
Pagi datang bersama langit mendung yang menggantung di atas rumah kecil Nadia. Udara dingin masuk dari sela-sela jendela dapur yang belum sempat ia tutup rapat sejak semalam. Aroma bawang goreng dan nasi hangat memenuhi ruangan, tetapi entah kenapa rumah itu tetap terasa hambar.
Nadia berdiri di depan kompor sambil mengaduk sayur bening. Matanya sembab karena semalam ia kembali sulit tidur. Kepalanya terasa berat, tetapi seperti biasa, ia tetap memaksakan diri bangun paling pagi.
Karena seorang ibu tidak punya pilihan untuk berhenti.
Di meja makan, Farhan duduk diam sambil menatap piringnya. Biasanya anak itu paling ribut saat sarapan, tetapi akhir-akhir ini ia lebih sering murung.
Sedangkan Nisa sibuk menggambar sesuatu di buku kecilnya.
“Bunda lihat,” kata Nisa polos sambil memperlihatkan gambar rumah.
Nadia tersenyum kecil.
“Bagus sekali.”
“Tapi ini kurang.”
“Kurang apa?”
Nisa menunjuk gambar seorang laki-laki yang berdiri jauh dari rumah.
“Ayahnya kejauhan.”
Kalimat sederhana itu membuat Nadia tercekat.
Farhan ikut melihat gambar adiknya lalu berkata pelan,
“Memang Ayah sekarang jauhnya kebangetan.”
“Farhan,” tegur Nadia pelan.
“Aku cuma bilang kenyataan.”
Nadia tidak menjawab.
Ia takut kalau membuka mulut, justru air matanya yang keluar lebih dulu.
Setelah anak-anak berangkat sekolah, rumah kembali sunyi.
Sunyi yang terlalu akrab.
Sunyi yang perlahan mulai melelahkan.
Nadia membereskan meja makan sambil sesekali melamun. Pikirannya dipenuhi banyak hal. Tentang Farhan yang mulai berubah. Tentang Nisa yang semakin sering bertanya kapan ayahnya pulang. Tentang dirinya sendiri yang perlahan merasa kehilangan tempat untuk bersandar.
Saat sedang melipat pakaian, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Arga.
“Aku sibuk hari ini. Jangan telepon dulu.”
Nadia membaca pesan itu cukup lama.
Lalu perlahan ia mematikan layar ponselnya tanpa membalas.
Dulu, Arga selalu mengabari dengan kalimat hangat.
Sekarang semuanya terasa seperti laporan singkat tanpa rasa.
Nadia mencoba mengusir pikirannya dengan menyapu rumah. Namun semakin ia bergerak, semakin penuh kepalanya oleh rasa sesak yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara pintu membuat Nadia tersadar.
Ketika dibuka, ternyata Bu Rina berdiri sambil membawa kantong plastik berisi pisang dan beberapa bungkus gorengan.
“Lagi nggak mood masak, ya?” tanya Bu Rina sambil tersenyum kecil.
Nadia tertawa pelan.
“Kok tahu?”
“Wajah kamu itu gampang dibaca.”
Mereka duduk di ruang tamu.
Bu Rina memandang Nadia beberapa saat sebelum berkata pelan,
“Kamu makin sering bengong.”
Nadia menunduk.
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Kalau nggak apa-apa, mata kamu nggak mungkin sesedih itu.”
Kalimat itu membuat dada Nadia terasa hangat sekaligus nyeri.
Sudah lama tidak ada yang benar-benar memperhatikan dirinya.
“Aku capek, Bu…” bisiknya lirih.
Bu Rina tidak langsung menjawab.
Ia hanya mendengarkan.
Dan ternyata didengar tanpa dipotong atau dihakimi terasa sangat melegakan.
“Aku kadang bingung harus cerita ke siapa.”
“Suami?”
Nadia tersenyum pahit.
“Mas Arga sekarang beda.”
“Beda bagaimana?”
“Kalau aku cerita, dia bilang aku terlalu banyak mengeluh.”
Bu Rina menghela napas panjang.
“Laki-laki kadang nggak sadar… perempuan itu nggak selalu butuh solusi.”
Nadia menatap Bu Rina perlahan.
“Kami cuma pengen ditemani waktu lagi lelah.”
Mata Nadia mulai berkaca-kaca.
“Aku tuh nggak minta hidup mewah, Bu.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen merasa nggak sendirian.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Bu Rina menggenggam tangan Nadia lembut.
“Kamu udah kuat banget.”
Dan entah kenapa, pujian sederhana itu justru membuat Nadia ingin menangis lebih keras.
Siang berlalu perlahan.
Saat anak-anak pulang sekolah, Farhan langsung masuk kamar tanpa bicara banyak.
“Nggak makan dulu?” tanya Nadia.
“Nanti aja.”
Nada suaranya terdengar dingin.
Nadia mengikuti Farhan ke kamar.
