“Wah… Bukannya itu pemain badminton yang ada di TV, ya?”
“Emang iya? Kasihan banget ya, padahal masih muda…”
“Aku dengar kalo suaminya selingkuh sama sekretaris dari perusahaannya…”
“Benarkah? Kasihan sekali. Semoga dia tidak menikah dengan orang seperti itu lagi di kehidupan selanjutnya.“
“Setuju!”
“Psst… Psst..”
“Psst… Psst…”
Bisik-bisik dari warg memenuhi jalanan. Mata mereka lekat kepada figur yang telah tergeletak di atas aspal jalan. Air hujan membasahi seluruh badannya.
“Johanna!”
“Johanna!”
“Johanna!”
Suara penggemarnya tiba-tiba terdengar masuk ke kupingnya, meneriakkan namanya dengan nada yang keras dan penuh semangat.
“JOHANNA!!!”
Kedua mata gadis itu perlahan-lahan membuka, suara lautan terdengar jelas dari sekelilingnya. Ia sekarang sedang tergeletak di atas pasir, berada di pulau yang tampak tidak asing. Ia pun mendudukkan dirinya, sambil dengan cepat meraba badannya dengan rasa panik. Tetapi sesaat kemudian mereda.
“Hah… Syukurlah, aku tidak apa-napa.” Gadis itu berkata sebelum mengelus dadanya lengah.
Tapi, ia diam sejenak melihat sekelilingnya. Rasa bingung yang tadi pun muncul lagi. Ia segera berdiri kemudian menebas pakaiannya yang terkena pasir.
“Aku sedang di mana?”
Perempuan berambut pixie itu berkata sambil menggaruk kepalanya. Dia sekarang berdiri di atas pulau besar sekelilingnya hanya ada pasir, lautan yang luas, dan pohon-pohon tropis.
“Gimana caranya aku bisa sampai sini?” gumamnya. Kedua tangannya ia letakkan di pinggul, rasa bingungnya justru semakin meningkat.
“Oh, Iya! Aku pasti sedang bermimpi. Tidak mungkin aku bisa pergi ke tempat seperti ini kalau tidak di alam mimpi!” katanya kemudian tersenyum menenangkan diri. Matanya pun berpindah ke ombak kecil yang menyentuh kakinya.
Sebelum dia bisa berjongkok untuk menyentuh airnya, dari belakang terdengar suara seseorang memanggil namanya dengan nada bahagia.
“Nyonya Johanna, kau sudah sampai!”
Suara itu terdengar seperti anak laki-laki remaja. Perempuan itu memutar kepalanya untuk melihat orang tersebut, matanya pun menatap wujudnya. Lelaki itu memakai setelan formal, rambutnya tertata rapi seperti model tahun 2000’an. Senyuman di wajahnya terpampang sangat jelas saat berlari ke arahnya.
Atlet itu hanya bisa membeku melihat lelaki itu, mukanya tanpa berekspresi.
“Langit, sudah ku bilang berkali-kali untuk tidak berlari saat bertemu arwah baru!”
Perempuan berpakaian hitam formal berjalan tak jauh dari sang pria muda itu menggunakan kacamata hitam dan topi mewah yang biasa ada di film luar jaman dulu. Baju hitamnya terlihat sangat elegan dan vintage, hampir seperti seperti artis Hollywood zaman dulu.
Johanna semakin bingung saat ia mendengar perempuan itu berkata arwah, tapi dia memutuskan untuk mencoba berfikir positif dan tidak menghiraukan perkataan perempuan itu. Dia membungkukkan kepalanya sekali saat pria muda itu mendekatinya.
“Uh- H-halo?” Johanna menyapa dengan nada canggung.
“Anda Nyonya Johanna, bukan?” Remaja itu bertanya kepadanya. Ia pun mengangguk.
“I-iya… Saya Johanna. Apakah kau tahu aku sedang dimana?”
Remaja itu tersenyum mendengarnya. Sebelum dia bisa menjawab, perempuan yang tadi berjalan di belakang remaja itu menjawab duluan. “Kau sedang berada di Pulau Freedomania.”
“Freedom… Apa?” Johanna kebingungan dan membuat perempuan itu memijat jidatnya.
“Pulau Freedomania… Kau tak ingat tempat ini?”
Johanna menggeleng-gelengkan kepalanya, Langit hanya bisa tercengang karena dirinya.
“Baiklah. Jadi, kamu sekarang sudah menjadi arwah. Tetapi kamu bukan sekedar arwah biasa. Arwah sepertimu adalah yang biasa kami cap sebagai ‘the chosen one’, karena kalian adalah arwah-arwah yang dipilih oleh Yang Di Atas untuk melalui masa sebelum kalian mati sekali lagi.” Perempuan itu berkata secara profesional, seperti sedang presentasi di depan banyak orang.
“Oh… ternyata beneran, aku sudah mati…”
“Iya, sulit dipercaya, bukan?”
“Eh, Kak Victoria!” Langit menepuk pundak perempuan itu.
“Kenapa Kakak bilang kalo dia sudah mati. Kan sudah aku bilang jangan kasih tahu terlebih dahulu dan tunggu dia sadar sendiri saja!” Langit mengomel tak terima. Tetapi, sebelum dia lanjutkan, Johanna langsung menghentikannya.
