Sampai juga di kota Bandung waktu masih dini hari, aku merasa begitu rindu suasana ini dan tidak tahu apa yang kurindukan. Mencoba menutup mata untuk menelusuri rasa rindu kota ini . tiba-tiba suara hp berbunyi ternyata ada pesan dari kakak iparku, Cloe minta diambilkan pesanan bubur ayam yang terletak di seberang halte pemberhentian terakhir bus travelku.
Terlihat tempat bubur ayam langganan iparku itu ternyata banyak berderet orang antri ambil pesanan padahal waktu masih dini hari serta bunyi yang amat memalukan yaitu gemuruh terdengar keras dari perut mosterku menandakan membutuhkan korban sajian yang sedap untuk disantap sampai terpuaskan.
Lihat ukuran wadah bubur dari kejauhan dalam hati merasa kecewa dalam hati, wah bisa tidak kenyang kalau hanya satu atau dua mangkok. Namun, setelah sampai tempat bubur ayam langganan iparku ini ternyata porsinya tidak sekecil itu. Mungkin karena perut moster ini lapar tak tertahankan sehingga mataku sudah mulai tidak fokus menghasilkan ilusi. Ternyata isiannya banyak memiliki wadah besar yang membuat hati ini girang senang.
Aku menghadap pemegang penguasa atas nama-nama antrian pesanan bubur ayam, atas nama iparku tertulis di urutan kesepuluh besar masih menunggu tujuh antrian lagi, lalu aku memesan dua mangkok makan di tempat. Jadi aku diutamakan pemilik tempat yang membuat orang yang menunggu antrian melirikku yang membuat diri ini tersenyum malu.
“Makan dulu, Aa, Teteh.”
Saat makan baru tiga suap tiba-tiba terdengar suara mobil yang halus seperti suara mobil impianku ternyata benar melihat jenis mobil apa yang berhenti di depan. Ternyata mobil yang kekar mewah berwarna hitam metalik dan memperhatikan pengendaranya. Sosok lelaki hitam manis bersih berbadan tegap kira-kira tinggi badan 180-an dan otot kering seperti petarung. Hm ternyata yang membawa wajahnya, cukup tampan bersih tapi tidak sama seperti aku melihat Jack.
Tapi aku menjadi merasa aneh dengan diri ini kenapa aku membandingkan semua lelaki standarnya Jack yang baru kutemui malam ini. Sepertinya otakku sudah mulai konslet kekurangan nutrisi, serta perlu istirahat nanti pikirku.
Akhirnya pandanganku kembali pada santapan pertamaku yaitu bubur ayam. Mendengar pengendara mobil kekar mewah itu meminta pesanannya ternyata nomor antriannya di lima bawah nama iparku. Tak lama kemudian terdengar suara depan mejaku.
“Teteh, di sini ada orangnya tidak?’
Suaranya membuatku tiba-tiba mengangkat kepala ke depan melihatnya.
“Kosong kok, Pak. Silahkan duduk,” jawabku.
Lalu lelaki itu tersenyum kepadaku serta menyapa dengan suara baritonnya.
“Hai, Zen. Sudah lama tidak berjumpa.”
Aku tersedak dan batuk-batuk yang membuat lelaki itu cepat-cepat menuangkan teh gratisan yang harum serta langsung menyodorkan kepadaku.
“Ini Zen diminum pelan ya,” pintanya seperti kenal.
Akhirnya minuman itu melegakan tenggorokanku. Setelah itu aku mau tidak mau menengok menghadap orang yang tepat berada di depan hadapanku lagi. Aku masih merasa malu karena ada orang menyapa, aku yang lagi makan seperti korban kelaparan mencuri nomor antrian makanan. Heran, apakah mungkin aku dikenal saat pernikahan kakak iparku yang sedang cuti dari seragam coklatnya atau aku yang sudah pikun punya teman atau pelanggan bengkel di rumah. Tidak mungkin pikirku. Kalau aku pernah lihat pasti ingat wajah. Membuat alisku menyatu.
“Maaf, kita kenal dimana ya?”
Membuat lelaki itu menjawab sedih dan mengulurkan tangannya.
“Hai Zen, aku Dominic. Dulu dikenal bernama Bobby, teman SD. Wajahmu itu tidak ada berubah ya Cuma tambah uban saja.”
Sehingga aku pun merasa ingat dengan nama itu yang membuat diri ini mengulurkan tangan kananku ke tangannya.
