Ada masa dimana sudut-sudut Kota Bekasi terasa begitu menghimpit dan dingin bagi jiwa saya. Di tempat mengabdi yang lama, dedikasi, keringat, dan ketulusan yang saya bangun bertahun-tahun seolah menguap begitu saja di mata manusia. Tanpa alasan yang adil, saya difitnah, dijatuhkan secara mental, dan dikucilkan dari lingkungan yang dulu saya anggap sebagai rumah. Rasa perih akibat ketidakadilan itu sempat membuat dada saya sesak. Namun, di balik dinding rumah kami, Allah ternyata sedang menyiapkan skenario ujian yang jauh lebih besar. Ujian yang menguras habis air mata, tenaga, dan seluruh ketabahan ego saya: Ibu tercinta jatuh sakit dalam waktu yang sangat lama, hingga akhirnya takdir menjemput beliau pulang ke haribaan-Nya.
Masa-masa merawat Ibu adalah masa di mana saya benar-benar belajar arti “Kurikulum Berbasis Cinta” yang sesungguhnya. Ketika di luar rumah nama baik saya dipertaruhkan dan dihujani kata-kata miring, saya memilih mundur dari riuh rendah duniawi. Saya pulang ke kamar Ibu, tempat di mana cinta sejati tidak pernah menuntut syarat. Di sela-sela waktu yang melelahkan, saya harus membagi sisa energi yang ada. Tangan yang gemetar karena menahan kesedihan ini harus tetap terampil menyuapi Ibu sesendok demi sesendok bubur hangat, mengganti pakaiannya, membersihkan tubuh ringkihnya, dan membisikkan shalawat serta doa ke telinganya agar beliau merasa tenang.
“Husna…” bisik Ibu suatu sore dengan suara yang amat lirih, tatapan matanya yang sayu menatap saya penuh cinta.
“Maafkan Ibu ya, Nak… sudah merepotkanmu setiap hari. Kamu harus tetap kuat kuliah S2-mu, jangan berhenti karena Ibu.”
Saya menggenggam jemari Ibu yang mulai mendingin, menahan air mata agar tidak jatuh di hadapannya. “Ibu tidak pernah merepotkan Husna. Merawat Ibu adalah surga bagi Husna. Ibu cukup sebut nama Husna dalam hati Ibu, doakan Husna bisa menyelesaikan semuanya.”
Namun, takdir Allah tidak ada yang bisa menolak. Detik di mana Ibu mengembuskan napas terakhirnya, runtuhlah separuh jiwa saya. Dunia seakan hening seketika. Malam itu, di atas “sajadah sunyi” di sepertiga malam yang sunyi, tangis batin saya pecah tanpa suara. Saya bersujud sangat lama, memeluk kain beludru itu dengan dada yang sesak. “Ya Allah, kini Ibu tempatku meminta doa dan bersandar sudah tiada. Manusia di luar sana masih terus menjatuhkanku dengan fitnah mereka. Bagaimana mungkin hamba yang lemah ini bisa melangkah sendirian?”
Di tengah duka yang masih basah, saya tersadar bahwa kepergian Ibu bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari amanah baru. Ibu meninggalkan seorang adik laki-laki yang masih remaja dan membutuhkan bimbingan untuk menatap masa depan. Sebagai kakak tertua, pundak saya secara otomatis harus menggantikan peran orang tua yang telah tiada. Saya harus menjadi ibu, ayah, sekaligus benteng pelindung baginya.
Suatu malam, adik saya duduk di dekat meja belajar dengan wajah murung. Ia menatap buku-buku sekolahnya dengan pandangan kosong. “Teh…” panggilnya dengan suara ragu dan mata yang berkaca-kaca. “Apakah aku bisa terus lanjut sekolah sampai lulus STM? Biaya sekolah sekarang mahal, sedangkan Ibu sudah tidak ada. Aku takut merepotkan Teteh yang juga harus bayar kuliah S2.”
