Kalau ada yang bertanya apa saja yang bisa dilakukan anak-anak di Inalum, rasanya aku bisa bercerita panjang sekali. Ada begitu banyak tempat untuk dijelajahi dan begitu banyak permainan yang bisa dilakukan. Bahkan, untuk mulai bermain saja, kami tidak perlu pergi jauh-jauh. Cukup keluar dari rumah, dan petualangan bisa langsung dimulai. Di depan rumah kami di Residence E, ada taman bermain yang menjadi salah satu tempat favorit anak-anak. Di sana ada ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, gelantungan, dan patung-patung hewan. Kalau dipikir sekarang, fasilitasnya sederhana saja. Tapi waktu itu, rasanya semua yang ada di sana bisa menjadi sumber kesenangan.
Kami bisa menghabiskan waktu dengan bermain ayunan, bergantian meluncur di perosotan, atau mencoba berbagai hal di alat permainan yang ada. Namun, salah satu hal yang paling kuingat justru bukan permainan yang ada di taman itu sendiri. Di dekat taman, ada sebuah bukit yang bisa kami gunakan untuk bermain perosotan. Bukan perosotan biasa yang terbuat dari besi atau plastik. Kami menggunakan kardus atau potongan triplek untuk meluncur menuruni bukit. Entah siapa yang pertama kali punya ide itu, tetapi yang jelas, bagi kami, bukit tersebut adalah tempat bermain yang tidak kalah menarik dari taman bermainnya. Kami duduk di atas kardus atau triplek, lalu meluncur menuruni bukit. Tentu saja, setelah beberapa kali bermain, ada saja yang terjadi. Kadang posisi duduk sudah tidak karuan, kadang kardusnya tidak lagi bisa digunakan, dan yang paling sering, bagian belakang baju kami menjadi kotor karena bergesekan dengan tanah. Tapi memangnya kami peduli? Selama masih bisa bermain, baju kotor bukan masalah besar. Urusan dimarahi atau tidak setelah pulang, itu cerita lain. Yang penting, sore itu kami sudah puas bermain.
Begitulah kurang lebih kehidupan kami setiap hari. Sore hari adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu. Biasanya, setelah salat Asar, aku dan teman-teman mulai keluar rumah. Tidak perlu janjian lewat telepon atau membuat rencana sejak jauh-jauh hari. Kami tinggal mencari teman yang sedang berada di luar, lalu bermain bersama. Permainannya juga bermacam-macam. Kalau sedang ingin bermain badminton, kami bermain badminton. Kalau ingin bermain engklek, kami menggambar kotak-kotaknya dan mulai melompat. Ada juga permainan lompat tali dan ali brondok yang bisa membuat suasana semakin ramai. Rasanya selalu ada saja permainan yang bisa dilakukan, bahkan ketika kami sudah memainkan permainan yang sama berkali-kali. Kami tidak membutuhkan banyak perlengkapan untuk bersenang-senang. Kadang hanya membutuhkan beberapa orang teman, sedikit ruang, dan ide untuk memulai permainan. Selebihnya, biarkan waktu berjalan dengan sendirinya. Biasanya, waktu bermain kami berakhir pukul enam sore, tepat ketika lonceng gereja berbunyi. Sampai sekarang, aku masih mengingat bunyi lonceng itu sebagai salah satu bagian dari kehidupan di Inalum. Seolah-olah ada penanda bahwa hari sudah cukup sore dan anak-anak perlu bersiap untuk pulang. Kami pun mengakhiri permainan dan kembali ke rumah masing-masing.
Ada sesuatu yang terasa hangat ketika mengingat kebiasaan itu. Aku tumbuh bersama teman-teman dari berbagai suku dan agama. Kami bermain bersama, saling mengunjungi rumah, dan menghabiskan sore tanpa terlalu memikirkan perbedaan di antara kami. Hal-hal itu terasa biasa karena memang begitulah kehidupan yang kami kenal. Aku tidak ingat kapan pertama kali menyadari bahwa teman-temanku memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Mungkin karena sejak awal, perbedaan itu memang bukan sesuatu yang membuat kami merasa harus menjaga jarak. Kami mengenal satu sama lain sebagai teman bermain. Kami tahu siapa yang jago badminton, siapa yang suka bermain di taman, dan siapa yang selalu ada ketika permainan dimulai. Hal-hal seperti itulah yang lebih penting bagi kami waktu itu. Sekarang, ketika mengingatnya sebagai orang dewasa, aku merasa beruntung pernah tumbuh dalam lingkungan seperti itu. Toleransi bukan sekadar sesuatu yang dibicarakan atau diajarkan kepada kami. Kami mengalaminya dalam keseharian, melalui pertemanan yang terjalin begitu saja. Dan mungkin, tanpa kami sadari, pengalaman-pengalaman kecil itulah yang ikut membentuk cara kami melihat orang lain.
