
Tiga hari lalu halaman depannya masih penuh: tenda biru yang dipinjam dari kelurahan, kursi-kursi plastik yang datang bertumpuk di bak pikap, doa yang dipanjatkan bergantian oleh mereka yang datang silih berganti. Orang-orang datang membawa ucapan yang itu-itu juga, dan Maria menerimanya dengan anggukan yang sama. Kini tenda sudah dibongkar dan yang tersisa hanya bekas kaki-kaki kursi di rumput, tumpukan gelas yang belum dikembalikan ke tetangga, dan beberapa rangkaian bunga yang mulai layu, sedap malam, melati, mawar, yang wanginya masih menggantung di udara seperti tamu terakhir yang belum tahu jalan pulang.
Di atas meja kecil di samping gua Maria, foto ayahnya berdiri dalam bingkai kayu sederhana, diapit dua lilin yang menyala. Senyum di foto itu senyum yang sama yang dikenalnya seumur hidup, senyum yang membuat tamu-tamu asing duduk lebih lama dari rencana mereka. Maria menatapnya cukup lama, menunggu sesuatu terjadi di dalam dirinya. Tidak ada. Hanya sunyi yang sama.
Anehnya, yang paling ia ingat dari ayahnya bukan suara, bukan pula ingatan tentang wajah sang ayah. Wajah itu ada di mana-mana tiga hari ini, di bingkai, di spanduk duka, di ponsel para pelayat. Namun, kini yang paling ia ingat adalah aroma kopi hitam yang diseduh pagi-pagi sekali, sebelum ayam tetangga selesai berkokok, dan cengkeh. Aroma kering dan hangat yang tinggal di lemari baju ayahnya entah sejak kapan, seperti sudah ada di sana sebelum lemari itu sendiri.
Dari dapur, ia mendengar riuh suara perempuan asyik mengomentari harga-harga di pasar yang naik. Maria mengingat ia dan empat kakak perempuan berebut kamar mandi, dan di tengah keriuhan itu ibu dan nenek mereka berdiri di depan kompor, menyeduh satu gelas kopi, satu, untuk mereka berlima. Gelas itu berpindah dari tangan ke tangan mengikuti urutan lahir, dan Maria, si bungsu, selalu mendapat seruput terakhir: yang paling dingin, paling manis, karena gula selalu mengendap di dasar. Bertahun-tahun kemudian ia mengerti bahwa satu seruput itulah yang setiap pagi membangunkan mereka berlima dan memberangkatkan mereka ke sekolah, bukan kopinya, tapi antre menunggu giliran itu.
Di luar, sebuah motor lewat. Suaranya menjauh, lalu sunyi lagi. Maria membuka mata memandang lilin di sebelah kiri foto sudah lebih pendek dari yang kanan. Ia mencatatnya dalam hati, sebagaimana ayahnya dulu mencatat hal-hal kecil yang miring di rumah ini, genteng yang melorot satu sentimeter, dan anak yang pulang lima menit lebih lambat dari janjinya.
***
Dapur itu tidak pernah benar-benar sunyi, bahkan pada hari-hari duka.
Maria berdiri di ambang pintunya dan sejenak hanya memandang. Empat perempuan bergerak di ruangan sempit itu dengan pembagian kerja yang tidak pernah dibicarakan tetapi selalu dipatuhi, seperti hukum yang lebih tua dari mereka semua.
“Romo Yosef dijemput setengah tujuh. Setengah tujuh, bukan tujuh kurang seperempat.”
Suara Martha memenuhi dapur sebagaimana memenuhi ruangan mana pun yang ia masuki. Tangannya memotong kue lapis menjadi kotak-kotak yang ukurannya persis sama, dan mulutnya bekerja lebih cepat dari pisaunya.
“Dan, jangan Ardi yang jemput. Ardi kalau nyetir seperti dikejar hutang. Masa Romo diajak balapan. Suruh Pak Yon saja, nyetirnya pelan. Pelan itu sopan.”
Tidak ada yang menjawab. Martha memang tidak sedang bertanya.
Di sudut ruang, Lydia menghitung sesuatu di buku kecil. Bibirnya bergerak tanpa suara. Sejak tiba dari bandara dua hari lalu, ia lebih banyak menghitung daripada berbicara – kursi, gelas, amplop, nama-nama yang harus dikirimi kabar. Suaminya tidak ikut; ada rapat pimpinan fraksi yang katanya tidak bisa ditinggal, dan Lydia menyampaikan itu satu kali, datar, tanpa membuka ruang untuk ditanggapi.
“Kursi kurang dua belas,” katanya sekarang, tanpa mengangkat kepala.
“Sepuluh,” kata Martha. “Tadi ibu-ibu lingkungan bilang….”
“Dua belas. Keluarga Pak Broto datang bertujuh, bukan berlima. Hitung lagi kalau tidak percaya.”
Martha membuka mulut, memandang buku kecil di tangan adiknya, lalu menutup mulutnya lagi. Dalam empat puluh tahun lebih menjadi kakak-beradik, belum pernah sekali pun hitungan Lydia meleset, dan mereka semua sudah lelah berharap kali ini berbeda.
Pintu samping terbuka dan Agnes masuk membawa tiga kantong plastik yang menggantung di sepuluh jarinya sekaligus.
“Kue lapisnya habis di Bu Darmi, aku ganti dengan bolu pandan. Struknya ku taruh di toples biar nanti gampang dihitung.” Ia meletakkan belanjaan, merapikan struk itu dengan lipatan yang rapi sekali untuk secarik kertas yang tidak akan dilihat siapa-siapa, lalu berteriak ke arah ruang tengah tanpa mengubah nada.
“Dik! Kecilkan TV-nya! Ini rumah orang berduka!”
Dari ruang tengah, suara kartun mengecil setengah, lalu perlahan naik lagi.
Dan di depan kompor, membelakangi semuanya, Ibu berdiri menyeduh kopi.
Teko besar aluminium itu keluar hanya untuk hajatan; pernikahan, sunatan tetangga, dan sekarang ini. Ibu menuangkan air mendidih ke atas bubuk kopi dengan gerakan melingkar yang pelan, dan uap yang naik membawa aroma itu ke seluruh dapur, mengalahkan bau bawang goreng dan pandan, mengalahkan suara Martha, mengalahkan hari itu sendiri.
Maria menutup mata sebelum ia sempat memutuskan untuk menutupnya.
Dapur ini juga, tiga puluh tahun lalu. Ukurannya terasa lebih besar waktu itu, mungkin karena tubuh mereka yang kecil. Setiap pagi, di tengah keriuhan empat anak perempuan berebut kamar mandi dan kaus kaki, Ibu berdiri di depan kompor yang sama dan menyeduh satu gelas kopi. Satu, untuk mereka berempat.
