
Aqidah dan akhlak merupakan dua aspek fundamental dalam ajaran Islam yang tak dapat dipisahkan. Aqidah berhubungan dengan keyakinan dan keimanan seseorang terhadap Allah SWT, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta takdir. Sementara itu, akhlak mencerminkan perilaku dan budi pekerti yang merupakan manifestasi nyata dari aqidah yang diyakini. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran Aqidah Akhlak memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan integritas moral peserta didik agar menjadi insan yang beriman dan berakhlak mulia.
Secara etimologis, “aqidah” berasal dari kata ‘aqada yang berarti mengikat dengan kuat. Aqidah berarti keyakinan yang tertanam dalam hati, yang tidak bercampur dengan keraguan. Sedangkan “akhlak” berasal dari kata khuluq yang berarti perangai atau tabiat. Dalam Islam, akhlak tidak hanya mencakup hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Allah SWT, alam, dan makhluk lainnya.
Aqidah menjadi dasar dari semua aspek kehidupan Muslim. Keyakinan yang benar akan melahirkan perbuatan yang benar. Inilah yang menjelaskan keterkaitan erat antara aqidah dan akhlak. Ketika seseorang memiliki aqidah yang lurus, maka akan tercermin pula dalam akhlaknya yang mulia
Pembelajaran Aqidah Akhlak tidak hanya mengajarkan konsep-konsep teoritis keimanan dan akhlak, tetapi juga menekankan aspek internalisasi nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Konsep belajar Aqidah Akhlak mencakup tiga aspek utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif mencakup pemahaman terhadap materi ajar; aspek afektif menekankan pada pembentukan sikap dan nilai; sedangkan psikomotorik mencakup aplikasi nilai dalam tindakan nyata.
Proses pembelajaran yang efektif harus mengintegrasikan ketiganya. Guru tidak cukup hanya menjelaskan rukun iman atau sifat-sifat terpuji dan tercela, tetapi harus mampu memberikan teladan dan menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.
Metode yang digunakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dapat bervariasi, mulai dari ceramah, diskusi, studi kasus, simulasi, hingga proyek amal. Yang terpenting adalah pendekatan yang kontekstual, inspiratif, dan menyentuh dimensi hati peserta didik. Pendidikan karakter melalui pelajaran Aqidah Akhlak harus menjadi pengalaman bermakna, bukan sekadar hafalan.
Dalam era modern yang penuh tantangan moral dan degradasi nilai, peran pelajaran Aqidah Akhlak semakin penting. Banyak peserta didik menghadapi tekanan lingkungan, pengaruh media sosial, serta krisis identitas spiritual. Oleh karena itu, pendidikan Aqidah Akhlak harus adaptif dan responsif terhadap realita kontemporer.
Tantangan terbesar adalah menjadikan pembelajaran Aqidah Akhlak tetap relevan dan tidak membosankan. Kurikulum harus dirancang dengan memperhatikan kebutuhan dan konteks peserta didik, serta disampaikan dengan pendekatan yang menyentuh aspek emosional dan spiritual.
Belajar Aqidah Akhlak bukan hanya bagian dari kurikulum formal, tetapi sebuah proses pembentukan jiwa dan karakter yang utuh. Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tanpa memperhatikan dimensi spiritual dan moral akan menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh dalam nilai. Oleh karena itu, penguatan pembelajaran Aqidah Akhlak adalah investasi penting untuk menciptakan masyarakat yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.
Menurut Dadang Sunendar, (2008:4) belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sardiman, (2007:20) mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku melalui serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Belajar akan lebih baik kalau si subjek belajar tersebut mengalami atau melakukannya, sehingga tidak bersifat verbalistik. W.H. Bruton, (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 1993:4) mengemukakan belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Prestasi belajar merupakan gabungan dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha” (Zaenal Arifin, 2009:12). Menurut Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini, (2012:119) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan yang berupa perubahan tingkah laku yang dialami oleh subjek belajar didalam suatu interaksi dengan lingkungannya.
Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu, yang mencerminkan penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diajarkan. Menurut Slameto, prestasi belajar adalah hasil dari suatu interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri individu maupun dari lingkungan sekitarnya, seperti motivasi, minat, kondisi fisik, serta metode pembelajaran yang digunakan oleh guru¹. Oleh karena itu, prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan intelektual semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan lingkungan belajar yang kondusif.
Beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ,menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, (2008:138) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor internal yang meliputi jasmaniah, psikologis, dan psikis. Sedangkan yang termasuk dalam faktor eksternal adalah sosial, budaya, dan lingkungan fisik. Senada dengan pendapat diatas menurut Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini, (2009:122-135) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada faktor internal yang meliputi: jasmaniah dan psikologis, sedangkan eksternal meliputi: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari beberapa pendapat ahli diatas maka yang mempengaruhi prestasi belajar diantaranya adalah jasmani, psikologis, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Proses belajar adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar, sehingga dengan penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebagai objek penelitian
Model pembelajaran aktif adalah suatu model dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (active learning). Metode active learning menurut Ujang Sukanda, “Cara pandang yang menganggap belajar sebagai kegiatan membangun makna atau pengertian terhadap pengalaman atau informasi yang dilakukan oleh pembelajar, bukan oleh si pengajar, serta menganggap mengajar sebagai kegiatan menciptakan suasana yang inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar sehingga berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya, dan tidak tergantung kepada guru atau orang lain bila mereka mempelajari hal-hal yang baru.” Menurut Mel Silberman, metode active learning merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif, yang meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik menjadi aktif.
Metode active learning juga merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar, di mana mereka terlibat secara langsung melalui diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, simulasi, atau kegiatan kolaboratif lainnya yang mendorong pemikiran kritis dan refleksi mendalam. Metode ini bertujuan meningkatkan pemahaman konsep secara lebih bermakna dibandingkan dengan pembelajaran pasif, karena siswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga memproses dan menerapkannya dalam situasi nyata.Metode ini memiliki sejumlah kelebihan yang signifikan. Pertama, active learning dapat meningkatkan pemahaman konsep secara lebih mendalam karena siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan mempraktikkan materi yang dipelajari dalam berbagai konteks. Selain itu, metode ini juga mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, dan kerja sama, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Lingkungan pembelajaran yang interaktif juga dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, karena mereka merasa lebih berperan dan memiliki tanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri.
Namun demikian, metode active learning juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah membutuhkan waktu yang lebih lama dalam penyampaian materi dibandingkan dengan metode ceramah tradisional, karena guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan bereksperimen. Selain itu, keberhasilan metode ini sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi guru dalam merancang serta memfasilitasi kegiatan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Jika guru kurang terampil, active learning justru dapat menimbulkan kebingungan atau ketidakteraturan di kelas. Selain itu, tidak semua siswa memiliki kesiapan yang sama untuk berpartisipasi aktif; beberapa siswa mungkin merasa canggung, malu, atau kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya di depan teman-teman. Fasilitas dan sumber daya yang memadai juga menjadi faktor pendukung penting dalam penerapan metode ini secara optimal.
Dengan demikian, meskipun metode active learning memiliki banyak kelebihan dalam mendorong pembelajaran yang bermakna dan keterampilan abad 21, namun penerapannya tetap memerlukan perencanaan yang matang, penguasaan strategi oleh pendidik, serta kesiapan peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Adapun Active learning strategy yaitu keterlibatan intelektual, emosional dalam kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan, asimilasi akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langsung terhadap baliknya (feedback) dalam pembentukan keterampilan dan penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap. Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa.