“Aku sudah tau kalo aku ini sudah meninggal kok…”
Langit dan Victoria bersamaan menatap Johanna.
“Dari awal aku bangun di atas pulau ini, aku sempat mengira bahwa aku sudah mati dan sedang bermimpi untuk terakhir kalinya.”
Ekspresi Langit sekarang terlihat kaget. Sementara Victoria menunjukkan raut wajah yang biasa saja.
“Oh… Benarkah?“ ucapnya sambil tertawa malu. “Aku kira kamu nggak tau…”
Pipinya kemudian memerah sedikit.
“Sudah ku bilang, kan?” Victoria berkata dan tersenyum, seolah dia telah memenangkan sebuah kompetisi.
“Kalau begitu,” tangan Langit diangkat lalu membuka pintu kayu besar yang tiba-tiba muncul dari bawah pasir. Pintu itu mempunyai beberapa arsiran di atasnya, seperti bunga-bunga liar yang melilit sekujur bingkai pintu tersebut.
Johanna hanya bisa tercengang sambil melihat pintu itu. Langit kemudian mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke pintu, seketika air laut di belakang mereka mulai terbang membentuk sebuah garis mengikuti arah tangan Langit. Sampai saat air itu menyentuh pintu bunga-bunga itu yang tadinya layu mulai berkembang dan berwarna. Hal itu membuat Johanna semakin tercengang karena baru pertama kali melihat sihir persis di depan matanya.
“Kapanpun kau siap, masuklah ke dalam pintu ini untuk kembali ke masa lalu.” Victoria berkata sambil mengarahkan tangannya ke pintu tersebut.
Seketika Johanna ragu dengan perkataannya, tetapi dia tetap berjalan menuju pintu itu. Saat dibuka olehnya, sinar dari portal membuatnya memejamkan kedua matanya karena terlalu terang. Dia mulai mendekat lagi dan hendak memasuki cahaya portal tetapi dari belakang ia bisa mendengar Langit meneriakkan namanya.
“Nyonya Johanna, kamu belum memberitahu misi anda!”
Johanna berhenti di depan pintu dan menolehkan kepalanya ke arah Langit.
“Misi?”
“Iya, benar. Kau telah diberikan misi.”
Johanna terlihat bingung. “Apa misinya?”
Victoria pun maju dengan ekspresi yang serius. “Misinya adalah menyelamatkan nyawa sahabatmu dan mencegah kematiannya yang terjadi di masa depan,”
Johanna hanya menganggukkan kepalanya kepada Victoria dan tersenyum lembut. “Terdengar mudah.”
“Bukan hanya itu. Kau juga harus menjaga pembunuhnya dan jagalah dia.” Victoria melanjutkan.
Hal itu membuat Johanna kaget, senyumnya seketika berubah drastis.
“H-hah?!” Ia sekarang melotot ke arah Victoria. “Kenapa harus dia?”
Victoria hanya bisa menjungkitkan kedua bahunya.
“Kau-“
Sebelum Johanna bisa berjalan mendekati Victoria, tiba-tiba badannya mulai dihisap masuk ke dalam portal.
“Misi ini bukan dari kami, melainkan dari Sang Pencipta. Jadi kamu diwajibkan untuk melakukannya.”
Langit berkata sambil melihat perempuan itu dengan ekspresi yang sedikit kasihan.
“Dia sudah membunuh Noel sampai wajahnya dipenuhi luka!” protes Johanna. Kakinya berusaha untuk berlari kepada mereka tetapi daya tarik dari portal membuatnya terjatuh.
“Bisa jadi Sang Pencipta ingin menyampaikan sesuatu lewat misi ini. Jadi, semangatlah!”
Langit mengangkat kedua tangannya yang telah terbentuk menjadi kepalan, menunjukkan keduanya sebagai ucapan semangat.
Hal itu membuatnya semakin heran dan bersikeras untuk mendekat ke keduanya dengan cara merangkak tetapi pasir di sekitarnya juga ikut tertarik oleh portal.
“Sebentar … Aku ingin menanyakan beberapa hal lain kepada kalian!”
Tetapi daya tarik dari portal sangatlah kuat dan dia hanya bisa menahan dirinya agar tidak masuk dengan menggenggam kepada pintu.
“Selamat tinggal, Nyonya Johanna. Mari bertemu lagi nanti di pulau ini,” gumam Victoria sebelum berjalan pergi. Langit mengikutinya dari belakang.
“Tunggu!! Kalian mau kemana?!” teriak Johanna sambil mencoba mendapatkan perhatian mereka dengan melemparkan pasir, tapi butiran-butiran pasir tersebut malah terbang kembali ke kedua matanya, membuatnya melepaskan salah satu tangannya yang telah menggenggam pintu.
Tangannya mulai ditarik masuk dan jari-jari tangannya yang masih bertahan mulai meleset satu per satu, dan menyisakan kelingkingnya yang sebentar lagi akan meleset karena daya tarik portal yang semakin kuat.
“Ah sialan…”
Itu hal terakhir yang dia katakan sebelum masuk ke dalam pintu, termakan oleh cahaya yang tidak ada akhirnya.
Kreator : Jemima (JemaLima)
Comment Closed: BAB II – Pulau Yang Tidak Asing
Sorry, comment are closed for this post.