KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » SERUNYA BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI METODE ACTIVE LEARNING –PART 2

    SERUNYA BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI METODE ACTIVE LEARNING –PART 2

    BY 28 Apr 2026 Dilihat: 5 kali
    SERUNYA BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI METODE ACTIVE LEARNING_alineaku

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    A.KONSEP BELAJAR AQIDAH AKHLAK

    Aqidah dan akhlak merupakan dua aspek fundamental dalam ajaran Islam yang tak dapat dipisahkan. Aqidah berhubungan dengan keyakinan dan keimanan seseorang terhadap Allah SWT, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta takdir. Sementara itu, akhlak mencerminkan perilaku dan budi pekerti yang merupakan manifestasi nyata dari aqidah yang diyakini. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran Aqidah Akhlak memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan integritas moral peserta didik agar menjadi insan yang beriman dan berakhlak mulia.

    Secara etimologis, “aqidah” berasal dari kata ‘aqada yang berarti mengikat dengan kuat. Aqidah berarti keyakinan yang tertanam dalam hati, yang tidak bercampur dengan keraguan. Sedangkan “akhlak” berasal dari kata khuluq yang berarti perangai atau tabiat. Dalam Islam, akhlak tidak hanya mencakup hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Allah SWT, alam, dan makhluk lainnya.

    Aqidah menjadi dasar dari semua aspek kehidupan Muslim. Keyakinan yang benar akan melahirkan perbuatan yang benar. Inilah yang menjelaskan keterkaitan erat antara aqidah dan akhlak. Ketika seseorang memiliki aqidah yang lurus, maka akan tercermin pula dalam akhlaknya yang mulia

    Pembelajaran Aqidah Akhlak tidak hanya mengajarkan konsep-konsep teoritis keimanan dan akhlak, tetapi juga menekankan aspek internalisasi nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Konsep belajar Aqidah Akhlak mencakup tiga aspek utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif mencakup pemahaman terhadap materi ajar; aspek afektif menekankan pada pembentukan sikap dan nilai; sedangkan psikomotorik mencakup aplikasi nilai dalam tindakan nyata.

    Proses pembelajaran yang efektif harus mengintegrasikan ketiganya. Guru tidak cukup hanya menjelaskan rukun iman atau sifat-sifat terpuji dan tercela, tetapi harus mampu memberikan teladan dan menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

    Metode yang digunakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dapat bervariasi, mulai dari ceramah, diskusi, studi kasus, simulasi, hingga proyek amal. Yang terpenting adalah pendekatan yang kontekstual, inspiratif, dan menyentuh dimensi hati peserta didik. Pendidikan karakter melalui pelajaran Aqidah Akhlak harus menjadi pengalaman bermakna, bukan sekadar hafalan.

    Dalam era modern yang penuh tantangan moral dan degradasi nilai, peran pelajaran Aqidah Akhlak semakin penting. Banyak peserta didik menghadapi tekanan lingkungan, pengaruh media sosial, serta krisis identitas spiritual. Oleh karena itu, pendidikan Aqidah Akhlak harus adaptif dan responsif terhadap realita kontemporer.

    Tantangan terbesar adalah menjadikan pembelajaran Aqidah Akhlak tetap relevan dan tidak membosankan. Kurikulum harus dirancang dengan memperhatikan kebutuhan dan konteks peserta didik, serta disampaikan dengan pendekatan yang menyentuh aspek emosional dan spiritual.

    Belajar Aqidah Akhlak bukan hanya bagian dari kurikulum formal, tetapi sebuah proses pembentukan jiwa dan karakter yang utuh. Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tanpa memperhatikan dimensi spiritual dan moral akan menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh dalam nilai. Oleh karena itu, penguatan pembelajaran Aqidah Akhlak adalah investasi penting untuk menciptakan masyarakat yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.