Saya menghentikan aktivitas saya, lalu berjalan mendekat. Saya pegang kedua pundaknya dengan mantap, menyembunyikan segala lelah dan keraguan yang sebenarnya bergelayut di hati saya sendiri. Saya tersenyum, menatap lurus ke dalam matanya. “Dek, dengarkan Teteh. Selama Teteh masih bernapas dan tangan ini masih bisa bekerja, kamu harus tetap sekolah. Jangan pernah berpikir untuk berhenti. Teteh akan pastikan kamu lulus STM dengan baik, dan Teteh juga tidak akan pernah berhenti mengejar kuliah S2 ini. Kita buktikan kepada dunia, dan terutama kepada almarhumah Ibu di surga, bahwa kita berdua bisa bangkit dan berdiri tegak.”
Perjuangan setelah malam itu benar-benar menguras air mata dan melelahkan secara fisik. Setiap hari menjadi siklus yang menuntut kekuatan ekstra. Di pagi hingga siang hari, saya harus mengurus rumah, menyiapkan keperluan adik, dan menghadapi dinamika lingkungan luar yang masih memandang saya sebelah mata akibat fitnah masa lalu. Namun, saya memilih tidak membalas makian mereka dengan kata-kata. Saya memilih membalasnya dengan pembuktian nyata.
Malam hari, saat suasana kota Bekasi mulai senyap, barulah saya menyalakan laptop di bawah temaram lampu kamar. Membuka lembar demi lembar jurnal ilmiah, mengetik baris demi baris kalimat tesis, bertemankan rasa kantuk yang teramat sangat, duka kerinduan pada Ibu yang kerap datang tiba-tiba, serta doa yang tidak pernah putus.
Tahun-tahun yang penuh dengan tetesan air mata dan kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil yang teramat manis. Hari kelulusan adik saya dari sekolah teknik menengah tiba. Ia berlari ke dalam rumah dengan wajah berseri-seri, menyerahkan sebuah map tabung berwarna hitam ke tangan saya. “Teh, lihat! Ini ijazah STM-ku. Aku lulus dengan nilai yang bagus!” serunya penuh kebanggaan.
Saya menerima map itu, memeluk adik saya dengan sangat erat, dan tangis bahagia kami berdua pecah di ruang tengah yang sakral. “Alhamdulillah, Dek. Kamu hebat. Teteh bangga sekali. Ibu pasti sedang tersenyum sangat bahagia melihatmu dari surga.”
Tak berselang lama setelah momentum indah tersebut, takdir Allah yang maha adil menjemput giliran saya. Di bawah sorotan lampu aula wisuda yang megah, nama lengkap saya menggema di udara. Saya melangkah maju dengan anggun mengenakan toga wisuda, menggenggam selembar ijazah dengan gelar Magister Pendidikan (S2) yang saya tebus dari setiap sujud di atas sajadah sunyi.
Gelar perjuangan ini, beserta keberhasilan adik saya lulus STM, adalah jawaban kontan dan tunai yang Allah berikan atas semua fitnah yang pernah merendahkan martabat saya. Manusia boleh berencana menjatuhkan kita ke tempat yang paling rendah, namun jika Allah SWT berkehendak mengangkat derajat hambanya melalui jalur ilmu, bakti kepada orang tua, dan kasih sayang kepada keluarga, maka tidak akan ada satu pun tangan manusia di bumi ini yang mampu menyeret kita turun kembali.
Semua pintu masa lalu yang penuh dengan luka, fitnah, dan air mata kini telah saya tutup dengan sangat rapat. Dengan bekal gelar S2, mental yang telah ditempa layaknya baja, serta hati yang kini semakin kaya akan pemahaman cinta, takdir yang indah menuntun langkah kaki saya menuju pelabuhan baru yang penuh berkah: RA Aisyah Afiqannisa. Di madrasah inilah, semua ilmu, pengalaman hidup, dan ketabahan batin saya dedikasikan sepenuhnya untuk membangun peradaban anak usia dini di Kota Bekasi melalui Kurikulum Berbasis Cinta yang sesungguhnya.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: Bab 3 : Sajadah Sunyi dan gelar perjuangan
Sorry, comment are closed for this post.