
Setiap manusia yang lahir ke dunia pasti membawa takdirnya masing-masing. Ada yang jalannya mulus bertabur kelopak mawar, ada pula yang harus melewati jalanan berbatu tajam yang kerap kali merobek telapak kaki. Di usia saya yang telah menyentuh angka 45 tahun, sebuah angka yang bagi sebagian orang adalah masa untuk duduk tenang menikmati kematangan hidup, saya justru merasa seperti seorang musafir yang masih harus berjalan membelah badai gurun yang gersang.
Setelah seluruh peluh dan keikhlasan saya tumpahkan di RA perbantuan kemarin sebuah perjalanan spiritual yang mengajarkan saya arti menjadi cahaya saya mengira Allah akan memberikan saya waktu untuk sekadar menghela napas panjang di dalam ketenangan. Namun, ketetapan-Nya selalu penuh kejutan. Di balik rapinya administrasi madrasah dan senyum anak-anak didik yang kembali merekah, ada sudut sunyi di dalam hati saya yang masih sering kali terasa sepi. Sudut di mana seorang wanita, sekuat apa pun penampilannya di depan publik, sedalam apa pun ilmu S2 yang disandangnya, tetaplah seorang hamba yang merindukan hadirnya sebuah belahan jiwa. Seseorang yang bersedia menjadi nakhoda, tempat berbagi cerita di kala petang, dan imam yang menuntun langkah menuju jannah-Nya.
Harapan itu sempat membubung tinggi ketika suatu hari, seorang lelaki datang mengetuk pintu kehidupan saya. Ia datang dengan segala tutur kata yang santun, membawa rombongan keluarganya, dan dengan jantan mengutarakan maksudnya untuk meminang saya. Prosesi lamaran itu berlangsung dengan sangat khidmat di kediaman kami yang sederhana di Bekasi. Di depan keluarga besar yang menyaksikan, cincin pengikat disematkan, dan tanggal pernikahan pun disepakati bersama.
Saat itu, dada saya bergemuruh hebat oleh rasa syukur. Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, apakah ini jawaban atas doa-doa di sepertiga malam saya selama ini? Apakah lelaki ini yang Engkau takdirkan untuk membasuh air mata lelah saya?”
Namun, manusia hanya berhak menyusun rencana di atas lembaran kertas, sementara Allah yang memegang pena takdir untuk menghapusnya.
Hanya tinggal beberapa pekan menjelang hari pernikahan yang telah dirancang, ketika mendadak langit di atas kepala saya seolah runtuh tanpa peringatan. Lelaki yang telah memohon komitmen saya, lelaki yang di depan keluarga besar berjanji akan menjadi pelindung bagi sisa usia saya, datang membawa kabar yang memutus urat-urat harapan saya.
Dengan alasan-alasan klasik yang terkesan dicari-cari mulai dari ketidakpastian restu internal keluarganya yang tiba-tiba berubah, hingga benturan-benturan prinsip yang mendadak diadakan—ia menyatakan membatalkan pernikahan kami. Secara sepihak.
“Maafkan saya, Mbak Husna,” ucapnya malam itu dengan nada suara yang terdengar begitu dingin, berbanding terbalik dengan kehangatan yang ia bawa saat hari lamaran dahulu. “Setelah saya pertimbangkan kembali secara mendalam, tampaknya pernikahan ini tidak bisa kita lanjutkan. Ada banyak hal yang tidak bisa saya paksakan. Saya rasa, kita lebih baik berjalan sendiri-sendiri.”
Kata-kata itu meluncur dari bibirnya dengan begitu mudah, seolah-olah ia tidak sedang menghancurkan martabat dan hati seorang wanita yang telah menjaga kehormatannya selama puluhan tahun. Saya terpaku di atas kursi ruang tamu, tangan saya mendadak dingin dan gemetar. Di dalam dada saya, ada suara retakan yang sangat keras. Rasa perihnya menjalar hingga ke ujung jari-jari kaki.
Saya menatap matanya, mencari sisa-sisa kejujuran atau setidaknya rasa bersalah dari sosok yang sempat saya bayangkan akan memimpin salat berjamaah di rumah ini. Namun, yang saya temukan hanyalah kekosongan dan kepengecutan.
