
Pukul 07.00 WIB, matahari mulai meninggi di atas langit Kota Medan. Sinar keemasannya menyinari jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Suara klakson angkutan umum bersahut-sahutan dengan deru sepeda motor yang melintas di depan sebuah sekolah berplang hijau bertuliskan SMP Taman Berbunga.
Aku memperlambat laju sepeda motor dan mengamati bangunan sekolah yang berdiri di hadapanku.
“Jadi, ini sekolahnya,” gumamku.
Dari luar, SMP Taman Berbunga tampak seperti sekolah yang telah cukup lama berdiri. Cat temboknya terlihat mulai kusam di beberapa bagian. Pagar besi berwarna hijau tua mengelilingi halaman sekolah, sementara beberapa pohon rindang tumbuh di sudut-sudutnya. Di dekat gerbang, papan pengumuman tampak dipenuhi berbagai kertas yang ditempel tidak beraturan.
Meskipun demikian, sekolah itu terlihat cukup ramai. Siswa-siswi berseragam putih biru berkerumun di depan gerbang. Sebagian sibuk membeli sarapan dari pedagang kaki lima yang berjejer di sepanjang trotoar.
Ada penjual lontong sayur, mi goreng, gorengan, dan aneka kue basah. Aroma bumbu kacang, minyak goreng, dan sambal bercampur menjadi satu, memenuhi udara pagi. Beberapa siswa tertawa sambil menyantap makanan, sementara yang lain berlari-lari kecil karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi.
“Wah, ramai sekali,” pikirku.
Aku memarkirkan sepeda motor di dekat gerbang, kemudian melepas helm. Sebelum melangkah masuk, aku melihat seorang petugas keamanan berdiri di pos satpam.
Laki-laki itu bertubuh bulat dengan kumis lebat yang menghiasi wajahnya. Perutnya sedikit buncit, sementara seragam satpam yang dikenakannya tampak rapi. Wajahnya terlihat tegas, tetapi sorot matanya cukup bersahabat.
Aku teringat pada sosok suami penyanyi dangdut Inul Daratista. Perbandingan itu tiba-tiba muncul di kepalaku, membuatku tersenyum kecil.
Aku berjalan mendekatinya.
“Permisi, Pak. Saya boleh masuk?” tanyaku sopan.
Bapak satpam itu menoleh. Ia kemudian mengamati penampilanku dari atas hingga bawah, seolah memastikan bahwa aku bukan orang asing yang hendak masuk tanpa tujuan.
“Silakan, Bu. Mau ketemu siapa?” tanyanya.
Aku melirik tanda nama yang terpasang di dada seragamnya.
Pak Sunarto.
“Pak Marzuki, Pak. Kepala sekolah,” jawabku.
“Oh, Pak Marzuki. Ibu ada janji, ya?”
“Iya, Pak. Saya Zelia Anandita. Ada keperluan terkait lowongan guru Bahasa Inggris.”
Pak Sunarto mengangguk paham.
“Oh, baik, Bu Zelia. Motornya diparkirkan di sebelah sana saja, ya. Nanti Ibu masuk lewat gedung tengah. Ruangan kepala sekolah ada di sana.”
Ia menunjuk sebuah bangunan berlantai dua yang terletak di bagian tengah kompleks sekolah.
“Gedung tengah, ya, Pak?”
“Iya, Bu. Nanti kalau bingung, tanya saja guru yang lewat.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“Sama-sama, Bu. Silakan.”
Aku pun mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berjalan menuju tempat parkir. Setelah memastikan sepeda motorku terkunci, aku membenarkan letak tas di bahu dan menarik napas dalam-dalam.
Tenang, Zelia. Kau datang untuk mencari kesempatan, bukan untuk merasa takut.
Aku kemudian melangkah memasuki halaman sekolah.
Halaman SMP Taman Berbunga cukup luas. Di sebelah kiri, terdapat lapangan upacara yang permukaannya tidak sepenuhnya rata. Beberapa garis putih di lapangan tampak mulai memudar. Di sisi kanan, berdiri deretan ruang kelas dengan jendela-jendela besar yang terbuka lebar.
