IBU YANG TIDAK PERNAH LIBUR
Subuh baru saja datang ketika Nadia membuka matanya perlahan.
Jam dinding menunjukkan pukul 04.13 pagi. Tubuhnya masih terasa lelah karena semalam ia baru tidur lewat tengah malam setelah menyetrika seragam sekolah anak-anak.
Namun seperti hari-hari sebelumnya, Nadia tetap bangun.
Tidak ada pilihan lain.
Rumah kecil itu kembali hidup oleh suara langkah kaki Nadia yang berjalan pelan menuju dapur. Udara pagi masih dingin. Lampu dapur yang kekuningan menjadi saksi bagaimana seorang perempuan memulai harinya bahkan sebelum dunia benar-benar terbangun.
Ia menanak nasi.
Mencuci piring sisa semalam.
Menggoreng telur.
Menyiapkan bekal sekolah.
Sesekali Nadia mengusap matanya yang masih berat. Kepalanya sedikit pusing karena beberapa hari terakhir ia kurang tidur.
Tetapi seorang ibu sering kali tidak punya waktu untuk sakit.
Dari kamar terdengar suara anak bungsunya menangis kecil.
“Bunda…”
Nadia segera menghampiri.
“Iya, Sayang. Kenapa?”
“Aku mimpi buruk…”
Nadia memeluk anak kecil itu lembut sambil mengusap rambutnya perlahan.
“Udah… ada Bunda.”
Kalimat sederhana yang selalu Nadia ucapkan untuk anak-anaknya.
Meski sebenarnya, Nadia sendiri sering berharap ada seseorang yang mengatakan hal yang sama padanya.
Setelah anak-anak bangun, rumah mulai ramai.
Farhan sibuk mencari buku sekolahnya.
Nisa merengek tidak mau mandi.
Suara televisi menyala.
Panci mendidih di dapur.
Dan Nadia berdiri di tengah semua keramaian itu seperti seseorang yang harus memastikan semuanya tetap baik-baik saja.
Padahal dirinya sendiri perlahan berantakan.
“Farhan, jangan lupa tugas matematikanya.”
“Iya, Bun.”
“Nisa, sarapannya dihabisin dulu.”
“Aku nggak mau telur…”
Nadia menarik napas panjang.
Kadang ia merasa dirinya seperti mesin yang terus bekerja tanpa boleh berhenti.
Bahkan ketika hatinya lelah.
Setelah mengantar anak-anak sekolah, Nadia pulang ke rumah yang kembali sunyi.
Ia duduk sebentar di sofa ruang tamu.
Baru lima menit.
Namun pikirannya sudah dipenuhi banyak hal.
Cucian belum selesai.
Lantai belum dipel.
Tagihan listrik belum dibayar.
Belum lagi guru Farhan yang meminta orang tua datang minggu depan karena nilai anak itu semakin menurun.
Nadia menunduk lelah.
Dulu ia berpikir menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan sederhana.
Tetapi ternyata menjadi ibu berarti bekerja tanpa jam istirahat.
Tanpa cuti.
Tanpa penghargaan.
Dan sering kali… tanpa dimengerti.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari suaminya masuk.
“Nanti transfer agak telat.”
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan:
“Kamu gimana?”
Tidak ada:
“Anak-anak sehat?”
Apalagi:
“Kamu capek nggak?”
Nadia menatap layar ponselnya lama.
Entah kenapa akhir-akhir ini ia mulai merasa asing dengan suaminya sendiri.
Dulu mereka bisa berbicara berjam-jam tentang hal kecil.
Sekarang semua terasa seperti hubungan antara dua orang yang hanya terhubung karena kewajiban.
Siang harinya Nadia mencuci pakaian di halaman belakang.
Tumpukan baju terlihat menggunung.
Tangannya mulai pegal memeras pakaian satu per satu.
Saat sedang menjemur baju, tetangganya, Bu Rina, datang menghampiri.