“Apakah ini keputusan akhir yang kamu bawa setelah semua persiapan dan janji di depan keluarga saya?” tanya saya, mencoba menahan sekuat tenaga agar suara saya tidak bergetar. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata, panas dan mendesak untuk keluar.
“Iya, ini yang terbaik untuk kita berdua,” jawabnya tanpa berani menatap langsung bola mata saya.
Setelah ia pamit dan melangkah pergi meninggalkan halaman rumah, pertahanan batin saya runtuh seketika. Malam itu, Kota Bekasi seolah ikut menangis bersama saya. Saya berlari menuju kamar, mengunci pintu, dan menumpahkan segala rasa sesak yang menghimpit dada di atas hamparan sajadah. Air mata saya tumpah seketika, membasahi kain kain sujud saya.
Rasa malu kepada keluarga besar, rasa kecewa yang mendalam karena dihianati, serta tanda tanya besar mengapa ujian ini harus datang bertubi-tubi di usia yang tak lagi muda, berkecamuk menjadi satu dalam pikiran. Di usia 45 tahun, ditolak dan dibatalkan pernikahannya secara sepihak adalah sebuah pukulan telak bagi harga diri seorang wanita. Rasanya begitu perih, bahkan jauh lebih perih daripada lelahnya fisik yang diperas tanpa upah materi di madrasah perbantuan kemarin.
Di tengah puing-puing hati yang belum sepenuhnya tertata kembali, waktu terus berjalan. Sebagai seorang pemimpin lembaga pendidikan, saya dituntut untuk tetap tampil profesional. Di depan para guru di RA Aisyah Afiqannisa, di hadapan para orang tua murid, saya harus tetap mengulas senyuman paling meneduhkan. Saya harus tetap menjadi “Bunda Husna” yang tegar, yang energinya selalu meluap untuk memotivasi orang lain melalui Kurikulum Berbasis Cinta. Tidak boleh ada yang tahu bahwa di dalam bilik kamar tidurnya, wanita ini sedang mengumpulkan serpihan hatinya satu per satu.
Mungkin karena melihat kerapuhan yang tersembunyi itu, atau mungkin karena takdir ingin menguji sejauh mana ketahanan iman saya, tak lama berselang, datanglah seorang lelaki lain masuk ke dalam lingkaran kehidupan saya.
Lelaki kedua ini datang dengan karakter yang sangat berbeda dari lelaki yang pertama. Ia adalah sosok yang sangat perhatian, pandai mengambil hati, dan memiliki retorika yang luar biasa manis. Melalui pesan-pesan digital yang dikirimkannya setiap hari, ia seolah-olah memposisikan diri sebagai juru selamat yang siap menyembuhkan luka batin saya akibat kegagalan pernikahan sebelumnya.
“Bunda Husna adalah wanita yang sangat mulia. Dedikasi Bunda pada dunia pendidikan anak usia dini membuat saya kagum. Wanita sehebat Bunda tidak pantas disakiti oleh lelaki yang tidak tahu cara menghargai permata,” tulisnya dalam salah satu pesan singkat yang dikirimkannya di suatu malam.
Kalimat-kalimatnya begitu magis, mengalir bak air sejuk di tengah tenggorokan yang dahaga. Jujur, sebagai wanita yang sedang terluka, benteng pertahanan saya perlahan-lahan mulai melunak. Saya mulai membuka ruang diskusi, mulai membiarkan hati ini kembali berharap bahwa mungkin, dialah penawar sesungguhnya yang dikirimkan oleh Allah.
Namun, seiring berjalannya bulan, perangai aslinya mulai terbaca. Lelaki ini ternyata hanyalah seorang pencinta kata-kata tanpa dasar perbuatan yang nyata. Ia pandai memberikan harapan-harapan palsu (pemberi harapan palsu atau PHP), melambungkan angan-angan saya tentang sebuah keluarga yang sakinah, namun setiap kali saya mengajukan pertanyaan tentang langkah konkret untuk melangkah ke pelaminan, ia selalu berkelit dengan seribu satu alasan.
