Tahun 1977, tahun pertama aku masuk Sekolah Dasar. Kata ibu, di antara kakak beradik, hanya aku yang masuk sekolah tepat di usia sekolah dasar yaitu tujuh tahun, dan bangganya lagi sebelum masuk sekolah aku sudah pandai membaca. Di usia ini aku sering dijadikan media oleh kakakku sebagai objek belajarnya. Aku cepat membaca, diajari menulis, menyanyi, baca puisi, juga diajari menari. Maklum, kakak saya ini adalah calon guru sekolah dasar.
Setahun kemudian, aku naik ke kelas dua dan meraih juara 2, tapi aku tak mengerti arti juara itu sendiri. Hanya kulihat wajah ibu yang senang dan bahagia ketika menerima laporan pendidikanku.
Waktu terus berlalu, perlahan aku mulai memahami dan mengerti apa yang terjadi di sekitarku, Kak Nunu sudah diangkat menjadi guru di sebuah kampung yang jaraknya agak jauh dari rumah. Setiap akhir pekan Kak Nunu pulang dan sering membawakan aku jeruk bali yang katanya banyak tumbuh subur di pekarangan rumah yang ditempatinya di sana. Setiap kali Kak Nunu pulang aku sangat senang, karena sering dibawakan oleh-oleh dan aku selalu menunggunya. Kalau kak Nunu kembali ke tempat tugasnya, biasanya aku menangis, kalau ia kembali aku senang, begitulah yang kurasakan saat itu.
Hingga pada suatu malam rumah ramai dikunjungi oleh para orang tua berbicara sahut menyahut layaknya berbalas pantun. Ternyata, malam itu adalah malam peminangan Kak Nunu. Kakak sulungku telah dipinang oleh keluarga dari orang yang kelak akan menjadi kakak iparku. Saat itu aku tak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku, yang aku tahu rumah akan ramai dikunjungi para kerabat dari keluarga ayah dan ibuku dan pastinya akan ada makanan yang enak-enak.
Hari yang ditentukan sebagai hari pernikahan Kak Nunu sudah dekat. Para kerabat yang jauh sudah mulai berdatangan. Rumah sudah mulai ramai, siang malam ada saja pekerjaan yang harus diselesaikan oleh mereka untuk persiapan menjelang hari pernikahan itu, aku gembira karena banyak saudara sepupu seumuranku juga berdatangan.
Tak terasa hari pernikahan pun tiba, Kak Nunu dirias menjadi pengantin, terlihat sangat cantik. Dia mengenakan gaun pengantin berwarna putih, aku dan saudara-saudaraku pun berpakaian rapi menyambut para tamu yang berdatangan. Terlihat wajah ayah dan ibuku sangat bahagia, karena anak sulung mereka telah mengakhiri masa lajangnya.
Hari terus berlalu, setelah acara pernikahan itu, Kak Nunu tak lagi bersama kami. Dia diboyong oleh suaminya ke tempat mereka mengabdikan tugas kepada negara, tempat tugas Kak Nunu semakin jauh dari rumah. Aku begitu merindukannya, setiap akhir pekan aku selalu berharap Kak Nunu datang menemaniku menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah. Karena terlalu rindu, akhirnya aku jatuh sakit. Ibu dengan sigap meminta Kak Nunu untuk pulang dulu menjengukku.
Aku begitu gembira mengetahui Kak Nunu akan pulang. Kedatangan Kak Nunu tidak ditemani suaminya, dan dia membawakan oleh-oleh untuk aku dan semua orang di rumah, banyak buah-buahan dan rempah-rempah yang Kak Nunu bawa untuk ibu, karena menurutnya di sana harganya sangat murah.
Ketika malam tiba, aku tidur bersama Kak Nunu di tempat tidur yang biasa kami berdua tempati. Aku melepas rindu, hingga pada satu keinginan aku tidak mau jauh-jauh dari kakakku yang satu ini.
Esok harinya, Kak Nunu menceritakan keinginanku pada ibu. Dengan penuh bijaksana, ibu mengizinkan aku untuk ikut Kak Nunu ke tempat ia bertugas, padahal saat itu usiaku baru sembilan tahun. Mungkin ada maksud lain dari ibu, aku tak mengerti. Yang aku tahu pada saat itu, aku senang bisa terus bersama dengan Kak Nunu.
Singkat cerita, aku mengikuti Kak Nunu dan ikut bersekolah di tempat ia mengajar. Aku masuk di kelas tiga.
Hari pertama masuk sekolah, aku sudah punya banyak teman. Mungkin karena aku adik dari guru atau mungkin karena aku pandai bergaul, aku belum mengerti. Aku termasuk siswa yang cepat menyesuaikan diri dan rajin belajar, hingga pada akhir cawu satu aku dapat meraih peringkat ke-3, Kak Nunu terus memacu semangatku untuk terus belajar, akhirnya perolehanku terus meningkat, sehingga pada kenaikan kelas aku berhasil menjadi peringkat pertama di kelasku pada waktu itu. Setahun aku bersekolah bersama Kak Nunu, tahun kedua aku ingin kembali ke ibu. Aku merasakan rindu yang lebih dalam. Karena Kak Nunu dalam keadaan hamil besar, dia tak bisa mengantarku pulang, akhirnya aku dijemput oleh ayah dan ibu. Aku kembali bersama dengan kakak-kakakku yang lain dan masuk kembali ke sekolah lamaku, untunglah saat itu pindah sekolah tak seribet saat ini.. Hmmmm
Kreator : Zulmin (Zulmin Marandani)
Comment Closed: Ditinggal Kak Nunu Menikah
Sorry, comment are closed for this post.