Dari salah satu ruangan, terdengar suara siswa yang sedang bercakap-cakap. Di ruangan lain, seorang guru tampak berdiri di depan kelas sambil memegang buku.
Aku berjalan menyusuri koridor menuju gedung tengah.
Pagi itu, aku beberapa kali berpapasan dengan guru-guru yang baru tiba atau sedang menuju ruang kelas. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil sebagai bentuk sapaan.
Namun, tidak banyak yang membalas senyumku.
Sebagian hanya melirik sekilas, lalu kembali berjalan. Ada pula yang tampak sibuk berbicara dengan rekannya. Wajah-wajah mereka terlihat lelah, bahkan sebelum kegiatan belajar mengajar benar-benar dimulai.
Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.
Mungkin mereka sedang terburu-buru. Mungkin juga mereka belum mengenalku.
Tetapi, setelah beberapa kali mengalami hal yang sama, rasa penasaran mulai muncul di dalam pikiranku.
Ada apa dengan guru-guru di sekolah ini? Mengapa suasananya terasa sedikit berbeda dari yang kubayangkan?
Aku berhenti sejenak di depan papan informasi yang terpasang di dinding. Beberapa pengumuman kegiatan sekolah terlihat sudah lama ditempel. Di kejauhan, suara bel kecil terdengar, disusul oleh langkah kaki siswa yang berlarian menuju kelas.
Aku kembali berjalan.
Baru beberapa langkah menuju tangga gedung tengah, tiba-tiba seorang perempuan muda keluar dari salah satu ruangan. Ia mengenakan pakaian dinas guru dengan jilbab berwarna lembut. Wajahnya terlihat segar, dan senyum ramah segera menghiasi bibirnya ketika melihatku.
“Permisi, Bu. Ada janji dengan siapa?” tanyanya.
Aku tersenyum lega.
“Oh, saya ada janji dengan Pak Marzuki, Bu. Tapi saya belum tahu ruangannya di mana.”
“Oh, kalau begitu, mari saya antar. Ruangan beliau ada di lantai bawah, di ujung koridor.”
“Wah, terima kasih banyak, Bu. Maaf jadi merepotkan.”
“Tidak apa-apa, Bu. Kebetulan saya juga mau ke arah sana.”
Kami berjalan berdampingan menyusuri koridor.
“Perkenalkan, nama saya Isra. Saya guru IPS di sekolah ini,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku segera menyambut uluran tangannya.
“Salam kenal, Bu Isra. Saya Zelia Anandita. Biasanya dipanggil Zelia.”
“Oh, Bu Zelia. Guru baru, ya?”
Aku tersenyum kecil.
“Belum, Bu. Saya masih mau mengikuti proses seleksi. Mudah-mudahan ada rezeki di sini.”
“Semoga berhasil, ya, Bu. Semoga semuanya berjalan lancar.”
“Aamiin. Terima kasih, Bu.”
Bu Isra menatapku sekilas, lalu tersenyum.
“Ini pertama kali Ibu datang ke sekolah kami?”
“Iya, Bu. Saya baru pertama kali ke sini.”
“Kalau begitu, nanti kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan. Di sini banyak hal yang mungkin perlu Ibu ketahui.”
Aku menoleh kepadanya.
“Banyak hal? Maksudnya bagaimana, Bu?”
Bu Isra terdiam sejenak. Ia menatap lurus ke depan, kemudian tersenyum tipis.
“Nanti juga Ibu akan tahu sendiri. Setiap sekolah punya cerita masing-masing.”
Jawaban itu justru membuat rasa penasaranku semakin besar.
Setelah mengantariku ke depan sebuah pintu kayu bertuliskan RUANG KEPALA SEKOLAH, Bu Isra berhenti.
“Nah, ini ruangannya, Bu Zelia. Silakan masuk. Saya ke kelas dulu, ya.”
“Oh, baik, Bu Isra. Terima kasih banyak sudah mengantar saya.”
“Sama-sama. Semoga sukses, ya.”
Bu Isra melangkah pergi. Aku memperhatikannya hingga ia menghilang di balik tikungan koridor.
