Kalau ada yang bertanya apa yang paling aku ingat dari masa kecil, mungkin jawabannya bukan satu kejadian tertentu. Aku justru lebih sering mengingat tempatnya. Tempat aku tumbuh sampai akhirnya harus meninggalkannya.
Dulu, aku tidak pernah berpikir bahwa tempat tinggal kami istimewa. Namanya juga rumah. Setiap hari aku melihat pemandangan yang sama, melewati jalan yang sama, bermain di tempat yang sama. Rasanya biasa saja. Tapi semakin dewasa, semakin sering aku sadar bahwa ternyata tidak semua orang punya masa kecil seperti itu.
Kompleks tempat kami tinggal berada di Kecamatan Pintu Pohan, Kabupaten Toba. Letaknya sekitar tiga sampai empat jam perjalanan dari kawasan Danau Toba. Kompleks ini dibangun untuk para karyawan PT Indonesia Asahan Aluminium atau yang lebih dikenal dengan Inalum. Ada banyak fasilitas di dalamnya, sehingga rasanya seperti tinggal di sebuah kota kecil yang dikelilingi alam. Bagian yang paling aku suka dari tempat itu adalah pemandangannya. Sampai sekarang aku masih merasa sulit menjelaskan bagaimana rasanya tinggal di sana tanpa terdengar berlebihan. Gunung ada di mana-mana. Pepohonan juga. Rumah-rumahnya tidak besar dan bentuknya cukup sederhana, dengan pengaruh arsitektur Jepang. Tapi justru karena itu, kompleksnya terasa nyaman.
Ada enam bagian tempat tinggal: Residence A, B, C, D, E, dan Old House. Masing-masing punya suasana dan karakter sendiri. Setiap residence juga punya taman bermain. Waktu kecil, kami tentu tidak menyebutnya sebagai “fasilitas rekreasi untuk anak”. Itu hanya tempat bermain. Sesederhana itu.
Kami tinggal di Residence E. Dan kalau berdiri di depan rumah, jauh di kejauhan, ada sebuah air terjun yang terlihat di antara celah gunung. Tidak selalu kelihatan jelas. Kadang hanya terlihat kalau cuaca sedang cerah. Kalau sedang beruntung, kami bisa melihat pelangi di sekitar sana. Sekarang kalau kupikir-pikir, aneh juga. Dulu aku bisa melihat air terjun dan pelangi hampir seperti melihat pohon di depan rumah. Tidak ada rasa takjub yang berlebihan. Tidak ada keinginan untuk mengabadikannya. Aku cuma melihat. Lalu pergi bermain lagi. Mungkin karena bagi seorang anak, sesuatu yang dilihat setiap hari akan terasa biasa.
Di dalam kompleks juga ada lapangan golf. Lapangannya luas dan bagus sekali, dengan pemandangan bukit di sekelilingnya. Ada Kopkalum, koperasi karyawan Inalum, ada mess untuk karyawan yang belum berkeluarga, ada bus dan berbagai kendaraan yang keluar masuk kompleks. Semua terasa lengkap. Kalau ingin mencari hiburan atau petualangan, sebenarnya tidak perlu pergi terlalu jauh. Di luar kompleks pun masih banyak tempat yang bisa didatangi. Ada Bendungan Sigura-gura, Bendungan Tangga, Air Terjun Ponot, dan tempat untuk arung jeram.
Sekarang aku tahu bahwa semua itu merupakan bagian dari sistem yang jauh lebih besar. Air dari kawasan Danau Toba dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik yang kemudian digunakan untuk mendukung operasional pabrik aluminium Inalum di Tanjung Gading. Tapi waktu kecil, tentu saja aku tidak memikirkan semua itu. Dulu aku tidak memahami semua itu. Aku hanya tahu ada gunung. Ada air. Ada jalan. Ada rumah. Ada teman-teman. Dan ada banyak sekali tempat untuk dijelajahi. Sekarang, ketika aku mengingatnya, semuanya terasa seperti sebuah kastel yang dibangun di atas bukit. Bukan kastel dengan menara tinggi dan dinding batu. Melainkan kastel yang dindingnya berupa gunung-gunung hijau, pagarnya berupa pepohonan, dan atapnya adalah langit yang setiap hari berubah warna.
