KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 6: Menjadi Cahaya bagi sesama Cinta sesama menjadi pelita peradaban

    Bab 6: Menjadi Cahaya bagi sesama Cinta sesama menjadi pelita peradaban

    BY 03 Jul 2026 Dilihat: 2 kali
    Ikatan Jantung Hati dan Langkah Pertama_alineaku

    Ketika sebuah lilin dinyalakan di dalam ruangan yang gelap, ia tidak pernah membatasi cahayanya hanya untuk menerangi dirinya sendiri. Sifat dasar cahaya adalah bergerak, mengusir kegelapan di sekelilingnya tanpa pernah meminta imbalan dari ruang yang diteranginya. Begitu pula rupanya ketetapan takdir yang harus saya jalani setelah berhasil membangun fondasi internal yang kuat di RA Aisyah Afiqannisa. Keberhasilan kami dalam menerapkan *Kurikulum Berbasis Cinta*, merapikan sistem administrasi, serta meningkatkan kualitas mutu madrasah ternyata terdengar hingga ke telinga jajaran pengurus pusat yayasan.

    Suatu siang di pertengahan tahun, sebuah surat keputusan resmi dari yayasan mendarat di meja kerja saya. Isinya sebuah instruksi yang mengejutkan sekaligus menguji ketahanan iman saya: saya diperbantukan untuk turun tangan langsung membenahi dan membimbing RA lain di bawah naungan yayasan yang kondisinya saat itu sedang mengalami kemunduran, baik dari segi manajemen, administrasi data, maupun stabilitas para pendidiknya.

    Jujur, saat pertama kali membaca lembar demi lembar surat tugas tersebut, ada setitik rasa batin yang berkecamuk di dalam dada. Mengelola satu madrasah agar tetap konsisten berada di jalur prestasi dan cinta saja sudah menyita waktu, pikiran, dan energi yang luar biasa besar. Kini, saya harus membagi tubuh dan pikiran saya untuk mengurus lembaga lain yang jaraknya tidak dekat, dengan segudang permasalahan batin dan birokrasi yang tentu saja tidak mudah untuk diurai.

    Ujian itu terasa semakin nyata ketika pihak yayasan menegaskan sejak awal bahwa tugas perbantuan ini adalah bentuk pengabdian murni. Artinya, tidak ada anggaran khusus, tidak ada insentif tambahan, dan tidak ada upah sepeser pun yang disediakan untuk peluh dan waktu ekstra yang akan saya keluarkan nanti. Saya diminta bergerak hanya dengan modal keikhlasan yang abstrak di mata manusia.

    “Umi…” ucap seorang anggota keluarga saat saya menceritakan perihal tugas baru itu di ruang tengah rumah kami pada suatu malam. Tatapan matanya menyiratkan rasa khawatir yang mendalam. “Umi baru saja bisa bernapas lega setelah semua badai fitnah dan lelahnya kuliah S2 kemarin selesai. Sekarang, kenapa yayasan justru memberikan beban seberat ini? Mengapa mereka memperbantukan Umi tanpa memberikan hak atau upah yang layak? Bukankah ini namanya pemerasan tenaga secara halus? Umi sudah terlalu lelah untuk lembur lagi setiap hari.”

    Saya menatap wajah keluarga saya, melihat ketulusan cintanya yang selalu ingin melindungi saya dari rasa lelah. Saya menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dada saya sendiri sebelum menenangkan hatinya. Saya raih jemari tangannya, lalu saya ulas sebuah senyuman yang paling meneduhkan.

    “Dek, dengarkan Umi,” jawab saya dengan nada suara yang tertata lembut namun sarat akan keyakinan tauhid. “Secara hitung-hitungan matematika manusia di atas kertas, ini memang terlihat tidak adil. Tenaga Umi diperas, waktu lembur Umi tersita, dan tidak ada upah materi yang bisa dibawa pulang ke rumah. Tetapi, Umi mencoba melihat ini dari sudut pandang yang berbeda. Mengapa dari sekian banyak orang, yayasan justru memilih Umi? Itu artinya, Allah sedang mempercayakan ilmu S2 yang Umi miliki untuk menjadi jalan keluar bagi kesulitan orang lain. Jika Umi menolak hanya karena tidak ada uangnya, lalu di mana letak nilai “Kurikulum Berbasis Cinta” yang selama ini Umi agung-agungkan di depan kelas? Biarlah yayasan tidak memberi upah, karena Umi tahu, kas atau tabungan milik Allah di langit tidak akan pernah kering untuk membayar upah hamba-Nya yang bergerak karena lillahi ta’ala.”

