Tumbuh dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang membuatku merasa sangat beruntung. Aku selalu melangkah dengan ringan, membawa senyum tanpa beban berarti. Dunia terasa ramah sejak awal.
Orang-orang di sekelilingku mencintaiku tanpa pamrih. Dari mereka, aku belajar tentang hangatnya rumah, tentang sabar, tentang mencintai tanpa hitung-hitungan. Dari mereka, aku mengenal rasa aman.
Kala itu, hidup terasa seperti jalan yang dipenuhi pelangi dan bunga-bunga kecil. Aku tak benar-benar membayangkan adanya kepedihan. Semua tampak mungkin. Semua terasa baik-baik saja. Lalu, aku bertemu dengannya.
Seorang lelaki yang tidak terlalu tinggi, tetapi selalu cukup membuatku mendongak sedikit saat berbicara. Tatapannya hangat. Senyumnya tenang, seperti seseorang yang tidak tergesa oleh dunia.
…
Kami pernah berdiri di bibir pantai pada suatu senja. Langit terbakar warna jingga, angin membawa aroma asin laut yang lembut. Di antara debur ombak yang pelan, ia berbicara tentang masa depan seolah itu sesuatu yang sederhana—sesuatu yang bisa digenggam.
Ia merangkai hari esok seperti arsitek yang menggambar rumah dengan garis-garis pasti. Dalam imajinasiku, berdirilah sebuah ruang dengan jendela menghadap matahari pagi dan sudut kecil tempat kami berbagi cerita sepulang berbaur dengan dunia. Ia tak menjanjikan dunia. Ia hanya menyebut esok dengan keyakinan yang tenang.
Aku mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang diperlihatkan peta menuju negeri yang indah.
Tanpa kusadari, namanya mulai hadir dalam rencana-rencana kecilku—dalam alarm pagi yang berbunyi lebih semangat, dalam senyum yang kusimpan untuk pertemuan berikutnya, dalam pesan singkat sebelum tidur yang membuat malam terasa lebih singkat.
Hari-hariku terasa lebih hidup. Fajar tidak lagi sekedar datang; ia menjadi sesuatu yang kutunggu.
Di titik itu, hidup terasa penuh.aku mulai menemukan diriku tersenyum pada hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.
Aku menikmati perasaan ini—kupu-kupu yang bergetar halus setiap kali namanya muncul di layar ponsel. Senyum paginya menjadi alasan sederhana untuk memulai hari dengan lebih ringan.
Ini pertama kalinya aku mengenal rasa yang berbeda dari kasih sayang keluarga. Lebih mendebarkan, namun tidak menggelisahkan. Lebih dalam, namun tetap tenang.
Aku menyukai ritme yang kami bangun. Langkah yang saling menyesuaikan tanpa diminta. Cara ia mendengarkan tanpa tergesa. Kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan seolah dunia akan tetap baik-baik saja.
Aku merasa sedang berada di halaman yang paling terang dalam hidupku.
Aku tidak pernah tahu bahwa mencintai bisa terasa setenang ini sekaligus sedalam itu. Suatu sore, kami duduk berdampingan, cukup dekat untuk mendengar napas satu sama lain, namun tetap menyisakan ruang yang sopan di antara kami.
“Aku senang hari ini kamu cerita banyak,” katanya pelan.
Yang kuceritakan hanya hal-hal biasa—tentang kuliah, tentang lelah yang ringan, tentang mimpi yang masih samar. Namun caranya mendengarkan membuat semuanya terasa penting.
Ia tidak memotong kalimatku. Tidak tergesa menanggapi. Ia memberi jeda, seolah memastikan setiap kata benar-benar ia terima.
Ada saat ketika mata kami bertemu sedikit lebih lama dari biasanya. Tidak ada yang berpaling lebih dulu. Di antara diam yang tipis itu, aku merasakan sesuatu tumbuh. Bukan ledakan, bukan petir. Hanya keyakinan kecil yang mengendap perlahan. Aku seolah menemukan hal baru yang tak bisa kuartikan —lebih ringan, lebih penuh, seolah ada sesuatu dalam diriku yang perlahan menemukan tempatnya.
Sejak hari itu, aku menyadari bahwa mencintai tidak selalu tentang genggaman. Kadang tentang seseorang yang mengingat hal kecil yang bahkan lupa kuingat sendiri. Tentang pesan singkat sebelum tidur:
Jangan lupa istirahat. Besok kamu harus kuat lagi.
Dan entah bagaimana, kalimat sederhana itu mampu membuat dunia terasa lebih ringan.
Bersamanya, aku tidak merasa harus menjadi lebih dari diriku sendiri. Aku tidak takut pada diam. Bahkan diam terasa seperti ruang yang aman.
Aku tidak merasa sedang jatuh cinta dengan dengan cara yang riuh, tidak ada perasaan yang meledak-ledak. Sebaliknya semua terasa tumbuh perlahan. Seperti pagi datang tanpa suara, tapi selalu berhasil menerangi. Dan mungkin, justru karena itu, aku tidak pernah merasa takut.
Jika bagi sebagian orang cinta adalah laut yang bergelombang, maka bagiku ia seperti danau yang luas. Permukaannya tenang, nyaris tanpa riak. Namun semakin kupandangi, semakin kusadari betapa dalamnya ia.
Tidak ada gejolak yang membuatku kehilangan napas. Yang ada hanya keinginan untuk tinggal lebih lama.
Dan di kedalaman yang sunyi itu, aku merasa utuh.
Kreator : Linda Lestari (Ondudh)
Comment Closed: Bab 1: Titik Nol Yang Terang
Sorry, comment are closed for this post.