Aku berdiri di depan pintu sambil merapikan kemeja. Tanganku menggenggam map berisi ijazah dan berbagai piagam penghargaan. Aku menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Permisi, Pak.”
Dari dalam ruangan terdengar suara seorang laki-laki tua.
“Silakan masuk!”
Aku membuka pintu perlahan.
Di balik meja kerja yang cukup besar, seorang pria berusia lanjut duduk sambil membaca beberapa lembar dokumen. Rambutnya telah memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan panjang yang digulung hingga siku. Di atas meja terdapat tumpukan berkas, sebuah cangkir kopi, dan kalender meja yang tampak penuh coretan.
Pria itu mengangkat wajahnya.
“Siapa, ya?”
“Selamat pagi, Pak. Perkenalkan, saya Zelia Anandita. Saya mendapat informasi dari teman saya, Hardi, tentang lowongan guru Bahasa Inggris di sekolah ini.”
Pria itu menatapku beberapa saat.
“Oh, Bu Zelia. Silakan duduk.”
Aku menarik kursi di hadapan meja kerjanya dan duduk dengan posisi tegak. Map cokelat yang kubawa kuletakkan di atas pangkuan.
“Terima kasih, Pak.”
Beliau kembali memeriksa berkas di hadapannya.
“Temannya Hardi dimana Bu?”
“Hardi teman kuliah saya, Pak. Beliau sekarang sudah menjadi PNS di kampung halamannya.”
“Oh, begitu, Hardi pernah menjadi guru ekskul disini selama beberapa bulan sebelum resign karena mengurus PNS nya.”
Pak Marzuki mengangguk pelan. Setelah itu, ia kembali menatapku.
“Coba ceritakan sedikit tentang diri Ibu.”
Aku mulai memperkenalkan diri, menjelaskan latar belakang pendidikan, pengalaman selama kuliah, serta alasan mengapa aku ingin menjadi seorang guru Bahasa Inggris.
Sambil berbicara, sesekali aku memperhatikan ruangan itu.
Ruang kepala sekolah tersebut tidak terlalu besar. Sebuah lemari kayu tua berdiri di sudut ruangan, dipenuhi berbagai map dan dokumen. Di dinding, terpajang foto-foto kegiatan sekolah dan beberapa piagam penghargaan. Pendingin ruangan tidak terlihat, hanya sebuah kipas angin tua yang berputar perlahan di atas meja kecil.
Di balik jendela, aku bisa melihat halaman sekolah yang semakin ramai oleh siswa.
Sekolah ini tampak memiliki sejarah yang panjang. Namun, ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Suasananya terasa berbeda dari bayangan sekolah ideal yang selama ini kubangun dalam pikiranku.
SMP Taman Berbunga, dalam pengamatanku pada hari pertama itu, merupakan sekolah yang sedang menghadapi banyak tantangan. Bangunannya memang masih berdiri kokoh, tetapi beberapa fasilitas terlihat membutuhkan perhatian. Lingkungan sekolah pun terasa kurang semarak dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang selama ini kubayangkan sebagai tempat untuk memulai karier.
Aku sempat membayangkan diriku mengajar di sekolah unggulan, dengan ruang kelas yang dilengkapi teknologi pembelajaran, siswa-siswa yang antusias mengikuti pelajaran, dan rekan-rekan guru yang saling mendukung.
Namun, pemandangan di hadapanku terasa jauh berbeda.
Beberapa siswa terlihat berbicara dengan suara keras di koridor. Ada yang berlari-lari kecil, ada pula yang tampak kurang memperhatikan teguran guru. Dari salah satu kelas, terdengar suara seorang guru yang berulang kali meminta siswa untuk tenang.
Aku mulai menyadari bahwa menjadi guru mungkin tidak sesederhana yang selama ini kubayangkan.
Apakah aku benar-benar siap menghadapi lingkungan seperti ini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Aku juga mendengar dari beberapa percakapan singkat bahwa sebagian siswa di sekolah ini berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang beragam. Ada siswa yang harus membantu orang tua sepulang sekolah, ada yang menghadapi persoalan keluarga, dan ada pula yang belum memiliki motivasi belajar yang kuat.
