KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 6)

    Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 6)

    BY 05 Jul 2026 Dilihat: 7 kali
    LANGIT TIDAK SELALU MENJAWAB TANGIS_alineaku

    PULANG YANG TAK LAGI SAMA

    Sudah hampir dua minggu Arga belum pulang.

    Rumah kecil Nadia kembali berjalan seperti biasanya. Pagi dimulai dengan suara alarm, langkah kecil anak-anak, aroma masakan dari dapur, dan kelelahan yang terus berulang tanpa jeda.

    Namun ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diri Nadia.

    Ia mulai lebih banyak diam.

    Tidak lagi sering menghubungi Arga.

    Tidak lagi panjang bercerita lewat pesan.

    Bahkan ketika merasa lelah, Nadia memilih memendam semuanya sendiri.

    Bukan karena kuat.

    Tetapi karena terlalu sering merasa tidak didengar.

    Pagi itu Nadia sedang menyapu halaman ketika Farhan keluar rumah sambil membawa sepatu sekolah.

    “Bunda.”

    “Iya?”

    “Ayah jadi pulang hari ini?”

    Nadia berhenti menyapu sebentar.

    “Katanya iya.”

    Farhan terdiam beberapa detik.

    Biasanya anak itu akan terlihat senang mendengar ayahnya pulang.

    Tetapi kali ini wajahnya justru terlihat bingung.

    “Ayah lama nggak pulang ya…”

    Nadia tersenyum kecil.

    “Iya.”

    Farhan menunduk sambil memainkan tali sepatunya.

    “Aku takut nanti Ayah marah lagi.”

    Kalimat itu membuat tangan Nadia melemah memegang sapu.

    Ia baru sadar…

    bukan hanya dirinya yang berubah.

    Anak-anak pun mulai menyimpan jarak pada ayah mereka sendiri.

    “Nggak kok,” jawab Nadia pelan walau hatinya sendiri ragu.

    Farhan tidak menjawab lagi.

    Anak itu hanya mengangguk kecil lalu berangkat sekolah bersama Nisa.

    Setelah rumah kembali sepi, Nadia duduk di teras sambil menatap jalanan gang yang mulai ramai oleh suara motor dan pedagang sayur.

    Dadanya terasa aneh.

    Ada rasa rindu.

    Tetapi bercampur cemas.

    Ia merindukan Arga yang dulu.

    Bukan Arga yang sekarang pulang hanya membawa lelah dan emosi.

    Menjelang sore, Nadia mulai memasak makanan kesukaan suaminya.

    Semur ayam.

    Sambal terasi.

    Dan teh hangat yang biasanya selalu Arga minta ketika baru sampai rumah.

    Tangannya bergerak otomatis, tetapi hatinya terasa kosong.

    Entah kenapa kali ini ia tidak merasa berdebar menunggu kepulangan suaminya.

    Tidak seperti dulu.

    Dulu, Nadia selalu sibuk memilih baju terbaik saat Arga pulang.

    Selalu senyum sendiri sejak pagi.

    Sekarang…

    ia justru merasa takut kalau kepulangan itu hanya akan membawa pertengkaran baru.

    Maghrib hampir tiba ketika suara motor berhenti di depan rumah.

    Nisa langsung berlari ke pintu.

    “Ayah pulang!”

    Farhan ikut keluar, tetapi langkahnya lebih pelan.

    Nadia berdiri di dapur sambil mengusap tangannya dengan lap.

    Jantungnya berdegup pelan.

    Arga masuk sambil membawa tas besar hitam di pundaknya.

    Wajahnya terlihat lebih kurus dan lelah.

    “Assalamu’alaikum.”

    “Wa’alaikumsalam,” jawab Nadia pelan.

    Nisa langsung memeluk ayahnya erat.

    “Ayah lama banget…”

    Arga tersenyum kecil sambil mengusap kepala putrinya.

    “Iya, maaf.”

    Farhan berdiri agak jauh.

    Arga menatap anak sulungnya itu.

    “Nggak salim sama Ayah?”

    Farhan mendekat pelan lalu mencium tangan ayahnya.

    Namun, setelah itu ia langsung mundur lagi.

    Arga terlihat menyadari perubahan sikap anaknya.

    “Farhan kenapa?”

    “Nggak apa-apa.”

    Nada suaranya terdengar dingin.

    Suasana rumah mendadak canggung.