    B.PRESTASI BELAJAR

    Menurut Dadang Sunendar, (2008:4) belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sardiman, (2007:20) mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku melalui serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Belajar akan lebih baik kalau si subjek belajar tersebut mengalami atau melakukannya, sehingga tidak bersifat verbalistik. W.H. Bruton, (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 1993:4) mengemukakan belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

     

    Prestasi belajar merupakan gabungan dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha” (Zaenal Arifin, 2009:12). Menurut Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini, (2012:119) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan yang berupa perubahan tingkah laku yang dialami oleh subjek belajar didalam suatu interaksi dengan lingkungannya.

     

    Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu, yang mencerminkan penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diajarkan. Menurut Slameto, prestasi belajar adalah hasil dari suatu interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri individu maupun dari lingkungan sekitarnya, seperti motivasi, minat, kondisi fisik, serta metode pembelajaran yang digunakan oleh guru¹. Oleh karena itu, prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan intelektual semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan lingkungan belajar yang kondusif.

     

    Beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ,menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, (2008:138) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor internal yang meliputi jasmaniah, psikologis, dan psikis. Sedangkan yang termasuk dalam faktor eksternal adalah sosial, budaya, dan lingkungan fisik. Senada dengan pendapat diatas menurut Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini, (2009:122-135) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada faktor internal yang meliputi: jasmaniah dan psikologis, sedangkan eksternal meliputi: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari beberapa pendapat ahli diatas maka yang mempengaruhi prestasi belajar diantaranya adalah jasmani, psikologis, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Proses belajar adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar, sehingga dengan penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebagai objek penelitian

    C. MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING 


    • Hakikat Dan Karakteristik Model Pembelajaran Active Learning 

    Model pembelajaran aktif adalah suatu model dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (active learning). Metode active learning menurut Ujang Sukanda, “Cara pandang yang menganggap belajar sebagai kegiatan membangun makna atau pengertian terhadap pengalaman atau informasi yang dilakukan oleh pembelajar, bukan oleh si pengajar, serta menganggap mengajar sebagai kegiatan menciptakan suasana yang inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar sehingga berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya, dan tidak tergantung kepada guru atau orang lain bila mereka mempelajari hal-hal yang baru.” Menurut Mel Silberman, metode active learning merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif, yang meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik menjadi aktif.

    Metode active learning juga merupakan  pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar, di mana mereka terlibat secara langsung melalui diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, simulasi, atau kegiatan kolaboratif lainnya yang mendorong pemikiran kritis dan refleksi mendalam. Metode ini bertujuan meningkatkan pemahaman konsep secara lebih bermakna dibandingkan dengan pembelajaran pasif, karena siswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga memproses dan menerapkannya dalam situasi nyata.Metode ini memiliki sejumlah kelebihan yang signifikan. Pertama, active learning dapat meningkatkan pemahaman konsep secara lebih mendalam karena siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan mempraktikkan materi yang dipelajari dalam berbagai konteks. Selain itu, metode ini juga mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, dan kerja sama, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Lingkungan pembelajaran yang interaktif juga dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, karena mereka merasa lebih berperan dan memiliki tanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri.

    Namun demikian, metode active learning juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah membutuhkan waktu yang lebih lama dalam penyampaian materi dibandingkan dengan metode ceramah tradisional, karena guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan bereksperimen. Selain itu, keberhasilan metode ini sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi guru dalam merancang serta memfasilitasi kegiatan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Jika guru kurang terampil, active learning justru dapat menimbulkan kebingungan atau ketidakteraturan di kelas. Selain itu, tidak semua siswa memiliki kesiapan yang sama untuk berpartisipasi aktif; beberapa siswa mungkin merasa canggung, malu, atau kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya di depan teman-teman. Fasilitas dan sumber daya yang memadai juga menjadi faktor pendukung penting dalam penerapan metode ini secara optimal.