Sebagian dari mereka mungkin datang ke sekolah dengan tujuan sederhana: menyelesaikan pendidikan dan memperoleh ijazah. Bukan karena mereka tidak mampu bermimpi lebih tinggi, melainkan karena belum semua memiliki kesempatan, dukungan, atau dorongan yang cukup untuk mengembangkan potensi mereka.
Aku mengamati seorang siswa laki-laki yang duduk sendirian di bangku koridor. Seragamnya sedikit kusut. Ia memandangi buku tulis yang terbuka di pangkuannya, tetapi tidak sedang menulis apa pun.
Di dekatnya, dua siswa lain sedang bercanda dengan suara keras.
Aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan anak itu?
Apakah ia sedang menunggu jam pelajaran dimulai? Apakah ia sedang menghadapi masalah di rumah? Atau mungkin ia hanya belum menemukan alasan untuk menyukai sekolah?
Aku tidak tahu.
Dan aku sadar, aku bahkan belum mengenal mereka.
Selama ini, aku terlalu sibuk membayangkan akan mengajar siswa-siswa berprestasi di sekolah yang memiliki reputasi tinggi. Aku lupa bahwa dunia pendidikan tidak hanya membutuhkan guru di ruang-ruang kelas yang ideal.
Ada pula sekolah-sekolah yang membutuhkan guru dengan kesabaran lebih panjang, kreativitas lebih besar, dan hati yang lebih lapang.
Namun, pada pagi itu, aku belum sepenuhnya memahami hal tersebut.
Yang kurasakan hanyalah kebingungan.
Aku menatap Pak Marzuki yang masih sibuk membaca berkas di hadapannya. Usianya memang sudah cukup lanjut, dan cara beliau bekerja terlihat lambat. Namun, aku belum tahu bagaimana gaya kepemimpinannya, apa saja tantangan yang dihadapinya, atau mengapa sekolah ini berada dalam kondisi seperti sekarang.
Aku tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan.
Bagaimanapun juga, ini baru pertemuan pertamaku dengan SMP Taman Berbunga.
Aku datang untuk mencari pekerjaan.
Tetapi, entah mengapa, sebuah firasat kecil mulai muncul dalam benakku.
Mungkin sekolah ini akan memberiku lebih dari sekadar pekerjaan.
Mungkin, di tempat yang tidak pernah ada dalam daftar impianku, justru ada pelajaran besar yang sedang menantiku.
Aku menghela napas pelan, kemudian kembali memusatkan perhatian pada Pak Marzuki.
“Baik, Bu Zelia,” katanya akhirnya. “Sekarang, saya ingin mendengar alasan Ibu ingin mengajar di sekolah ini.”
Aku menegakkan punggung.
Pertanyaan itu sederhana Namun, entah mengapa, pertanyaan itu membuatku kembali merasa gugup. Padahal, selama kuliah, aku sudah terbiasa berbicara di depan dosen, mempresentasikan tugas, bahkan mengikuti berbagai kegiatan akademik yang menuntut keberanian.
Namun, pagi itu, duduk di hadapan seorang kepala sekolah yang belum kukenal, rasanya berbeda.
Jam dinding di atas lemari menunjukkan pukul 07.25 WIB. Dari luar ruangan, terdengar suara langkah kaki siswa yang berlarian di koridor. Sesekali, suara guru yang sedang memberikan instruksi terdengar samar-samar, bercampur dengan suara kipas angin tua yang berputar di sudut ruangan.
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai jendela dan jatuh di atas meja Pak Marzuki. Debu-debu kecil tampak menari di antara berkas-berkas yang menumpuk. Ruangan itu beraroma kertas lama dan kopi hitam yang baru saja diseduh.
Pak Marzuki menyandarkan punggungnya pada kursi. Usianya yang sudah lanjut membuat gerakannya tampak lebih lambat, tetapi sorot matanya masih tajam. Ia menatapku dengan tenang, seolah-olah benar-benar ingin mengetahui alasan di balik kedatanganku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Baik, Pak,” jawabku akhirnya.
