Sesampainya Zen di halte pemberhentian bus travel antar kota rute Depok–Bandung yang sudah dipesannya, tak lama kemudian bus travel itu mendekat untuk menaikkan para penumpang di dekat jalan pintas berbayar alias jalan tol.
Semua tempat duduk di bagian belakang sudah terisi penuh. Zen awalnya merasa beruntung mendapatkan tempat duduk di bangku penumpang sebelah sopir yang lebih lega daripada tempat duduk lainnya. Rasanya seperti mendapatkan kursi VIP.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Mengapa semua penumpang sebelumnya justru memilih memenuhi kursi belakang daripada duduk di sebelah sopir yang bangkunya lebih panjang dan bahkan bisa ditempati dua orang?
Ternyata keanehan itu perlahan terungkap, seperti putaran bianglala yang akhirnya memperlihatkan seluruh pemandangan.
Semua penumpang rupanya sudah mengenal julukan sang sopir: Pak Rem Blong.
Bukan karena rem mobilnya rusak, melainkan karena mulutnya seperti rem yang benar-benar blong. Ia terus mengoceh tanpa henti, seperti kereta ekspres yang tidak pernah menemukan stasiun untuk berhenti.
Zen sampai berpikir, Ingin rasanya tangan ini langsung terjun bebas ke wajahnya yang terlalu sok tampan.
Tak tahan mendengar ocehan sang sopir, Zen pura-pura batuk, kemudian mengenakan masker. Beberapa saat kemudian, ia berpura-pura tertidur.
Langit masih gelap, bahkan semakin pekat, menandakan waktu sudah tengah malam. Pak sopir memasang saluran radio secara asal untuk menemaninya sepanjang perjalanan.
Beberapa saat kemudian, di pertengahan perjalanan menuju Bandung, mobil travel berhenti untuk beristirahat sejenak. Para penumpang diperbolehkan turun.
Zen memutuskan keluar setelah sang sopir memberitahukan waktu untuk kembali berkumpul.
Lumayan. Ada sedikit waktu untuk mengistirahatkan telinga dan menggunakan waktu sebaik mungkin, pikir Zen.
Setelah keluar dari toilet, Zen bertemu seorang bapak yang tampaknya jauh lebih tua daripada ayahnya. Rambutnya berwarna cokelat. Lelaki itu hampir terjatuh setelah terdorong tas milik penumpang travel lainnya.
Refleks, Zen segera menangkap tangannya dan menahan leher serta kepalanya agar tidak membentur tembok bangunan di depan toilet.
“Sir, are you okay?” tanya Zen sambil mengambil barang yang terjatuh.
Bapak berambut cokelat itu tersenyum. “I’m fine. Thanks for your help, miss.”
“You’re welcome, Sir.”
Zen kemudian pamit dan mencari tempat untuk membeli camilan serta kopi yang pasti akan terasa nikmat di minimarket favoritnya.
Namun, tanpa disadari, Bapak tadi mengikutinya sampai ke tempat pembayaran.
Saat Zen hendak membayar, lelaki itu bertanya menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata.
“Neng, beli apa? Ini tanda terima kasih saya.”
Ia bahkan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah.
Zen merasa ada sesuatu yang aneh. Wajah lelaki itu terasa familiar, tetapi ia yakin belum pernah mengenalnya.
“Tidak usah, Kek. Saya ikhlas menolong kok.”
Kakek berambut cokelat itu kembali bertanya. “Kalau begitu, boleh saya minta nomor telepon Neng?”
“Maaf, Kek. Kata Mama, saya tidak boleh memberikan nomor telepon kepada orang asing.”
Zen menjawab tegas. Ia ingin lelaki itu mengerti bahwa dirinya merasa tidak nyaman dan tidak ingin didekati oleh orang asing.
Tiba-tiba, lelaki itu memanggil dengan suara yang terdengar penuh keyakinan.
“Clara Nugroho… ini Paman Kurniawan.”
Langkah Zen sempat terhenti. Namun, ia tidak mau menoleh ke belakang.
“Aku bukan Clara Nugroho.”
Zen kemudian melihat pantulan kaca di depannya. Dari sana, ia bisa melihat wajah kakek berambut cokelat itu berubah. Wajahnya tampak terluka karena tidak dikenali.
