KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1: Titik Nol Yang Terang

    Bab 1: Titik Nol Yang Terang

    BY 28 Apr 2026 Dilihat: 5 kali
    Titik Nol Yang Terang_alineaku

    Tumbuh dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang membuatku merasa sangat beruntung. Aku selalu melangkah dengan ringan, membawa senyum tanpa beban berarti. Dunia terasa ramah sejak awal.

     

    Orang-orang di sekelilingku mencintaiku tanpa pamrih. Dari mereka, aku belajar tentang hangatnya rumah, tentang sabar, tentang mencintai tanpa hitung-hitungan. Dari mereka, aku mengenal rasa aman.

     

    Kala itu, hidup terasa seperti jalan yang dipenuhi pelangi dan bunga-bunga kecil. Aku tak benar-benar membayangkan adanya kepedihan. Semua tampak mungkin. Semua terasa baik-baik saja. Lalu, aku bertemu dengannya.

     

    Seorang lelaki yang tidak terlalu tinggi, tetapi selalu cukup membuatku mendongak sedikit saat berbicara. Tatapannya hangat. Senyumnya tenang, seperti seseorang yang tidak tergesa oleh dunia.

     

    Kami pernah berdiri di bibir pantai pada suatu senja. Langit terbakar warna jingga, angin membawa aroma asin laut yang lembut. Di antara debur ombak yang pelan, ia berbicara tentang masa depan seolah itu sesuatu yang sederhana—sesuatu yang bisa digenggam.

     

    Ia merangkai hari esok seperti arsitek yang menggambar rumah dengan garis-garis pasti. Dalam imajinasiku, berdirilah sebuah ruang dengan jendela menghadap matahari pagi dan sudut kecil tempat kami berbagi cerita sepulang berbaur dengan dunia. Ia tak menjanjikan dunia. Ia hanya menyebut esok dengan keyakinan yang tenang.

     

    Aku mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang diperlihatkan peta menuju negeri yang indah.

     

    Tanpa kusadari, namanya mulai hadir dalam rencana-rencana kecilku—dalam alarm pagi yang berbunyi lebih semangat, dalam senyum yang kusimpan untuk pertemuan berikutnya, dalam pesan singkat sebelum tidur yang membuat malam terasa lebih singkat.

     

    Hari-hariku terasa lebih hidup. Fajar tidak lagi sekedar datang; ia menjadi sesuatu yang kutunggu.

     

    Di titik itu, hidup terasa penuh.aku mulai menemukan diriku tersenyum pada hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.

    Aku menikmati perasaan ini—kupu-kupu yang bergetar halus setiap kali namanya muncul di layar ponsel. Senyum paginya menjadi alasan sederhana untuk memulai hari dengan lebih ringan. 

     

    Ini pertama kalinya aku mengenal rasa yang berbeda dari kasih sayang keluarga. Lebih mendebarkan, namun tidak menggelisahkan. Lebih dalam, namun tetap tenang.

     

    Aku menyukai ritme yang kami bangun. Langkah yang saling menyesuaikan tanpa diminta. Cara ia mendengarkan tanpa tergesa. Kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan seolah dunia akan tetap baik-baik saja.

    Aku merasa sedang berada di halaman yang paling terang dalam hidupku.

     

    Aku tidak pernah tahu bahwa mencintai bisa terasa setenang ini sekaligus sedalam itu. Suatu sore, kami duduk berdampingan, cukup dekat untuk mendengar napas satu sama lain, namun tetap menyisakan ruang yang sopan di antara kami.

    “Aku senang hari ini kamu cerita banyak,” katanya pelan.

     

    Yang kuceritakan hanya hal-hal biasa—tentang kuliah, tentang lelah yang ringan, tentang mimpi yang masih samar. Namun caranya mendengarkan membuat semuanya terasa penting.


    Ia tidak memotong kalimatku. Tidak tergesa menanggapi. Ia memberi jeda, seolah memastikan setiap kata benar-benar ia terima.

     

    Ada saat ketika mata kami bertemu sedikit lebih lama dari biasanya. Tidak ada yang berpaling lebih dulu. Di antara diam yang tipis itu, aku merasakan sesuatu tumbuh. Bukan ledakan, bukan petir. Hanya keyakinan kecil yang mengendap perlahan. Aku seolah menemukan hal baru yang tak bisa kuartikan —lebih ringan, lebih penuh, seolah ada sesuatu dalam diriku yang perlahan menemukan tempatnya.

     

    Sejak hari itu, aku menyadari bahwa mencintai tidak selalu tentang genggaman. Kadang tentang seseorang yang mengingat hal kecil yang bahkan lupa kuingat sendiri. Tentang pesan singkat sebelum tidur: 

    Jangan lupa istirahat. Besok kamu harus kuat lagi. 

     

    Dan entah bagaimana, kalimat sederhana itu mampu membuat dunia terasa lebih ringan.

     

    Bersamanya, aku tidak merasa harus menjadi lebih dari diriku sendiri. Aku tidak takut pada diam. Bahkan diam terasa seperti ruang yang aman.

    Aku tidak merasa sedang jatuh cinta dengan dengan cara yang riuh, tidak ada perasaan yang meledak-ledak. Sebaliknya semua terasa tumbuh perlahan. Seperti pagi datang tanpa suara, tapi selalu berhasil menerangi. Dan mungkin, justru karena itu, aku tidak pernah merasa takut.

     

    Jika bagi sebagian orang cinta adalah laut yang bergelombang, maka bagiku ia seperti danau yang luas. Permukaannya tenang, nyaris tanpa riak. Namun semakin kupandangi, semakin kusadari betapa dalamnya ia.

     

    Tidak ada gejolak yang membuatku kehilangan napas. Yang ada hanya keinginan untuk tinggal lebih lama.

    Dan di kedalaman yang sunyi itu, aku merasa utuh.

     

     

    Kreator : Linda Lestari (Ondudh)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1: Titik Nol Yang Terang

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021