    Dengan demikian, meskipun metode active learning memiliki banyak kelebihan dalam mendorong pembelajaran yang bermakna dan keterampilan abad 21, namun penerapannya tetap memerlukan perencanaan yang matang, penguasaan strategi oleh pendidik, serta kesiapan peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

    Adapun Active learning strategy yaitu keterlibatan intelektual, emosional dalam kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan, asimilasi akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langsung terhadap baliknya (feedback) dalam pembentukan keterampilan dan penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap. Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa.

    Untuk itu, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:

    1. Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran
    2. Berkreasi mengembangkan gagasan baru
    3. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
    4. Mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari- hari dalam masyarakat
    5. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku siswa secara bertahap dan utuh
    6. Memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan Kemampuan
    7. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.

     

    Sintesis model pembelajaran active learning jadi pembelajaran aktif adalah suatu model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari Menurut Bonwell(1995),pembelajaran aktif memiliki karakteristik sebagai berikut :

    • Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
    • Siswa tidak hanya belajar secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
    • Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap yang berhubungan dengan materi pelajaran,
    • Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi,
    • Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran

    Karakteristik Model Pembelajaran Active Learning

    Menurut  Bonwell(1995),pembelajaran  aktif  memiliki  karakteristik sebagai berikut:

    • Penekanan  proses  pembelajaran  bukan  pada  penyampaian  informasi  oleh pengajarmelainkan  pada  pengembangan  keterampilan  pemikiran  analitis  dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
    • Siswa tidak  hanya belajar  secara  pasif  tetapi  mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
    • Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap yang berhubungan dengan materi pelajaran,
    • Siswa  lebih  banyak  dituntut  untuk  berpikir  kritis,  menganalisa  dan melakukan evaluasi,
    • Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

     

    Dalam pembelajaran aktif (active learning), terdapat sejumlah indikator yang berperan penting dalam menunjang keberhasilannya secara optimal, di antaranya:

    1. Ditinjau dari aspek peserta didik (murid):
    1. Adanya kemauan serta keberanian siswa untuk mengungkapkan minat, kebutuhan, dan permasalahan yang mereka hadapi.
    2. Adanya kemauan, keberanian, serta kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan persiapan, proses, hingga tindak lanjut pembelajaran.
    3. Kemampuan siswa dalam menampilkan berbagai upaya dan kreativitas belajar selama menjalani serta menyelesaikan proses pembelajaran hingga mencapai hasil yang diharapkan.
    4. Adanya kebebasan dan keleluasaan bagi siswa untuk melakukan hal-hal tersebut tanpa adanya tekanan dari guru maupun pihak lainnya.
    1. Dari Segi Pengajar (Guru)
    1. Usaha mendorong,membina gairah belajar dan berpartisipasi peserta didik secara aktif
    2. Peranan guru tidak mendominasi kegiatan proses belajar peserta didik
    3. Memberi kesempatan peserta didik untuk belajar menurut cara dan keadaan masing-masing menggunakan beberapa jenis metode mengajar dan pendekatan multimedia
    1. Dari segi program pengajaran
    1. Tujuan pengajaran dan konsep maupun isi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan,minat,dan kemampuan subjek didik
    2. program cukup jelas,dapat dimengerti dan menantang peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar
    3. bahan pelajaran mengandung fakta atau informasi,konsep,prinsip dan keterampilan
    1. Dari Segi situasi mengajar
    1. iklim hubungan erat guru dengan peserta didik,peserta didik dengan peserta didik,guru dengan guru,dan antar unsur pimpinan sekolah
    2. Gairah dan kegembiraan belajar peserta didik sehingga mereka memiliki motivasi dan keleluasaan mengembangkan cara belajar masing- masing
    3.  Ada sumber belajar peserta didik
    4. Fleksibilitas waktu untuk kegiatan belajar
    5. Dukungan dari berbagai jenis media pembelajaran
    6. Kegiatan belajar  peserta didik tidak terbatas dalam kelas tetapi juga di luar kelas