Gelas itu berpindah dari tangan ke tangan mengikuti urutan lahir. Martha selalu mendapat seruput pertama, dan selalu menyeruput terlalu lama sampai tiga adiknya berteriak protes; ia lalu menyerahkan gelas itu sambil menjelaskan, panjang, bahwa ia sama sekali tidak lama, kalian saja yang tidak sabaran. Lydia menerima giliran kedua tanpa suara, menyeruput tepat satu kali, dan menyodorkan gelas ke Agnes bahkan sebelum Agnes selesai menadahkan tangan. Agnes selalu meniup permukaannya dulu meski kopi itu sudah tidak panas lagi. Dan Maria, si bungsu, mendapat seruput terakhir: yang paling dingin dan paling manis, karena gula selalu mengendap di dasar.
Bertahun-tahun kemudian Maria mengerti bahwa yang membangunkan mereka setiap pagi bukanlah kopinya. Kopi sebanyak itu, dibagi empat, tidak cukup untuk membangunkan seekor kucing. Yang membangunkan mereka adalah antrean itu – takut kehilangan giliran, takut tertinggal dari yang lain. Ayah yang mengatur ritual itu, dan Ayah pula yang, bertahun-tahun kemudian, tertawa pendek ketika Maria menyampaikan teorinya. Ia tidak membenarkan. Ia juga tidak membantah.
Sesudah kopi, meja makan. Dan di meja makan, aturan.
Sarapan boleh riuh oleh suara manusia, kadang saling mengejek, atau berargumen, tetapi tidak boleh oleh suara benda. Sendok dan piring tidak boleh bertemu dan menghasilkan bunyi. Tidak pernah ada hukuman untuk pelanggarannya, hanya cukup Ayahnya yang berhenti mengunyah dan menatap ke arah asal bunyi itu, dan meja makan akan hening sampai pelakunya meletakkan sendoknya kembali dengan cara yang benar: dimiringkan pelan, ditahan jari telunjuk, tanpa suara. Maria tidak pernah tahu dari mana aturan itu berasal. Ia hanya tahu aturan itu ada, seperti gravitasi.
“Mar,” suara Agnes memanggil. “Melamun terus. Sini makan dulu, sebelum tamu datang. Nanti tidak sempat.”
Mereka makan berdiri dan duduk seadanya, piring di tangan, di dapur yang terlalu sempit untuk lima perempuan dan satu meja. Martha bercerita tentang rektornya yang baru, lalu tentang harga tiket pesawat yang tidak masuk akal, lalu tentang anak-anaknya.
“Disuruh papanya ambil hukum biar ada yang meneruskan kantor. Eh, yang satu lari ke kimia, yang satu lagi ke teknologi. Ya sudah, anak-anak sekarang memang begitu, dulu Papa juga…”
Ia berhenti.
Hanya sedetik. Pisau bolu di tangannya menggantung di udara, lalu turun lagi, dan kalimatnya berbelok ke soal lain, ke menteri yang baru tertangkap tangan kasus korupsi pengadaan laptop, ke artis yang baru bercerai, ke apa saja. Tidak ada yang menyinggung belokan itu. Lydia menambahkan sambal ke piringnya. Agnes meniup sendoknya yang tidak panas.
Maria yang melihatnya: Martha menyelesaikan suapan terakhir sambil terus bicara, dan tangannya, tanpa berhenti bicara, tanpa menoleh, tanpa sadar, meletakkan sendok ke piring dengan cara itu. Dimiringkan pelan. Ditahan jari telunjuk. Tanpa suara.
Lalu Lydia. Lalu Agnes. Lalu, ketika gilirannya tiba, tangan Maria sendiri.
Ayah tidak ikut makan malam itu, dan tidak akan ikut lagi di malam-malam berikutnya. Tetapi tidak satu sendok pun berbunyi.
***
Doa malam dimulai pukul tujuh lebih sedikit, ketika kursi-kursi pinjaman itu akhirnya penuh dan Romo Yosef, yang dijemput Pak Yon, tepat waktu, pelan dan sopan, membuka dengan tanda salib. Ruang tamu yang tiga hari terakhir terasa terlalu besar mendadak terlalu kecil. Maria duduk di barisan keluarga, di antara Agnes dan seorang tante dari Surabaya, dan membiarkan suara-suara itu menutupinya: bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, gumam puluhan orang yang naik-turun seperti napas satu tubuh besar.
Di saku rok hitamnya, ponsel bergetar.
Ia mengabaikannya. Ponsel itu sudah bergetar sepanjang sore; ucapan duka yang terlambat, grup kantor, klien firma yang menganggap kata berduka pada pesan otomatisnya berlaku untuk orang lain saja. Getaran berhenti. Doa berpindah ke Salam Maria.
Ponsel bergetar lagi. Berhenti. Bergetar lagi.
Tiga kali berturut-turut. Maria mengeluarkan ponsel itu setengah tersembunyi di balik tasnya dan melihat nama di layar: Ratna – Bekasi.
Ratna tidak pernah menelepon tiga kali berturut-turut. Ratna bahkan hampir tidak pernah menelepon; perempuan itu mengetik pesan panjang-panjang tengah malam lalu memulainya dengan maaf mengganggu, Bu. Kalau ia menelepon tiga kali, itu bukan telepon.
Ratna bukan klien kantornya, mereka akan telepon ke associate atau sekretarisnya; klien firma punya nomor kantor, jam kantor, dan tarif per jam yang membuat mereka bicara seperlunya. Ratna datang dari meja lain dalam hidup Maria; posko konsultasi hukum di aula paroki, yang buka setiap Sabtu ketiga setiap bulan, tempat Maria duduk tanpa nama kantor hukum di belakang punggungnya. Setahun lalu perempuan itu mengantre dua jam dengan lengan kiri yang tidak bisa lurus, lalu mengeluarkan map berisi kertas-kertas yang sudah disusunnya diam-diam selama tiga tahun. Rekan-rekan sekantor menyebut pekerjaan Sabtu itu amal. Maria tidak pernah menemukan kata yang tepat untuk menyebutnya, jadi ia tidak menyebutnya apa-apa. Ia hanya terus datang.
Maria bangkit dengan cara yang dipelajari semua orang yang pernah tumbuh di rumah penuh aturan: setengah membungkuk, tanpa suara, wajah yang mengisyaratkan urusan kecil dan sebentar. Agnes meliriknya. Maria menunjuk ponsel dengan dagunya, dan Agnes kembali ke doanya.
Kamar masa kecilnya kini menjadi kamar tamu, tetapi kuncinya masih kunci yang sama. Maria memutarnya, duduk di tepi tempat tidur, dan menekan nama itu. Dari balik pintu, doa terdengar seperti hujan di atap rumah orang lain.
Telepon tersambung pada dering pertama.
“Bu Maria…” Suara Ratna kecil dan cepat, suara orang yang berbicara sambil mengawasi sesuatu. “Maaf, Bu, maaf, saya tahu ibu sedang…”
“Tidak apa-apa. Saya di sini.”