“Enak saja beruban. Ini warnanya lagi tren tahu,” jawabku kesal.
“Oh, ternyata dirimu mengganti nama ya. Pantesan aku cari-cari di medsos dan teman SD pun tidak menemukan nama Bobby padahal kita semua mau reunian.”
Hal itu membuat lelaki itu tersenyum merasa senang ternyata masih ada yang mencarinya.
“Kenapa namamu diganti sih, membuat kita semua tak ketemu,” kataku.
Membuat lelaki itu tersenyum dan menjawab, “Dulu kan tahu, Zen. Kalau aku ga suka dipanggil Bob atau Bi. Memangnya kaya menanyakan model di penata rambut mau model di bob ya, Bang? atau Bi memangnya aku bibi semua orang.”
Sehingga membuatku tertawa lepas sampai orang di sekitar tempat bubur ayam menengok ke arah kami, membuatku malu dan hanya tersenyum menahan tawa lepasku.
Sampai nama antrian dipanggil lalu aku ingin membayar makananku, ternyata sudah dibayarkan iparku semua. Ternyata Cloe sudah memperkirakannya.
Aku pamit dari teman ngobrolku itu, tetapi Dominic mengajakku, “Tunggulah sebentar lagi, biar sama-sama saja kita. Biar aku antar sampai depan rumah abangmu. Bagaimana?” tanyanya lagi.
Lalu, saat aku mau menjawab, Dominic menahan tangan kananku, lalu berkata, “Empat nomor lagi, sabar ya? Kita kan sudah lama tidak jumpa.”
Aku menjawab dengan alasan yang masuk akal, “Aku sudah capek dan baru bertemu lagi. Kan bisa pesan online biar tidak merepotkan orang. Jadi, Dom, aku permisi duluan.”
Akhirnya, Dominic melepas tanganku.
Aku keluar dari tenda tempat makanku, menyusuri jalan dan menyeberang kembali ke depan terminal travel untuk mencari mobil online yang sudah dipesan.
Ternyata, pengemudi mobil online-ku tiba-tiba menelepon.
“Teteh, tolong batalkan saja, ya. Di dekat Teteh ada penyergapan, ada buron kabur. Saya baru dapat informasi dari kantor saya. Maaf, ya, Teteh. Hati-hati, ya, Teteh.”
Setelah berbicara, pengemudi online itu memutuskan panggilannya.
Tiba-tiba, aku mendengar suara, “TIARAP!”
Semua orang tiarap, tetapi otakku memerintahkanku untuk menarik seorang anak muda yang masih berlari di depanku agar tidak tertembak. Aku mengajaknya tiarap bersama.
Ternyata, anak muda itulah yang tangannya terborgol dan sedang kabur dari kejaran petugas tak berseragam.
Lalu, anak muda itu berbisik, “Barang itu bukan punyaku. Aku dijebak,” katanya sambil menahan tangis.
Tiba-tiba, terdengar suara tembakan berbalasan di dekatku. Aku melihat satu orang tertembak tangannya oleh petugas yang memegang pistol tanpa seragam itu.
Tak lama kemudian, aku menanyakan nama anak muda yang kuajak tiarap.
“Siapa namamu?”
“Dave. Aku disuruh mengantar barang tanpa mengetahui itu apa, biar aku dapat uang, Teteh,” jawabnya sambil menahan tangis.
“Semua pernyataan yang benar sampaikan ke petugas itu, oke? Jangan disembunyikan,” kataku.
Dave mengangguk sambil menangis.
Lalu, petugas tanpa seragam menghampiriku, mengambil anak muda itu, serta berkata, “Terima kasih, Bu.”
Aku melihat Dominic berlari ke arahku dengan wajah khawatir. Sambil memegang pistol, dia mengarahkannya ke belakangku dan menembak orang yang ingin menembak anak muda di depanku.
“DOOR!”
Suara itu bergema di telingaku, seperti godam menghantam kepalaku, membuatku pening seketika. Badanku terasa tak bertenaga dan sesak napas.
Bagiku, ini adalah tragedi di seberang tenda bubur ayam.
“ZEN, BANGUN!” teriak Dominic.
Lalu, aku tak sadarkan diri.
Kreator : Berta Sitorus (Asbee)
Comment Closed: Bab 3 – Tragedi Di Seberang Tenda Bubur Ayam
Sorry, comment are closed for this post.