Terdengar suara ayat-ayat berkumandang di antara surau-surau dan masjid di seluruh desa. Larut malam pun tak menyurutkan semangat para qori’ melantunkan rangkaian kata penuh makna dalam setiap ayatnya. Pertanda itu jelas menggambarkan suasana Ramadhan nan syahdu dan selalu ditunggu para muslimin dan muslimat di seluruh dunia.
Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan meninggalkan keburukan. Mengekang setiap hawa nafsu untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya. Pun juga dengan apa yang dilakukan Halimah dan teman-temannya di bulan Ramadhan. Bulan yang mereka nanti-nantikan sebelumnya dengan banyak rencana yang sudah mereka inginkan.
“Kita akan buka bersama di rumahku dengan masakan enak Ibuku,” kata Halimah.
“Aku dan Badrun akan menabuh bedug bertalu-talu penanda bulan Ramadhan akan tiba,” sahut Udin.
“Bagaimana kalau kita adakan sahur bersama?” tanya Umi pada kawan-kawannya.
“Sahur? Mana mungkin, Mi. Pasti sulit, kita mau sahur dimana?” tanya Anik.
Sambil berpikir dan melihat satu sama lain, mereka pun kompak menjawab.
“Halimah!!!”
Mereka tertawa sambal mengangguk pertanda saling menyetujui rencana mereka untuk sahur bersama di rumah Halimah. Rumah Halimah berdekatan dengan masjid, tempat mereka sholat berjama’ah dan mengaji bersama-sama.
Malam yang menampakkan senyumnya karena cerah, penuh bintang dan terangnya rembulan menjadi latar suasana langit yang cerah. Suara bedug bergemuruh ditambah tawa ceria santri-santri kecil yang menikmati indahnya di bulan Ramadhan yang suci nan penuh kemuliaan. Lantunan syair khas Jawa dengan suara lantang nan penuh makna membuat tradisi yang hanya ditemui di bulan Ramadhan ini menjadi familiar di telinga warga Kampung Mbolo, kampung halaman Halimah. Halimah adalah anak seorang tokoh agama terkemuka di kampung halamannya. Karena keramahannya, Halimah memiliki banyak teman. Di bulan Ramadhan mereka menghabiskan waktu bersama untuk banyak kegiatan yang sesuai tradisi di kampung mereka. Masjid adalah tempat favorit mereka untuk Bersama-sama belajar, beribadah, bermain dan bersenda gurau Bersama. Selain itu, rumah Halimah di samping masjid menjadi tempat penginapan layaknya pesantren tempat mereka menginap untuk sekedar makan sahur bersama lalu sholat subuh berjamaah dan berjalan-jalan di sepanjang jalan kota.
“Mira, aku mau ikut ke rumahmu ya mengambil bekal untuk sahur nanti malam di rumahku,” ucap Halimah kepada Mira sahabatnya.
Sambil membawa Al-Qur’an selepas sorogan, Mira berusaha memikirkan apa yang ditanyakan Halimah.
“Rumahku terlalu jauh dan gelap di sepanjang jalan menuju rumahku, apa kamu nanti tidak ketakutan Halimah? Sebaiknya aku sendiri saja,” jawab Mira. Jadwal mengaji sore itu memang sudah selesai, tetapi banyak santri yang masih ingin berbincang-bincang di teras masjid. Badrun dan Udin datang ikut mendengarkan perbincangan Halimah dan Mira. “Nanti kami bisa menemani kalian ke rumah Mira, Umi dan Anik bisa beramai-ramai ikut kita, sekalian kita mengambil bekal sahur masing-masing. Tanda setuju, Halimah dan Mira mengangguk dan mengangkat jempol mereka.
Malam selepas tarawih, mereka bergegas berkumpul membawa senter dan berjalan menuju rumah Mira yang paling jauh. Rumah Mira melewati kebun dan sawah bahkan sungai di depan Rumah Mira menambah kekhawatiran santri putri jika harus berangkat sendiri. Sesampai rumah Mira, ibu Mira sudah menyiapkan nasi lodeh kuning dengan lauk rempeyek kedelai yang enak. Tak perlu lama-lama, mereka lalu menuju rumah Umi yang lokasinya tidak jauh dari rumah Mira dan berakhir di rumah Badrun yang paling dekat dengan masjid. Di rumah Halimah, Abah dan Ibu Halimah membatasi tempat menginap putra dan putri. Anggap saja seperti pesantren kilat, mereka mengaji lalu sahur bersama dan beribadah bersama di rumah Halimah.
