Di titik Nol, Perenungan Tengah malam
” Kalau dunia akhirnya diam, sekarang mau lari ke mana?. Apa yang tersisa ketika semua kebisingan akhirnya berhenti?.
Tidak semua hidup dipenuhi pencapaian besar, tepuk tangan, atau hal – hal yang terlihat mengagumkan dari luar. Ada orang – orang yang hidupnya berjalan sederhana, sunyi, bahkan sering merasa tertinggal karena tidak menjadi “siapa – siapa” menurut ukuran dunia.
Tidak semua orang ingin jadi luar biasa. Ada yang hanya ingin hidupnya tidak perlu merasakan beratnya beban setiap hari. Tidak lelah dikejar – kejar harapan yang tidak pernah berujung, tidak terus – menerus harus membuktikan diri agar dianggap cukup. Anehnya, mengapa justru keinginan sesederhana itu sering kali terasa paling sulit untuk dimiliki.
Hidup-pun tidak megah, hanya rutinitas biasa. Bekerja, pulang, menyapa keluarga, bersyukur atas sisa usia. Tak ada panggung megah, tak ada sorotan kamera, hanya dia, jiwanya, dan semesta yang bercerita.
“Apa kamu pernah merasa lelah… terus menerus harus jadi kuat, Niken?”
Pertanyaan itu datang begitu saja, di suatu sore yang biasa. Tidak ada yang istimewa. Hanya percakapan singkat yang seharusnya bisa dijawab dengan ringan. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti membuka sesuatu yang sudah lama disimpan rapat.
Ia tidak langsung menjawab. Ada jeda. Seperti seseorang yang sedang mencari kata, atau mungkin sedang memastikan apakah dirinya siap jujur. Hidupnya selama ini terlihat baik – baik saja. Setidaknya dari luar. Ia bekerja, bertahan, dan tetap berdiri di tempatnya. Tidak ada yang benar – benar tahu bagaimana ia sampai di titik itu.
“Aku nggak apa-apa,” akhirnya ia menjawab pelan.
Kalimat yang sederhana. Terlalu sering digunakan. Dan sering kali, tidak benar. Hari – harinya berjalan seperti rutinitas yang tidak sempat dipertanyakan.
Ia berjalan lebih cepat dari kebanyakan orang. Terlalu sering menunduk. Bukan karena ingin unggul, tapi karena ia tidak punya pilihan untuk berhenti. Pagi datang terlalu cepat. Malam datang terlalu larut. Tubuhnya lelah, tapi yang lebih berat adalah pikirannya.
Pernah ada masa ketika ia merasa semua yang dilakukannya tidak pernah cukup. Seolah – olah, seberapa pun ia berusaha, selalu ada yang kurang. Selalu ada yang tidak terpenuhi. Dan yang paling sunyi dari semua itu… tidak ada yang benar – benar bertanya apakah ia baik – baik saja.
“Apa kamu bahagia?” seseorang pernah bertanya. Ia tersenyum kecil. Bukan karena punya jawaban, tapi karena tidak tahu harus menjawab apa.
Di tengah banyaknya orang di sekelilingnya, ia justru merasa sendirian. Seperti berdiri di tengah keramaian, tapi tidak benar – benar menjadi bagian dari apa pun. Sampai suatu hari, ia berdiri di depan cermin.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mengenali dirinya sendiri. Wajah itu tampak asing. Bukan karena berubah, tapi karena terlalu lama diabaikan.
“Ini aku?” pikirnya.
Pertanyaan yang sangat sederhana, tapi cukup mengguncang banyak hal yang selama ini ia tahan. Dan malam itu tidak berjalan seperti biasanya.
Hidup setelah itu tidak langsung berubah menjadi lebih baik. Tidak ada keajaiban. Tidak ada pencapaian besar yang tiba – tiba datang. Semua tetap sederhana. Bahkan sering kali, masih terasa berat.
Tapi ada satu hal yang berbeda. Ia mulai mengenali dirinya lagi. Perlahan. Tidak sempurna. Tidak selalu kuat. Tapi lebih jujur.
” Kalau dunia akhirnya diam, sekarang mau lari ke mana?. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi yang bisa disalahkan selain diri sendiri.
Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]
Comment Closed: Interlude – Ketika Dunia Berhenti Berbisik
Sorry, comment are closed for this post.