LELAH YANG TIDAK PERNAH DILIHAT
Hujan sudah berhenti sejak subuh, tetapi udara dingin masih terasa memenuhi rumah kecil Nadia. Cahaya matahari masuk samar melalui celah tirai ruang tamu. Pagi itu rumah terlihat lebih rapi dari biasanya, namun anehnya tetap terasa kosong.
Nadia sedang menyetrika pakaian sekolah Farhan dan Nisa ketika suara batuk kecil terdengar dari kamar.
“Bunda…”
Nisa keluar sambil memegang selimut kecilnya.
Wajah anak itu pucat.
Nadia langsung mendekat.
“Ya Allah, badan Nisa panas.”
Tangannya buru-buru menyentuh dahi putrinya.
Panas sekali.
Farhan yang baru selesai memakai seragam ikut mendekat.
“Nisa sakit?”
Nadia mengangguk pelan.
“Kayaknya demam.”
Nisa memeluk bundanya lemah.
“Nisa nggak mau ditinggal sekolah…”
“Tenang, hari ini di rumah aja sama Bunda.”
Farhan terlihat ragu.
“Farhan nggak sekolah aja?”
“Nggak usah. Bunda masih bisa jagain Nisa.”
Walau sebenarnya Nadia sendiri merasa tubuhnya juga sangat lelah.
Semalaman ia hampir tidak tidur.
Pikirannya penuh.
Tentang Farhan.
Tentang Arga.
Tentang rumah tangga yang semakin terasa dingin.
Setelah Farhan berangkat sekolah, Nadia segera mengompres Nisa dan memberinya obat penurun panas.
Anak kecil itu tertidur di pangkuannya sambil sesekali mengigau kecil.
Nadia mengusap rambut putrinya perlahan.
Hatinya terasa sesak.
Kadang ia ingin sekali ada seseorang yang berkata, “Udah, sini aku bantu.”
Tetapi rumah itu terlalu sering membuatnya menghadapi semuanya sendiri.
Ponselnya berbunyi.
Nama Arga muncul di layar.
Nadia ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Suara Arga terdengar tergesa.
“Kamu lagi apa?”
“Nisa demam.”
“Hah?”
“Panasnya tinggi dari tadi pagi.”
Terdengar suara napas panjang dari seberang telepon.
“Udah dikasih obat?”
“Udah.”
“Ya udah nanti juga turun.”
Nadia terdiam.
Entah kenapa jawaban itu membuat hatinya semakin kosong.
“Aku takut kalau panasnya makin tinggi.”
“Kamu tuh panikan.”
Kalimat itu membuat Nadia langsung diam.
Padahal ia hanya ingin merasa ditemani.
“Aku lagi kerja, Nadia.”
“Iya.”
“Jangan bikin aku kepikiran terus.”
Nadia menunduk.
Tangannya mengusap punggung Nisa pelan.
“Maaf…”
“Kalau ada apa-apa kabarin aja.”
Sambungan telepon terputus cepat.
Nadia menatap layar ponselnya beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum pahit.
Bahkan rasa khawatirnya kini terasa seperti gangguan bagi suaminya sendiri.
Siang harinya panas Nisa justru semakin tinggi.
Anak itu mulai rewel dan terus memanggil ayahnya.
“Bunda… Ayah kapan pulang?”
“Nanti kalau kerjaannya selesai.”
“Aku pengen Ayah…”
Suara kecil itu hampir membuat Nadia menangis.
Ia memeluk Nisa erat sambil menahan sesak di dadanya.
Farhan pulang sekolah dengan wajah lelah.
Begitu melihat adiknya terbaring lemas, ia langsung duduk di samping kasur.
“Nisa sakit banget?”
Nisa mengangguk kecil.
Farhan memandang bundanya.
“Ayah tahu?”
“Udah Bunda kasih tahu.”
“Terus?”
“Belum bisa pulang.”
Farhan langsung menunduk kecewa.
“Lagi-lagi kerja…”
Nada suaranya penuh kekecewaan yang mulai sulit disembunyikan.
Malam datang bersama hujan deras.
Listrik sempat berkedip beberapa kali.
Nisa masih demam.
Nadia mulai panik ketika tubuh anaknya terasa semakin panas.
Ia mencoba menelepon Arga.
Satu kali.
Dua kali.
Tidak diangkat.
Farhan yang melihat wajah bundanya mulai cemas.
“Bunda…”
“Ayah belum jawab.”
Nadia mencoba menelepon lagi.
Tetap tidak diangkat.