    Mendengar penjelasan itu, ruangan tengah kami seketika diselimuti keheningan yang sakral. Keikhlasan yang coba saya tanamkan di dalam rumah akhirnya membuahkan restu yang tulus. Dengan modal restu keluarga dan sisa-sisa energi yang ada, saya memantapkan langkah kaki untuk mendatangi RA yang ditunjuk tersebut.

    Hari pertama saya menginjakkan kaki di RA perbantuan itu, pemandangan yang menyambut saya sungguh memprihatinkan. Suasana madrasah tampak lesu, tidak ada pendaran energi ceria seperti yang biasa saya rasakan di RA Aisyah Afiqannisa. File-file administrasi lembaga menumpuk berantakan di atas meja kerja yang berdebu, data digital di sistem operator mengalami eror yang parah sehingga menghambat pencairan hak para guru, dan yang paling menyedihkan adalah raut wajah para pendidiknya. Mereka tampak bekerja dengan beban mental yang berat, kehilangan motivasi, dan dilingkupi rasa frustrasi akibat manajemen internal yang carut-marut.

    Saya melangkah masuk ke ruang guru dengan langkah yang tenang, menebarkan senyuman hangat tanpa ada kesan ingin menggurui atau merasa lebih tinggi karena gelar S2 saya. Saya menyalami kepala sekolah dan para guru satu per satu dengan pelukan yang erat, sebuah gestur fisik khas Kurikulum Cinta untuk meruntuhkan dinding kecanggungan.

    “Selamat pagi, Ibu-Ibu pejuang yang luar biasa,” sapa saya dengan intonasi yang penuh semangat. “Perkenalkan, saya Husnawati dari RA Aisyah Afiqannisa. Saya datang kesini bukan sebagai pengawas yang ingin mencari-cari kesalahan, bukan pula sebagai ahli yang ingin mendikte tugas Ibu-Ibu. Saya datang sebagai seorang saudari, seorang sahabat sesama guru, yang ingin menaruh pundak saya di samping pundak Ibu-Ibu sekalian. Mari kita rapikan rumah ini bersama-sama, kita urai benang kusutnya satu per satu dengan penuh cinta.”

    Mendengar kalimat pembuka saya yang jauh dari kesan formalitas birokrasi, beberapa guru tampak saling berpandangan. Ketegangan yang semula menghiasi wajah-wajah lelah mereka perlahan-lahan mulai mencair.

    Kepala sekolah RA tersebut, seorang wanita paruh baya yang tampak kelelahan, mendekati saya dengan mata yang berkaca-kaca. “Bunda Husna… terima kasih banyak sudah mau datang ke lembaga kami yang kecil dan berantakan ini. Kami sudah hampir menyerah. Data operator kami macet total selama berbulan-bulan, tunjangan guru-guru tidak kunjung keluar, dan kami tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kami merasa berjalan di dalam kegelapan sendirian.”

    Saya menggenggam kedua tangannya dengan erat, menyalurkan energi kekuatan batin yang saya miliki. “Ibu tidak sendirian lagi sekarang. Mulai hari ini, kesulitan RA ini adalah kesulitan saya juga. Kita hadapi badai data ini bersama-sama. Percayalah, setelah malam yang paling gelap, fajar kemudahan dari Allah pasti akan terbit.”

    Perjuangan membenahi madrasah itu pun dimulai dengan sangat melelahkan. Setiap hari, setelah menyelesaikan seluruh kewajiban utama saya sebagai pemimpin dan operator di RA Aisyah Afiqannisa, saya harus segera membelah jalanan Kota Bekasi yang padat menuju RA perbantuan ini. Waktu kerja saya otomatis membengkak dua kali lipat. Di saat matahari sudah tenggelam dan lampu-lampu jalanan mulai menyala, saya masih duduk setia di depan layar laptop di ruang guru RA tersebut yang mulai sepi.

    Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana di luar ruangan sudah sangat sunyi, hanya menyisakan deru suara angin malam yang sesekali mengetuk ventilasi jendela. Saya bersama seorang guru muda bernama Ustazah Fitri, yang ditunjuk sebagai operator lokal, masih sibuk berkutat dengan sistem digital kementerian yang berkali-kali mengalami ‘crash’ akibat penumpukan data masa lalu yang salah ‘input’

    Mata Ustadzah Fitri tampak merah menahan kantuk dan lelah. Tangannya yang memegang tetikus komputer mulai bergetar. 

    “Bunda Husna…” bisiknya dengan suara yang serak, hampir menangis karena putus asa. “Sistemnya menolak lagi. Data validasi siswa kita tetap merah. Saya lelah sekali, Bunda. Saya merasa bersalah karena ketidakmampuan saya ini membuat nasib tunjangan teman-teman guru yang lain menjadi terhambat. Rasanya saya ingin mundur saja jadi operator.”

