KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 5: Dermaga Ridho Cinta Alam, Cinta ilmu dan cinta diri sendiri

    Bab 5: Dermaga Ridho Cinta Alam, Cinta ilmu dan cinta diri sendiri

    BY 03 Jul 2026 Dilihat: 2 kali
    Ikatan Jantung Hati dan Langkah Pertama_alineaku

    Kata “Ridho” ternyata bukanlah sebuah muara yang pasif, di mana jiwa hanya diam menerima pukulan takdir tanpa riak. Ridho adalah sebuah dermaga yang sangat aktif, sebuah panggung transformasi spiritual tertinggi di mana seluruh energi kesedihan, kekecewaan, dan rasa perih akibat hantaman badai masa lalu dilebur total menjadi seberkas cahaya yang memancar terang untuk menerangi jalan hidup sesama manusia.

    Di sinilah, di lembaran bab kelima ini, aku mendapati diriku tidak lagi berdiri sebagai seorang wanita paruh baya yang terus meminta-minta keadilan kepada takdir, melainkan telah bermutasi menjadi sesosok hamba yang tangannya selalu terbuka lebar di atas, siap menuangkan sisa-sisa energi kebaikan kepada siapa pun yang berjalan di dekatku.

    Langkah kaki yang dulunya sempat terseok-seok dihantam badai fitnah yang keji, duka mendalam akibat kehilangan Ibu tercinta sebagai pelita jiwa, hingga rasa perih yang menyayat hati karena dikhianati serta dizalimi sebagai seorang operator tanpa bayaran, kini telah menemukan pelabuhan sejati tempatnya bersandar. Jika seluruh rangkaian ujian berat, air mata, dan kepedihan di masa lalu diibaratkan sebagai lautan lepas yang berombak ganas menantang nyali, maka “RA Aisyah Afiqannisa”adalah sebuah “Dermaga Rida”. Di sinilah, di bawah langit Kota Bekasi yang selalu bergerak dinamis dan penuh tantangan kaum urban, saya akhirnya menurunkan jangkar perjuangan hidup saya.

    Gelar Magister Pendidikan (S2) yang saya jemput dengan penuh perjuangan berdarah-darah, memeras pikiran di sela-sela waktu merawat Ibu yang sakit lama, dan ditebus dari setiap tetesan air mata di atas sajadah sunyi, tidak pernah saya biarkan mengering menjadi selembar kertas pajangan belaka. Ilmu luhur itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah kemudi utama. Sebuah instrumen spiritual dan akademis untuk menggerakkan madrasah ini menjadi sebuah pelabuhan cinta yang menentramkan jiwa anak-anak, meneduhkan hati para guru, dan merangkul kegelisahan para orang tua murid.

    Pagi itu, mentari fajar Kota Bekasi bersinar dengan sangat cerah. Cahayanya yang keemasan menyiram seluruh halaman RA Aisyah Afiqannisa, menciptakan siluet hangat yang menembus celah-celah dedaunan pohon hias di sudut taman sekolah. Udara pagi masih menyisakan sedikit kesegaran, bertarung dengan deru suara kendaraan bermotor yang mulai memadati jalanan protokol di luar gerbang. Saya berdiri tegak di ambang pintu gerbang utama madrasah, mengenakan seragam dinas yang rapi dengan pin khusus bertuliskan ‘Kurikulum Berbasis Cinta’ yang tersemat erat di dekat lingkar dada kiri saya. Di samping kanan dan kiri saya, beberapa rekan guru berdiri berdampingan dengan anggun. Kami semua menyatukan visi, memasang senyuman terbaik, dan membuka lebar-lebar kedua lengan kami bersiap menyambut kedatangan para tunas bangsa, aset masa depan umat yang suci.