Hari ini ia berkata sedang mempersiapkan modal, esok hari ia beralasan sedang sibuk dengan urusan bisnisnya yang carut-marut, dan lusa ia menghilang tanpa kabar selama berminggu-minggu, lalu kembali datang dengan wajah tanpa dosa seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mempermainkan emosi saya laksana layang-layang di angkasa; ditarik ulur sesuka hatinya, dibiarkan melayang tinggi dalam harapan, lalu dihempaskan begitu saja ke bumi tanpa perasaan.
Hingga pada suatu titik kejenuhan yang luar biasa, saya menyadari sebuah kebenaran yang pahit: lelaki ini tidak pernah benar-benar berniat untuk memuliakan saya dalam ikatan suci pernikahan. Ia hanya memanfaatkan kerapuhan saya, mencari panggung kenyamanan ego untuk dirinya sendiri, dan menjadikan saya sebagai tempat persinggahan sementara di kala ia merasa sepi.
Ketika saya mencoba menegaskan posisi dan meminta kepastian dengan tegas, ia justru menarik diri secara perlahan dan akhirnya menghilang sepenuhnya dari kehidupan saya, meninggalkan luka baru di atas luka lama yang belum sempat mengering.
Malam itu, setelah menyadari bahwa saya kembali menjadi korban dari kepalsuan janji seorang manusia, saya duduk termenung di sudut ruang tengah rumah. Jam dinding terus berdetak, memecah kesunyian malam yang kian mencengkeram. Saya memandangi kedua telapak tangan saya yang mulai memperlihatkan garis-garis halus, penanda bahwa usia biologis saya tidak lagi muda.
Empat puluh lima tahun. Sebuah fase dimana metabolisme tubuh mulai menurun, di mana rambut-rambut putih mulai menyelinap di balik sehelai jilbab, dan dimana rasa lelah fisik tidak lagi secepat dulu untuk pulih.
Saya meraba pundak saya sendiri. Pundak yang setiap hari harus memikul beban manajemen madrasah, memikirkan nasib guru-guru, mengurai rumitnya data kementerian yang error, menghadapi berbagai macam karakter birokrasi, dan kini… harus memikul beban kehancuran hati akibat dipermainkan oleh janji-janji lelaki.
“Sampai kapan, ya Allah?” bisik batin saya dengan suara yang teramat lirih. “Sampai kapan pundak yang rapuh ini harus terus berdiri tegak berpura-pura kuat di hadapan manusia? Aku lelah… Aku benar-benar lelah.”
Di saat-saat kelelahan jiwa dan raga mencapai puncaknya seperti inilah, memori kolektif saya secara otomatis berputar ke masa lalu. Ruang tengah rumah yang sepi ini seolah-olah bertransformasi kembali menjadi ruang tengah yang hangat puluhan tahun yang lalu. Waktu di mana rumah ini masih memiliki “ruh” yang utuh. Waktu di mana kedua orang tua saya masih hidup dan berada di dunia.
Air mata saya mengalir semakin deras ketika bayangan wajah almarhum Ayah dan almarhumah Ibu melintas dengan begitu nyata di pelupuk mata. Dada saya sesak oleh kerinduan yang membuncah, sebuah kerinduan yang tak akan pernah bisa ditunaikan lagi di dunia ini.
Saya rindu masa-masa dahulu, ketika dunia sedang tidak ramah kepada saya, ketika saya pulang ke rumah dengan air mata yang berderai akibat fitnah atau kejamnya perlakuan orang lain, selalu ada dua pasang tangan yang siap menyambut saya di ambang pintu.
Saya teringat sosok Ibu. Wanita penyabar yang dari rahimnya saya dilahirkan. Ibu adalah tempat pelarian pertama saya di kala duka. Dahulu, jika saya sedang lelah atau sedih, saya hanya perlu merebahkan kepala saya di atas pangkuannya yang empuk. Jemari tangannya yang mulai keriput akan mengusap lembut rambut saya, menyalurkan energi ketenangan yang luar biasa. Cukup dengan mendengar suaranya yang lembut berkata, “Sabar, Neng… Anak Ibu kuat. Ada Allah,” maka separuh dari beban dunia di atas pundak saya seolah menguap lenyap seketika.