    Saya menghentikan gerakan jemari saya di atas keyboard laptop saya sendiri. Saya geser kursi saya agar lebih dekat dengan posisi duduk Ustadzah Fitri. Saya letakkan telapak tangan saya di atas punggung tangannya yang dingin, memberikan sentuhan fisik yang menenangkan jiwa yang sedang rapuh.

    “Ustadzah Fitri, lihat mata Bunda,” ucap saya dengan nada suara yang teramat lembut namun penuh dengan penekanan kekuatan. “Jangan pernah biarkan bisikan putus asa itu merusak keikhlasanmu. Apa yang sedang kamu kerjakan di depan layar komputer ini, setiap baris kode data yang kamu perbaiki hingga larut malam seperti ini, nilainya di mata Allah sama mulianya dengan seorang pejuang yang sedang angkat senjata di medan perang. Kamu sedang memperjuangkan hak dan dapur dari keluarga rekan-rekan gurumu. Kamu adalah pahlawan sunyi di madrasah ini.”

    Ustazah Fitri mendongak, menatap mata saya dengan pandangan yang sarat akan rasa haru. “Tapi Bunda… Bunda Husna sendiri tidak dibayar apa-apa oleh yayasan untuk membantu kami. Bunda harus lembur setiap malam, mengorbankan waktu istirahat dan waktu bersama keluarga di rumah. Mengapa Bunda masih bisa tersenyum dan sekuat ini menguatkan saya? Dari mana Bunda mendapatkan energi keikhlasan yang sebesar ini?”

    Saya tersenyum lebar, ingatan saya seketika melayang pada memori duka saat saya merawat almarhumah Ibu dan peristiwa spiritual di GOR Bekasi bersama Ustadzah Halimah Alaydrus.

    “Fitri, anakku yang baik…” jawab saya dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru. “Bunda pernah berada di titik yang jauh lebih gelap dan hancur daripada yang kamu rasakan malam ini. Bunda pernah difitnah manusia, kehilangan Ibu tercinta, bahkan pernah bekerja keras sebagai operator tanpa dibayar sepeser pun dan dibohongi berulang kali oleh orang yang Bunda bantu. Saat itu, Bunda belajar satu pelajaran berharga dari Kurikulum Berbasis Cinta yang sejati: bahwa jika kita menggantungkan harapan upah dan penghargaan kepada manusia, kita hanya akan mendapatkan kekecewaan yang tak berujung. Manusia itu tempatnya lemah dan khilaf. Tetapi, ketika kita memindahkan niat kerja kita dari mencari ridha makhluk menuju ridha Allah SWT, maka rasa lelah itu akan menjelma menjadi lillahi ta’ala. Rasa lelah fisik ini tidak akan pernah sebanding dengan luasnya samudra pahala dan keberkahan yang sedang Allah siapkan di ujung jalan nanti. Kita tidak sedang mencari uang di sini, Fitri. Kita sedang menenun jaring-jaring keselamatan untuk akhirat kita kita bersama.”

    Air mata Ustazah Fitri akhirnya tumpah membasahi pipinya. Namun, kali ini bukan air mata putus asa, melainkan air mata keharuan dan kebangkitan spiritual yang luar biasa. Kalimat yang saya sampaikan rupanya berhasil menyentuh bagian terdalam dari jiwanya yang sempat layu.

    “Terima kasih, Bunda Husna… Terima kasih sudah menghidupkan kembali jiwa saya yang hampir mati,” ucap Ustazah Fitri sembari menyeka air matanya dengan ujung jilbab. “Ayo, Bunda, kita coba sekali lagi. Saya siap lembur sampai sistem ini benar-benar berubah menjadi hijau!”

    “Nah, begitu baru namanya anak salehah pejuang cinta! Ayo, kita bismillah bersama-sama,” seru saya penuh semangat, menularkan energi optimisme baru ke dalam ruangan yang temaram itu.

    Kami berdua kembali fokus memelototi layar monitor dengan semangat yang berlipat ganda. Keajaiban keikhlasan itu pun kembali terbukti nyata. Tepat pada pukul sepuluh malam, setelah melalui proses perbaikan algoritma data yang rumit dan doa-doa pendek yang terus kami rapalkan di sela-sela ketikan, layar monitor yang semula dipenuhi warna merah tanda eror, tiba-tiba berubah warna secara keseluruhan menjadi hijau cerah dengan tulisan: *Data Valid dan Siap Diproses*.

    “Bunda! Berhasil! Datanya sudah hijau semua!” teriak Ustadzah Fitri histeris kegirangan, melompat dari kursinya dan langsung menghambur ke dalam pelukan saya.