    Dari kejauhan di ujung gang, pandangan saya tertuju pada sosok seorang ibu—yang di madrasah ini selalu kami panggil dengan sebutan takzim, Bunda. Beliau berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, setengah menyeret langkah kaki putranya yang tampak cemberut masam. Anak laki-laki itu bernama Malik. Sepatunya sengaja dihentak-hentakkan ke atas paving block, tas ranselnya yang bergambar pahlawan super tampak miring melorot di bahu kecilnya, dan kedua bibirnya ditekuk dalam-dalam ke bawah. Malik tampaknya sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk, sebuah badai emosi pagi hari yang sangat sering melanda psikologis anak usia dini.

    “Selamat pagi, Malik anak saleh yang hebat! Wah, rapi dan tampan sekali kamu hari ini,” sapa saya dengan nada suara yang sengaja dibuat riang, penuh energi positif.

    Saya segera mengambil posisi berlutut, menyamakan tinggi badan saya dengan tinggi tubuh mungilnya. Dalam ilmu perkembangan anak yang saya pelajari, merendahkan posisi tubuh hingga sejajar dengan mata anak adalah langkah awal yang sangat krusial agar anak tidak merasa terintimidasi oleh postur tubuh orang dewasa yang lebih besar.

    Malik sama sekali tidak menjawab sapaan saya. Ia justru memalingkan wajahnya ke arah dinding tembok, lalu dengan cepat menyembunyikan seluruh tubuh kecilnya di balik lipatan kain gamis panjang ibunya. Sang Bunda seketika menghela napas panjang yang teramat berat. Wajah perempuan itu tampak sangat lelah, ada gurat kecemasan dan sedikit rasa malu yang terpancar dari ekspresinya akibat sikap kurang kooperatif putranya di depan umum.

    “Maafkan saya ya, Bunda Husna…” keluh sang Bunda dengan nada suara yang bergetar rendah, menyiratkan keputusasaan seorang ibu yang kehabisan daya di pagi hari. “Malik ini sejak bangun tidur tadi susah sekali diatur. Di rumah tadi dia sempat menangis menjerit-jerit mengamuk karena menolak untuk mandi. Saya sampai pusing, stres, dan hampir hilang kesabaran menghadapi tingkah lakunya yang semakin rewel belakangan ini. Maafkan atas ketidaknyamanan ini, Bunda.”

    Saya mendongak perlahan, mengalihkan pandangan mata saya dari Malik langsung menuju ke manik mata sang Bunda. Saya tatap wajahnya dengan pandangan yang penuh dengan empati, keteduhan, dan rasa hormat yang mendalam. Kebetulan, memori saya sendiri langsung berputar pada masa-masa sulit saya ketika memikul beban berat sendirian di masa lalu.

    “Bunda yang baik, Anda sama sekali tidak perlu meminta maaf kepada kami,” jawab saya dengan intonasi yang sangat lembut, menyalurkan ketenangan batin. “Menghadapi letupan emosi anak di pagi hari, di saat kita sendiri harus berkejaran dengan waktu dan urusan domestik rumah tangga, adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan energi serta kesabaran yang luar biasa besar. Bunda adalah seorang ibu yang hebat karena telah berhasil mengendalikan situasi dan membawanya sampai ke gerbang sekolah ini dengan aman. Tugas Bunda dari rumah sudah selesai dengan sangat baik pagi ini. Sekarang, di gerbang ini, biarkan kami para gurunya yang mengambil alih untuk menjaga, memeluk, dan menentramkan emosinya ya, Bunda. Tenang saja.”

    Mendengar rangkaian kalimat yang saya ucapkan, ketegangan fisik yang semula terlihat dari bahu sang Bunda yang kaku perlahan-lahan mulai mengendur. Ada binar kelegaan yang samar namun nyata di kedua sudut matanya. Seolah-olah ada beban berat tak kasat mata yang baru saja diangkat dari atas pundaknya.

