Ikatan Jantung Hati dan Langkah Pertama
1. Pita Merah
Pagi itu, udara Kota Bekasi masih menyisakan embun tipis di dedaunan, menyelingi deru kendaraan yang mulai memadati jalanan. Di salah satu sudut ruang kelas RA Aisyah Afiqannisa, saya berdiri menatap sebuah kotak kayu kecil di atas meja. Di dalamnya, tergulung rapi seutas pita berwarna merah menyala.
”Bunda Husna, ini untuk apa? Bagus sekali warnanya!” sebuah suara mungil memecah keheningan.
Aisyah, salah satu murid kecil kami, menatap saya dengan mata bulatnya yang jernih. Di tangan kecilnya, ia memegang ujung pita tersebut dengan penuh rasa ingin tahu.
Saya berlutut, menyamakan tinggi badan dengannya, lalu tersenyum hangat dan mengusap lembut kepalanya. “Aisyah tahu tidak, kenapa warnanya merah?”
Aisyah menggelengkan kepala, rambut kuncirnya ikut bergoyang. “Tidak tahu, Bunda. Seperti warna apel ya?”
”Bukan cuma seperti apel, Sayang,” jawab saya lembut. “Merah ini seperti warna jantung kita. Pita merah ini adalah ikatan jantung hati. Artinya, Bunda dan para guru di sini sudah mengikat janji untuk selalu menyayangi Aisyah dan teman-teman dengan sepenuh hati. Setiap kali kita melihat pita ini, kita ingat kalau kita semua disatukan oleh cinta karena Allah.”
”Wah, berarti kita jadi sahabat jantung hati ya, Bunda?” sahut Aisyah dengan kepolosan khas anak-anak.
”Iya, betul sekali. Kita sahabat dunia akhirat,” ucap saya seraya mengikatkan pita merah itu membentuk simpul kupu-kupu yang indah di pergelangan tangan kecilnya.
Aisyah tersenyum lebar, matanya berbinar menatap pergelangan tangannya. “Terima kasih, Bunda Husna! Aisyah suka sekali!”
Tiba-tiba ia menghambur dan memeluk leher saya dengan erat. Sentuhan jemari kecilnya dan kehangatan pelukan itu mengalirkan getaran hebat ke dalam dada saya.
Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah deretan teori di atas kertas kerja. Ia adalah tindakan nyata yang dimulai dari dialog-dialog kecil penuh kasih seperti ini. Kami mengikat hati mereka dengan benang-benang kasih sayang, agar kelak saat mereka tumbuh dewasa di era digital yang penuh tantangan, mereka selalu ingat bahwa ada satu tempat di mana mereka pernah dipeluk jiwanya dengan ketulusan.
2. Jejak Madrasah
Melangkah keluar ke halaman sekolah, pandangan saya tertuju pada ubin-ubin tempat langkah kaki kecil anak-anak berlarian. Di sinilah, di tanah Bekasi ini, Jejak Madrasah ini mulai ditorehkan melalui perjuangan yang tidak mudah.
Saya teringat masa-masa awal ketika gerbang RA Aisyah Afiqannisa pertama kali dibuka. Langkah pertama selalu menjadi yang paling berat. Saat itu, seorang Wali Murid datang mengantarkan putranya yang terus menangis histeris sambil menarik baju ibunya.
”Bunda, saya tidak mau sekolah! Mau pulang sama Bunda!” tangis anak itu pecah di ambang pintu kelas.
Ibunya tampak bingung dan tidak enak hati. “Maaf ya, Bunda Husna… anak saya memang agak susah beradaptasi. Apa sebaiknya kami pulang saja dulu?”
Saya segera mendekat, memberikan senyuman paling menenangkan, lalu berlutut di depan sang anak tanpa jarak. “Eh, jagoan saleh kenapa menangis? Takut ya?” tanya saya sambil menghapus air matanya dengan tisu.
”Aku… aku mau sama Bunda di rumah,” jawabnya sesenggukan.
Saya menatap ibunya, lalu beralih kembali ke anak itu. “Di dalam kelas, Bunda Husna juga punya mainan seru dan teman-teman baru yang baik sekali. Ibu tidak akan pergi kok, Ibu tunggu di luar sambil mendoakan anak saleh. Kita coba melangkah satu langkah saja bersama Bunda Husna, mau?”
Saya mengulurkan tangan. Anak itu menatap ibunya, menatap tangan saya, lalu dengan ragu menyambut jemari saya. Langkah pertama yang gemetar itu akhirnya berhasil melewati pintu kelas. Sang ibu menghembuskan napas lega, “Terima kasih banyak, Bunda Husna. Saya titipkan anak saya ya.”
”Sama-sama, Bunda. Kita bimbing bersama dengan cinta,” jawab saya mantap.
Membangun madrasah ini bukanlah tentang megahnya gedung, melainkan tentang mengukir jejak kebaikan di dalam jiwa anak-anak dan membangun kepercayaan dengan para orang tua.
Saat matahari Bekasi mulai meninggi dan suara tawa anak-anak riuh terdengar di halaman, saya memandangi jejak-jejak sepatu kecil yang kini berbaris rapi di depan kelas. Bersama ikatan jantung hati yang telah terjalin melalui pita merah, jejak madrasah ini akan terus melangkah maju, menjemput ar-rahmah, dan menanamkan cinta ilmu, cinta alam, serta cinta diri sendiri ke dalam sanubari mereka.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: Bab 1 : Ikatan Jantung Hati dan langkah pertama
Sorry, comment are closed for this post.