Bagiku, Ayah adalah ensiklopedia berjalan. Ia adalah muara dari segala ketidaktahuan yang aku miliki. Saat anak-anak lain mengagumi pahlawan di televisi, aku hanya perlu duduk di sampingnya untuk melihat keajaiban terjadi.
Suatu sore, aku duduk termangu di depan kertas gambar yang masih suci dari noda. Guru di sekolah memberi tugas menggambar rumah. Biasanya, aku hanya menggoreskan dua gunung kembar dengan matahari yang mengintip malu di celahnya, persis seperti cetak biru imajinasi anak SD pada umumnya. Namun kali ini, aku ingin sesuatu yang berbeda.
“Ingin menggambar apa, Nak?” suara berat Ayah memecah keheningan.
“Rumah, Yah. Tapi aku ingin rumah yang terlihat nyata,” jawabku ragu.
Ayah tersenyum. Ia mengambil sebilah penggaris dan pensil yang ujungnya runcing sempurna. “Ayah akan ajarkan teknik proyeksi. Ini rahasia para arsitek. Guru di sekolahmu mungkin belum memberitahukannya.”
Tangannya yang kasar karena kerja keras mulai menari di atas kertas. Ia menarik garis-garis samar menuju satu titik hilang. “Lihat ini,” katanya, “Dunia itu luas, tapi ia selalu bertemu di satu titik di kejauhan. Itulah perspektif.” Hari itu, aku bukan hanya menggambar rumah; aku belajar memandang dunia dari sudut yang lebih dalam.
Keajaiban Ayah tidak berhenti di sana. Ketika tugas kelompok menggambar peta tiba, teman-temanku sudah menyiapkan kertas kalkir untuk menjiplak. Mereka ingin jalan pintas.
“Jangan menjiplak,” tegur Ayah dengan nada tenang namun tegas. “Menjiplak itu hanya memindahkan bentuk, bukan memahami ruang. Gunakan skala.”
Ayah lalu membentangkan peta besar. Ia mengajari kami cara menghitung perbandingan jarak. Ia mengubah angka-angka rumit menjadi garis-garis yang presisi. Teman-temanku terperangah. Ayah seperti seorang kapten kapal yang sedang menentukan koordinat penaklukan samudera.
Malamnya, saat langit bersih dari mendung, Ayah mengajakku ke teras. Bintang-bintang bertaburan seperti butiran intan yang tumpah di atas permadani beludru hitam.
“Lihat rasi bintang itu,” tunjuknya ke utara. “Sebelum kompas ditemukan, orang-orang zaman dulu menggunakan bintang sebagai penunjuk arah. Mereka tidak pernah tersesat selama mereka tahu cara membaca langit.”
Aku menatap profil samping wajah Ayah. Di matanya, terpantul cahaya bintang. Aku merasa aman, karena bagiku, Ayah adalah bintang kutubku.
Suatu hari, duniaku runtuh karena hal sepele sepatu sekolahku jebol. Sobekannya menganga di bagian samping, solnya menjulur seperti lidah yang kehausan. Aku merengek minta dibelikan yang baru.
“Yah, lihat. Sudah tidak layak pakai,” keluhku sambil menyodorkan sepatu usang itu.
Ayah mengambil sepatu itu, memutarnya perlahan, lalu beranjak mengambil jarum besar dan benang nilon hitam.
“Sepatu ini masih bisa diselamatkan,” ucapnya pendek.
“Tapi teman-temanku punya sepatu baru, Yah!”
“Berhemat itu bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita menghargai apa yang kita miliki. Sepatu ini masih bagus, hanya perlu sedikit kasih sayang.”
Aku memperhatikan jari-jarinya yang kuat menarik benang nilon menembus karet sol yang keras. Ia mengajariku mengesol. Satu tusukan, satu tarikan. Pelajaran hari itu sederhana: jangan cepat membuang sesuatu yang hanya perlu diperbaiki.
Pelajaran paling keras datang saat listrik di rumah mati total akibat korsleting. Ayah memanggilku untuk membantunya mengecek sekring.
“Kok saya sih, Yah? Kenapa bukan Kak Anto atau Kak Ading? Mereka kan laki-laki!” protesku.
“Karena kamu yang ada di dekat Ayah sekarang,” jawabnya enteng.
Aku membuntutinya ke depan rumah dengan wajah cemberut. Ayah menurunkan saklar utama. Di bawah temaram lampu senter, ia menjelaskan arus positif dan negatif.
“Meskipun kamu perempuan, kamu harus bisa melakukan ini,” suaranya terdengar lebih serius dari biasanya. “Jangan pernah bergantung sepenuhnya pada laki-laki. Ada saatnya laki-laki tidak ada di rumah. Saat itu tiba, Ayah tidak ingin kamu menangis bingung di dalam kegelapan. Kamu harus bisa jadi cahayamu sendiri.”
Namun, Ayah adalah sosok yang paradoks. Ia mengajariku navigasi, namun ia sendiri sering hilang dari pandangan. Ayah adalah seorang perantau abadi. Pulangnya adalah peristiwa langka, seperti komet yang hanya melintas sekian tahun sekali.