    Karakteristik active learning menurut T. Raka Joni menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam seluruh proses pembelajaran. Secara umum, ciri-cirinya dapat dirumuskan sebagai berikut:

    1. Keterlibatan aktif siswa
      Peserta didik tidak hanya menjadi pendengar, tetapi terlibat secara mental, emosional, dan fisik dalam kegiatan belajar. 
    2. Keberanian mengemukakan pendapat
      Siswa didorong untuk bertanya, menyampaikan ide, serta mengungkapkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. 
    3. Partisipasi dalam seluruh tahapan pembelajaran
      Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk berperan aktif. 
    4. Pengembangan kreativitas dan inisiatif
      Siswa diberi ruang untuk berkreasi, mencoba berbagai cara belajar, serta menemukan solusi secara mandiri. 
    5. Suasana belajar yang bebas dan tidak menekan
      Lingkungan belajar dibuat kondusif, tanpa tekanan, sehingga siswa merasa aman untuk berekspresi. 
    6. Interaksi yang dinamis
      Terjadi komunikasi dua arah atau multi arah antara guru dan siswa maupun antar siswa. 
    7. Berpusat pada siswa (student-centered)
      Guru berperan sebagai fasilitator, sedangkan siswa menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.
    • Jenis – Jenis  Model Active Learning
    • True or False (Benar atau salah)

    Metode ini merupakan aktivitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara langsung. Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    1. Guru membuat list pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separuhnya benar dan separuhnya lagi salah. Masing-masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda. Jumlah lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa. 
    2. Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian mereka diminta untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut. Selanjutnya guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas menggunakan cara apa saja untuk menentukan jawaban. 
    3. Setelah selesai, guru meminta siswa membaca masing-masing pernyataan dan meminta jawaban dari mereka benar atau salah. 
    4. Guru memberi masukan untuk setiap jawaban dan menegaskan bahwa yang dilakukan oleh siswa adalah bekerja bersama. 
    5. Guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama dalam kelompok akan membantu kelas.
    • Guided Teaching (Pembelajaran Terbimbing)

    Metode ini merupakan aktivitas untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa. Metode ini meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi yang telah disampaikan oleh guru. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    1. Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui pikiran dan kemampuan yang mereka miliki. 
    2. Guru memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dengan meminta mereka untuk bekerja berdua atau dalam kelompok kecil. 
    3. Guru meminta siswa menyampaikan hasil jawaban mereka, kemudian guru mencatat jawaban-jawaban mereka. 
    4. Guru menyampaikan poin-poin utama dari materi, kemudian meminta siswa untuk membandingkan jawaban mereka dengan poin-poin yang telah disampaikan. Setelah itu, guru mencatat poin-poin yang dapat memperluas bahasan materi.
    • Card Sort (Cari Kawan)

    Metode ini merupakan aktivitas kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek atau mereview informasi. Metode ini meminta kepada masing masing kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    •  Guru membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa. 
    • Guru meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu yang kategorinya sama. 
    • Guru meminta siswa mempresentasikan kategori masing masing di depan kelas.
    • Guru memberikan poin-poin penting terkait dengan bahan materi.
    • The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)

    Metode ini merupakan aktivitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi. Metode ini meminta kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan sharing bersama seorang siswa di sebelahnya. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada siswa yang menuntut perenungan dan pemikiran. 
    • Guru meminta setiap siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual. 
    • Setelah selesai, guru meminta mereka untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya. 
    • Guru meminta pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban baru atas pertanyaan dan memperbaiki jawaban individual mereka. 
    • Kemudian guru membandingkan jawaban-jawaban mereka
    • Rotating Roles (Permainan Bergilir)