Untuk itu, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
Sintesis model pembelajaran active learning jadi pembelajaran aktif adalah suatu model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari Menurut Bonwell(1995),pembelajaran aktif memiliki karakteristik sebagai berikut :
Karakteristik Model Pembelajaran Active Learning
Menurut Bonwell(1995),pembelajaran aktif memiliki karakteristik sebagai berikut:
Dalam pembelajaran aktif (active learning), terdapat sejumlah indikator yang berperan penting dalam menunjang keberhasilannya secara optimal, di antaranya:
Karakteristik active learning menurut T. Raka Joni menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam seluruh proses pembelajaran. Secara umum, ciri-cirinya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Metode ini merupakan aktivitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara langsung. Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini merupakan aktivitas untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa. Metode ini meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi yang telah disampaikan oleh guru. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini merupakan aktivitas kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek atau mereview informasi. Metode ini meminta kepada masing masing kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini merupakan aktivitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi. Metode ini meminta kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan sharing bersama seorang siswa di sebelahnya. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini merupakan aktivitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap situasi kehidupan nyata. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Pembelajaran dilakukan berbasis bacaan (teks). Agar proses membaca ini bisa efektif, maka guru memberikan pedoman (guide) membaca. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di luar kelas, keluar dari lingkungan kelas. Mereka bisa belajar di perpustakaan, warnet, mencari jurnal, dan sumber– sumber belajar yang lain. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pembelajaran. Selain itu memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada kawan sekelas. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini mudah dalam memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu.Metode ini memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didik lain. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Teknik berikut memungkinkan peserta didik menciptakan studi kasus sendiri. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini merupakan sebuah teknik untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan, namun tidak terlalu formal dan berjalan dengan lebih cepat. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
Metode ini merupakan cara yang mudah untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan siswa. Cara ini menggunakan sebuah teknik mendapatkan partisipasi melalui tulisan daripada lisan atau percakapan. Harapan siswa ini bisa dilihat dari jumlah centangan yang ada pada sebuah pertanyaan. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
merupakan sebuah cara membantu peserta didik agar tetap terfokus dan siap dalam pembelajaran yang berlangsung. Strategi Listening Team ini menciptakan kelompok– kelompok kecil yang bertanggung jawab menjelaskan materi pembelajaran sesuai dengan posisinya masing– masing.Adapun langkah-langkah metode Listening Team:
Active learning sebagai model dalam pembelajaran mempunyai keuntungan sebagai berikut :
Menurut Warsono & Hariyanto (2012: 6) kelebihan dari active learning antara lain:
Selanjutnya menurut Silberman (2013: 13) mengemukakan bahwa kelebihan penggunaan model active learning dalam proses pembelajaran akan bermanfaat baik bagi siswa, antara lain:
Sedangkan menurut Hosnan (2014: 216) kelebihan dari active learning antara lain: peserta didik lebih termotivasi, mempunyai lingkungan yang aman, partisipasi oleh seluruh kelompok belajar, setiap orang bertanggung jawab dalam kegiatan belajarnya sendiri, kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya, reseptif meningkat, partisipasi mengungkapkan proses berpikir mereka, memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memberi kesempatan untuk mengambil risiko.
Sedangkan penerapan learning adalah: kelemahan-kelemahan model pembelajaran dalam active
b Kemungkinan Bertambahnya waktu untuk persiapan Waktu yang digunakan untuk persiapan kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.
Hosnan(2014: 217) mengemukakan bahwa kelemahan pembelajaran active learning antara lain:
Nurdiansah (2010) mengemukakan bahwa kelemahan dari model active learning antara lain:
Sedangkan menurut Silberman (2006: 31) mengemukakan bahwa terdapat kekhawatiran dalam penerapan model active learning seperti:
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai macam kelemahan model pembelajaran active learning diantaranya adalah memerlukan ukuran kelas yang besar, keterbatasan materi dan peralatan yang ada di sekolah dan serta keterbatasan waktu. Untuk itu guru dituntut untuk dapat aktif, inovatif efektif dalam penggunaan waktu, penerapan active learning perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar tercipta suasana pembelajaran yang kondusif, serta guru harus melakukan perencanaan semaksimal mungkin demi tercapainya tujuan belajar yang diharapkan
Kreator : LULUK FARIDA
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: SERUNYA BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI METODE ACTIVE LEARNING –PART 2
Sorry, comment are closed for this post.