Pukul 23.00.
Malam itu hening. Lampu-lampu sudah dipadamkan, dan beberapa orang bahkan telah tertidur lelap. Namun, di sebuah kamar, masih ada cahaya remang yang menyala. Di dalamnya, aku berusaha tetap terjaga meski mataku sudah terasa lelah. Tubuhku mati-matian menahan kantuk.
Meja belajarku dipenuhi buku dan berbagai peralatan lain yang berserakan. Bukan hanya di atas meja, barang-barang seperti buku, baju, pensil, boneka, dan benda-benda lainnya juga menumpuk di satu tempat. Pemandangan itu membuatku sedikit frustrasi. Meski begitu, aku tetap tidak berniat merapikannya. Lagipula, dalam keadaan seperti ini, aku tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal semacam itu.
Bahkan, aku sudah menguap berkali-kali.
Besok bukanlah hari yang spesial. Hanya hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Namun, entah mengapa, aku selalu ingin semuanya berjalan dengan baik. Karena itu, sekali lagi aku memeriksa barang-barang di dalam tasku untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Sore tadi, aku bahkan sempat menghubungi beberapa teman dekatku dan mengajak mereka memakai pakaian olahraga yang sama. Hanya supaya aku tidak merasa sendirian nantinya.
Omong-omong soal pakaian, sebenarnya aku juga sedikit bingung. Kenapa harus ada lomba pada hari pertama masuk sekolah?
Ah, sudahlah. Energiku sudah tidak cukup untuk memikirkan hal itu lebih jauh.
Aku pun segera menjatuhkan diri ke tempat tidur yang empuk. Sebelum memejamkan mata, aku menyempatkan diri mengucapkan selamat malam kepada boneka beruangku yang manis. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya aku terlelap, dengan tubuh dan wajah yang sama-sama kelelahan.
Namaku Ziva Hanaryn. Teman-temanku lebih sering memanggilku Naryn.
Besok adalah hari pertamaku sebagai siswi kelas terakhir di sekolah menengah atas.
Matahari sudah cukup lama terbit, dan alarm di samping tempat tidurku telah berdering sejak tadi. Namun, suara jam itu sama sekali tidak mampu mengalahkan rasa kantukku.
Pukul 06.40.
Di tengah kesibukan pagi yang sudah berlangsung, aku masih santai berbaring di tempat tidur. Pada akhirnya, aku baru memutuskan untuk bangun setelah alarm berbunyi entah untuk yang keberapa kalinya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, aku menggerakkan tubuhku dengan malas.
Awalnya, aku sama sekali tidak menyadari waktu. Sampai akhirnya, pandanganku jatuh pada jam di ponsel.
Aku langsung terperanjat.
Tanpa membuang waktu lagi, aku segera bangkit dan bersiap secepat mungkin. Ibu yang sedang memasak di dapur hanya bisa menggelengkan kepala melihat anaknya baru keluar dari kamar.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di depan rumah, bersiap untuk berangkat. Sambil mengenakan sepatu sekolah, aku masih mengunyah sisa sarapan yang memenuhi mulutku. Setelah selesai, aku mengeratkan pegangan pada tas dan berlari kecil menuju mobil.
Pukul 07.10, mobil ayahku mulai melaju perlahan meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan, aku lebih memilih melanjutkan tidur daripada memandangi jalanan yang lengang. Cuaca pagi itu cerah, tetapi entah mengapa tubuhku justru menggigil kedinginan. Terpaksa, aku memasukkan kedua tangan ke dalam baju untuk mencari sedikit kehangatan.
Ketika akhirnya turun dari mobil, suasana sekolah sudah cukup sepi. Bel masuk bahkan telah berbunyi sejak tadi. Meski begitu, beberapa guru masih berjaga di sekitar sekolah.
Aku berdiri sejenak, menatap gedung sekolah yang sudah tidak asing lagi bagiku.
Hamparan rumput yang luas, pot-pot bunga yang tertata rapi, kucing-kucing yang berkeliaran, serta suara samar para guru yang sedang menjelaskan pelajaran di dalam kelas. Semuanya terasa seperti pemandangan biasa yang selalu kutemui setiap hari.
Aku mulai melangkah pelan.
Sebenarnya, ada sedikit rasa sedih karena aku sudah mengacaukan hari pertamaku sendiri. Namun, aku tidak terlalu memusingkannya. Lagipula, terlambat masuk sekolah bukanlah hal baru bagiku. Karena sudah terlalu sering mengalaminya, aku justru merasa cukup santai.
Baru saja aku hendak melepas sepatu, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berlari mendekat. Penasaran, aku menoleh ke arah sumber suara.
“NARYNN!”
Benar saja, seperti yang sudah kuduga.
Aku membalas sapaannya sambil tersenyum. Setelah itu, kami berjalan menuju kelas bersama-sama.
“Ih, aku malu telat,” keluhnya.
Aku menatapnya dengan sedikit heran.
“Bukannya udah biasa?”
Pasalnya, kami sudah sering sekali mengalami situasi seperti ini.
“Iya juga sih.”
Kami terus melanjutkan langkah hingga akhirnya harus berpisah karena berada di kelas yang berbeda. Aku melambaikan tangan sekilas kepadanya, lalu kembali berjalan sendirian. Kelasku masih cukup jauh, dan sepertinya aku harus melanjutkan perjalanan tanpa teman.
Namun, tidak lama kemudian, aku bertemu dengan teman yang lain.
Brynn Samara, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Rara, ternyata sudah berada di sana sejak tadi. Entah mengapa, ia masih berdiri di depan kelas dengan gelagat gelisah.
Ketika aku menghampirinya, Rara sedikit tersentak melihatku yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Namun, sesaat kemudian, ekspresinya berubah menjadi lega.
“Ryn! Untung kamu di sini!”
“Memangnya ada apa?”
Rara menundukkan sedikit kepalanya, lalu mengecilkan suara karena malu.
“Aku takut nanti nggak ada teman di dalam sana.”
Mendengar jawabannya, aku hanya bisa mengernyitkan dahi. Namun, entah bagaimana, rasa takutnya justru menular kepadaku. Aku yang awalnya tidak memikirkan apa-apa mendadak ikut ragu untuk masuk ke kelas.
Sejak dulu, aku memang sering terpengaruh oleh apa yang dirasakan atau dilakukan teman-temanku. Terkadang, tanpa sadar, perasaan mereka ikut mempengaruhi cara berpikirku.
Belum sempat kami memutuskan apa yang harus dilakukan, seorang guru datang dan menegur kami karena masih berada di luar kelas.
Kami langsung panik dan buru-buru masuk.
Begitu tiba di dalam, kami berusaha bersikap biasa saja sambil segera mencari tempat duduk. Mataku menangkap sebuah bangku kosong di sudut ruangan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendudukinya, diikuti Rara yang mengambil tempat di sebelahku.
Perlahan, rasa canggung kami mulai menghilang ketika kami kembali bercakap-cakap.
Sementara itu, wali kelas kami mulai memperkenalkan diri. Dari nada bicaranya, guru itu terdengar ramah dan menyenangkan. Sikapnya membuat suasana kelas terasa lebih nyaman, sehingga murid-murid pun tampak lebih santai.
Kreator : Afifa Kiandra Darmawan
Comment Closed: Hari yang Seharusnya Biasa
Sorry, comment are closed for this post.