    Metode ini merupakan aktivitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap situasi kehidupan nyata. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga siswa. 
    • Guru memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario kehidupan nyata yang berkaitan dengan topik diskusi. 
    • Kemudian guru meminta satu anggota dari setiap kelompok untuk menyampaikan skenario kepada kelompok lain. Selanjutnya, setiap tim mempunyai kesempatan untuk latihan peran utama, dan dalam skenario tersebut guru konsentrasi pada identifikasi pelaku utama dalam penggunaan konsep dan kecakapan serta bagaimana pengembangannya.
    • Setelah selesai, guru mengumpulkan seluruh kelompok untuk diskusi umum dari poin-poin belajar skenario dan nilai aktivitas di dalamnya.
    • Reading Guide

    Pembelajaran dilakukan berbasis bacaan (teks). Agar proses membaca ini bisa efektif, maka guru memberikan pedoman (guide) membaca. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Berilah siswa teks (bacaan) yang harus mereka pelajari, akan lebih baik lagi bila ditunjukkan halamannya.
    • Mintalah peserta didik untuk membaca teks (bacaan) secara individual, kemudian membuat resume mengenai topik– topik penting yang ada dalam bacaan tersebut (berbentuk pointers).
    • Diskusikan topik– topik penting hasil temuan siswa dan nyatakan bahwa ada sejumlah topik itu memang penting namun ada pula yang tidak penting. 
    •  Selanjutnya guru membagikan memberikan lembaran pedoman belajar dalam memahami teks (bacaan), biasanya berbentuk pertanyaan.
    • Para siswa diminta menjawab pertanyaan– pertanyaan yang ada dalam lembar pedomantersebut. 6. Diskusikan jawaban– jawaban siswa tersebut.
    • Info Search

    Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di luar kelas, keluar dari lingkungan kelas. Mereka bisa belajar di perpustakaan, warnet, mencari jurnal, dan sumber– sumber belajar yang lain. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Bagilah siswa dalam kelompok– kelompok kecil, sekitar 2 atau 3 orang. 
    • Berilah masing- masing kelompok pertanyaan atau tugas yang bisa dicari jawabannya di tempat– tempat yang sudah ditunjukkan guru. 
    • Pertanyaan atau tugas yang diberikan sebaiknya disandarkan pada beberapa buku (literatur). 
    • Kelompok mengerjakan tugas atau menjawab pertanyaan, dan sekitar 30 menit sebelum habis jam pelajaran mereka harus kembali masuk ke dalam kelas. 
    • Di kelas, masing– masing kelompok melaporkan hasil belajarnya dalam mencari informasi di berbagai sumber belajar tersebut.
    • Diskusikan temuan– temuan kelompok tersebut
    • Index Car Match

    Metode ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pembelajaran. Selain itu memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada kawan sekelas. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan dalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang sesuai dengan jumlah siswa. 
    • Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan– pertanyaan tersebut.
    • Gabungkan dua lembar kartu dan kocok beberapa kali sampai benar– benar acak.
    • Berikan satu kartu pada setiap peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang pertanyaan dan sebagian lain memegang jawaban. 
    • Perintahkan peserta didik menemukan kartu pemainnya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain untuk mencari tempat duduk bersama.
    • Everyone is A Teacher Here

    Metode ini mudah dalam memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu.Metode ini memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didik lain. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas.
    • Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam–diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.
    • Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka dapat dan memberi respons. 
    • Setelah diberi respons, mintalah yang lain di dalam kelas untuk menambahkan apa yang telah disumbang sukarelawan.
    • Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.
    • Student Created Case Study

    Teknik berikut memungkinkan peserta didik menciptakan studi kasus sendiri. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Bagi kelas menjadi pasangan–pasangan atau trio. Ajaklah mereka mengembangkan sebuah studi kasus dan sisa kelas dapat menganalisis dan mendiskusikan. 
    • Jelaskan bahwa tujuan studi kasus adalah mempelajari topik dengan menguji situasi nyata atau contoh yang merefleksikan topik. 
    • Berikan waktu yang cukup bagi setiap pasangan atau trio untuk mengembangkan kasus atau isu untuk didiskusikan atau suatu problem untuk dipecahkan, yaitu suatu masalah yang relevan dengan materi pembelajaran. 
    • Kemudian setiap pasangan membuat rangkuman studi kasus, secara khusus detail kejadian yang mengarah pada pemecahan masalah. 
    • Ketika studi kasus selesai, mintalah kelompok– kelompok agar mempresentasikan kepada kelas. Persilahkan seorang anggota kelompok memimpin diskusi kasus.
    • Point-Counterpoint