Dan Ayah… sosok cinta pertama saya yang luar biasa kokoh. Ayah adalah pundak terbaik yang pernah saya miliki di dunia ini. Ia tidak banyak bicara, namun tatapan matanya selalu memancarkan perlindungan yang mutlak. Ketika saya menghadapi badai kehidupan yang berat, Ayah akan menepuk pundak saya dengan tangannya yang kekar, lalu berkata dengan nada yang penuh keyakinan, “Jangan takut, Husna. Selama Ayah masih bernapas, tidak akan ada yang boleh menyakitimu. Hadapi semuanya dengan kepala tegak.”
Kini, di usia 45 tahun, di saat saya berada di titik terendah akibat patah hati dan kelelahan hidup, kedua pundak tempat saya bersandar itu telah tiada. Mereka telah tertidur lelap di bawah gundukan tanah merah, membiarkan anak perempuannya ini berjuang sendirian mengarungi sisa badai kehidupan di Kota Bekasi yang bising.
“Ayah… Ibu…” bisik saya di tengah isak tangis yang tertahan, memeluk kedua lutut saya sendiri di atas sajadah. “Husna rindu… Husna lelah sekali malam ini. Husna ingin pulang ke pelukan Ayah dan Ibu. Husna ingin mengadu bahwa manusia di luar sana kejam sekali. Mereka mempermainkan hati Husna, mereka memeras tenaga Husna, dan mereka meninggalkan Husna sendirian saat Husna sedang rapuh.”
Suasana kamar terasa begitu sunyi. Tidak ada suara usapan tangan Ibu, tidak ada tepukan hangat di pundak dari Ayah. Yang terdengar hanyalah deru angin malam yang berembus di balik kaca jendela dan detak jarum jam yang seolah menertawakan kesendirian saya. Kehilangan kedua orang tua adalah kehilangan arah kompas kedamaian yang hakiki di dunia. Di usia berapa pun kita kehilangan mereka, kita akan selalu merasa seperti anak yatim piatu yang tersesat di tengah keramaian pasar dunia.
Malam kian merambat larut, mendekati waktu sepertiga malam yang sakral. Setelah puas menumpahkan segala air mata kerinduan dan kekecewaan hingga dada terasa sedikit lapang, saya mengambil air wudhu kembali. Air dingin yang menyentuh kulit wajah seolah-olah membasuh sisa-sisa debu keputusasaan yang sempat menyelimuti hati.
Saya kembali menggelar sajadah, mengenakan mukena putih bersih, dan menegakkan salat sunah tahajud dan witir. Di dalam sujud yang panjang, di dalam posisi terendah seorang manusia di hadapan Sang Pencipta, saya kembali merenungkan seluruh rangkaian peristiwa pahit yang baru saja saya alami.
Melalui lensa Kurikulum Berbasis Cinta yang selama ini saya pelajari dan ajarkan, Allah seolah-olah sedang mengetuk pintu kesadaran saya dengan cara yang sangat keras. Saya tersadar dari kelalaian batin saya sendiri.
“Husna…” bisik suara hati saya yang paling dalam, dibimbing oleh petunjuk-Nya. “Mengapa kamu harus menangis sekencang ini hanya karena kehilangan sandaran dari seorang makhluk? Mengapa kamu harus merasa hancur lelah hanya karena seorang lelaki membatalkan janji dan lelaki lain mempermainkanmu dengan harapan palsu? Bukankah selama ini kamu sendiri yang mengajarkan di depan kelas dan di hadapan Ustazah Fitri, bahwa menggantungkan harapan kepada manusia hanya akan berujung pada kekecewaan yang tak bertepi?”
Saya menarik napas panjang di atas sajadah, meresapi kebenaran hakiki tersebut. Ya Allah, saya menyadari satu hal yang sangat agung malam itu. Rasa sakit hati yang saya rasakan akibat pembatalan pernikahan dan perlakuan PHP ini bukanlah bentuk hukuman dari-Nya, melainkan bentuk kasih sayang-Nya yang luar biasa ekstrem.
Allah SWT sedang cemburu kepada saya! Dia melihat hati saya sempat terbagi, sempat berharap terlalu tinggi pada cinta seorang makhluk, dan sempat mencari kenyamanan pada pundak manusia. Oleh karena itu, dengan sifat-Nya Yang Maha Memiliki, Dia patahkan hati saya sepatah-patahnya agar saya menarik kembali seluruh harapan itu dari manusia, dan mengembalikannya secara utuh hanya ke atas arsy-Nya.