    Nadia segera berkata,

    “Mas mandi dulu aja. Makanannya udah siap.”

    Arga mengangguk.

    Malam itu mereka makan bersama.

    Sesuatu yang dulu selalu Nadia rindukan.

    Tetapi anehnya, kini meja makan terasa sunyi.

    Biasanya Nisa paling banyak bercerita.

    Namun, malam itu anak kecil itu lebih banyak diam sambil sesekali menatap ayahnya.

    Farhan pun makan tanpa banyak bicara.

    Arga mencoba membuka percakapan.

    “Sekolah gimana?”

    “Biasa aja,” jawab Farhan singkat.

    “Nggak ada cerita?”

    “Nggak.”

    Arga menatap Nadia sekilas.

    Seolah bertanya kenapa anak mereka berubah seperti itu.

    Tetapi Nadia hanya diam.

    Karena ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

    Setelah makan selesai, Arga duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.

    Sedangkan Nadia membereskan dapur sendirian seperti biasa.

    Beberapa menit kemudian Arga masuk ke dapur.

    “Kamu marah sama aku?”

    Nadia tetap mencuci piring tanpa menoleh.

    “Nggak.”

    “Kamu dingin banget.”

    Nadia tersenyum kecil.

    “Biasa aja.”

    Arga menghela napas panjang.

    “Aku capek kerja jauh-jauh.”

    Nadia menghentikan gerak tangannya perlahan.

    “Mas…”

    “Iya?”

    “Aku juga capek.”

    Kalimat itu membuat suasana langsung hening.

    Arga memandang istrinya beberapa detik.

    “Aku kerja buat keluarga ini.”

    “Aku tahu.”

    “Terus kenapa masih kayak gini?”

    Nadia akhirnya menoleh.

    Matanya terlihat lelah.

    “Sebenarnya Mas tahu nggak aku ngerasain apa selama ini?”

    Arga terlihat sedikit kesal.

    “Kamu mulai lagi.”

    “Nggak, aku cuma pengen Mas denger.”

    “Aku udah denger dari dulu.”

    “Tapi Mas nggak pernah ngerti.”

    Kalimat itu membuat Arga terdiam.

    Nadia menarik napas panjang.

    “Aku tuh nggak pernah minta apa-apa.”

    “Terus?”

    “Aku cuma pengen nggak ngerasa sendiri.”

    Mata Nadia mulai berkaca-kaca.

    “Setiap kali aku cerita, Mas bilang aku ngeluh.”

    “Nadia—”

    “Aku juga manusia.”

    Suaranya mulai bergetar.

    “Aku bisa capek. Bisa sedih.”

    Arga memijat dahinya pelan.

    “Aku juga banyak pikiran.”

    “Aku tahu.”

    “Kerjaan aku berat.”

    “Tapi bukan berarti perasaan aku nggak penting.”

    Kalimat itu membuat Arga diam cukup lama.

    Untuk pertama kalinya sejak menikah, Nadia memberanikan diri bicara tanpa menahan semuanya sendiri.

    “Aku kangen Mas yang dulu.”

    Suasana mendadak terasa sesak.

    Arga menunduk.

    Sedangkan Nadia buru-buru menghapus air matanya.

    “Aku masuk dulu.”

    Ia pergi meninggalkan dapur sebelum tangisnya pecah.

    Malam semakin larut.

    Nadia sedang melipat pakaian di kamar ketika Arga masuk perlahan.

    “Nadia.”

    Tidak ada jawaban.

    “Aku minta maaf.”

    Tangan Nadia berhenti melipat baju.

    Tetapi ia tetap diam.

    “Aku akhir-akhir ini memang gampang emosi.”

    Nadia tersenyum pahit kecil.

    “Bukan cuma akhir-akhir ini.”

    Kalimat itu membuat Arga terdiam.

    “Aku nggak bermaksud nyakitin kamu.”

    “Tapi aku tetap sakit, Mas.”

    Hening.

    Sangat hening.

    Arga duduk di tepi kasur.

    “Aku bingung harus gimana.”

    Nadia menunduk.

    “Aku juga bingung.”

    “Kerjaan di luar kota bikin aku stres.”

    “Aku ngerti.”

    “Tiap hari target numpuk.”

    Nadia mengangguk pelan.

    “Tapi aku juga punya beban di rumah.”

    Arga memandang istrinya lama.

    Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat wajah Nadia yang terlihat jauh lebih lelah dari sebelumnya.

    Ada kantung hitam di bawah matanya.

    Tubuhnya lebih kurus.

    Dan sorot matanya tidak lagi sehangat dulu.

    “Kamu sakit waktu itu?”

    Pertanyaan itu membuat Nadia tersenyum kecil hambar.

    “Iya.”

    “Kenapa nggak bilang serius?”

    Nadia langsung menatap suaminya.

    “Aku udah bilang.”

    Arga membeku.

    Karena tiba-tiba ia sadar…

    selama ini ia memang mendengar.

    Tetapi tidak benar-benar memperhatikan.

    Pagi harinya suasana rumah masih terasa canggung.

    Nadia menyiapkan sarapan seperti biasa.

    Arga duduk di meja makan sambil memperhatikan Farhan yang diam sejak tadi.

    “Kamu masih marah sama Ayah?”

    Farhan menggeleng kecil.

    “Nggak.”

    “Tapi kok jauh gitu?”

    Farhan menunduk.

    “Ayah jarang pulang.”

    Jawaban itu membuat Arga langsung diam.

    “Ayah kerja.”

    “Aku tahu.”

    Farhan menggenggam sendoknya pelan.

    “Tapi rumah jadi beda.”

    Arga terlihat bingung.

    “Beda gimana?”

    Farhan menatap ayahnya perlahan.

    “Bunda sering nangis.”

    Suasana meja makan langsung hening.

    Nadia yang sedang menuang teh langsung berhenti bergerak.

    “Farhan…”

    “Aku nggak bohong.”

    Anak itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

    “Ayah dulu suka bercanda sama kita.”

    Arga mulai terlihat salah tingkah.

    “Tapi sekarang Ayah pulang cuma marah-marah.”

    Kalimat polos itu terasa seperti tamparan keras.

    Nadia melihat wajah Arga perlahan berubah.

    Farhan menunduk lagi.

    “Aku kangen rumah yang dulu.”

    Nisa yang sedari tadi diam ikut berkata kecil,

    “Aku juga…”

    Arga mematung.

    Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar anak-anak sendiri merasa kehilangan dirinya.

    Setelah anak-anak berangkat sekolah, Arga duduk sendiri di ruang tamu.

    Sedangkan Nadia menyapu halaman depan.

    Beberapa menit kemudian Arga menghampiri.

    “Kamu selama ini nangis terus?”

    Nadia tersenyum kecil tanpa menoleh.

    “Namanya juga manusia.”

    “Aku pikir kamu kuat.”

    Kalimat itu membuat Nadia akhirnya menatap suaminya.

    “Perempuan kuat bukan berarti nggak pernah capek.”

    Angin pagi berhembus pelan.

    Rumah kecil itu terasa sangat sunyi.

    Arga menunduk.

    “Aku gagal ya jadi suami?”

    Pertanyaan itu membuat Nadia terdiam.

    Ia tahu Arga sebenarnya lelaki baik.

    Hanya saja terlalu sibuk mengejar tanggung jawab sampai lupa cara menjaga hati keluarganya.

    “Aku nggak butuh suami sempurna, Mas.”

    “Terus?”

    “Aku cuma butuh ditemani.”

    Suara Nadia sangat pelan.

    Tetapi cukup membuat dada Arga terasa sesak.

    Malam harinya Arga duduk bersama Farhan di teras rumah.

    Sudah lama sekali mereka tidak mengobrol seperti itu.

    “Kamu masih marah?”

    Farhan menggeleng.

    “Aku cuma sedih.”

    Arga menatap anaknya.

    “Sedih kenapa?”

    “Karena Ayah kayak nggak betah di rumah.”

    Kalimat itu membuat Arga membeku.

    Farhan melanjutkan pelan,

    “Kalau Ayah di rumah, Ayah sering main HP atau marah.”

    Angin malam terasa dingin.

    “Aku takut ngomong sama Ayah sekarang.”

    Mata Arga mulai memanas.

    Ia tidak pernah sadar bahwa anaknya sampai merasa seperti itu.

    “Ayah minta maaf.”

    Farhan menunduk.

    “Ayah jangan bikin Bunda nangis lagi ya.”

     

     

    Kreator : Titin Mustika Merdekawati

    Bagikan ke

    Comment Closed: Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 6)

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021