Terkadang ia pulang setahun sekali, pernah tiga tahun, bahkan lima tahun ia baru menampakkan batang hidungnya. Surat-suratnya jarang datang, begitu pula weselnya. Kehadirannya seperti hembusan angin; terasa sejuk saat datang, namun tak pernah bisa digenggam lama.
Kondisi ini menempa Ibu menjadi wanita sekuat baja. Ibu menghidupi kami, tujuh orang anak, dengan peluh yang tak pernah kering. Aku, sebagai anak perempuan tertua di antara empat saudara laki-laki, belajar bahwa hidup adalah perjuangan untuk tetap bernapas di atas air. Kakak-kakakku hanya mampu menyelesaikan SMP lalu memutuskan ikut merantau, mengikuti jejak ayah yang samar.
“Aku ingin masuk SMA, Bu,” kataku suatu malam.
“Kenapa, Nak? Kakakmu bilang bekerja lebih nyata hasilnya,” tanya Ibu.
“Dengan ijazah SMA, aku bisa membidik posisi yang lebih tinggi. Aku tidak ingin hanya bertahan hidup, aku ingin membangun hidup.”
Ibu tersenyum, senyum yang sama dengan Ayah. “Hiduplah dengan keterampilan, Nak. Sama seperti pesan Ayahmu, jadilah mandiri dimanapun kakimu berpijak.”
Setelah dua tahun menghilang, Ayah tiba-tiba muncul saat aku duduk di kelas 3 SMA. Ia tampak lebih tua, kulitnya lebih legam terbakar matahari perantauan. Selama dua minggu di rumah, ia tidak banyak bicara tentang pekerjaannya. Ia sibuk mondar-mandir ke kantor kelurahan, mengurus berkas yang kami sendiri tidak tahu apa. Kami tidak berani bertanya. Husnuzan, mungkin itu urusan tanah atau tabungan masa tuanya.
Malam terakhir sebelum ia berangkat lagi, kami berkumpul di teras. Teh hangat mengepul, mengirimkan aroma melati ke udara malam.
“Ayah bangga kamu juara kelas,” katanya sambil menatapku. “Setelah lulus, apa rencanamu?”
“Aku ingin bekerja, Yah. Membantu Ibu dan adik-adik.”
Ayah menggeleng tegas. “Tidak. Kamu harus kuliah. Kamu cerdas.”
“Tapi biayanya, Yah…”
“Ayah yang tanggung. Kamu mendaftar saja. Ayah akan kirim biayanya dari sana.”
Janji itu adalah jangkar yang menahan harapanku agar tidak hanyut. Aku mendaftar ke IKIP, kampus impian yang persaingannya begitu ketat. Sebulan kemudian, sebuah surat pengumuman datang. Aku lulus.
Dengan tangan gemetar karena bahagia, aku menulis surat kepada Ayah di alamat terakhirnya. Aku menagih janjinya. Sebulan kemudian, sebuah wesel datang. Jumlahnya cukup untuk biaya kuliah setahun penuh. Hatiku melambung setinggi langit. Ayah tidak ingkar. Ayah adalah pahlawanku.
Tahun kedua kuliah dimulai. Aku mengirimkan surat kembali, menceritakan betapa bangganya aku menjadi mahasiswa, betapa aku merindukannya, dan—tentu saja—meminta bantuan biaya tahun berikutnya.
Dua minggu kemudian, surat itu kembali ke tanganku. Namun, ada goresan tinta merah yang menusuk jantungku: “ALAMAT TIDAK DITEMUKAN”.
Duniaku runtuh seketika. Aku seperti kehilangan titik hilang dalam teknik proyeksi yang diajarkannya. Aku kehilangan navigasi bintang kutubku. Ibu dan aku mencoba mencari melalui relasi-relasi lama Ayah, namun hasilnya nihil. Ayah menguap seperti embun yang tersengat matahari pagi. Kepulangan dua minggu itu ternyata adalah sebuah pamitan yang tidak tersampaikan.
Hingga hari ini, saat aku dan saudara-saudaraku sudah membangun rumah tangga masing-masing, tak satu pun dari pernikahan kami yang dihadiri olehnya. Ayah hilang di rimbanya sendiri.
Namun, saat aku mengganti lampu rumah yang mati, atau saat aku mengajari anakku menggambar dengan sudut pandang yang benar, aku merasakan kehadirannya. Ayah tidak benar-benar pergi. Ia telah memindahkan seluruh dirinya ke dalam karakterku.
Aku berdiri tegak, tidak bergantung pada siapa pun, persis seperti permintaannya di malam korsleting listrik itu. Ayah mungkin seorang perantau yang lupa jalan pulang, tapi ia adalah guru yang memastikan anak-anaknya tidak akan pernah tersesat di jalan kehidupan.
Kreator : Roseyani
Comment Closed: Ayah, Kau Dimana?
Sorry, comment are closed for this post.