Dan, Maria mendengar suaranya sendiri berubah, turun setengah nada, melambat, kalimat-kalimatnya memendek. Suara yang tidak pernah ia pakai di rumah ini. “Dia datang?”
“Di depan. Dari tadi gedor-gedor. Katanya mau ambil anak-anak, katanya dia berhak…”
“Ratna, dengar saya dulu! Kamu di dalam rumah?”
“Iya.”
“Pintu depan terkunci?”
“Terkunci. Sama gerendel.”
“Anak-anak di mana?”
“Di kamar. Sama saya. Dua-duanya.”
“Bagus. Itu yang paling penting.”
Maria memejamkan mata sebentar, menyusun peta sebuah rumah kontrakan di Bekasi yang hanya pernah ia lihat dua kali. “Sekarang kunci juga pintu kamar. Saya tunggu.”
Terdengar gesekan, langkah, bunyi selot kecil. Di latar belakang, samar, gedoran itu, dan suara laki-laki yang tidak bisa dipilah kata-katanya, hanya nadanya. Nada itu yang selalu sama, di rumah mana pun, di kota mana pun.
“Sudah, Bu.”
“Masih pegang salinan putusannya? Yang saya kasih map merah.”
“Masih. Di lemari.”
“Tidak usah diambil sekarang. Cukup ingat: dia yang melanggar, bukan kami. Yang salah malam ini bukan kamu, tolong ingat.” Maria memberi kalimat itu ruang sebentar, karena dari pengalaman ia tahu kalimat itu butuh ruang. “Sekarang, jangan buka pintu, apa pun yang dia bilang. Kalau dia mulai merusak pintu, langsung telepon 110, sebut alamat lengkap, bilang ada riwayat kekerasan dan ada putusan pengadilan. Bisa?”
“B-bisa.”
“Saya akan telepon Mbak Wulan sekarang, dia yang paling dekat dari rumah kamu. Malam ini juga dia atau orang dari lembaga akan hubungi kamu, tolong HP jangan dimatikan, charger dicolok. Kalau setengah jam tidak ada kabar, tolong telepon saya lagi. Jam berapa pun.”
Hening sebentar. Gedoran di latar itu berhenti, lalu mulai lagi, lebih malas.
“Bu Maria.” Suara Ratna turun jadi hampir bisik. “Kenapa ya, Bu… saya masih kaget terus. Padahal sudah setahun. Harusnya saya sudah biasa.”
“Tidak ada orang yang harus biasa dengan ini,” kata Maria. “Kamu bukan penakut, Ratna. Orang penakut tidak menggugat. Kamu sudah melewati yang lebih berat dari malam ini, dan waktu itu kamu juga sendirian. Sekarang kamu juga tidak sendirian.”
Sesudah telepon ditutup, ia mencari nama Wulan, dan percakapan kedua itu pendek dan teknis, dua orang yang sudah terlalu sering melakukan ini: alamat, riwayat, nomor putusan, siapa menghubungi siapa, sebelum jam berapa. Wulan tidak bertanya kenapa suara Maria terdengar aneh, dan tidak menyampaikan ucapan duka. Untuk itu, entah kenapa, Maria berterima kasih.
Lalu selesai. Layar ponsel gelap, dan kamar itu kembali menjadi kamar tamu di rumah duka.
Maria masih duduk di tepi tempat tidur. Dari ruang tamu, rosario memasuki peristiwa entah yang keberapa, ….. sekarang dan waktu kami mati, amin, dan ia menyadari punggungnya tegak lurus, kedua kaki rapat menapak lantai, ponsel tergenggam di pangkuan seperti berkas yang siap diserahkan ke majelis. Duduk siap.
“Jangan tunggu orang lain mengerjakan sesuatu yang bisa kamu kerjakan sendiri”.
Kalimat itu datang bukan sebagai kenangan, kenangan harus dipanggil, dan ia tidak memanggil apa-apa. Kalimat itu datang seperti lutut yang menyentak sendiri ketika diketuk. Ia sudah ada di dalam sana, terpasang, bekerja bertahun-tahun tanpa minta izin: setiap kali Maria mengangkat telepon yang orang lain takut angkat, setiap kali ia berdiri paling awal di ruang sidang, setiap kali ia memutuskan bahwa sesuatu adalah urusannya padahal dunia sudah menyediakan seribu alasan untuk mengatakan bukan.
Empat puluh tahun ia mengira sedang melawan ayahnya. Duduk di kamar masa kecilnya, dengan doa untuk ayahnya merembes dari balik pintu, Maria tidak lagi yakin di mana persisnya batas antara melawan dan meneruskan.
Ia berdiri, merapikan rok, dan membuka kunci.
Di ruang tamu tidak ada yang menoleh kecuali Ibu, sekilas saja, dari seberang ruangan, tatapan yang memeriksa lalu melepaskan. Maria kembali ke kursinya di samping Agnes dan menyambung doa di tengah kalimat, di tempat mana pun tubuh besar itu sedang bernapas: ….terpujilah engkau di antara wanita…..
Ponselnya sudah senyap. Setengah jam lagi ia boleh gelisah; sekarang belum.
Di luar, jauh dan pelan, terdengar guruh pertama musim hujan.
***
Hujan tiba bersamaan dengan doa penutup, seolah menunggu diberi izin. Ketika tamu-tamu berdiri dan mulai bersalaman, air sudah jatuh lurus dan rapat di halaman, dan setengah jam berikutnya rumah itu sibuk dengan urusan yang paling tua di dunia: memulangkan orang di tengah hujan. Martha berdiri di teras mengomando lalu lintas paying; payung hitam untuk Romo, payung golf untuk keluarga Pak Broto yang bertujuh, payung lipat yang harus kembali karena itu payung kantor Lydia. Mobil-mobil menyala satu per satu di jalan yang berkilat.
Ketika pintu akhirnya ditutup, rumah kembali kepada mereka, dan hujan kepada rumah.
Suaranya memenuhi segalanya, atap, talang, daun pisang di samping dapur. Dan di sudut ruang tengah, dekat lemari buku, terdengar bunyi yang lebih kecil dan lebih tua: tik. tik. tik. Ibu lewat membawa ember plastik hijau dan meletakkannya di titik itu tanpa melihat, tanpa berhenti berjalan, gerakan yang sudah dilakukan tubuhnya mungkin seribu kali. Bocor di sudut itu sudah ada sejak Maria SMP. Rumah ini punya ingatannya sendiri.
Maria berdiri memandangi ember itu, mendengar hujan menabuh genteng, dan genteng membawanya naik.
Ia enam belas tahun, dan pagar itu berwarna hijau.
Sore itu Ayah mengajarinya membawa motor di gang samping rumah, dengan metode mengajar yang sama seperti metode Ayah untuk segala hal: instruksi satu kali, diucapkan jelas, tidak diulang. Kopling, gigi satu, gas pelan. Maria sudah bisa jalan lurus. Yang belum ia bisa adalah berhenti, dan gang itu berakhir di pagar rumah Bu Har.