    Dalam implementasi dasar Kurikulum Berbasis Cinta, dermaga ini memang dirancang tidak hanya untuk menyambut eksistensi sang anak didik, melainkan harus berfungsi sebagai tempat bersandar yang paling aman bagi lelahnya jiwa para orang tua murid. Kami di RA Aisyah Afiqannisa memegang prinsip teguh bahwa kami tidak boleh sekali-kali menghakimi kekurangan atau kesalahan pola asuh orang tua di rumah, melainkan harus merangkul mereka ke dalam sebuah ikatan kemitraan pendidikan yang harmonis dan saling mendukung.

    Setelah berhasil menenangkan hati sang Bunda, saya kembali mengalihkan seluruh fokus perhatian saya kepada Malik yang masih menyembunyikan wajahnya. Saya sama sekali tidak memaksakan Malik untuk langsung tersenyum, saya juga tidak menyuruhnya secara paksa untuk menjabat tangan saya. Memaksa anak yang sedang marah untuk bersikap manis adalah sebuah kekerasan emosional terselubung.

    Sebaliknya, saya merogoh kantong baju seragam saya dengan perlahan, mengeluarkan sebuah mainan kincir roda angin kecil berwarna-warni yang terbuat dari kertas mika mengkilap. Saya mendekatkan kincir itu ke depan wajah saya sendiri, lalu meniupnya perlahan: *fiiiuhhh*. Roda angin itu seketika berputar dengan sangat cepat, memancarkan gradasi warna pelangi yang sangat indah di depan mata Malik.

    “Malik, coba lihat ini. Roda angin milik Bunda Husna bisa berputar cepat sekali kalau ditiup dengan napas yang panjang,” ucap saya dengan suara yang sengaja diatur berirama lembut, layaknya seorang pendongeng. “Malik tahu tidak, kincir ini bisa bernyanyi kalau tiupannya kuat. Malik mau coba meniupnya bersama Bunda Husna di dalam kelas? Di dalam ruangan sudah ada bidang papan tulis baru dan teman-teman yang sudah tidak sabar menunggu Malik untuk bermain bersama.”

    Mata bulat Malik yang jernih perlahan-lahan mulai melirik ke arah pergerakan kincir roda angin tersebut. Rasa ingin tahu khas anak-anak yang murni perlahan-lahan mulai mengalahkan ego rasa kesalnya. Ia menatap lekat mainan itu, lalu mendongak menatap wajah saya, dan terakhir menatap wajah ibunya. Sang Bunda memberikan anggukan kepala yang dipenuhi kehangatan dan senyuman menguatkan. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan malu-malu, tangan mungil Malik mulai keluar dari balik lipatan gamis ibunya. Jari-jari kecilnya yang hangat meraih ujung gagang roda angin yang saya sodorkan.

    “Mau…” bisik Malik dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai desiran angin pagi. Namun, bagi kami para pendidik di RA Aisyah Afiqannisa, satu kata lirih itu adalah sebuah kemenangan kecil yang teramat besar nilainya bagi jiwa sang anak.

    “Masya Allah, Malik adalah anak saleh yang sangat hebat dan pemberani. Mari kita melangkah bersama Bunda Husna ke dalam kelas,” ujar saya seraya menggenggam jemari kecilnya yang terasa hangat dengan penuh kelembutan.

    Sebelum benar-benar melangkah masuk melewati selasar sekolah, Malik membalikkan tubuhnya sejenak, lalu mencium punggung tangan ibunya dengan takzim sebagai tanda hormat. Sang Bunda melepaskan pegangan tangan putranya dengan sebuah senyuman kebahagiaan yang jauh lebih ringan, jauh lebih plong, daripada saat pertama kali ia menginjakkan kaki di halaman sekolah tadi.