Namun, Zen tetap melangkahkan kakinya menuju mobil travel. Ia benar-benar tidak mengingat atau mengenal lelaki tersebut.
Selangkah demi selangkah menuju mobil travel, berbagai pertanyaan mulai memenuhi kepala Zen.
Kenapa setiap kali ada orang memanggil nama Clara Nugroho, rasanya seperti namaku sendiri yang dipanggil?
Wah, ini sudah tidak benar.
Pikiran Zen mulai ke mana-mana.
Jangan-jangan aku dicuci otak, disiksa, lalu dijual ke luar negeri.
Otaknya sudah seperti dirasuki trailer film penuh kejahatan dan penipuan modus kerabat. Semua kemungkinan buruk berputar di kepalanya hingga kenyataan terasa seperti serial drama keji yang tidak pernah ia minta untuk ditonton.
Zen akhirnya duduk di sebuah bangku di samping tangga. Pinggirannya terlihat sedikit berkarat.
Ia memandang ke sekeliling.
Di dekatnya tampak seekor kucing liar berwarna putih abu-abu. Bulu kucing itu terlihat cukup bagus meskipun jelas bukan kucing peliharaan.
Tiba-tiba perhatian Zen teralihkan.
Seorang lelaki berpakaian kasual duduk di bangku seberang, tepat berhadapan dengannya.
Aroma parfumnya begitu lembut dan menenangkan. Wajahnya tampan seperti model. Matanya berwarna biru langit, rambutnya hitam legam dengan potongan cepak seperti anggota militer. Kulitnya terlihat kecokelatan seperti sering terkena matahari. Tingginya diperkirakan mencapai 190 sentimeter.
Saat lelaki itu membuka topinya, Zen memperkirakan usianya sekitar dua puluh sembilan tahun.
Mm… luar biasa bening.
Tanpa sadar, Zen terus memandanginya.
Lelaki itu akhirnya menyadarinya.
Dengan suara lembut, ia berkata, “Hai, Nona. Sudah puas melihat?”
Zen langsung tertegun.
Wajahnya memanas karena malu. Ia menutupinya dengan senyum sambil membentuk tanda hati menggunakan jarinya.
Lelaki itu kembali berkata,
“Nona, kalau melihat terus begitu, saya jadi ingin dekat-dekat ke situ.”
Ia tersenyum.
Zen langsung kaget. Tenggorokannya terasa kering dan tanpa sadar ia menarik napas panjang.
Biasanya, orang yang ditatap oleh orang asing akan merasa terganggu, bahkan mungkin marah dan pergi. Namun, lelaki ini justru santai. Ia malah mengajaknya bercanda seperti mereka sudah lama saling mengenal.
Zen menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
Tanpa disadarinya, lelaki itu sudah berdiri di dekatnya dan mengulurkan tangan.
“Jack Harvi.”
Zen menyambut uluran tangan tersebut.
“Zen.”
Zen mencoba membuka percakapan.
“Jack, mau ke mana?”
Entah karena kehabisan bahan pembicaraan atau karena merasa sudah cukup akrab, Zen malah bertanya iseng,
“Ke Bandung buat melamar calon istri, ya?”
Jack menatap mata Zen.
“Ya. Aku ke Bandung mau melamar perempuan yang kucintai dan yang pernah menolong keluargaku. Selama ini aku menahan rindu agar cintaku tidak terluka.”
Entah mengapa, hati Zen terasa sakit.
Rasa sakit itu belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tanpa sadar, tangan kanannya menekan dada seolah-olah ada palu yang baru saja menghantamnya.
Jack menyadarinya.
Ia memeluk Zen sebentar, kemudian menatap wajahnya.
“Zen, kenapa? Sakit?”
Zen menggeleng sambil menahan tangis.
“Mau aku antar ke dokter?” tanya Jack lembut.
“Tidak perlu,” jawab Zen sopan.
Akhirnya, mereka berbincang lebih banyak. Mereka saling memperkenalkan diri dan bertukar nomor telepon.
Tak lama kemudian, ponsel Jack berbunyi.
“Ya, Ayah. Sekarang di mana?”
Sebelum pergi, Jack tiba-tiba mencium kening Zen.
Tubuh Zen seketika menegang.
Jack kemudian meminta izin pergi sambil memberikan isyarat agar mereka tetap sering berkomunikasi.