Ia ingat urutannya seperti ingat sebuah tanggal: tangan yang menarik gas alih-alih rem, pagar hijau yang membesar terlalu cepat, bunyi besi bertemu besi yang memanggil keluar seisi gang. Motor rebah menindih kakinya. Lututnya robek dan panas. Bu Har berlari keluar sambil berseru menyebut nama Tuhan, anak-anak tetangga berdiri membentuk setengah lingkaran, dan di ujung gang, ayahnya berdiri di tempat yang sama sejak tadi, tidak berlari, tidak bergerak.
“Berdiri. Tegakkan motornya.”
Maria berdiri. Menegakkan motor itu dengan dua tangan gemetar dan satu lutut berdarah, di depan setengah lingkaran penonton, sementara Bu Har menawarkan obat merah dan ayahnya menolakkan dengan satu angkatan tangan yang sopan. Baru setelah motor tegak dan standar turun, ayah berjalan mendekat. Maria mengira, sampai hari ini ia masih ingat bahwa ia sempat mengira, ayah akan memeriksa lututnya, ternyata melanjutkan langkah memeriksa stang motor yang agak miring karena jatuh dan menyerahkan motor ke Maria. Ia menggeleng, matanya basah dan tak lama jatuh di pipi.
“Dasar mental tempe kamu! Sudah sana, pulang ke rumah.” Tenang tapi tegas, suara ayahnya terdengar tajam di telinganya.
Tiga puluh tahun kemudian, Maria pernah membela klien dalam perkara pencemaran nama baik untuk kalimat yang jauh lebih ringan dari itu. Sore itu ia hanya menuntun motor pulang, melewati ayahnya tanpa menoleh, dan bersumpah tidak akan pernah menyentuh kendaraan itu lagi. Ia mengunci diri di kamar, tidak turun makan malam, dan tidak ada yang membujuknya turun. Rumah itu tidak mengenal bujukan.
Besok paginya, di meja makan, kunci motor tergeletak di samping gelas kopi yang berpindah dari tangan ke tangan. Tidak ada yang menyebut-nyebut pagar. Tidak ada yang menyuruhnya apa-apa. Dan Maria, karena marah, karena ingin membuktikan sesuatu kepada laki-laki yang bahkan tidak sedang memperhatikannya, mengambil kunci itu.
Bertahun-tahun kemudian barulah terpikir olehnya bahwa mungkin persis itu yang diperhitungkan ayahnya. Bahwa amarah pun, di tangan Ayah, adalah alat pendidikan. Ia tidak pernah memutuskan apakah itu membuat semuanya lebih mudah dimaafkan atau lebih sulit.
Perkara ban datang setahun kemudian. Sabtu siang, motor itu, yang sudah menjadi motornya sekarang, kempis di ban belakang, dan Maria harus berangkat les. Ayah duduk di teras dengan kopi dan koran, dan tidak beranjak dari kedua-duanya. “Kunci-kunci di kotak biru. Ban dalam cadangan di gantungan paku.” Sepanjang satu jam berikutnya ia hanya bersuara kalau ditanya, dan jawabannya tidak pernah lebih dari lima kata. Kendurkan dulu semua. Congkelnya dari sisi jauh. Rata dulu, baru pompa. Maria selesai dengan sepuluh jari hitam oli dan terlambat empat puluh menit, dan untuk itu ayahnya menuliskan surat izin dengan tulisan tangan guru yang tegak lurus: Anak saya terlambat karena mengganti ban motornya sendiri. Bu guru les membaca surat itu dua kali, memandang Maria, dan tidak berkata apa-apa.
Lain lagi soal genteng. Genteng datang pada musim hujan tahun yang sama.
Malam itu air menetes ke lemari buku, titik yang sama, sudut yang sama yang kini diisi ember hijau, dan Ayah, yang sedang demam dan dilarang ibu keluar rumah, berdiri juga di bawah tangga sambil memegang senter.
“Naik. Papa pegang tangganya.”
Maria naik dalam hujan yang tidak deras tetapi cukup untuk membuat segalanya licin, merangkak di atas genteng yang bunyinya seperti mau patah di setiap tumpuan, menemukan satu genteng yang melorot, menggesernya kembali dengan jari-jari yang sudah tidak terasa. Kilat menyala satu kali, jauh. Dari atas, sekilas, ia melihat ke bawah untuk memastikan tangga tidak bergeser.
Ayahnya berdiri di kaki tangga, tanpa payung, demam, basah kuyup, kedua tangan mencengkeram anak tangga, wajah menengadah ke arahnya, tidak berpindah satu senti pun sejak Maria naik.
Waktu itu ia tidak melihat apa-apa selain perintah, sebagai bungsu yang ditinggal kakak-kakak tertuanya kuliah di luar kota. Yang berdiri di bawah hujan itu, bagi Maria enam belas tahun, hanyalah laki-laki yang menyuruh anak perempuannya naik ke atap. Butuh tiga puluh tahun, satu profesi, dan tiga hari kehilangan untuk gambar itu kembali dengan susunan yang berbeda: laki-laki demam yang berdiri di bawah hujan selama empat puluh lima menit, mencengkeram tangga anaknya, dan tidak sekali pun mengalihkan pandangan.
Ember hijau di sudut sudah menampung selebar telapak tangan. Maria mengangkatnya, membuang airnya ke kamar mandi, meletakkannya kembali di titik yang sama. Tubuhnya juga sudah hafal.
Ia berpikir tentang Ratna, yang malam ini menjaga pintu kamarnya sendirian di Bekasi. Tentang perempuan-perempuan yang duduk di hadapannya setiap Sabtu ketiga dengan map berisi hidup mereka, perempuan yang tidak pernah diajari mengganti ban, menegakkan motor, memanjat apa pun; yang diajari sebaliknya: menunggu, meminta izin, bertahan. Setiap kali mendengar kisah mereka, ada bagian dari Maria yang diam-diam berterima kasih untuk lutut yang robek di depan pagar hijau, untuk sepuluh jari hitam oli, untuk basah di tengah hujan, merangkak diatas genteng.
Ada malam-malam ia berterima kasih kepada ayahnya untuk semua itu. Ada malam-malam ia masih remaja enam belas tahun yang menuntun motornya melewati laki-laki itu tanpa menoleh. Dan yang tidak pernah bisa ia jelaskan kepada siapa pun: kedua malam itu sering kali malam yang sama. Pemahaman, ia sudah lama tahu, tidak bekerja seperti penghapus.
Di sudut ruangan, ember hijau mulai menghitung lagi dari satu.
