Menjadi bagian dari pejuang di dunia pendidikan anak usia dini ternyata tidak melulu berisi tentang tawa ceria anak-anak di dalam kelas atau indahnya menyusun rencana pembelajaran. Ada sisi lain, sebuah ruang sunyi di balik layar, di mana keikhlasan seorang hamba benar-benar diperas, diuji, dan ditempa hingga titik puncaknya. Setelah melewati berbagai badai masa lalu yang sempat menghancurkan nama baik saya, takdir menuntun saya untuk mengabdi di RA Aisyah Afiqannisa. Di madrasah yang penuh cinta ini, sebuah tanggung jawab baru diletakkan di atas pundak saya. Saya ditunjuk menjadi operator madrasah—sebuah posisi yang menuntut ketelitian tingkat tinggi, kesabaran tanpa batas, dan kerelaan untuk lembur hingga larut malam.
Tugas seorang operator bukanlah hal yang sepele. Di tangan sayalah validitas data lembaga dipertaruhkan. Saya harus berhadapan dengan rumitnya sistem digital yang sering kali eror, memelototi layar laptop hingga mata terasa perih dan berair, serta memastikan seluruh data siswa, profil sekolah, hingga data pemenuhan tunjangan rekan-rekan guru terinput dengan sempurna tanpa ada kesalahan satu huruf pun. Semua itu saya lakukan dengan satu niat: ibadah dan membantu sesama pejuang pendidikan.
Namun, di tengah tumpukan tugas yang menguras pikiran dan tenaga tersebut, ujian kezaliman manusia kembali datang menyapa hidup saya. Kali ini, ujian itu datang dalam rupa yang berbeda. Di luar lingkungan RA, ada pihak yang meminta bantuan saya untuk mengurus dan merapikan tumpukan data yang sangat rumit, yang sebenarnya bukan merupakan tugas utama saya. Mereka datang dengan tutur kata yang manis, memberikan janji-janji bahwa setiap peluh dan waktu yang saya korbankan akan dihargai dengan hak honorarium yang layak.
Tetapi, manusia sering kali pandai berjanji namun abai dalam menepati. Bulan berganti bulan, tenaga saya terus diperas tanpa henti. Waktu berharga yang seharusnya bisa saya gunakan untuk beristirahat bersama keluarga tercinta harus tersita demi menyelesaikan tugas-tugas siluman tersebut. Di saat tugas-tugas itu menumpuk bagai gunung dan berhasil saya selesaikan dengan baik, saya justru mendapati diri saya sedang dizalimi. Hak honor yang menjadi hak mutlak atas tetesan keringat saya sama sekali tidak dibayarkan. Tidak hanya sampai di situ, dengan teganya mereka membohongi saya berulang kali dengan berbagai alasan palsu yang memuakkan setiap kali saya mempertanyakan kejelasan hak tersebut.
Pada suatu malam yang larut di sudut Kota Bekasi, saya duduk termenung di depan meja kerja. Layar laptop yang masih menyala terang memantulkan wajah saya yang tampak teramat lelah dan layu. Dada saya terasa sesak, bergemuruh antara rasa kecewa, sedih, dan lelah yang bercampur menjadi satu. Mengapa di saat saya mencoba berbuat baik dan membantu sesama, kebohongan dan kezaliman ini yang harus saya terima sebagai balasannya?
Dalam keheningan malam itu, seorang anggota keluarga berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya di atas bahu saya yang terasa tegang dan kaku. Dengan tatapan mata yang penuh rasa iba dan tidak tega, ia berbisik lembut, “Umi, kalau memang mereka terus-menerus berbohong dan tidak berniat membayar honor Umi, untuk apa semua ini masih dikerjakan sampai selarut ini? Umi sedang dizalimi oleh mereka. Lepaskan saja, jangan siksa dirimu sendiri demi orang-orang yang tidak tahu cara menghargai manusia.”
Iklan kekecewaan sempat berkelebat di benak saya. Namun, saya menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu menutup layar laptop itu dengan pelan. Saya menatap wajah keluarga saya, mencoba tersenyum meskipun getir. “Umi tidak sedang mempertahankan atau mengharapkan uangnya, Dek. Tapi Umi memikirkan nasib data lembaga dan anak-anak yang ada di dalamnya. Jika Umi tinggalkan begitu saja dalam keadaan berantakan, mereka yang akan rugi. Biarlah manusia membohongi Umi, biarlah mereka menahan hak duniawi Umi, tetapi Umi teramat yakin bahwa Allah tidak pernah tidur sekedip pun. Umi percaya, Cahaya Ar-Rahman—kasih sayang Allah yang mahaluas—pasti sedang menunggu di ujung jalan yang gelap ini.”
Malam itu, saya mengambil keputusan besar dalam hidup. Saya memilih untuk diam, mengalah, dan melepaskan seluruh hak duniawi yang ditahan oleh manusia-manusia culas tersebut dengan dada yang dilapangkan. Saya serahkan urusan kezaliman dan rasa sakit hati ini sepenuhnya kepada Allah *Ya Adl*, Sang Maha Adil yang memegang kendali atas segala urusan hamba-Nya. Saya menaruh keyakinan penuh pada prinsip tauhid: jika satu pintu rezeki ditutup oleh tangan manusia yang dzolim, maka Allah dengan kemahakayaan-Nya akan mendatangkan rezeki lain dari arah yang tidak pernah disangka-sangka, melalui cara-Nya yang jauh lebih agung dan mulia.