Sebuah castle in a hill. Dan kami adalah anak-anak yang tidak pernah sadar bahwa kami sedang tinggal di dalam dongeng. Mungkin itulah yang paling kurindukan. Bukan sekadar rumahnya. Bukan hanya gunungnya. Bukan air terjunnya. Bukan taman bermainnya. Aku merindukan diriku yang dulu. Diriku yang bisa merasa cukup hanya dengan sore yang panjang dan teman-teman yang menunggu di depan rumah. Diriku yang tidak mengenal kata terburu-buru. Diriku yang belum tahu bahwa orang-orang akan pergi, rumah-rumah akan berganti penghuni, teman-teman akan tumbuh dewasa, dan sebuah tempat yang terasa seperti seluruh dunia suatu hari hanya akan menjadi sebuah titik dalam ingatan. Aku rindu kehidupan yang dulu tidak pernah kupikir akan kurindukan. Dan mungkin, inilah alasan mengapa orang-orang yang pernah tinggal di Inalum selalu memiliki cerita yang sama ketika membicarakannya. Mereka tidak hanya sedang membicarakan sebuah tempat. Mereka sedang membicarakan masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Masa ketika pulang berarti berlari melewati jalan kompleks. Masa ketika sore belum terasa singkat. Masa ketika gunung-gunung masih menjadi bagian dari halaman rumah. Masa ketika kami belum tahu bahwa kebahagiaan sedang berlangsung. Kami hanya menjalaninya. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, aku menulis semuanya karena ada bagian dari diriku yang masih ingin pulang. Bukan untuk tinggal di sana lagi. Aku tahu waktu tidak bekerja seperti itu. Aku hanya ingin sekali, walau sebentar, kembali menjadi anak kecil yang berdiri di depan rumah di Residence E, memandang jauh ke celah gunung, menunggu pelangi muncul di atas air terjun. Seandainya aku tahu saat itu bahwa suatu hari nanti aku akan merindukannya sedalam ini, mungkin aku akan berdiri sedikit lebih lama. Mungkin aku akan memperhatikan lebih baik. Mungkin aku akan mengingat warna langit sore itu. Tapi seorang anak tidak pernah tahu kapan ia sedang menjalani masa-masa yang kelak akan menjadi kenangan terindahnya. Ia hanya tahu bahwa hari itu adalah hari biasa. Dan bagiku, hari-hari biasa itulah yang sekarang paling ingin kuambil Kembali.
Bertahun-tahun setelah meninggalkan Inalum, ternyata yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang tempatnya. Ada begitu banyak hal kecil yang masih kuingat. Orang-orangnya. Rumahnya. Sekolahnya. Permainan kami. Jalan-jalan yang dulu kami lewati. Sore-sore yang terasa tidak ada habisnya. Bahkan hal-hal yang dulu tidak pernah kuanggap penting. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang membuatku sadar bahwa aku pernah memiliki masa kecil yang begitu kaya. Bukan karena kami memiliki semuanya. Tetapi karena kami punya begitu banyak ruang untuk hidup dan bermain. Dan mungkin, karena itulah sampai sekarang aku masih sering ingin kembali. Bukan untuk mengulang hidup yang sama. Hanya ingin melihatnya sekali lagi melalui mata seorang anak yang dulu tidak tahu betapa beruntungnya ia. Maka di bagian-bagian berikutnya, aku ingin menceritakan tentang hal-hal yang paling kurindukan dari sana. Tentang rumah yang dulu menjadi tempat kami pulang. Tentang teman-teman yang membuat hari-hari terasa panjang. Tentang sekolah, permainan, perjalanan, dan petualangan-petualangan kecil yang dulu kami anggap biasa. Tentang pemandangan yang setiap hari ada di depan mata, tetapi baru terasa istimewa setelah aku pergi. Tentang kehidupan yang dulu begitu sederhana, tetapi sekarang justru menjadi bagian yang paling ingin kuambil kembali. Mungkin aku tidak bisa kembali ke sana sebagai anak kecil. Tapi setidaknya, melalui cerita ini, aku bisa mengunjunginya sekali lagi. Dan kali ini, aku ingin melihat semuanya dengan lebih baik.
Kreator : Indah Suprapty (Harsa)
Comment Closed: Bab 1 – Castle in a Hill
Sorry, comment are closed for this post.