***
Lewat tengah malam hujan tinggal gerimis, dan rumah itu tidur dengan cara rumah penuh orang tidur: tidak sungguh-sungguh. Dari kamar tengah terdengar dengkur halus suami Agnes yang baru tiba malam itu dari Semarang. Ibu sudah masuk kamar sejak tamu terakhir pulang. Di dapur, gelas-gelas pinjaman berdiri terbalik di rak, bersih, siap dikembalikan.
Maria tidak bisa tidur, dan ia berhenti berusaha.
Ia turun ke ruang makan dan mendapati meja itu di bawah cahaya lampu gantung yang dinyalakan separuh. Delapan kursi. Tujuh di antaranya bergeser-geser posisinya sepanjang tiga hari ini, diduduki tante-tante, ibu-ibu lingkungan, siapa saja. Satu kursi, di kepala meja, tetap pada tempatnya, rapi, terdorong masuk penuh, tidak ada yang mendudukinya dan tidak ada yang perlu mengumumkan larangan itu.
Maria menarik kursi di sebelahnya. Kursi yang dulu, di meja yang dulu, di sisi yang dulu. Karena di meja inilah ia kena kata “Manggarai”, sepanjang masa kecilnya. Waktu SD, ia pernah penasaran dengan cerita ayahnya, lalu ia mencarinya di peta, di perpustakaan sekolah. Di ujung barat sebuah pulau yang bentuknya seperti sesuatu yang belum selesai digambar. Manggarai yang ia kenal ada di meja makan, sesudah piring-piring kosong, pada jam-jam ketika aturan-aturan melonggar dan suara Ayah turun satu nada, menjadi suara yang lain.
Suara itu yang paling sulit dijelaskan kepada orang yang tidak pernah mendengarnya. Ayah berbicara tentang segala hal di meja ini, pemerintah, politik, harga pupuk, tamu-tamunya, kitab suci, kisah para rasul, dan untuk semua itu suaranya adalah suara guru: jelas, tegak, tidak diulang. Tetapi jika yang diceritakan Manggarai, kata-katanya berubah pelan seperti orang yang takut membangunkan sesuatu. Nama-nama tempat ia ucapkan seperti doa, satu demi satu, tidak pernah tergesa. Nama sungai. Nama bukit. Nama kampung yang bagi Maria kecil terdengar seperti mantra: tempat kabut turun sebelum di pagi dan sore, tempat tanah berwarna merah tua seperti gerabah, tempat kopi dijemur di halaman sampai seluruh kampung berbau seperti lemari Ayah.
Ia bercerita tentang sawah yang dibagi seperti jaring laba-laba, dari satu titik pusat, garis-garisnya memancar keluar, dan setiap keluarga mendapat irisannya. Supaya adil, kata Ayah. Dari pusat yang satu, semua orang kebagian. Maria kecil membayangkannya bertahun-tahun sebelum akhirnya melihat fotonya di sebuah majalah di ruang tunggu dokter gigi, dan terkejut menemukan bahwa sawah itu sungguh-sungguh ada; selama itu ia mengira ayahnya setengah mendongeng.
Ia bercerita tentang rumah berbentuk kerucut yang di dalamnya ada tungku api yang tidak pernah benar-benar padam. Tentang jalan kaki berjam-jam ke sekolah, sepatu dijinjing supaya awet, dipakai hanya di halaman sekolah. Tentang kakaknya, Bapak Tua Nico, Bapak Tua Arnold – nama yang waktu itu belum berarti apa-apa bagi Maria -, yang mengajarinya memanjat pohon kemiri dan menerima hukuman untuk itu, berdua, tanpa saling mengadukan.
Yang tidak pernah ia ceritakan adalah kenapa ia pergi. Dan kenapa ia tidak pernah kembali.
Cerita-cerita itu selalu berhenti di batas yang sama, seperti sungai yang hilang ke dalam tanah. Manggarai dalam suara Ayah adalah tempat yang hidup sampai kira-kira umur dua puluh, sesudah itu senyap, dan sebelum Maria bisa bertanya, biasanya sudah ada piring yang harus diangkat atau tamu yang datang atau apa saja yang selalu bersedia menyelamatkan Ayah dari kalimat berikutnya.
Sekali, kelas lima SD, Maria bertanya kenapa hanya kepadanya ayah bercerita. Kakak-kakaknya sudah bubar dari meja; tinggal mereka berdua dan ampas kopi.
“Kakak-kakakmu sibuk dengan sekolah mereka. Lagi pula mereka tidak betah duduk lama-lama dengar Papa bercerita.” Ayah memutar gelas kosongnya pelan, memandang ampas di dasarnya. “Hanya kamu yang mau mendengar sampai selesai.” Lalu, seperti memutuskan sesuatu yang sudah lama ditimbang.
“Suatu hari kau harus pulang kesana, supaya kau tahu dari mana darahmu berasal.”
Pulang — itu kata yang dipakainya. Bukan pergi, bukan berkunjung. Untuk tempat yang belum pernah sekali pun Maria injak.
Telepon terakhir mereka berlangsung sebelas minggu sebelum Ayah meninggal, dan Maria tahu angka itu karena tiga hari terakhir ini ia sudah menghitungnya berkali-kali.
Ia sedang di taksi antara dua rapat, Jakarta sore hari, hujan juga waktu itu. Ayah menelepon tanpa keperluan, sejak pensiun ia sesekali begitu, menelepon anak-anaknya bergiliran menanyakan hal-hal yang jawabannya tidak sungguh ia butuhkan. Sudah makan. Kasus yang di berita itu kantormu yang pegang, bukan. Ban mobilmu masih yang tahun lalu?
Lalu, di tengah jeda yang biasanya menjadi tanda telepon akan segera ditutup, Ayah berkata, tanpa didahului apa-apa: “Di kampung sekarang musim petik. Kalau musim petik, satu kampung baunya kopi semua.”
Sekarang. Bukan dulu. Selama empat puluh tahun cerita-cerita itu hidup di masa lampau, dan sore itu, untuk pertama kalinya, Ayah memakai kata sekarang, seakan-akan ada jendela yang selama ini tertutup dan seseorang baru saja membukanya sedikit dari dalam.
Maria ingat ia menegakkan punggung di jok taksi. Ia ingat pertanyaan itu naik sampai ke belakang giginya, pertanyaan yang sudah empat puluh tahun antre: Pa, kenapa Papa tidak pernah…
Ponselnya bergetar di telinga. Panggilan masuk kedua: ruang rapat menunggu. Dan Maria, yang tidak pernah terlambat, yang diajari tidak menunda apa yang bisa dikerjakan sekarang, mendengar dirinya sendiri memilih: “Pa, aku masuk rapat dulu ya. Nanti kita sambung. Nanti aku tanya-tanya soal kampung kalau aku pulang.”
“Iyo.” Ayah tertawa pendek, satu hembusan lewat hidung.
“Nanti.”
Itu bukan percakapan terakhir mereka, sesudahnya masih ada dua atau tiga telepon pendek, ulang tahun ibu, urusan pajak rumah. Tetapi jendela itu tidak pernah terbuka lagi, dan Maria tidak pernah lagi mendorongnya.