Dilihatnya anak itu duduk di lantai sambil melempar tas sekolah sembarangan.
“Ada apa lagi?”
“Nggak ada.”
“Farhan.”
“Aku capek.”
Nadia duduk di samping anaknya.
“Di sekolah kenapa?”
Farhan diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
“Tadi ada temen bilang Ayah aku nggak pernah pulang.”
Nadia terdiam.
“Aku kesel.”
“Terus?”
“Aku berantem.”
Jantung Nadia langsung berdegup lebih cepat.
“Farhan!”
“Aku nggak suka mereka ngomongin Ayah.”
Nadia memegang kepala anaknya pelan.
“Berantem itu nggak baik.”
“Tapi aku kesel…”
Suara Farhan mulai bergetar.
“Ayah kenapa sih lama terus kerjanya?”
Pertanyaan itu menusuk hati Nadia dalam-dalam.
Ia sendiri bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
“Ayah kerja buat kita.”
“Kalau kerja terus tapi nggak pernah ada buat kita, itu namanya apa?”
Nadia membeku.
Farhan menunduk.
“Aku kangen Ayah…”
Kalimat itu keluar sangat pelan.
Namun cukup membuat Nadia hampir menangis.
Ia langsung memeluk anaknya erat.
“Ayah sayang sama Farhan.”
“Tapi aku nggak ngerasa.”
Air mata Nadia akhirnya jatuh.
Cepat-cepat ia mengusapnya sebelum Farhan melihat.
Malam harinya hujan kembali turun.
Suara rintiknya memenuhi rumah kecil itu dengan kesunyian yang aneh.
Nadia sedang membereskan dapur ketika ponselnya berbunyi.
Panggilan video dari Arga.
Nisa yang melihat langsung berlari girang.
“Ayah!”
Wajah Arga muncul di layar. Ia terlihat lelah dengan seragam kerja yang masih dipakai.
“Halo, Princess.”
Nisa tersenyum lebar.
“Ayah kapan pulang?”
“Belum tahu.”
“Katanya minggu kemarin juga gitu…”
Arga tertawa kecil.
Farhan berdiri di belakang sambil diam.
“Ayah,” panggilnya akhirnya.
“Iya?”
“Kapan sih Ayah nggak sibuk?”
Senyum Arga perlahan menghilang.
“Maksudnya?”
“Farhan cuma tanya.”
“Kalau Ayah kerja kan buat kalian.”
“Tapi Ayah nggak pernah ada.”
Suasana langsung berubah hening.
Nadia langsung memegang bahu Farhan.
“Udah, jangan begitu ngomongnya.”
“Aku salah ngomong?”
“Farhan!”
Anak itu langsung pergi masuk kamar.
Pintu ditutup agak keras.
Arga menghela napas panjang dari seberang layar.
“Itu anak kenapa sekarang?”
Nadia menunduk.
“Dia lagi sensitif.”
“Kamu didik gimana sih?”
Kalimat itu lagi.
Lagi-lagi Nadia merasa semua kesalahan seolah jatuh kepadanya.
“Aku udah coba, Mas.”
“Kalau kamu nggak bisa ngurus anak sendiri bilang.”
Dada Nadia terasa sesak.
Di depan anak-anak.
Di depan dirinya yang sudah lelah.
Arga tetap memilih menyalahkannya.
Nisa yang masih kecil mulai melihat wajah bundanya berubah.
“Bunda sedih?”
Nadia langsung tersenyum paksa.
“Nggak kok.”
Arga memijat dahinya.
“Aku capek kalau pulang kerja harus dengar masalah terus.”
Nadia menggigit bibirnya.
“Aku juga capek, Mas.”
“Tuh kan mulai lagi.”
Kalimat itu seperti memadamkan sesuatu di dalam hati Nadia.
Untuk beberapa detik ia hanya diam.
Sangat diam.
Lalu akhirnya berkata pelan,
“Mas pernah nggak mikir kalau aku juga manusia?”
Arga terlihat terkejut.
“Aku tiap hari sendiri di rumah.”
“Nadia—”
“Aku ngurus anak. Ngurus rumah. Nahan semuanya sendiri.”
“Nggak usah drama.”
Deg.
Kalimat itu menghantam Nadia lebih keras daripada sebelumnya.
Drama.
Jadi selama ini rasa lelahnya dianggap drama?
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya mati-matian.
“Udah dulu,” kata Arga dingin.
Sambungan telepon terputus.
Nadia masih menatap layar ponselnya yang gelap.
Dadanya terasa penuh.
Sakit.
Tetapi anehnya, kali ini bukan hanya sedih.
Ada kecewa yang mulai berubah menjadi lelah.
Lelah berharap dipahami.
Lelah menunggu.
Lelah menjadi kuat sendirian.
Nisa memeluk Nadia dari samping.
“Bunda jangan nangis…”
Suara kecil itu langsung menghancurkan pertahanan Nadia.
Ia memeluk putrinya erat.