    Peristiwa dramatis yang terjadi di gerbang sekolah setiap pagi hari sesungguhnya adalah miniatur nyata dari filosofi besar Dermaga Rida. Di tempat ini, kami semua telah berikrar dan berkomitmen penuh untuk menenun nilai Cinta Diri Sendiri (Self-Love) ke dalam sanubari anak-anak sejak usia sedini mungkin. Kami mengajarkan mereka untuk mengenali jenis emosi apa yang sedang mereka rasakan, melatih mereka untuk berani menerima kenyataan bahwa tidak apa-apa jika sesekali mereka merasa sedih, kecewa, atau marah. Namun, di saat yang sama, kami juga membimbing mereka dengan penuh kesabaran tentang bagaimana cara menyalurkan dan mengkomunikasikan emosi negatif tersebut dengan cara-cara yang baik dan santun tanpa harus merusak diri sendiri atau menyakiti orang lain. Kami membentuk karakter batin mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki harga diri yang positif, dan sadar sepenuhnya bahwa mereka sangat berharga serta dicintai apa adanya di madrasah ini.

    Ketika jam pelajaran sentra dimulai, saya berjalan perlahan mengelilingi koridor bangunan sekolah yang bersih. Langkah kaki saya sengaja diperlambat agar saya bisa mengamati dengan saksama dinamika yang terjadi di setiap sudut ruang. Dari balik jendela kaca transparan di kelas sentra, saya menyaksikan pemandangan yang membuat dada saya membuncah haru.

    Guru-guru RA Aisyah Afiqannisa sedang mempraktikkan metode pembelajaran modern dengan pendekatan kasih sayang yang murni. Di lingkungan madrasah ini, tidak akan pernah ditemukan adanya suara bentakan yang menggelegar, tidak ada kalimat ancaman yang menakut-nakuti mental anak, dan tidak ada sistem kompetisi kaku yang saling menjatuhkan satu sama lain. Yang terdengar memenuhi seisi ruangan adalah riuh rendah suara tawa riang, nyanyian shalawat yang edukatif, serta dialog interaktif yang menstimulasi nalar kritis anak.

    Di sudut kelas Sentra Alam dan Lingkungan, sekelompok anak sedang sibuk berkumpul mengelilingi meja besar. Mereka sedang asyik menanam biji kacang hijau di dalam pot-pot kecil yang terbuat dari bahan daur ulang. Guru sentra dengan penuh kesabaran membimbing jemari mungil mereka yang masih belepotan tanah gembur, mempraktikkan pilar ‘Cinta Alam dan Lingkungan’.

    “Anak-anak saleh dan salehah kesayangan Bunda,” terdengar suara guru sentra menjelaskan dengan penuh penghayatan batin. “Tanah hitam yang lembut ini adalah salah satu ciptaan Allah SWT yang luar biasa. Tanah inilah yang memberikan nutrisi dan kehidupan bagi tanaman di bumi. Oleh karena itu, kita harus menyentuhnya dengan lembut, merawat tanaman kecil ini nanti dengan siraman air yang cukup dan cinta yang tulus, agar kelak ia bisa tumbuh besar, hijau, dan memberikan manfaat oksigen bagi seluruh makhluk hidup di bumi Bekasi ini.”

    Saya tersenyum lebar menyaksikan pemandangan yang teramat indah tersebut dari balik kaca luar kelas. Hati saya bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa syukur yang tidak terhingga kepada Sang Maha Pencipta. Semua teori, konsep kurikulum, dan ilmu manajemen pendidikan tingkat magister (S2) yang dulu saya pelajari dengan susah payah di tengah hantaman fitnah, kini mewujud nyata menjadi sebuah ekosistem pembelajaran yang hidup dalam setiap jengkal aktivitas di RA Aisyah Afiqannisa. Kami di sini tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan secara kognitif belaka agar anak menjadi pintar (Cinta Ilmu), tetapi kami sedang menanamkan fondasi tauhid yang kokoh dan karakter akhlakul karimah ke dalam sanubari terdalam anak usia dini.