Dan pertanyaan itu, ia tahu sekarang, duduk di kursi sebelah kursi kosong yang terdorong rapi ke meja, pertanyaan itu sebenarnya bukan pertanyaan tentang kampung. Kenapa Papa tidak pernah pulang hanyalah pintu depannya. Di belakangnya ada pertanyaan yang lebih tua, lebih kecil, yang bahkan dalam batinnya sendiri tidak pernah ia izinkan selesai dibentuk; pertanyaan seorang anak perempuan enam belas tahun yang menegakkan motor dengan lutut berdarah dan menunggu ayahnya berjalan mendekat.
Gerimis di luar berhenti tanpa suara.
Di kepala meja, kursi itu tetap pada tempatnya. Dan pertanyaan Maria duduk di ruangan itu bersamanya, utuh, sabar, dan sejak tiga hari yang lalu, kehilangan alamatnya.
****
Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, Maria melewati kamar orang tuanya dan mendapati pintunya terbuka sejengkal, cahaya lampu tidur jatuh ke lorong seperti sesuatu yang tumpah. Ia hampir lewat begitu saja. Tiga hari ini semua orang belajar tidak saling mengganggu kesedihan masing-masing, dan pintu yang terbuka sejengkal bisa berarti apa saja. Tetapi dari dalam terdengar bunyi yang membuatnya berhenti: bunyi kain. Bunyi kain yang dilipat.
Ibu berdiri di depan lemari Ayah yang terbuka lebar. Ia belum berganti pakaian tidur. Di hadapannya, di atas tempat tidur, kemeja-kemeja Ayah terhampar dalam barisan yang rapi, kemeja batik untuk misa, kemeja putih untuk mengajar yang sudah dua puluh tahun tidak dipakai mengajar, kemeja kotak-kotak untuk di rumah. Ibu mengangkat satu, membentangkannya, mengibaskannya sekali, lalu melipatnya kembali dengan lipatan yang persis sama dengan lipatan semula. Kemeja-kemeja itu tidak kusut. Tidak ada yang perlu dirapikan. Ibu merapikannya juga.
Maria mendorong pintu pelan. Ibu tidak menoleh, tetapi punggungnya menandai kedatangan itu dengan caranya sendiri, bahu yang turun sedikit, kepala yang miring sekian derajat.
“Belum tidur, Mar.”
Bukan pertanyaan. Maria masuk dan berdiri di sisi tempat tidur, di seberang barisan kemeja itu.
“Besok kue-nya masih cukup?” tanya Ibu, tangannya terus bekerja. “Tadi bolu pandannya habis duluan. Orang-orang lingkungan sini memang begitu, kalau bolu Bu Darmi habis, bolu apa saja disikat.”
“Masih ada dua, kata Agnes.”
“Lampu teras yang sebelah kanan mati dari kemarin. Besok tolong bilang suaminya Agnes, dia kan bawa mobil, bisa beli di pasar sekalian belanja buah.”
“Iya, Ma.”
Percakapan itu selesai, dan tidak ada yang menggantikannya. Yang ada hanya bunyi kain, dan hujan sisa di talang, dan aroma yang keluar dari lemari terbuka itu, aroma yang membuat Maria mengerti kenapa ia berhenti di depan pintu tadi. Cengkeh. Lebih pekat dari yang pernah ia ingat, seolah lemari itu menyimpannya bertahun-tahun dengan bunga dan menunggu dibuka.
Ibu mengangkat kemeja kotak-kotak yang paling tua, dan sebelum melipatnya, tangannya masuk ke saku dada dengan gerakan yang jelas bukan gerakan pertama. Dua jari keluar membawa sebutir cengkeh.
Di atas meja rias, di antara botol-botol minyak kayu putih, berdiri sebuah kaleng permen bekas yang tutupnya sudah kusam. Ibu membuka tutup itu dan menjatuhkan cengkeh tadi ke dalamnya, dan dari bunyinya Maria tahu kaleng itu tidak kosong. Jauh dari kosong.
“Empat puluh tahun nyuci bajunya,” kata Ibu, seperti menjawab pertanyaan yang tidak diajukan, “empat puluh tahun ada saja cengkeh di sakunya. Di saku dada. Kadang dua, kadang tiga.” Ia menutup kaleng itu tanpa upacara. “Papa mulai kantongi cengkeh waktu berhenti merokok. Waktu Martha masuk SMP, Papa masuk UGD karena bronkitis. Sejak itu, kalau mulut ingin rokok, kunyah cengkeh saja. Rokoknya berhenti. Cengkehnya tidak.”
Ibu meletakkan kemeja kotak-kotak itu, terlipat, di atas tumpukan. Lalu mengangkat yang berikutnya.
Maria memandang punggung ibunya. Punggung itu, yang seumur hidupnya berdiri di depan kompor, di depan bak cuci, di depan meja setrika, membelakangi rumah yang riuh dan menghadapinya dengan cara itu, punggung itu sekarang tampak kecil. Bukan bungkuk; Ibu tidak bungkuk. Kecil. Seperti baju yang pelan-pelan turun satu ukuran tanpa ada yang memperhatikan kapan persisnya. Maria mencoba mengingat sejak kapan ibunya sekecil itu dan menemukan bahwa ingatannya tidak menyimpan tanggalnya, sebagaimana tidak ada yang menyimpan tanggal kapan bocor di sudut ruang tengah mulai ada.
Empat anak perempuan, pikirnya, dan tidak satu pun dari kami memperhatikan kapan itu terjadi.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Kata-kata, malam itu, terasa seperti barang pecah belah. Yang ia lakukan adalah memutari tempat tidur, berdiri di samping ibunya, dan mengambil satu kemeja dari hamparan itu. Yang batik, yang untuk misa, ia membentangkannya, mengibaskannya sekali, dan mulai melipat.
Lipatannya kalah rapi. Ibu meliriknya, membiarkannya.
Mereka bekerja seperti itu, berdampingan, tanpa suara, dua perempuan dan satu lemari terbuka, sementara rumah di sekeliling mereka tidur dan hujan di luar tinggal titik-titik terakhirnya. Setiap kali sehelai kain terlipat, aroma cengkeh naik sekali lagi, seperti napas.
Kemeja terakhir selesai. Ibu menumpuknya, mengangkat tumpukan itu, dan mengembalikannya ke dalam lemarim bukan ke kardus, bukan ke kantong untuk disumbangkan, melainkan kembali ke raknya, ke tempatnya, seakan-akan pemiliknya hanya sedang pergi agak lama.
Maria tidak bertanya. Ada urusan yang bahkan anak tidak boleh mendahului.
“Tidurlah,” kata Ibu, menutup lemari sampai berbunyi klik kecil. “Besok masih ramai.”