“Saya ingin mengajar di sekolah ini karena saya memang memiliki cita-cita menjadi seorang guru, Pak,” lanjutku.
Pak Marzuki mengangguk pelan.
“Sejak kecil, saya sudah menyukai dunia pendidikan. Saya ingin menjadi guru yang bukan hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga membantu siswa menemukan potensi mereka. Bagi saya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ini adalah kesempatan untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi kehidupan orang lain.”
Aku berhenti sejenak.
Di dalam hati, aku berharap jawaban itu terdengar cukup meyakinkan.
“Saya memang belum memiliki pengalaman mengajar secara penuh di sekolah, Pak. Namun, selama kuliah, saya pernah mengikuti kegiatan praktik mengajar dan beberapa program pendidikan. Saya belajar bahwa setiap siswa memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu, seorang guru harus mampu menyesuaikan cara mengajarnya.”
Pak Marzuki menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
“Lalu, mengapa SMP Taman Berbunga?” tanyanya lagi.
Kali ini, aku sedikit terdiam.
Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku datang ke sekolah ini karena sudah delapan bulan belum mendapatkan pekerjaan. Aku juga tidak ingin mengaku bahwa sekolah ini bukanlah pilihan utama dalam daftar impianku.
Aku menundukkan pandangan sejenak, kemudian kembali menatap beliau.
“Sejujurnya, Pak, saya mengetahui informasi lowongan ini dari teman saya, Hardi. Ketika mendengar bahwa sekolah ini membutuhkan guru Bahasa Inggris, saya merasa ini kesempatan yang baik untuk memulai karier saya.”
Aku tersenyum tipis.
“Saya ingin mendapatkan pengalaman mengajar yang nyata. Saya juga ingin belajar memahami bagaimana menghadapi siswa dengan latar belakang dan karakter yang beragam. Saya percaya bahwa seorang guru tidak akan pernah berhenti belajar, bahkan ketika ia sudah berdiri di depan kelas.”
Pak Marzuki tidak langsung menjawab.
Beliau mengambil cangkir kopi di sebelah kanan mejanya, lalu menyesap sedikit. Setelah meletakkannya kembali, beliau mengembuskan napas panjang.
“Bu Zelia,” katanya, suaranya terdengar lebih berat daripada sebelumnya, “Ibu sudah melihat keadaan sekolah ini?”
Aku mengangguk.
“Sudah, Pak. Tadi saya sempat berjalan melewati koridor.”
“Bagaimana menurut Ibu?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu membuat pikiranku kembali pada suasana sekolah sejak pertama kali tiba. Bangunan yang tampak tua, beberapa fasilitas yang perlu diperbaiki, guru-guru yang terlihat kurang bersemangat, dan siswa-siswa yang cukup ramai.
Aku tidak ingin memberikan jawaban yang terkesan merendahkan.
“Menurut saya, sekolah ini memiliki suasana yang cukup ramai, Pak. Saya juga melihat banyak siswa yang memiliki karakter beragam.”
Pak Marzuki tersenyum tipis.
“Ramai, ya?”
Aku ikut tersenyum, meskipun terasa canggung.
“Iya, Pak.”
Beliau menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Bu Zelia, saya sudah cukup lama memimpin sekolah ini. Banyak hal yang sudah saya lalui. Ada masa ketika sekolah ini memiliki banyak prestasi. Ada juga masa ketika jumlah siswa menurun dan berbagai persoalan mulai bermunculan.”
Beliau mengalihkan pandangan ke arah jendela.
“Anak-anak di sini tidak semuanya memiliki kehidupan yang mudah. Sebagian berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Ada orang tua yang bekerja sejak pagi hingga malam. Ada pula siswa yang harus membantu keluarganya setelah pulang sekolah.”
Aku mendengarkan dengan saksama.
“Kadang-kadang,” lanjutnya, “kita melihat siswa yang kurang bersemangat belajar. Ada yang sulit diatur. Ada yang sering melawan ketika ditegur. Tetapi, kita tidak selalu tahu apa yang mereka hadapi di rumah.”
