Siapa sebenarnya aku?
Dahulu… diriku adalah penjahit yang sibuk dengan sobekan, merajut rapuh dari sudut gelap yang tak tersentuh cahaya. Menelan badai dalam kebisuan, tanpa satupun keluhan, ketika dunia meragukan… apakah bahu perempuan sanggup menyangga semesta.
Mereka mengatakan, lautan adalah milik kaum lelaki perkasa. Namun lihatlah aku hari ini, aku tak lagi menjahit luka… aku sedang membangun menara. Dan aku datang sebagai peselancar Badai yang tak terduga. Di titik dimana orang lain tenggelam dalam ketakutan yang pekat, Left Quantum mengajariku cara menggeser ketakutan, melompat melampaui sekat.
Kurasa, tak perlu banyak cerita untuk membuktikan tentang siapa aku, sebab jejakku telah berakar di dalam karang dan membatu di dasar samudera biru. Memimpin dalam ketengan yang lebih tajam terasah dari mata pedang, meneduhkan keriuhan menjadi reda, memintal keraguan menjadi simfoni kemenangan yang terang.
Adapun Niken Pujiastuti, sahabat terbaikku. Ia seorang perempuan sederhana… berkulit kuning langsat, dengan rambut hitam legam yang panjang sepinggang. Gigi gingsul menjadi pesona yang setara dengan senyum menawan di bibir tipisnya. Matanya sebening telaga. Tingginya sangat proporsional untuk ukuran perempuan Indonesia.
Ia seorang pesinden muda yang dibesarkan dalam kentalnya tradisi adat istiadat dan budaya Jawa. Suara merdunya mengalun indah saat tampil dalam pagelaran wayang kulit.
Niken jarang banyak bicara, tapi dirinya cukup dikenal di kota kelahirannya. Tentu saja, karena ia adalah seorang sinden dan dalang pertunjukan wayang itu… pamannya.
Selain nyinden, Niken juga seorang guru yang aktif mengajar di salah satu Sekolah Menegah Atas di Yogyakarta. Kecantikannya yang natural, lekuk tubuhnya jadi idaman banyak perempuan, menjadikan dirinya guru favorit di sana.
Orang lain melihatnya setenang telaga. Padahal di dalam dirinya, badai sedang mengamuk… meruntuhkan pertahanan yang telah dibangunnya dengan susah payah.
Mulutnya ibarat pintu yang terkunci rapat. Ribuan kata berdesakan ingin keluar, namun Niken memilih melempar kunci itu ke dalam sumur, membiarkan bising dunia meredam gemuruh di dadanya.
Diam bukan berarti ia tak tahu. Bukan pula tanda bahwa dirinya setuju. Ini hanya caranya merawat luka, agar tidak menjadi duri yang melukai siapa pun.
Setiap kali ia menelan kembali kalimatnya, ada pena yang menari di atas kertas putih… menuliskan rintihan yang tak berani ia ucapkan. Suara hatinya, dititipkan pada tinta hitam.
Mereka bilang… Niken lembut seperti sutra. Padahal dirinya, karang yang ditempa ombak. Setiap retakan di hatinya adalah cerita tentang pengorbanan yang tak pernah dihargai, tentang mimpi yang ia relakan demi kebahagiaan orang lain.
Niken memilih diam bukan karena lemah, tetapi karena ia tahu, teriakannya sering kali jadi sia – sia. Suara hatinya terpatri dalam keputusan – keputusan kecil yang ia jalani tanpa menuntut pujian.
Ia berbicara dalam diam… melalui ketabahan. Tumbuh menjadi kuat, meski sendirian.
Di depan cermin, ia menatap sosok yang memantul di sana… seorang perempuan sederhana seolah menahan dunia dipundaknya.
“Apakah kau bahagia?”. Cermin itu bertanya tanpa suara.
Ia menatap matanya sendiri, mencari jawaban yang entah sejak kapan hilang.Ternyata, terlalu banyak yang ia simpan di balik tatapan itu.
Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]
Comment Closed: Prolog
Sorry, comment are closed for this post.