Di ambang pintu Maria menoleh sekali. Ibu duduk di tepi tempat tidur di sisi yang biasa, memunggungi sisi yang satunya, dan tangannya di atas pangkuan memegang kaleng permen kusam itu, tidak membukanya, hanya memegangnya, seperti orang memegang tangan.
***
Keesokan harinya rumah itu mulai berkemas menjadi rumah biasa. Tenda-tenda batin dibongkar satu per satu, sebagaimana tenda sungguhan dibongkar minggu lalu. Di ruang tengah, Martha menelepon maskapai dengan suara yang membuat seisi rumah ikut tahu bahwa jadwalnya Selasa pagi dan bahwa harga tiket sekarang sudah tidak ada rasa kemanusiaannya. Lydia sudah memesan tiketnya sendiri sejak kemarin, sekali, tanpa mengumumkannya. Suami Agnes memperbaiki lampu teras sebelah kanan dengan bohlam yang dibelinya tanpa perlu diingatkan dua kali, dan untuk itu ia naik daun di mata Ibu sepanjang hari.
Maria sedang membantu menghitung gelas-gelas pinjaman di dapur ketika Ibu memanggil dari lorong.
“Mar. HP-mu di kamar bunyi terus dari tadi. Sudah tiga kali kayaknya. Coba dicek, siapa tahu penting.”
Tiga kali.
Sejak semalam, angka itu punya arti sendiri baginya. Telepon satu kali adalah kabar; telepon tiga kali adalah pintu yang digedor. Maria mengeringkan tangan dan naik ke kamar dengan langkah yang lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Nomor itu tidak dikenalnya. Kode wilayahnya bukan Jakarta, bukan Malang, bukan nomor kantor mana pun yang pernah menghubunginya. Ia sedang menimbang antara menelepon balik atau menunggu ketika ponsel itu menyala lagi di tangannya, bergetar seperti sesuatu yang hidup.
Ia mengangkatnya. “Halo, selamat sore.”
Sunyi sesaat, bukan sunyi kosong, melainkan sunyi yang penuh: desau angin menabrak mikrofon, ayam berkokok entah di mana, suara anak-anak jauh sekali, dan sinyal yang timbul-tenggelam seperti napas orang mendaki. Untuk pertama kalinya dalam hidup Maria, Manggarai bersuara sendiri, bukan lewat suara ayahnya.
“Tabe… halo? Ini dengan Weta Maria kah? Weta Maria, anak Bapa Louis?”
Suara laki-laki, mungkin lima puluhan, dengan lagu kalimat yang naik di ujung, e yang tebal, dan volume orang yang terbiasa melawan jarak.
“Iya, benar, saya Maria. Maaf, ini dengan siapa ya?”
“Puji Tuhan.” Kata itu diucapkan bukan sebagai basa-basi, melainkan seperti orang meletakkan beban. “Weta, maaf saya baru bisa telepon. Saya Ferdi. Guru Ferdi, dari kampung. Saya ini anak dari Bapa Tua Nico. Bapa Tua Nico itu kakak kandung dari bapa kecil Louis, dari bapamu, Weta.”
Anak Bapak Tua Nico. Yang mengajari Ayah memanjat pohon kemiri. Yang menerima hukuman berdua, tanpa saling mengadukan. Nama dari meja makan itu tiba-tiba punya anak, punya suara, punya nomor telepon.
“Dari kemarin saya coba-coba telepon,” lanjut Ferdi. “Saya dapat nomor-nomor dari anaknya Om Fran yang di Surabaya. Saya telepon yang namanya Martha, tidak diangkat. Lidia, tidak diangkat. Agnes juga. Saya sudah mau menyerah, saya bilang sama bapa saya, mungkin nomornya sudah ganti semua. Puji Tuhan Weta yang angkat.”
Dari empat nama, pikir Maria kemudian, lama kemudian, ketika semuanya sudah bergulir jauh, dari empat nama, telepon itu jatuh kepada anak yang dulu duduk paling lama di meja makan.
“Weta.” Suara Ferdi berubah, memasuki bagian yang sudah disiapkannya. “Pertama-tama, kami di kampung minta maaf sekali. Kami tidak bisa datang melayat ke Jawa. Weta tahu sendiri, jauh sekali, ongkos juga. Tapi jangan pikir kami diam saja. Waktu kabar itu sampai di sini, malam itu juga kampung kumpul. Kami sudah bikin misa arwah untuk bapa kecil Louis di gereja stasi. Lilin menyala tiga malam. Bapa saya yang minta begitu. Tiga malam, katanya, untuk adiknya.”
Maria duduk di tepi tempat tidur. Di kamarnya di rumah orang tuanya, dengan gelas pinjaman menunggu dihitung di bawah, ia mendapati dirinya tidak sanggup mengatakan apa-apa selama beberapa detik, dan Ferdi, di ujung sana, membiarkan detik-detik itu lewat tanpa mengisinya, kesabaran orang yang mengenal jarak dan tahu bahwa beberapa hal butuh waktu untuk menyeberang.
“Terima kasih, Nara,” kata Maria akhirnya. Kata itu keluar sendiri dari tempat entah di mana ia selama ini disimpan, dari meja makan, mungkin, dari cerita-cerita sesudah piring kosong. Ia mendengar Ferdi menarik napas pendek, dan ketika bicara lagi, suaranya lebih hangat satu derajat.
“Weta tahu bahasa kita rupanya.”
“Sedikit sekali. Dari cerita Papa.”
“Iyo. Bapa kecil itu…” Ferdi berhenti. Ayam di latar berkokok, dekat sekali sekarang. “Sudah. Nanti banyak yang bisa kita ceritakan. Weta, sebenarnya saya telepon bukan cuma untuk itu. Ada yang harus saya sampaikan. Ini pesan dari bapa saya, dari Bapa Tua Nico sendiri. Sudah lama dititip sama dia, dari bapa kecil Louis, dengan pesan: kalau Louis sudah tidak ada, baru bilang ke anak-anaknya.”
Angin masuk mikrofon, menelan setengah kalimat berikutnya, dan Maria menekankan ponsel itu ke telinganya seperti hendak menahan sinyal dengan tenaga.
“…jadi begitu, Weta. Ada tanah yang dititipkan untuk kalian.”
Maria terdiam.
Di kepalanya, tanpa diundang, meja makan tiga puluh tahun lalu: Ayah dengan suara guru, suara yang jelas dan tidak diulang, mengetukkan telunjuk sekali ke meja. Jangan kalian berharap dapat warisan dari Papa. Tidak ada. Semua tanah Papa di kampung sudah Papa serahkan ke saudara-saudara, sudah selesai, sudah lama. Kalian cari sendiri kekayaan kalian. Tidak ada anak yang bertanya lebih jauh waktu itu. Di rumah itu, kalimat dengan nada seperti itu adalah pintu yang ditutup.