Pagi yang cerah ditambah hiruk pikuk pasar menambah semangat pagi anak-anak kampung Mbolo yang tetap semangat meski puasa. Di sepanjang jalan, mereka bercanda dan sesekali saling usil satu sama lainnya. Di seberang jalan terdapat balai desa dengan halaman yang penuh dengan wahana bermain. Menyeberang bersama-sama lalu menikmati wahana permainan yang ada membuat anak-anak yang berusia sekolah dasar itu nampak senang dan tak terasa terik panas mulai muncul pertanda sudah siang dan segera pulang. “Biasanya Emak menyuruhku membantu jualan kalau jam segini,” kata Umi.
“Aku juga menjemur padi dan membantu ibuku ke pasar, “sahut Mira.
“Baiklah. Karena sudah siang, kita pulang saja. Ahad depan kita bisa main lagi di sini,” kata Udin.
Pukul Sembilan tepat mereka meminta izin kepada Abah Halimah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Satu hari menjelang hari raya, siang itu bedug mulai ditabuh anak laki-laki yang bertugas menabuh bedug pertanda besok sudah hari raya Idul Fitri. Sambil terus memukul bedug, anak laki-laki dan perempuan berkumpul di masjid untuk bersama merayakan hari sebelum lebaran tiba.
Tradisi tabuh bedug berkumandang lagi di masjid Kampung Mbolo. Sekejap mengingatkan Halimah pada memori puluhan tahun yang lalu di tempat itu. Memejamkan mata dan bertanya di dalam hati, “Masa kecilku pernah mendengar ini, ya tabuh bedug dan suara lantunan syair Jawa selepas tarawih,” gumam Halimah.
Rindu suasana Ramadhan di kampung Mbolo bersama sahabat masa kecil teman tempat berkeluh kesah dan bermain bersama. Halimah sekarang berumur 25 tahun. Saat ini dia ikut suaminya di kota sebelah. Tak ada tradisi tabuh bedug disana, tak ada keriuhan lantunan syair Jawa yang dinyanyikan banyak orang selepas tarawih. “Halimah, ayo nduk kita ke masjid untuk sholat tarawih, “ajak Ibu Halimah sambal membonceng si kecil anak Halimah yang bernama Gendhis. Saat mengingat masa kecilnya tak terasa air mata Halimah menetes dan berharap dapat bertemu dengan teman-temannya dulu. Terlalu banyak kenangan yang terpatri di memori Halimah, meskipun kadang dia merasa dejavu dengan banyak tradisi tempo dulu yang mulai ia rasakan ketika berkunjung ke rumah orang tuanya di kampung Mbolo.
“Assalamu’alaikum warahmatullah..” gerakan duduk tawaruk pertanda gerakan sholat yang terakhir dengan salam. Halimah menengok ke kanan dan kiri lalu tiba-tiba, Plok, dari belakang ada seorang perempuan yang menepuk pundak Halimah sambil memanggil “Dek Halimah, bagaimana kabarnya?” tanya perempuan yang berkulit putih dengan mata sipit.
Halimah menoleh sambal mengamati wajah perempuan itu.
“Seperti kenal, tapi siapa ya?” gumam Halimah.
“Aku Umi. Teman masa kecilmu, kamu lupa ya? Masih ingat dengan buka dan sahur bersama di rumahmu saat puasa?” tanya Umi pada Halimah. Dengan senyum merekah, Halimah nampak senang dan bahagia dapat bertemu teman masa kecil.
Selepas sholat Halimah dan Umi berbincang-bincang di depan teras masjid. Mereka melepas kerinduan sebagai sahabat yang lama tak jumpa. Dengan latar tradisi tabuh bedug yang mengiringi perbincangan mereka yang merasa dejavu dengan masa kecil yang penuh cerita dan makna di bulan Ramadhan. Tak terasa puluhan tahun telah berlalu, Halimah tersenyum melihat tradisi yang masih lestari sampai saat ini di kampung halamannya. Indahnya bulan Ramadhan akan selalu menghiasi iman dan kalbu sang pencari Tuhan. Lewat syair kuno dan genderang tabuh bedug yang terus mengalun akan selalu mengingatkan kita pada tradisi Ramadhan di kampung halaman yang penuh makna.
Kreator : Nila Solichatun Nadhiroh (Nadhir)
Comment Closed: Dejavu Tradisi Masa Kecil Halimah
Sorry, comment are closed for this post.