Di antara riuh hari yang tak selalu ramah,
kau hadir bagai senja yang lembut memeluk resah,
dengan sorot mata teduh yang tak banyak bicara,
namun sanggup menjahit luka yang diam-diam terbuka.
Engkau bukan sekadar teman dalam lintasan waktu,
melainkan rumah yang tak pernah menutup pintu,
tempat aku kembali saat lelah merambat di dada,
tempat aku belajar bahwa ketulusan itu nyata adanya.
Ada keibuan dalam setiap tuturmu yang hangat,
menyentuh relung hati tanpa pernah terasa berat,
lembutmu bukan kelemahan, melainkan kekuatan,
yang menguatkan aku saat dunia terasa menyesakkan.
Cantikmu bukan hanya pada rupa yang terpancar,
melainkan pada jiwa yang bersih dan sabar,
pada sikapmu yang santun, pada iman yang kau jaga,
pada setiap langkah yang kau bingkai dengan doa.
Kau adalah baik yang tak pernah meminta balasan,
solehah yang meneduhkan tanpa banyak alasan,
hadirmu seperti cahaya di lorong panjang kehidupan,
menuntunku keluar dari gelap yang tak berkesudahan.
Dalam suka, kau tertawa tanpa iri,
dalam duka, kau tinggal tanpa pergi,
menggenggam tanganku saat dunia terasa runtuh,
dan mengajarkanku berdiri meski hati rapuh.
Betapa sering aku lupa mengucap terima kasih,
padahal jasamu mengalir seperti hujan yang tak bertepi,
kau bantu aku bukan karena kewajiban,
melainkan karena cinta yang tulus dan keikhlasan.
Namun waktu, seperti biasa, tak pernah bisa diajak kompromi,
ia datang membawa kabar yang diam-diam melukai,
tentang perpisahan yang tak pernah kuinginkan,
tentang langkahmu yang perlahan menjauh dari keseharian.
Menepi… sebuah kata yang sederhana,
namun berat ketika harus benar-benar dirasa,
sebab itu berarti tak lagi kita bersua setiap hari,
tak lagi berbagi cerita di sela waktu yang biasa kita miliki.
Hatiku lirih, seperti hujan yang jatuh diam-diam,
mengenang tawa kita yang dulu begitu dalam,
aku ingin menahan waktu, memintanya berhenti sejenak,
agar kebersamaan ini tak lekas retak.
Seandainya kita bisa terus bersama,
mengisi hari dengan cerita yang sama,
berjalan berdampingan tanpa batas waktu,
menjadi bagian dari kisah yang tak pernah usai itu.
Namun aku tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan,
dan setiap perpisahan menyimpan kenangan,
yang akan tinggal, meski raga tak lagi berdekatan,
yang akan hidup, meski waktu terus berjalan.
Maka izinkan aku menitipkan doa di langit yang luas,
semoga langkahmu selalu dilimpahi berkah yang tak terbatas,
semoga setiap harimu dipenuhi ketenangan dan bahagia,
seperti ketenangan yang dulu kau berikan pada jiwa.
Ya Tuhan, jagalah ia dalam setiap detik kehidupannya,
limpahkan rahmat-Mu dalam setiap langkah jalannya,
balaslah semua kebaikannya dengan cinta yang lebih luas,
dan tempatkan ia dalam naungan kasih-Mu yang ikhlas.
Dan untuk persahabatan ini, aku tak meminta banyak,
hanya agar ia tetap hidup meski jarak merentang jarak,
tetap tumbuh meski waktu memisahkan ruang,
tetap hangat meski tak lagi sering bertemu langsung.
Semoga suatu hari, dalam waktu yang tak terduga,
kita dipertemukan kembali dalam pelukan cerita lama,
tersenyum, mengenang segala yang pernah ada,
dan bersyukur bahwa kita pernah saling menjaga.
Karena bagiku, kau bukan sekadar teman biasa,
kau adalah doa yang dikirim Tuhan tanpa tanda,
pelita yang tak pernah padam dalam gelap hidupku,
dan akan selalu begitu—meski aku tak lagi di sampingmu.
NR_090426
Kreator : Novitri Riyani
Comment Closed: Pergi Tanpa Hilang
Sorry, comment are closed for this post.