadi petaka tersembunyi.
Kau imam dalam doa pagi,
Namun malammu sujud pada dia yang kau puji.
Tak ada lagi tempat untuk cinta,
Yang tersisa hanyalah cela dan hina.
Ku ingin pergi, membawa luka,
Namun dendam ingin tinggal bersama.
Akan ku rajut semua kisah,
Di lembar harian penuh darah.
Akan kusebar luka dan resah,
Agar semua tahu wajahmu yang parah.
Kau takut sekarang, pada bayanganmu,
Pada pesan yang tak berhenti memilu.
Namun itu aku—bayang lukamu,
Yang berdiri dalam gelap menunggu.
Kau tak bisa lari dari jiwaku,
Dari jiwa yang kau anggap semu.
Kau khianati cinta dan waktu,
Kini ku tebus dengan wajah barumu.
Kau cemas melihat notifikasi,
Kau takut akan bukti yang menyakiti.
Namun ingat, sayang, kau sendiri,
Yang menyalakan bara dan peti.
Dan bila kau tanya: “Siapa dia?”
Dia adalah aku—yang dulu setia.
Yang kini menjelma menjadi derita,
Menjadi surat balas pada dusta.
Lelaki dalam bayang luka,
Kini kau tahu rasa yang sesungguhnya.
Tak bisa kau lari dari cerita,
Yang kutulis dengan darah dan air mata.
NR3725
Kreator : Novitri Riyani
Comment Closed: Lelaki dalam Bayang Luka
Sorry, comment are closed for this post.