Dadanya mulai berdebar tidak karuan.
“Farhan, tolong ambilkan jaket ya.”
“Mau kemana?”
“Kita ke klinik.”
Hujan turun sangat deras malam itu.
Nadia menggendong Nisa sambil memegang payung dengan tangan gemetar.
Farhan berjalan di sampingnya sambil membawa tas kecil berisi obat dan pakaian.
Jalanan gang terlihat becek dan gelap.
Sesekali motor lewat memercikkan air.
Tubuh Nadia basah sebagian karena angin hujan.
Namun ia tidak peduli.
Yang ada di pikirannya hanya panas tubuh anaknya yang tidak kunjung turun.
Sesampainya di klinik, Nadia duduk sambil memeluk Nisa erat.
Farhan duduk diam di samping bundanya.
“Ayah belum dihubungi lagi?” tanyanya pelan.
Nadia mengangguk lemah.
“Belum aktif.”
Farhan menatap lantai.
Wajah anak itu terlihat kecewa sekaligus marah.
Setelah diperiksa dokter, ternyata Nisa terkena infeksi tenggorokan dan harus banyak istirahat.
Nadia menghela napas lega walau tubuhnya terasa sangat lelah.
Saat keluar dari ruang dokter, ponselnya akhirnya berbunyi.
Arga menelepon.
Nadia buru-buru mengangkat.
“Mas!”
“Kamu nelpon terus kenapa?”
“Nisa dibawa ke klinik.”
“Hah? Emang kenapa?”
“Demamnya tinggi.”
“Sekarang gimana?”
“Udah diperiksa.”
Arga terdengar diam beberapa saat.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
Nadia langsung terpaku.
“Mas… aku dari tadi nelepon.”
“Oh.”
Jawaban singkat itu membuat hati Nadia terasa makin dingin.
“Aku lagi kerja tadi.”
“Iya…”
“Sekarang Nisa gimana?”
“Masih panas.”
“Ya udah dijaga aja.”
Nadia memejamkan mata perlahan.
Lelah sekali rasanya.
Ia ingin marah.
Ingin menangis.
Tetapi tenaga emosinya seperti sudah habis.
“Mas…”
“Iya?”
“Aku capek.”
Terdengar hening beberapa detik.
“Kamu ngomong begitu lagi.”
“Aku serius.”
“Nadia, jangan mulai ya.”
Suara Nadia mulai bergetar.
“Aku nggak ngerti lagi harus gimana.”
“Kamu terlalu mikir.”
“Aku ngurus semuanya sendiri.”
“Aku kerja juga buat kalian!”
Nada suara Arga mulai meninggi.
Beberapa orang di ruang tunggu menoleh.
Nadia langsung menunduk malu.
“Aku nggak bilang Mas salah…”
“Terus maunya apa?”
Pertanyaan itu membuat Nadia membeku.
Iya.
Maunya apa?
Ia sendiri bahkan sudah lupa.
Mungkin ia hanya ingin dipeluk.
Didengar.
Ditemani.
Hal-hal sederhana yang dulu terasa mudah sekarang justru terasa mustahil.
“Aku udah dulu,” kata Arga cepat.
Telepon kembali terputus.
Nadia menatap layar ponselnya kosong.
Farhan yang sedari tadi diam akhirnya berkata pelan,
“Ayah kenapa sekarang berubah?”
Pertanyaan itu membuat dada Nadia sesak.
“Ayah lagi capek kerja.”
“Tapi dulu Ayah nggak kayak gini.”
Nadia tidak bisa menjawab.
Karena sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama.
Dalam perjalanan pulang, hujan mulai reda.
Lampu jalan memantulkan genangan air di aspal.
Nadia menggandeng Farhan sambil menggendong Nisa yang tertidur di pundaknya.
Langkahnya terasa berat.
Bukan hanya karena lelah fisik.
Tetapi karena hatinya perlahan mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Sesampainya di rumah, Farhan membantu mengambil handuk dan air hangat.
“Nih, Bun.”
“Makasih.”
Farhan berdiri memperhatikan bundanya cukup lama.
“Bunda jangan sakit juga ya.”
Nadia tersenyum kecil.
“Iya.”
“Aku takut kalau Bunda sakit.”
Kalimat itu membuat Nadia hampir menangis lagi.
Anaknya yang masih kecil justru lebih peduli pada dirinya dibanding orang yang selama ini menjadi tempat ia berharap.
Malam semakin larut.
Nisa akhirnya tertidur setelah obatnya bekerja.
