KAMU TERLALU BANYAK MENGELUH
Hujan turun sejak sore. Rintiknya membasahi halaman rumah kecil Nadia yang mulai terlihat lembap di beberapa sudut. Langit gelap lebih cepat hari itu, membuat rumah terasa semakin sunyi meski suara televisi menyala pelan di ruang tengah.Nadia sedang melipat pakaian ketika suara anak bungsunya terdengar menangis dari kamar.
“Bunda… Kak Farhan nakal!”
Nadia segera bangkit. Dilihatnya Farhan berdiri di dekat meja belajar dengan wajah kesal, sementara Nisa menangis sambil memeluk bonekanya.
“Ada apa lagi ini?”
“Farhan rebut pensil Nisa!”
“Aku cuma pinjem!” bentak Farhan.
Nadia menarik napas pelan. Akhir-akhir ini emosi Farhan memang semakin sulit ditebak. Anak itu jadi mudah marah, mudah membantah, bahkan sering mengurung diri di kamar.
“Nggak boleh bentak adik.”
Farhan mendecak kesal lalu melempar pensil ke meja. “Semua salah Farhan terus!”
Anak itu pergi begitu saja menuju kamar.
Pintu dibanting keras.
Suara itu membuat Nadia terdiam beberapa detik.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Ia tahu Farhan sedang terluka.
Tetapi Nadia sendiri juga mulai kehabisan tenaga.
Malam harinya, Nadia duduk di ruang tamu sambil memeriksa buku tugas Farhan. Banyak catatan dari guru yang belum sempat ia baca.
Tulisan tinta merah itu terasa seperti beban baru untuk kepalanya yang sudah penuh.
Farhan sulit fokus di kelas.
Mohon pendampingan orang tua lebih intensif.
Nadia memejamkan mata perlahan.
“Pendampingan.”
Kadang orang-orang terlalu mudah mengatakan itu tanpa tahu bagaimana seorang ibu berjuang sendirian setiap hari.
Ponselnya bergetar.
Nama Arga muncul di layar.
Nadia segera mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikumsalam.” Suara suaminya terdengar buru-buru.
“Kamu lagi apa?”
“Lagi lihat buku tugas Farhan.”
“Hm.”
Nadia menggigit bibirnya pelan.
Ia ragu untuk bercerita.
Tetapi kalau bukan pada suaminya, lalu pada siapa lagi ia harus mengadu?
“Mas… Farhan makin susah diatur.”
Terdengar helaan napas dari seberang telepon.
“Masalah lagi?”
Nadia terdiam sebentar.
“Aku cuma pengen cerita…”
“Cerita terus tiap hari.”
Kalimat itu terasa seperti jarum kecil yang menusuk perlahan.
“Farhan tadi bentak Nisa. Terus gurunya juga bilang nilai dia turun.”
“Ya kamu didik yang bener.”
“Aku udah coba, Mas…”
“Nadia.” Nada suara Arga mulai berubah dingin.
“Kamu tuh terlalu banyak mengeluh.”
Jantung Nadia terasa seperti jatuh.
Untuk beberapa detik ia tidak bisa bicara.
Di luar, suara hujan masih terdengar jatuh perlahan.
Sedangkan di dalam rumah, hati Nadia terasa semakin kosong.
“Aku nggak ngeluh, Mas.”
“Terus apa?”
“Aku cuma capek…”
“Semua orang juga capek.”
Kalimat itu membuat mata Nadia mulai panas.
“Aku kerja di sini juga capek. Jangan pikir cuma kamu yang lelah.”
Nadia menunduk.
Tangannya gemetar memegang ponsel.
Padahal ia hanya ingin didengar.
Bukan dihakimi.
“Aku nggak bilang Mas salah…”
“Kalau nggak kuat ngurus rumah bilang dari awal.”
Deg.
Kalimat itu menghantam Nadia tepat di dadanya.
Ia langsung terdiam.
Ada luka yang tidak terlihat, tetapi mampu membuat seseorang kehilangan semangat perlahan-lahan.
Dan malam itu, Nadia kembali terluka oleh orang yang paling ingin ia jadikan tempat pulang.
“Aku udah dulu. Besok kerja pagi.”
Sambungan telepon terputus.
Nadia masih memegang ponselnya cukup lama.
Rumah terasa sangat sunyi.
Bahkan suara hujan pun kini terdengar menyedihkan.
Nadia duduk sendiri di lantai ruang tamu.
Matanya kosong menatap tembok.
Lalu tanpa sadar air matanya jatuh satu per satu.
Ia menangis dalam diam.
Takut anak-anak mendengar.
Takut dianggap lemah.
Padahal sejak kapan menangis menjadi tanda kelemahan?
Bukankah manusia memang bisa lelah?
Malam semakin larut.