Aku menundukkan kepala sedikit.
Kalimat itu membuatku teringat pada siswa laki-laki yang kulihat duduk sendirian di koridor tadi.
Pak Marzuki kembali menatapku.
“Menjadi guru di sini tidak selalu mudah, Bu. Ibu mungkin akan menghadapi siswa yang tidak langsung menghargai usaha Ibu. Mungkin juga ada saat ketika Ibu sudah mempersiapkan pembelajaran dengan baik, tetapi siswa justru tidak memberikan respons seperti yang Ibu harapkan.”
Aku menelan ludah.
“Apakah Ibu siap menghadapi keadaan seperti itu?”
Pertanyaan tersebut membuat suasana ruangan mendadak terasa lebih hening.
Aku memandang kedua tanganku sendiri. Ada keinginan untuk menjawab dengan tegas bahwa aku siap menghadapi semuanya. Namun, jauh di dalam hati, aku tahu bahwa aku belum benar-benar memahami tantangan yang dimaksud Pak Marzuki.
Selama ini, aku selalu membayangkan kegiatan mengajar sebagai sesuatu yang menyenangkan. Aku membayangkan diriku berdiri di depan kelas, menjelaskan materi Bahasa Inggris dengan penuh semangat, lalu melihat siswa-siswaku mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan dengan antusias.
Aku belum banyak memikirkan kemungkinan lain.
Bagaimana jika siswa tidak mau mendengarkan?
Bagaimana jika metode mengajarku tidak berhasil?
Bagaimana jika aku merasa gagal?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku.
Namun, di balik rasa gugup tersebut, ada sesuatu yang justru membuatku ingin mencoba.
Aku mengangkat wajah dan menatap Pak Marzuki.
“Sejujurnya, Pak, saya belum tahu apakah saya sudah sepenuhnya siap. Saya belum memiliki banyak pengalaman untuk menghadapi situasi seperti itu.”
Pak Marzuki mengangkat alisnya sedikit. Mungkin beliau tidak menyangka aku akan memberikan jawaban sejujur itu.
“Tetapi,” lanjutku, “saya ingin belajar. Saya ingin memahami bagaimana cara menghadapi siswa dengan karakter yang berbeda-beda. Saya juga tidak ingin menganggap siswa yang sulit diatur sebagai anak yang tidak memiliki masa depan.”
Aku menarik napas perlahan.
“Mungkin saya belum memiliki pengalaman yang cukup, Pak. Namun, saya memiliki kemauan untuk belajar, berusaha, dan memperbaiki diri. Saya berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk membuktikannya.”
Ruangan itu kembali hening.
Dari luar, terdengar suara bel masuk yang menggema di seluruh halaman sekolah.
Tringgg…!
Suara itu disusul oleh langkah kaki siswa yang bergegas memasuki ruang kelas. Sesaat kemudian, suasana sekolah mulai berubah. Koridor yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lebih tenang.
Pak Marzuki menatapku cukup lama.
Kemudian, untuk pertama kalinya sejak aku memasuki ruangan itu, beliau tersenyum lebih lebar.
“Jawaban yang bagus, Bu Zelia.”
Aku membalas senyum beliau.
“Terima kasih, Pak.”
“Tetapi, saya ingin mengingatkan satu hal. Mengajar itu bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai akademik yang pernah kita dapatkan. Bukan pula tentang seberapa banyak penghargaan yang kita miliki.”
Pandangan beliau beralih pada map cokelat di atas meja.
“Semua itu penting. Namun, ketika Ibu sudah berada di depan kelas, yang akan Ibu hadapi adalah anak-anak dengan berbagai persoalan, harapan, dan impian. Mereka tidak akan menilai Ibu dari IPK atau predikat cum laude.”
Aku terdiam.
“Mereka akan mengenal Ibu dari cara Ibu memperlakukan mereka.”
Kata-kata itu terasa menancap dalam pikiranku.
Selama enam bulan terakhir, aku begitu sibuk memikirkan bagaimana cara menunjukkan prestasiku kepada sekolah-sekolah yang kulamar. Aku ingin mereka melihat nilai akademikku, penghargaan yang kuraih, dan berbagai pencapaianku selama kuliah.