“Nisa sayang Bunda.”
Air mata Nadia akhirnya jatuh juga.
“Makasih, Sayang…”
Malam semakin larut.
Setelah anak-anak tidur, Nadia duduk sendiri di teras rumah.
Angin malam terasa dingin menyentuh wajahnya.
Ia menatap jalanan yang basah oleh hujan.
Sepi.
Sama seperti hatinya.
Dulu, rumah ini terasa hangat meski sederhana.
Sekarang semuanya masih sama.
Temboknya sama.
Perabotannya sama.
Bahkan aroma rumahnya masih sama.
Tetapi entah kenapa Nadia merasa seperti tinggal di tempat asing.
Tempat yang perlahan kehilangan cinta di dalamnya.
Ia teringat masa awal menikah dulu.
Arga pernah berkata,
“Kalau nanti kita punya rumah kecil, aku pengen rumah itu selalu jadi tempat paling nyaman buat kamu.”
Nadia tersenyum pahit mengingatnya.
Nyatanya sekarang rumah itu justru menjadi tempat ia paling sering menangis diam-diam.
Ponselnya kembali berbunyi.
Pesan dari Arga.
“Maaf tadi aku emosi.”
Nadia membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Dulu, satu kata maaf dari Arga selalu cukup membuatnya luluh.
Tetapi sekarang luka yang menumpuk terlalu banyak untuk hilang hanya dengan satu pesan singkat.
Ia meletakkan ponselnya di meja.
Tidak membalas.
Bukan karena benci.
Tetapi karena terlalu lelah untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Keesokan harinya Nadia pergi ke sekolah Farhan karena dipanggil wali kelas.
Bu Maya, wali kelas Farhan, mempersilahkannya duduk.
“Farhan sebenarnya anak pintar.”
Nadia mendengarkan pelan.
“Tapi belakangan dia sering melamun.”
Nadia menunduk.
“Dia juga jadi gampang marah.”
Mata Nadia mulai panas.
“Apa ada masalah di rumah?”
Pertanyaan itu membuat Nadia tercekat.
Ia ingin bilang bahwa semuanya baik-baik saja.
Tetapi bibirnya terasa berat untuk berbohong.
“Mungkin dia kangen ayahnya.”
Bu Maya mengangguk pelan.
“Anak laki-laki kadang sulit mengungkapkan rasa kehilangan.”
Nadia menggenggam tangannya sendiri.
“Aku takut gagal jadi ibu.”
Bu Maya tersenyum lembut.
“Ibu yang khawatir merasa gagal biasanya justru ibu yang paling berusaha.”
Kalimat itu membuat Nadia hampir menangis lagi.
Belakangan ini ia terlalu sering menangis.
Seolah hatinya sudah terlalu penuh untuk terus menahan semuanya.
Sepulang dari sekolah, Nadia berjalan kaki perlahan sambil membawa map dari guru Farhan.
Langit sore terlihat mendung.
Sama seperti hatinya.
Di perjalanan, ia melihat beberapa anak bermain bola bersama ayah mereka di lapangan kecil dekat gang.
Tawa mereka terdengar hangat.
Nadia langsung membuang pandangan.
Karena tiba-tiba dadanya terasa nyeri.
Bukan iri.
Tetapi sedih.
Sedih karena anak-anaknya juga pantas mendapatkan kehangatan itu.
Malamnya, Farhan mendekati Nadia yang sedang melipat pakaian.
“Bunda marah sama Farhan?”
“Nggak.”
“Karena tadi di sekolah?”
Nadia mengusap rambut anaknya lembut.
“Bunda cuma khawatir.”
Farhan menunduk.
“Aku pengen Ayah pulang.”
“Ayah juga pengen pulang.”
“Tapi Ayah lebih milih kerja.”
Kalimat polos itu membuat Nadia terdiam.
Farhan menatap bundanya lama sebelum berkata pelan,
“Bunda… kalau orang sering sedih, bisa pergi nggak?”
Nadia langsung menoleh cepat.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Aku takut Bunda pergi.”
Hati Nadia langsung runtuh.
Ia segera memeluk Farhan erat.
“Bunda nggak akan ninggalin kalian.”
“Janji?”
“Iya.”
Farhan memejamkan mata dalam pelukan bundanya.
“Aku cuma nggak suka lihat Bunda nangis terus.”
Air mata Nadia kembali jatuh.
Namun kali ini ia tidak buru-buru menghapusnya.
Karena untuk pertama kalinya, Nadia sadar…
selama ini anak-anaknya ikut memikul luka yang ia sembunyikan.
Dan, mungkin…
Rumah yang terasa asing itu bukan hanya dirasakan olehnya seorang.
Tetapi juga oleh anak-anak yang diam-diam kehilangan hangat keluarganya sedikit demi sedikit.
Kreator : Titin Mustika Merdekawati
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Langit Tidak Selalu Menjawab Tangis (BAB 4)
Sorry, comment are closed for this post.