Tak lama kemudian, Zen kembali menuju mobil travel untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Zen memandang ke depan dan sesekali melihat pemandangan di samping jalan.
Perjalanan dilanjutkan bersama sopir yang terkenal dengan julukan Pak Rem Blong.
Anehnya, kali ini Zen tidak lagi terganggu dengan kebisingan dan gudang pertanyaan yang terus dilemparkan sang sopir.
Zen memilih menjadi pendengar saja.
Telinga dan hatinya sudah penuh dengan cerita dari perkenalannya dengan Jack tadi.
Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Woi, angkat! Nih, gue telepon!
Zen melihat layar ponselnya.
Ternyata sahabatnya sejak SMA yang tinggal di Bandung sedang menelepon.
Zen menekan tombol jawab.
“Halo, Zen. Apa kabar?”
Suara manja terdengar dari seberang.
“Enggak usah basa-basi busuk. Kenapa telepon? Tumben.”
“Ih! Mana perempuan jawabannya galak kayak sambal setan tanpa tambahan gula?”
Zen tertawa kecil.
“Kalau pakai gula harus hati-hati, loh. Nanti diabetes.”
Mereka akhirnya tertawa bersama.
“Kenapa, Leanor? Ada hal penting yang bisa saya bantu?” tanya Zen.
“Temanmu yang cantik ini mau nikah, loh.”
“Kapan? Di mana? Jam berapa? Sama siapa?”
Rentetan pertanyaan langsung meluncur tanpa bisa ditahan.
“Beh! Sudah kayak diinterogasi saja aku ini. Aku kirim e-undangannya. Tenang saja, temanmu yang cantik ini normal dan pasti laki-laki tulen yang kunikahi.”
“Hehehe,” Zen tertawa.
“Kalau tanggalnya aku enggak sibuk, aku datang.”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari seberang.
“Enak aja! Nanti aku pecat dari lima sekawan tengil!”
Belum sempat Zen menjawab, Leanor kembali berbicara.
“Kalau tidak datang, aku samperin pakai pasukan khusus kantorku!”
Zen langsung menyerah.
“Ampun, Tuan Putri Leanor. Perintah, doro, saya terima. Sekali lagi, terima kasih undangannya.”
“Pokoknya harus datang! Nanti ada artis penyanyi top, temannya temanku. Biar jadi teman duetmu di pernikahanku sebagai hadiah.”
Zen terdiam sebentar.
Kemudian ia bercanda,
“Jangan gila, dong. Hati-hati nanti kalau artisnya turun pamor terus marah-marah.”
“Eh, malah langsung bilang, ‘oke’,” jawab Leanor.
“Putri Ayu, ngancem, ya?” goda Zen.
Leanor tertawa.
“Masih ingat enggak, Zen, waktu terakhir dirimu karaokean dan aku tidak ikut? Aku dikirimin video sama sobat kita satu ini, si Tante Tutik.”
Zen tersenyum mengingat Tutik, temannya yang mendapat gelar “Tante” sejak SMA karena sudah memiliki tujuh keponakan, padahal mereka masih cimit-cimit seperti cumi-cumi.
“Oh, begitu, ya? Kalian suka sekali merekam aku. Awas kalian! Nanti kupenjarakan karena menyebarluaskan wajahku yang keren ini.”
Dari seberang terdengar suara Leanor.
“Uwek! Mau muntah dengarnya. Narsis orangnya!”
Zen terkekeh.
“Aku sekarang di rest area yang arah ke Bandung. Nanti kalau dirimu tidak dinas, kita ketemuan saja, ya.”
Belum lama setelah pembicaraan itu selesai, telepon pun ditutup.
Bus travel yang ditumpangi Zen akhirnya tiba di tempat tujuan.
Bandung.
Zen tersenyum lega.
Dalam hati ia berteriak senang.
Banyak kegiatan!
Sebelum turun, Zen tidak lupa menoleh kepada sang sopir.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya dari Depok sampai Bandung.”
Perjalanan panjang itu akhirnya selesai.
Namun, tanpa Zen sadari, perjalanan menuju Bandung hanyalah awal dari berbagai kejadian yang jauh lebih besar.
Kreator : Berta Sitorus (Asbee)
Comment Closed: Bab 2 – Perjalan dari Depok sampai Bandung
Sorry, comment are closed for this post.