    Madrasah ini telah benar-benar bertransformasi menjadi sebuah dermaga yang penuh dengan rida. Sebuah tempat suci di mana ridha Allah SWT dijemput secara berjamaah melalui rida para guru yang mengajar dengan ketulusan tanpa batas, rida dari para orang tua yang memercayakan masa depan buah hati mereka kepada kami, serta pancaran kebahagiaan dari wajah anak-anak yang bisa belajar mengembangkan potensi mereka tanpa dihantui rasa takut sedikit pun. Setelah melalui perjalanan panjang yang berliku, melelahkan, dan penuh dengan air mata darah, saya menyadari dengan seyogianya bahwa di sinilah, di RA Aisyah Afiqannisa inilah, tempat saya ditakdirkan oleh Allah SWT untuk mengabdi hingga akhir hayat. Dermaga ini telah menyembuhkan dan memulihkan seluruh luka masa lalu saya secara total, dan kini saatnya bagi saya untuk membawa kapal perjuangan pendidikan ini melaju berlayar lebih jauh lagi ke depan, menjadi lentera abadi yang menerangi setiap sudut Kota Bekasi dengan pancaran cahaya kasih sayang.

    Saat jam istirahat tiba, suasana halaman sekolah berubah menjadi sangat ramai dengan riuh rendah tawa anak-anak yang bermain perosotan dan ayunan. Saya duduk di salah satu bangku taman, menikmati pemandangan itu sembari membuka catatan program kerja mingguan madrasah. Tiba-tiba, seorang guru muda, Ustazah Rahma, berjalan mendekat ke arah saya dengan langkah yang tampak ragu-ragu. Wajahnya menyiratkan sebuah beban pikiran.

    “Bunda Husna… bolehkah saya mengganggu waktunya sebentar? Ada hal penting yang ingin saya konsultasikan terkait perkembangan salah satu anak di kelas saya,” ucap Ustazah Rahma dengan suara yang pelan dan penuh rasa hormat.

    Iklan senyuman segera saya tebarkan untuk mencairkan kecanggungannya. “Tentu saja, Ustazah Rahma. Silakan duduk di sini. Jangan sungkan, sampaikan saja apa yang sedang menjadi kendala di kelasmu. Pintu diskusi selalu terbuka lebar untuk semua pejuang cinta di sini.”

    Ustazah Rahma menarik napas lega, lalu duduk di samping saya. “Begini, Bunda… Di kelas saya ada seorang anak bernama Doni. Belakangan ini, Doni sering kali mengganggu temannya saat kegiatan mengaji dimulai. Ia suka merebut buku iqra temannya, bahkan beberapa kali berteriak di dalam kelas. Saya sudah mencoba menasihatinya dengan lembut sesuai prinsip Kurikulum Berbasis Cinta, tetapi adakalanya saya merasa kewalahan dan emosi saya hampir terpancing. Saya takut metode yang saya gunakan salah dan justru melukai hatinya. Bagaimana sebaiknya saya menyikapi Doni, Bunda?”

    Saya menutup buku catatan saya perlahan, lalu menatap wajah guru muda itu dengan pandangan yang penuh dukungan. Saya sangat memahami posisinya; menjadi guru baru di tengah tuntutan kesabaran kurikulum ini memang bukan perkara mudah.

    “Ustazah Rahma, ketahuilah bahwa apa yang kamu rasakan adalah hal yang sangat manusiawi,” jawab saya dengan nada menguatkan. “Setiap anak yang datang ke madrasah ini membawa latar belakang emosional yang berbeda-beda dari rumah mereka. Ketika Doni berulah mengganggu temannya di saat kegiatan mengaji, itu adalah sebuah sinyal tersembunyi. Doni sebenarnya tidak berniat jahat atau nakal. Sering kali, anak seusia itu melakukan tindakan disruptif karena ia sedang mencari perhatian, atau mungkin ia merasa kesulitan mengikuti pelajaran namun tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya dengan kata-kata. Di sinilah pilar *Cinta Diri Sendiri* dan *Cinta Sesama* harus kita padukan.”