“Nara,” kata Maria pelan. “Maaf. Mungkin ada keliru. Papa pernah bilang sendiri ke kami, semua tanahnya di kampung sudah diserahkan ke saudara-saudara. Sudah lama sekali. Papa bilang tidak ada apa-apa lagi.”
“Iyo.” Ferdi tidak terdengar terkejut. Ia terdengar seperti orang yang sudah menunggu kalimat itu. “Betul itu, Weta. Yang lain memang sudah diserahkan semua. Betul.”
“Lalu tanah yang ini?”
Jeda. Bukan jeda sinyal, sinyalnya sedang baik. Jeda orang yang memilih kata.
“Yang ini lain, Weta. Yang ini tidak ikut diserahkan. Bapa kecil pisahkan sendiri, dari dulu, dengan pesannya sendiri.” Suara Ferdi turun, dan untuk pertama kalinya sejak telepon tersambung, lagu kalimatnya kehilangan naik di ujungnya. “Weta, maaf. Bukan saya tidak mau cerita. Tapi ini pesan orang yang sudah tidak ada, dan yang pegang pesannya bapa saya, dan bapa saya sudah tua sekali. Ini tidak enak dibicarakan lewat telepon..”
“Nara….”
“Datanglah ke kampung, Weta.” Kalimat itu bukan undangan basa-basi; ia diletakkan di tengah percakapan seperti batu diletakkan di tengah jalan. “Sampaikan juga ke mama, ke weta-weta yang lain. Datang. Bapa Tua Nico yang akan bicara. Selama ini kalian yang selalu jadi cerita di sini, anak-anak Louis, yang di Jawa, yang sekolah tinggi-tinggi. Sekarang biar kampung lihat kalian punya muka.”
Sesudah itu masih ada beberapa kalimat; nomor yang bisa dihubungi, kapan sinyal bagus (pagi, katanya, atau sesudah jam lima sore, dari halaman sekolah), salam untuk mama, Tuhan berkati, tetapi Maria menjalaninya seperti orang berjalan di air, dan ketika sambungan itu putus, ia masih duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan, menghadap jendela, ke arah barat yang salah kalau ia hendak menghadap ke timur, ke arah pulau yang bentuknya seperti sesuatu yang belum selesai digambar.
Dari bawah terdengar suara Martha, tipis menembus lantai, masih membahas harga tiket yang mahal.
Tanah, pikir Maria. Ayah yang menyerahkan segalanya, menyisakan sesuatu. Ayah yang menutup semua pintu, ternyata mengantongi satu kunci, dan menitipkannya pada orang lain, di seberang laut, dengan pesan untuk baru diserahkan sesudah ia tidak bisa lagi ditanyai.
***
Sore turun ke rumah itu dengan warna yang selalu sama sesudah hujan semalaman: kuning tua ke jingga, seperti teh.
Dari dapur mengalir suara-suara yang sudah kembali menjadi suara rumah biasa. Martha akhirnya berdamai dengan agen tiket untuk jadwal Selasa pagi, Agnes menghitung ulang gelas pinjaman dan kalah dua gelas dari hitungan Lydia, dan seseorang menyalakan radio pelan-pelan, keberanian kecil pertama sesudah tiga hari rumah itu hanya berisi doa. Ibu menggoreng sesuatu. Aroma tempe dengan bumbu bawang. Hidup, dengan caranya yang tidak tahu malu, sedang kembali.
Maria berdiri di ruang tamu, dan belum memberitahu siapa-siapa. Nanti malam ia akan menyampaikannya, di meja makan, ketika semuanya lengkap, kabar itu terlalu besar untuk diteriakkan dari lorong dan terlalu aneh untuk disisipkan di antara hitungan gelas. Nanti malam Martha akan berbicara paling banyak, Lydia akan bertanya paling sedikit dan paling tepat, Agnes akan mencemaskan cuti dan anak-anak. Nanti malam kata tanah akan diucapkan berkali-kali di rumah ini, dibolak-balik, ditimbang, dicurigai.
Tetapi sore ini, sebentar saja, kabar itu masih miliknya sendiri. Seperti dulu Manggarai adalah milik mereka berdua saja; Ayah yang bercerita, dan satu anak yang tinggal di meja sampai cerita selesai.
Di atas meja kecil di samping gua Maria, foto itu masih berdiri di antara dua lilin. Bunga di pot sudah diganti Ibu tadi pagi dengan yang segar. Lilin yang kanan masih setengah; lilin yang kiri tinggal sejari, apinya sudah mulai menunduk-nunduk kehabisan tempat berpijak.
Maria mengambil lilin baru dari laci buffet, laci itu tidak pernah pindah, isinya tidak pernah berubah: lilin, korek, kartu-kartu doa. Ia menyalakan lilin baru dengan api lilin lama, cara yang entah dipelajarinya dari siapa, menegakkannya di tempat yang sama sampai leleh yang jatuh mengikatnya, lalu mematikan yang lama dengan dua jari yang dibasahi ludah, juga cara yang entah dari siapa, kecuali bahwa ia tahu persis dari siapa.
Asap tipis naik dari sumbu yang mati, lurus dulu, lalu goyah, lalu tidak ada.
Ia memandang foto itu. Senyum yang sama. Senyum yang membuat tamu-tamu duduk lebih lama dari rencana mereka, yang membuat murid-murid pulang setiap Natal dan setiap Lebaran, yang tidak pernah bisa dipakai untuk menebak isi kepala pemiliknya – sekarang Maria tahu itu, sekarang semua orang tahu itu. Empat puluh tahun tinggal serumah, dan laki-laki ini masih sanggup mengirim kabar yang membuat anaknya berdiri seperti orang asing di ruang tamunya sendiri.
Kau bahkan pergi pun belum selesai bercerita, Pa.
Di luar, angin sore menggoyangkan rangkaian bunga yang mulai layu di teras. Satu kelopak sedap malam lepas dan jatuh ke lantai tanpa suara, dan dari dapur Ibu memanggil anak-anaknya makan; panggilan yang sama, dengan lagu yang sama, yang sudah memberangkatkan dan memulangkan orang-orang di rumah ini selama empat puluh tahun.
Maria menjawab iya, Ma…, sebentar, tetapi masih berdiri sesaat lagi di depan foto itu.
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia merasa ada sesuatu yang belum selesai. Bukan hanya sebidang tanah yang menunggu di seberang laut dengan pesan yang hanya boleh dibuka oleh orang tua yang masih hidup. Yang belum selesai lebih tua dari itu: sebuah cerita yang selalu berhenti di batas yang sama, sebuah pertanyaan yang tertahan di belakang gigi, sebuah jendela yang sempat terbuka sedikit dari dalam, – di kampung sekarang musim petik – dan tidak pernah didorong.
Dan sesuatu itu berasal dari Manggarai.
Kreator : Paula Stela Nova Landowero (Stelanova)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 1 Aroma yang Tak Pernah Pergi
Sorry, comment are closed for this post.