    Kami berdua berpelukan erat di dalam ruang guru yang sunyi itu, menumpahkan air mata kebahagiaan yang teramat sangat lapang. Rasa lelah yang mendera tubuh saya selama berminggu-minggu, rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata, serta dinginnya angin malam Kota Bekasi seolah-olah menguap lenyap begitu saja tanpa sisa, digantikan oleh sebuah kepuasan batin yang nilainya jauh lebih mewah daripada tumpukan lembaran uang kertas materi di dunia. Tunjangan rekan-rekan guru di RA ini akhirnya terselamatkan, dan masa depan administrasi lembaga ini kini telah memiliki arah kompas yang jelas.

    Dalam hitungan beberapa bulan kemudian, perubahan drastis terjadi di RA perbantuan tersebut. Manajemen administrasinya menjadi sangat rapi, suasana kelas-kelasnya mulai dipenuhi oleh riuh rendah tawa ceria anak-anak yang diajar dengan pendekatan kasih sayang, dan para gurunya kini memiliki senyuman yang tulus serta penuh percaya diri dalam mengajar. Mereka telah berhasil mengadopsi ruh dari Kurikulum Berbasis Cinta yang saya bawa dari RA Aisyah Afiqannisa.

    Pada hari terakhir masa perbantuan saya, seluruh jajaran guru dan orang tua murid di RA tersebut berkumpul di halaman sekolah untuk mengadakan acara perpisahan sederhana. Saat saya hendak melangkah menuju motor untuk pulang, kepala sekolah bersama Ustazah Fitri dan beberapa perwakilan wali murid menahan langkah saya. Mereka membawa sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas kado sederhana dan sebuket bunga rajutan tangan hasil karya anak-anak kelas.

    “Bunda Husna…” ucap sang Kepala Sekolah dengan suara yang terbata-bata menahan tangis haru. “Kami tahu, yayasan tidak memberikan upah atau materi apa pun kepada Bunda selama membantu kami di sini. Kami juga tahu kami tidak memiliki kemampuan untuk membayar seluruh peluh, waktu lembur, dan air mata yang sudah Bunda korbankan untuk menghidupkan kembali madrasah kami. Hadiah kecil dari tangan anak-anak ini tidak ada harganya, Bunda. Tetapi, ketahuilah, nama Bunda Husna kini telah terukir abadi di dalam setiap sujud doa kami para guru dan anak-anak di sini. Terima kasih telah menjadi cahaya penuntun di saat kami kehilangan arah.”

    Saya menerima bingkisan dan buket bunga itu dengan dada yang bergetar hebat menahan ombak kebahagiaan spiritual yang membuncah. Saya peluk mereka semua satu per satu dengan pelukan yang teramat erat, menyatukan detak jantung kami dalam satu ikatan cinta sesama manusia yang luhur.

    “Ibu-Ibu dan adik-adikku sekalian,” jawab saya dengan suara yang bergetar haru, air mata kebahagiaan menetes di pipi saya. “Upah terbaik bagi seorang pendidik bukan terletak pada apa yang ada di dalam dompetnya, melainkan pada apa yang hidup di dalam hati anak-anak didiknya dan doa-doa tulus yang mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Kebahagiaan melihat madrasah ini kembali tersenyum dan melihat tunjangan guru-guru keluar dengan lancar adalah bayaran yang jauh lebih dari cukup bagi saya. Teruskan merawat lentera cinta ini, jangan biarkan ia padam lagi oleh badai apa pun.”

    Saya mengendarai motor saya membelah jalanan Kota Bekasi untuk pulang menuju RA Aisyah Afiqannisa dengan perasaan yang teramat lapang, damai, dan merdeka. Tugas berat yang diperbantukan oleh yayasan tanpa upah materi itu ternyata tidak membuat saya miskin atau kekurangan, melainkan justru memperkaya kapasitas jiwa saya secara luar biasa.

    Allah SWT telah membuktikan janji-Nya dengan sangat nyata: bahwa ketika kita bersedia meluangkan waktu dan tenaga kita untuk memikirkan serta membantu urusan makhluk-Nya dengan tulus, maka Allah sendirilah yang akan mengambil alih untuk mengurus dan mempermudah segala urusan hidup kita, urusan keluarga kita, serta urusan perkembangan madrasah utama kita, RA Aisyah Afiqannisa. Di ujung jalan pengabdian ini, saya belajar satu hal paling agung dalam Kurikulum Berbasis Cinta: bahwa sejatinya, kebahagiaan tertinggi seorang manusia adalah ketika keberadaan dirinya mampu menjelma menjadi cahaya kebermanfaatan yang mengusir kegelapan bagi sesama, menjadi pelita peradaban yang hakiki demi menjemput rida tertinggi dari Sang Khalik di dunia dan akhirat.

     

     

    Kreator : Husnawati, (Hawa81)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 6: Menjadi Cahaya bagi sesama Cinta sesama menjadi pelita peradaban

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021