Dan benar saja, mukjizat dan janji Allah itu tidak pernah meleset. Takdir-Nya selalu datang di waktu yang paling presisi, di saat seorang hamba benar-benar membutuhkan keteduhan jiwa. Tepat di momen malam pergantian tahun baru, di saat sebagian besar sudut Kota Bekasi riuh rendah dengan hiruk-pikuk kembang api dan perayaan duniawi, seorang sahabat karib datang mengetuk pintu rumah saya. Ia membawa sebuah ajakan yang sama sekali tidak pernah saya duga sebelumnya.
“Bunda Husna,” sapa sahabat saya dengan wajah yang berseri-seri. “Daripada malam tahun baru ini kita lewatkan tanpa agenda yang jelas, ayo ikut aku keluar. Kita pergi mengaji, menghadiri majelis ta’lim dan tausiyah akbar bersama Ustadzah Halimah Alaydrus. Acaranya diadakan malam ini di GOR Bekasi. Insya Allah, hatimu yang belakangan ini sedang lelah dan rapuh bisa kembali menemukan ketenangan dan kedamaian di sana.”
Mendengar nama Ustadzah Halimah Alaydrus, jantung saya seketika bergetar hebat. Rasa rindu akan siraman rohani langsung membuncah di dalam dada. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengangguk setuju. Kami pun berangkat membelah malam Kota Bekasi menuju lokasi acara.
Setibanya di sana, pemandangan di dalam GOR Bekasi sungguh membuat saya merinding terharu. Gedung olahraga yang besar itu telah menjelma menjadi lautan putih yang teramat indah. Ribuan wanita, para pencinta ilmu dan pemburu rida Allah, berkumpul memadati setiap jengkal ruangan. Tidak ada sekat di antara kami. Di bawah bimbingan para panitia, lantunan selawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW menggema bergemuruh, naik menembus langit-langit gedung, menggetarkan sanubari siapa saja yang hadir. Suasana sakral dan getaran rindu kepada Rasulullah terasa begitu pekat menyelimuti udara. Rasa lelah batin saya perlahan-lahan mulai terkikis oleh keindahan gemuruh selawat tersebut.
Ketika Ustadzah Halimah Alaydrus mulai menaiki mimbar dan menyampaikan mutiara-mutiara dakwahnya, suasana GOR seketika menjadi hening dan khidmat. Beliau berbicara dengan untaian kalimat yang begitu lembut, puitis, namun memiliki kekuatan yang menghujam langsung ke dalam batin yang paling dalam. Air mata saya luruh tanpa bisa dibendung lagi ketika beliau menyampaikan satu pesan yang terasa sangat personal bagi saya.
“Jangan pernah takut ketika manusia mendzolimimu di dunia ini, dan jangan pernah bersedih ketika hak-hakmu dikebiri oleh orang lain,” ucap Ustadzah Halimah dari atas mimbar dengan suara yang berwibawa namun menenangkan. “Sebab, ketahuilah wahai saudariku, ketika makhluk-makhluk di bumi menutup pintu rezekinya untukmu, saat itu juga Allah Yang Maha Pengasih sedang rindu untuk mendengar rintihan dan rujukan doamu di tengah malam. Allah tidak akan pernah membiarkan peluh kebaikanmu menguap sia-sia. Dia akan mengganti setiap rasa lelah dan setiap tetes keringatmu dengan rezeki yang tak disangka-sangka. Dan ketahuilah, bentuk rezeki dari Allah itu tidak melulu berupa lembaran uang, melainkan bisa berupa ketenangan jiwa yang lapang, keberkahan di dalam keluarga, anak-anak yang saleh, serta ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.”
Kalimat demi kalimat yang mengalir dari lisan Ustadzah malam itu seketika menjelma menjadi obat penawar mujarab yang menyembuhkan seluruh luka batin saya sebagai seorang operator yang telah didzolimi. Dada saya yang semula terasa sesak dan sempit akibat kebohongan manusia, kini berangsur-angsur menjadi sangat lapang dan plong, seolah-olah dipenuhi oleh cahaya kedamaian yang diturunkan langsung dari langit. Saya pulang dari majelis ilmu tersebut dengan senyuman baru dan keyakinan yang semakin menebal.
Dan keajaiban dari *Cahaya Ar-Rahman* itu terbukti nyata tidak lama setelah peristiwa malam tahun baru tersebut. Allah membalas keikhlasan saya dengan cara yang luar biasa menakjubkan. Setelah bertumpuk-tumpuk tugas operator madrasah saya kerjakan dengan sisa-sisa energi dan ketulusan, pintu-pintu rezeki dari arah yang sama sekali tidak pernah saya duga sebelumnya mulai terbuka lebar satu per satu. Urusan administrasi sertifikasi saya berjalan dengan sangat lancar tanpa hambatan, jalan bagi pengembangan dan kemajuan RA Aisyah Afiqannisa semakin dibukakan kemudahan oleh berbagai pihak, dan keberkahan hidup mengalir begitu deras ke dalam rumah tangga kami. Jumlah dan nilainya jauh lebih besar, jauh lebih berkah, dan jauh lebih membahagiakan ketimbang nilai honor yang sempat ditahan dan dibohongi oleh tangan manusia yang dzolim itu.
Di ujung jalan yang sempat saya kira buntu, gelap, dan penuh ketidakadilan, Cahaya Kasih Sayang Allah justru bersinar dengan paling terang benderang. Di tanah Bekasi ini, melalui dedikasi tugas belakang layar sebagai operator dan indahnya lantunan selawat di GOR Bekasi, saya berhasil memetik satu pelajaran paling berharga dalam Kurikulum Berbasis Cinta: bahwa cinta sejati kepada Allah berarti siap melepaskan ketergantungan pada makhluk, karena upah dan keadilan dari Sang Pencipta tidak akan pernah salah alamat dan selalu datang membawa keberkahan yang berlipat ganda.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: Bab 4 : Cahaya Arrahman Di Ujung Jalan
Sorry, comment are closed for this post.