    Metode ini merupakan sebuah teknik untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan, namun tidak terlalu formal dan berjalan dengan lebih cepat. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Pilihlah sebuah masalah yang mempunya dua perspektif (sudut pandang) atau lebih. 
    • Bagilah kelas ke dalam kelompok– kelompok menurut jumlah perspektif yang telah ditetapkan, dan mintalah tiap kelompok mengungkapkan mendiskusikan alasan– alasan yang melandasi sudut pandang masing– masing tim. Doronglah mereka bekerja dengan partner tempat duduk atau kelompok– kelompok inti yang kecil. 
    • Gabungkan kembali seluruh kelas, tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan jarak antara sub– sub kelompok . 
    • Jelaskan bahwa peserta didik bisa memulai perdebatan . Setelah itu peserta didik mempunyai kesempatan menyampaikan sebuah argumen yang sesuai dengan posisi yang telah ditentukan. Teruskan diskusi tersebut, dengan bergerak secara cepat maju– mundur di antara kelompok kelompok. 
    • Simpulkan kegiatan tersebut dengan membandingkan isu– isu sebagaimana Anda melihatnya. Berikan reaksi dan diskusi lanjutan.
    • Students Questions Have

    Metode ini merupakan cara yang mudah untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan siswa. Cara ini menggunakan sebuah teknik mendapatkan partisipasi melalui tulisan daripada lisan atau percakapan. Harapan siswa ini bisa dilihat dari jumlah centangan yang ada pada sebuah pertanyaan. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut: 

    • Bagikan kartu kosong setiap siswa (kertas HVS dibagi 4 bagian). 
    • Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang pembelajaran yang sedang dipelajari (tidak usah mencantumkan nama peserta didik). 
    • Putarlah kartu tersebut searah jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, siswa harus membacanya dan memberikan tanda centang pada kartu itu apabila kartu itu berisi pertanyaan yang setujui. Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta berarti telah 
    • membaca seluruh pertanyaan kelompok tersebut. Selanjutnya, mengidentifikasi pertanyaan mana yang memperoleh suara terbanyak. Jawab masing – masing pertanyaan tersebut dengan mengembangkan diskusi kelas. 
    • Panggil juga beberapa peserta untuk berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun mereka tidak memperoleh suara terbanyak. 
    • Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan yang mungkin dijawab oleh guru pada pertemuan berikutnya.
    • Listening Team Metode ini 

    merupakan sebuah cara membantu peserta didik agar tetap terfokus dan siap dalam pembelajaran yang berlangsung. Strategi Listening Team ini menciptakan kelompok– kelompok kecil yang bertanggung jawab menjelaskan materi pembelajaran sesuai dengan posisinya masing– masing.Adapun langkah-langkah metode Listening Team:

    1. Guru menyampaikan tujuan dan materi secara ringkas. 
    2. Siswa dibagi dalam kelompok dengan peran (penanya, penjawab,   pengkritik, penyimpul). 
    3. Siswa menyimak materi sesuai perannya. 
    4. Kelompok berdiskusi sesuai tugas masing-masing. 
    5. Presentasi: tanya jawab, tanggapan, dan penyimpulan. 
    6. Guru memberi penguatan dan kesimpulan.
    • Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Active Learning

    Active learning sebagai model dalam pembelajaran mempunyai keuntungan sebagai berikut