Nadia masuk ke kamar anak-anak.
Dilihatnya Farhan tertidur sambil memeluk bantal.
Wajah anak itu terlihat tenang saat tidur, berbeda jauh dengan sikapnya akhir-akhir ini.
Nadia duduk di pinggir kasur.
Tangannya mengusap rambut anak sulungnya lembut.
“Maafin Bunda…”
Air mata Nadia kembali jatuh.
Ia merasa gagal menjadi ibu.
Gagal menjaga anak-anak tetap bahagia.
Padahal setiap hari Nadia sudah memberikan seluruh tenaganya untuk rumah itu.
Namun tetap saja, semuanya terasa kurang.
Pagi harinya Nadia bangun dengan mata sembab.
Ia tetap memasak seperti biasa.
Tetap tersenyum di depan anak-anak.
Tetap berpura-pura kuat.
Karena seorang ibu sering kali tidak punya kesempatan untuk benar-benar berhenti.
Saat sedang menyiapkan bekal sekolah, Farhan tiba-tiba berkata pelan:
“Bunda semalam nangis ya?”
Tangan Nadia berhenti sesaat.
“Enggak kok.”
“Aku denger suara Bunda.”
Nadia memaksakan senyum kecil.
“Mungkin Bunda kecapekan aja.”
Farhan menunduk.
Anak itu terlihat bersalah.
“Ayah marahin Bunda lagi?”
Pertanyaan itu membuat dada Nadia terasa sesak.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena ternyata anak-anak memahami lebih banyak daripada yang orang dewasa kira.
“Nggak kok, Sayang.”
“Tapi Ayah sering bikin Bunda sedih.”
Nadia langsung memeluk anaknya erat.
“Jangan ngomong gitu.”
“Aku nggak suka kalau Bunda nangis.”
Air mata Nadia hampir jatuh lagi.
Namun ia menahannya.
Di depan anak-anak, ia ingin tetap terlihat kuat.
Setelah mengantar sekolah, Nadia duduk sendiri di dapur sambil minum teh hangat yang mulai dingin.
Rumah kembali sunyi.
Ia memikirkan ucapan suaminya semalam.
“Kamu terlalu banyak mengeluh.”
Benarkah dirinya terlalu banyak bicara?
Terlalu lemah?
Atau sebenarnya ia hanya terlalu lama memendam semuanya sendiri?
Nadia menatap kedua tangannya.
Tangan yang setiap hari memasak.
Mencuci.
Membersihkan rumah.
Mengurus anak.
Menahan tangis.
Namun semua itu seolah tidak pernah cukup.
Ponselnya kembali berbunyi.
Pesan dari Arga masuk.
“Maaf kalau semalam aku emosi.”
Nadia membaca pesan itu lama.
Biasanya ia akan langsung membalas cepat.
Namun kali ini tidak.
Entah kenapa hatinya terasa lelah.
Bukan karena marah.
Tetapi karena terlalu sering kecewa.
Siang itu Bu Rina datang membawa semangkuk sayur sop.
“Tadi masak kebanyakan,” katanya sambil tersenyum.
Nadia mengucapkan terima kasih.
Tetangganya itu memandang wajah Nadia beberapa detik.
“Kamu habis nangis?”
Nadia langsung menggeleng. “Enggak, Bu.”
“Nadia…”
Suara Bu Rina terdengar lembut.
“Perempuan itu kadang cuma butuh didengar.”
Kalimat sederhana itu membuat mata Nadia kembali panas.
Sudah lama sekali ia tidak merasa dipahami.
Malam kembali datang.
Setelah anak-anak tidur, Nadia duduk sendiri di teras rumah.
Angin malam berhembus dingin.
Ia memandang langit yang gelap tanpa bintang.
Lalu perlahan Nadia mulai menyadari sesuatu.
Selama ini ia terlalu sibuk menjadi kuat untuk semua orang.
Sampai lupa bahwa hatinya sendiri juga perlu dijaga.
Ia selalu berusaha menjadi istri baik.
Menjadi ibu baik.
Menjadi perempuan yang sabar.
Tetapi tidak ada yang pernah bertanya apakah dirinya baik-baik saja.
Dan yang paling menyakitkan bukanlah lelah mengurus rumah sendirian.
Melainkan ketika rasa lelah itu dianggap sebagai keluhan yang mengganggu.
Air mata Nadia jatuh lagi.
Namun kali ini ia tidak menangis keras.
Ia hanya diam.
Membiarkan angin malam menghapus sebagian sesaknya.
Karena kadang…
perempuan bukan terlalu banyak mengeluh.
Mereka hanya terlalu lama memendam semuanya sendiri.
Kreator : Titin Mustika Merdekawati
Comment Closed: Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 3)
Sorry, comment are closed for this post.