“Nadia… sendirian lagi?”
Nadia tersenyum kecil.
“Kayak biasa, Bu.”
Bu Rina memandang Nadia beberapa detik.
“Kamu kurusan.”
Nadia tertawa pelan.
“Mungkin capek aja.”
“Kamu tuh jangan dipendem sendiri semuanya.”
Kalimat itu membuat Nadia diam.
Kadang perhatian kecil justru terasa lebih menenangkan daripada nasihat panjang.
Namun Nadia tetap memilih tersenyum.
Ia terlalu terbiasa menyimpan semua lukanya sendiri.
Sore hari anak-anak pulang sekolah.
Farhan langsung masuk kamar tanpa bicara.
Sedangkan Nisa duduk diam sambil memainkan tasnya.
Nadia merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
“Farhan…”
Anak itu tidak menjawab.
Nadia masuk ke kamar perlahan.
Dilihatnya Farhan sedang menangis diam-diam.
“Kenapa, Nak?”
Farhan menghapus air matanya cepat-cepat.
“Tadi temen bilang Ayah nggak pernah pulang…”
Hati Nadia langsung terasa sesak.
“Farhan…”
“Ayah sibuk kerja terus…”
Suara anak itu mulai bergetar.
“Farhan iri sama temen-temen.”
Nadia tidak langsung menjawab.
Ia hanya memeluk anak sulungnya erat.
Kadang luka anak-anak tidak muncul lewat teriakan.
Tetapi lewat diam yang perlahan menghancurkan hati seorang ibu.
Malam itu Nadia mencoba menelepon suaminya.
Sudah tiga kali.
Namun tidak diangkat.
Sampai akhirnya Arga menelepon balik satu jam kemudian.
“Ada apa?”
Suara laki-laki itu terdengar lelah.
“Mas… Farhan tadi nangis.”
“Kenapa lagi?”
“Dia bilang kangen ayahnya.”
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon.
“Aku kerja juga buat mereka.”
“Aku tahu, Mas…”
“Jangan sedikit-sedikit ngeluh.”
Kalimat itu lagi.
Selalu itu.
Nadia menunduk.
“Aku cuma pengen Mas tahu keadaan anak-anak.”
“Aku udah capek kerja seharian. Tolong jangan bikin pikiranku tambah berat.”
Telepon kembali terasa dingin.
Tidak ada ruang bagi Nadia untuk bercerita.
Tidak ada tempat aman untuk mengeluh.
Setelah sambungan telepon berakhir, Nadia duduk sendiri di dapur.
Lampu rumah mulai dimatikan satu per satu.
Anak-anak sudah tidur.
Dan lagi-lagi, hanya suara jam dinding yang menemani malamnya.
Air mata Nadia jatuh perlahan.
Bukan karena ia membenci suaminya.
Tetapi karena ia mulai merasa tidak terlihat.
Padahal setiap hari ia berjuang menjaga rumah itu tetap utuh.
Menjaga anak-anak tetap tersenyum.
Menjaga dirinya sendiri agar tidak benar-benar hancur.
Namun semua perjuangannya seolah dianggap biasa saja.
Malam semakin larut.
Nadia memandang langit dari jendela dapur.
Gelap.
Sunyi.
Persis seperti hatinya.
Lalu dalam diam, Nadia berbisik pelan pada dirinya sendiri:
“Kalau aku sakit… siapa yang akan menggantikan aku?”
Pertanyaan itu menggantung lama di udara.
Karena seorang ibu memang sering kali lupa dipeluk.
Semua orang datang padanya saat membutuhkan.
Tetapi jarang ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Dan Nadia mulai menyadari satu hal…
Bahwa menjadi ibu bukan hanya tentang kuat menjalani semuanya.
Tetapi juga tentang belajar bertahan meski hati perlahan kehabisan tenaga.
Kreator : Titin Mustika Merdekawati
Comment Closed: Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 2)
Sorry, comment are closed for this post.