Dia sengaja menjauhkan lelaki-lelaki itu dari kehidupan saya karena Dia Tahu bahwa mereka bukanlah orang yang tepat untuk menjaga kesucian jiwa dan perjuangan dakwah saya di dunia pendidikan. Jika mereka dibiarkan tetap masuk ke dalam hidup saya, mungkin mereka justru akan menjadi penghambat bagi kemajuan RA Aisyah Afiqannisa atau bahkan merusak keikhlasan lillahi ta’ala yang selama ini telah saya bangun dengan air mata.
Mengenai kerinduan saya pada almarhum Ayah dan almarhumah Ibu, Allah seolah menjawab lewat aliran ketenangan yang tiba-tiba merayapi dada. Kedua orang tua saya memang telah tiada secara fisik, namun nilai-nilai kebaikan, didikan tauhid, dan doa-doa yang pernah mereka panjatkan semasa hidup, kini telah menjelma menjadi perisai gaib yang terus melindungi langkah saya. Pundak saya boleh saja lelah di usia 45 tahun, namun zat Yang Maha Menopang semesta alam, Allah Azza wa Jalla, tidak akan pernah mengantuk dan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang berserah diri secara total.
Keesokan harinya, fajar menyingsing di ufuk timur Kota Bekasi, membawa pendaran cahaya kuning keemasan yang mengusir kepekatan malam. Saya berdiri di depan cermin kamar mandi, membasuh wajah, dan menatap pantulan diri saya sendiri.
Mata saya memang masih menyiratkan sedikit sisa sembap akibat tangisan semalam, namun pancaran sinar di dalam bola mata itu telah berubah. Ada energi ketegaran baru yang kembali menyala. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, namun saya menolak untuk kalah dan terpuruk oleh keadaan.
Saya rapikan jilbab saya, mengenakan pakaian terbaik, dan menyemprotkan sedikit wewangian. Sebelum melangkah keluar rumah untuk menuju ke madrasah, saya sempatkan memandangi foto kedua orang tua saya yang terpajang di dinding ruang tengah. Saya tersenyum menatap wajah-wajah penuh kedamaian itu.
“Ayah, Ibu… anak perempuanmu hari ini akan kembali berangkat berjuang,” ucap saya dalam hati dengan penuh tekad. “Husna tidak akan membiarkan pundak yang pernah Ayah tepuk dan kepala yang pernah Ibu usap ini terkulai lemas hanya karena urusan duniawi. Husna akan tetap menjadi cahaya bagi sesama, seperti yang selalu Ayah dan Ibu ajarkan.”
Ketika saya tiba di gerbang RA Aisyah Afiqannisa, suara riuh rendah tawa anak-anak didik langsung menyambut telinga saya. Beberapa anak berlarian kecil mendekati saya, berebut untuk mencium tangan saya dengan takzim.
“Selamat pagi, Bunda Husna!” sapa mereka dengan suara yang cempreng namun sarat akan ketulusan.
Saya berlutut sejajar dengan tinggi tubuh mereka, memeluk mereka satu per satu dengan pelukan hangat khas Kurikulum Berbasis Cinta. Di saat itulah, saya merasakan sebuah aliran energi kebahagiaan yang sangat mewah meresap ke dalam pori-pori tubuh saya. Rasa lelah, rasa perih akibat kegagalan pernikahan, dan rasa sepi yang menghimpit sejak semalam, seketika luruh tak berbekas digantikan oleh rasa cinta yang meluap-luap kepada anak-anak suci ini.
Saya menyadari bahwa di usia 45 tahun ini, Allah mungkin belum memberikan saya seorang pendamping hidup berupa suami, namun Dia telah mengaruniakan saya ratusan anak didik yang setiap hari mendoakan saya, belasan guru pejuang yang menaruh hormat dan cinta kepada saya, serta sebuah lembaga yang menjadi ladang pahala jariyah yang tak akan pernah putus hingga akhirat nanti
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 7 Dermaga yang retak dan pundak bersandar Mengurai Benang kusut di sudut sajadah
Sorry, comment are closed for this post.