      1. Peserta didik lebih termotivasi Model pembelajaran active learning memungkinkan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaikan materi ketika peserta didik menikmatinya. Dengan melakukan hal yang sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. 
    • Mempunyai lingkungan yang aman Kelas merupakan tempat di mana terjadi percobaan serta kegagalan-kegagalan. Kita tidak hanya membolehkan terjadinya hal hal tersebut, tetapi juga memberi semangat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Resiko harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Pendidik dapat menyediakan lingkungan yang aman melalui modelling dan setting batas- batas perilaku dalam kelas. 
    •  Partisipasi oleh seluruh kelompok belajar Peserta didik merupakan bagian dari rencana pembelajaran. Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik mencarinya. Beberapa kegiatan membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan membutuhkan peserta didik untuk menjadi bagiannya. Semua mempunyai tempat dan berkontribusi berdasarkan karakteristik masing-masing. 
    • Setiap orang bertanggung jawab dalam kegiatan belajarnya sendiri Setiap orang bertanggung jawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap orang dapat menginterpretasikan tindakan tindakan untuk mereka sendiri dan mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi mereka. 
    • Kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya Peraturan dan bahasa boleh diubah menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Dengan membuat perubahan, kita dapat melakukan kegiatan yang relevan dengan berbagai usia kelompok yang bervariasi dengan mengeksplorasi konsep yang sama. 
    •  Reseptif meningkat Dengan menggunakan active learning sebagai model dalam pembelajaran di mana prinsip-prinsip dan penerapan dari prinsip-prinsip diekspresikan oleh peserta didik, informasi menjadi lebih mudah untuk diterima dan diterapkan. 
    • Pendapat induktif distimulasi Jawaban atas pertanyaan tidak diberikan tetapi pertanyaan tersebut dieksplorasi. Pertanyaan dan jawaban muncul dari peserta didik selama kegiatan pembelajaran. 
    • Partisipan mengungkapkan proses berpikir mereka Sementara kegiatan diskusi berlangsung, pendidik dapat mengukur tingkat pemahaman peserta didik. Dengan demikian pendidik dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. 
    • Memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Jika peserta didik melakukan kesalahan yang menyebabkan kegagalan, hentikan kegiatan dan pikirkan alternatif lain dan mulai lagi kegiatan. Dengan demikian peserta didik dapat belajar bahwa kesalahan dapat menjadi sesuatu hal yang menguntungkan dan membimbing kita untuk menjadi lebih baik.
    • Memberi kesempatan untuk mengambil resiko Peserta didik merasa bebas untuk berpartisipasi dan belajar melalui keterlibatan mereka karena mereka tahu bahwa kegiatan yang dilakukan merupakan simulasi. Mengambil resiko merupakan hal yang sulit dalam masyarakat yang mengidolakan pemenang. Dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi tanpa tekanan untuk menjadi pemenang, kita telah memberi kebebasan untuk mencoba tanpa merasa malu untuk melakukan kesalahan.

    Menurut Warsono & Hariyanto (2012: 6) kelebihan dari active learning antara lain:

    • lebih mengacu kepada pembelajaran berdasarkan pengalaman, 
    •  lebih banyak pembelajaran aktif di kelas-kelas, dengan banyak menghadirkan semarak (lebih banyak bersuara tetapi bukan ribut), dan gerakan-gerakan siswa dalam melakukan sesuatu, bercakap-cakap dan berkolaborasi, 
    • guru lebih menegaskan tanggung jawabnya dalam mentransfer kepada para siswa hasil kerja guru yang meliputi: penetapan tujuan pembelajaran, pemeliharaan catatan kemajuan belajar siswa, pemantauan belajar siswa dan evaluasi, 
    • lebih menekankan kepada aktivitas yang mengembangkan demokrasi dalam kelas dan menjadi model pelaksanaan demokrasi di sekolah, 
    •  lebih memberikan kesempatan terciptanya pembelajaran kooperatif dan kolaboratif, mengembangkan kelas sebagai komunitas yang saling bergantung satu sama lain.