Farhan juga sudah tidur di samping adiknya.
Sedangkan Nadia duduk sendiri di dapur.
Lampu kecil di sudut ruangan membuat bayangannya terlihat samar.
Ia meminum teh hangat yang sudah hampir dingin.
Sunyi kembali memenuhi rumah.
Tetapi kali ini sunyinya terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih menusuk.
Ponselnya berbunyi lagi.
Pesan dari Arga masuk.
“Maaf tadi aku emosi.”
Nadia membaca pesan itu lama.
Sangat lama.
Dulu, ia selalu buru-buru membalas.
Tetapi sekarang jari-jarinya terasa kaku.
Karena setiap pertengkaran selalu berakhir sama.
Arga marah.
Lalu meminta maaf.
Kemudian semuanya terulang lagi.
Seperti lingkaran yang tidak pernah selesai.
Nadia akhirnya membalas singkat.
“Iya.”
Tak lama Arga mengetik lagi.
“Kamu jangan kebanyakan pikiran.”
Air mata Nadia jatuh tanpa suara.
Karena lagi-lagi…
rasa lelahnya hanya dianggap pikiran berlebihan.
Padahal yang ia rasakan jauh lebih dalam dari itu.
Ia merasa sendirian dalam rumah tangganya sendiri.
Keesokan paginya Nadia bangun dengan tubuh meriang.
Namun ia tetap memasak bubur untuk Nisa dan menyiapkan sarapan Farhan.
Saat sedang menuang teh, tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang.
Bruk.
Gelas jatuh dari tangannya dan pecah di lantai.
Farhan yang mendengar langsung berlari dari kamar.
“Bunda!”
Nadia memegang meja agar tidak jatuh.
Farhan panik.
“Bunda sakit?”
“Nggak apa-apa…”
Tetapi wajah Nadia terlihat sangat pucat.
Farhan langsung memegang tangan bundanya.
“Tangan Bunda panas.”
Nadia tersenyum lemah.
“Mungkin kecapekan.”
Farhan terlihat sedih.
“Bunda istirahat aja.”
“Nanti siapa yang masak?”
“Aku bisa bantu.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat hati Nadia hangat sekaligus nyeri.
Anaknya yang masih kecil mulai belajar menjadi dewasa terlalu cepat.
Karena keadaan memaksa.
Farhan membantu membereskan pecahan gelas sementara Nadia duduk lemas di kursi.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu diketuk.
Bu Rina datang membawa sayur dan lauk.
Begitu melihat wajah Nadia, ia langsung khawatir.
“Ya Allah, kamu sakit?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Kamu tuh kalau capek dipendam terus.”
Bu Rina segera membantu menyiapkan makanan.
Farhan berdiri di dekat meja sambil berkata pelan,
“Bunda dari semalam belum istirahat.”
Bu Rina menatap Nadia lama.
“Nadia… kamu nggak bisa terus-terusan begini.”
Air mata Nadia tiba-tiba jatuh begitu saja.
Tanpa bisa ditahan.
“Aku lelah, Bu…”
Suaranya pecah.
“Aku bener-bener lelah.”
Bu Rina langsung memeluk Nadia erat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Nadia menangis keras.
Tangis yang selama ini ia tahan sendirian.
Tangis perempuan yang terlalu lama berusaha kuat.
“Aku capek ngurus semuanya sendiri…”
“Udah… udah…”
“Aku juga pengen diperhatiin…”
Kalimat itu keluar bersama isak tangis yang membuat dada Bu Rina ikut sesak.
Farhan berdiri diam sambil menahan air mata.
Anak itu akhirnya sadar…selama ini bundanya memang sedang terluka sangat dalam.
Setelah Nadia sedikit tenang, Bu Rina menggenggam tangannya pelan.
“Kamu tahu nggak kenapa perempuan sering jatuh sakit?”
Nadia menggeleng lemah.
“Karena terlalu lama menahan semuanya sendiri.”
Kalimat itu membuat Nadia kembali menangis pelan.
Ia menatap rumah kecilnya. Rumah yang dulu ia perjuangkan dengan penuh cinta.
Tetapi sekarang perlahan menguras seluruh tenaganya.
Dan malam itu Nadia mulai menyadari sesuatu.
Yang paling menyakitkan dari sebuah kelelahan bukanlah banyaknya pekerjaan.
Melainkan ketika semua perjuangan itu tidak pernah benar-benar dilihat.
Kreator : Titin Mustika Merdekawati
Comment Closed: Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 5)
Sorry, comment are closed for this post.