    Ustazah Rahma mendengarkan dengan saksama, matanya fokus menyerap setiap arahan yang saya berikan.

    “Langkah konkretnya,” lanjut saya sembari menyentuh lembut jemari tangan Ustazah Rahma. “Besok, sebelum kegiatan mengaji dimulai, panggillah Doni secara personal ke dekatmu. Peluk bahunya, lalu lakukan dialog dari hati ke hati tanpa ada jarak. Katakan padanya: *’Doni anak saleh kesayangan Bunda Rahma, Bunda tahu kamu adalah anak yang cerdas dan hebat. Tapi, kalau Doni merebut buku teman, itu membuat hati temanmu sedih. Bagaimana kalau hari ini Doni duduk di paling depan, mengaji bersama Bunda Rahma secara khusus? Bunda ingin sekali mendengarkan suara mengaji Doni yang bagus.’* Berikan ia ruang tanggung jawab istimewa di kelas. Dengan memberikan perhatian yang tulus sebelum ia mencari perhatian dengan cara yang salah, jiwanya akan merasa dihargai. Tunjukkan bahwa cinta kita tidak bersyarat pada kepatuhannya, melainkan melekat pada keberadaannya sebagai anak didik kita.”

    Mendengar penjelasan tersebut, mata Ustazah Rahma tampak berbinar-binar seolah baru saja menemukan mata air ilmu yang segar. Ketakutan yang semula membayangi wajahnya kini berganti dengan rasa optimisme yang membuncah. “Masya Allah, Bunda… penjelasan Bunda benar-benar membuka pikiran saya. Saya selama ini mungkin terlalu fokus pada bagaimana cara menghentikan perilakunya, bukan pada bagaimana cara memahami kebutuhan jiwanya. Terima kasih banyak atas bimbingannya, Bunda Husna. Saya merasa sangat beruntung bisa belajar di bawah arahan Bunda.”

    “Sama-sama, Ustazah Rahma. Ingatlah selalu, kita di madrasah ini tidak sedang mencetak robot yang patuh tanpa jiwa, melainkan sedang menenun karakter manusia seutuhnya. Teruskan perjuanganmu dengan penuh cinta, pahala besar menantimu di setiap helai kesabaran itu,” ucap saya sembari memberikan pelukan hangat yang menguatkan jiwanya sebagai sesama perempuan pendidik.

    Ketika sore hari mulai menjemput dan lonceng sekolah berbunyi menandakan waktu pulang, saya memandangi halaman madrasah yang perlahan-lahan mulai sepi ditinggalkan oleh langkah kaki anak-anak. Satu per satu mereka pulang membawa kebahagiaan di dalam ransel mereka. Di tanah Bekasi ini, melalui setiap dialog, setiap pelukan di gerbang sekolah, dan setiap bimbingan kepada sesama guru, saya merasakan kedamaian yang sejati mengalir di dalam darah saya.

    RA Aisyah Afiqannisa telah benar-benar mewujud menjadi Dermaga Rida yang kokoh dan anggun. Tempat di mana rida Allah SWT mengalir deras menaungi setiap kebijakan pendidikan yang kami jalankan. Semua pengalaman pahit, air mata kehilangan, dan luka kezaliman di masa lalu kini telah mengkristal menjadi sebongkah mutiara kearifan yang tak ternilai harganya. Saya tahu, layar kapal perjuangan ini telah terkembang dengan sempurna, dan dari dermaga cinta inilah, kami siap melangkah maju untuk membawa perubahan yang lebih besar, menerangi dunia pendidikan anak usia dini dengan pendaran cahaya kasih sayang yang bersumber dari ketauhidan mutlak kepada Sang Khalik.

     

     

    Kreator : Husnawati, (Hawa81)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 5: Dermaga Ridho Cinta Alam, Cinta ilmu dan cinta diri sendiri

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021