     

    Selanjutnya menurut Silberman (2013: 13) mengemukakan bahwa kelebihan penggunaan model active learning dalam proses pembelajaran akan bermanfaat baik bagi siswa, antara lain: 

    1. membuat siswa aktif sejak awal, 
    2. membantu siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap belajar secara aktif, 
    3. membuat pelajaran agar tidak mudah dilupakan.

    Sedangkan menurut Hosnan (2014: 216) kelebihan dari active learning antara lain: peserta didik lebih termotivasi, mempunyai lingkungan yang aman, partisipasi oleh seluruh kelompok belajar, setiap orang bertanggung jawab dalam kegiatan belajarnya sendiri, kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya, reseptif meningkat, partisipasi mengungkapkan proses berpikir mereka, memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memberi kesempatan untuk mengambil risiko.

    • Kelemahan Model Pembelajaran Active Learning

    Sedangkan penerapan learning adalah: kelemahan-kelemahan model pembelajaran dalam active 

    1. Keterbatasan waktu Waktu yang disediakan untuk pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran yang memakan waktu lama akan terputus menjadi dua atau lebih pertemuan. 

    b Kemungkinan Bertambahnya waktu untuk persiapan Waktu yang digunakan untuk persiapan kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan. 

    1. Ukuran kelas yang besar Kelas yang mempunyai jumlah peserta didik yang relatif banyak akan mempersulit terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan active learning. Kegiatan diskusi tidak akan dapat memperoleh hasil yang optimal. 
    2. Keterbatasan materi, peralatan dan sumber daya Keterbatasan materi, peralatan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, serta sumberdaya akan penerapan active learning dalam pembelajaran. menghambat kelancaran 
    3.  Resiko penerapan active learning Hambatan terbesar adalah keengganan pendidik untuk mengambil berbagai resiko diantaranya resiko peserta didik tidak akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau mempelajari konten yang cukup. Pendidik takut untuk dikritik dalam mengajar dan merasa kehilangan kendali kelas serta keterbatasan keterampilan.

     

    Hosnan(2014: 217) mengemukakan bahwa kelemahan pembelajaran active learning antara lain: 

    1. Keterbatasan waktu, 
    2. Kemungkinan Bertambahnya waktu untuk persiapan, 
    3. Ukuran kelas yang besar, 
    4. keterbatasan materi, peralatan dan sumber daya. 

    Nurdiansah (2010) mengemukakan bahwa kelemahan dari model active learning antara lain: 

    1. Siswa sulit untuk mengorientasikan pemikirannya, 
    2. Ketika tidak didampingi oleh guru, pembahasan terkesan kesegala arah dan tidak terfokus.

    Sedangkan menurut Silberman (2006: 31) mengemukakan bahwa terdapat kekhawatiran dalam penerapan model active learning seperti: 

    1. Apakah kegiatan belajar aktif hanya merupakan kumpulan“Kegembiraan dan permainan”? 
    2. Apakah belajar aktif menyita banyak waktu? 
    3. Saya tertarik dengan belajar aktif, namun saya tidak yakin apakah anak didik saya juga tertarik? 
    4. Bukankah diperlukan lebih banyak persiapan dan kreativitas dalam mengajar menggunakan model pembelajaran aktif. 

     

    Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai macam kelemahan model pembelajaran active learning diantaranya adalah memerlukan ukuran kelas yang besar, keterbatasan materi dan peralatan yang ada di sekolah dan serta keterbatasan waktu. Untuk itu guru dituntut untuk dapat aktif, inovatif efektif dalam penggunaan waktu, penerapan active learning perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar tercipta suasana pembelajaran yang kondusif, serta guru harus melakukan perencanaan semaksimal mungkin demi tercapainya tujuan belajar yang diharapkan

     

     

    Kreator : LULUK FARIDA

    Bagikan ke

    Comment Closed: SERUNYA BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI METODE ACTIVE LEARNING –PART 2

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021