Namun, saat itu, aku mulai menyadari bahwa menjadi guru mungkin menuntut sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar prestasi.
“Baik, Pak. Saya mengerti,” jawabku pelan.
Pak Marzuki mengangguk.
“Kalau begitu, saya ingin melihat bagaimana kemampuan Ibu dalam mengajar. Apakah Ibu bersedia mengikuti demonstrasi mengajar sederhana?”
Aku terkejut.
“Demonstrasi mengajar, Pak?”
“Iya. Tidak perlu terlalu formal. Ibu bisa mengajar materi Bahasa Inggris dasar kepada beberapa siswa. Saya ingin melihat bagaimana cara Ibu berkomunikasi dengan mereka.”
Aku merasakan jantungku kembali berdegup lebih cepat.
Selama kuliah, aku memang pernah melakukan praktik mengajar. Namun, membayangkan harus mengajar di hadapan siswa-siswa yang baru kukenal, di sekolah yang suasananya masih terasa asing, membuatku sedikit cemas.
Aku menatap Pak Marzuki, lalu mengangguk.
“Baik, Pak. Saya bersedia.”
“Bagus. Nanti Ibu bisa berdiskusi dengan Bu Isra untuk persiapannya. Beliau akan membantu mengarahkan Ibu ke kelas yang sesuai.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih atas kesempatannya, Pak.”
Aku kemudian merapikan kembali dokumen-dokumen di dalam map.
Saat berdiri dari kursi, pandanganku sempat tertuju pada sebuah foto lama yang tergantung di dinding belakang Pak Marzuki. Dalam foto itu, terlihat sekelompok siswa sedang menerima piala di atas panggung. Wajah-wajah mereka tampak penuh kebahagiaan. Di samping mereka berdiri beberapa orang guru yang tersenyum bangga.
Aku memperhatikan foto itu selama beberapa detik.
Jadi, sekolah ini pernah memiliki masa yang begitu indah.
Aku tidak tahu kapan foto itu diambil. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi setelahnya hingga sekolah ini tampak seperti sekarang.
Namun, tiba-tiba muncul keinginan dalam diriku untuk mengetahui lebih banyak.
Mungkin SMP Taman Berbunga bukanlah sekolah yang selama ini kuimpikan.
Mungkin di sini tidak ada fasilitas mewah atau siswa-siswa yang selalu siap menerima pelajaran dengan antusias.
Namun, di balik tembok yang mulai kusam, ada sejarah, ada persoalan, dan mungkin ada banyak anak yang masih membutuhkan seseorang untuk percaya kepada mereka.
Aku melangkah menuju pintu.
“Bu Zelia,” panggil Pak Marzuki.
Aku berbalik.
“Iya, Pak?”
“Selamat datang di SMP Taman Berbunga. Semoga Ibu bisa menemukan banyak hal di sini.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Insyaallah, Pak.”
Aku membuka pintu dan melangkah keluar.
Pukul 07.45 WIB.
Cahaya matahari kini terasa lebih hangat. Di koridor, Bu Isra sudah menungguku sambil membawa beberapa buku pelajaran.
“Bagaimana, Bu Zelia? Sudah selesai berbincang dengan Pak Marzuki?” tanyanya.
“Sudah, Bu. Beliau meminta saya melakukan demonstrasi mengajar.”
Bu Isra tersenyum.
“Wah, kalau begitu, mari kita siapkan semuanya. Kebetulan sebentar lagi ada jam pelajaran Bahasa Inggris di kelas VIII.”
Aku mengangguk dan mengikutinya menyusuri koridor.
Di dalam hati, rasa gugup itu masih ada. Tetapi, kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Aku tidak lagi hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan.
Aku mulai bertanya-tanya, mampukah aku menjadi guru yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa-siswa di sekolah ini?
Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu terasa jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan sebuah posisi sebagai guru.
Kreator : Ria Puspa
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Kesan Pertama yang Tak Terduga
Sorry, comment are closed for this post.