Namun, taman bermain di depan rumah tentu bukan satu-satunya tempat yang kami datangi. Kalau ingin suasana yang berbeda, kami bisa pergi sedikit lebih jauh. Salah satu tempat yang sesekali kami datangi adalah lapangan golf. Lapangan golf Inalum memiliki pemandangan yang bagus, dengan hamparan hijau dan bukit-bukit di sekitarnya. Tetapi tentu saja, anak-anak seperti kami tidak datang ke sana untuk membicarakan keindahan lapangan atau memperhatikan bagaimana permainan golf dilakukan. Kami punya urusan sendiri.
Makan bersama!
Hahaha. Kalau diingat sekarang, rasanya lucu juga. Tempat yang bagi orang lain mungkin identik dengan olahraga golf, bagi kami justru bisa menjadi tempat untuk berkumpul dan makan bersama. Ada kesenangan tersendiri ketika bisa pergi bersama teman-teman, membawa makanan, lalu menikmati waktu di tempat yang berbeda dari biasanya. Terkadang, yang membuat sebuah tempat berkesan memang bukan tempat itu sendiri, melainkan siapa yang bersama kita saat berada di sana. Selain bermain dan menghabiskan waktu bersama teman-teman, ada hal lain yang menarik perhatianku ketika akhir pekan tiba. Kami bisa melihat kegiatan proyek peledakan batuan atau tanah untuk pembuatan terowongan.
Bagi anak-anak, melihat kegiatan seperti itu tentu terasa menarik. Ada sesuatu yang berbeda dari rutinitas bermain sehari-hari. Kami bisa menyaksikan pekerjaan besar yang tidak setiap hari kami lihat dari dekat. Lingkungan tempat kami tinggal ternyata bukan hanya memiliki taman bermain, lapangan golf, dan pemandangan alam yang indah, tetapi juga berbagai kegiatan pembangunan yang membuat kami penasaran. Inalum memang terasa seperti dunia kecil yang menyediakan begitu banyak hal untuk dilihat. Di satu sisi, ada kehidupan anak-anak yang dipenuhi permainan dan pertemanan. Di sisi lain, ada pekerjaan dan proyek-proyek besar yang menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa di sana. Semuanya berlangsung dalam lingkungan yang sama, dan kami tumbuh dengan menyaksikan itu semua. Kalau sekarang aku mencoba mengingat kembali hari-hari tersebut, ada satu hal yang terasa berbeda dibandingkan kehidupan kami saat ini. Dulu, kami tidak membutuhkan acara khusus untuk merasa senang. Kami tidak perlu menunggu liburan untuk menikmati waktu bersama teman-teman. Hampir setiap sore sudah menjadi kesempatan untuk bermain, sementara akhir pekan bisa menghadirkan pengalaman lain yang tidak kalah menarik.
Hari-hari kami dipenuhi hal-hal sederhana yang saat itu tidak pernah terpikir akan menjadi kenangan. Aku tidak tahu apakah teman-temanku masih mengingat semua itu dengan detail yang sama. Mungkin ada yang masih ingat permainan perosotan dari bukit, mungkin ada yang lebih ingat badminton atau engklek, dan mungkin ada juga yang justru mengingat kejadian lain yang sudah lama kulupakan. Setiap orang pasti punya potongan kenangannya sendiri. Tapi aku yakin, bagi kami yang pernah tumbuh di sana, ada perasaan yang kurang lebih sama ketika mengingat masa-masa itu. Kami pernah memiliki ruang untuk bermain, teman-teman yang bisa ditemui hampir setiap hari, dan lingkungan yang membuat hal-hal sederhana terasa menyenangkan.
Dulu, aku hanya berpikir bahwa sore adalah waktu untuk bermain. Aku tidak pernah menghitung berapa banyak sore yang kuhabiskan di taman, berapa kali aku meluncur dari bukit, atau berapa banyak permainan yang pernah kami coba. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, bunyi lonceng gereja pukul enam akan menjadi salah satu hal yang mengingatkanku pada rumah. Waktu itu, semuanya hanyalah bagian dari rutinitas. Sekarang, justru rutinitas itulah yang ingin kuingat kembali.
Aku rindu bisa keluar rumah setelah Asar dan menemukan teman-temanku sedang menunggu. Aku rindu bermain sampai baju kotor tanpa terlalu memikirkannya. Aku rindu menghabiskan waktu bersama mereka tanpa perlu mengatur jadwal berhari-hari sebelumnya. Dan kalau boleh memilih, aku ingin sekali kembali ke salah satu sore itu. Duduk di atas kardus, meluncur dari bukit dekat taman, lalu pulang dengan baju kotor dan cerita yang mungkin akan kami tertawakan bersama. Bukan karena sore itu merupakan kejadian yang luar biasa. Justru karena sore seperti itulah yang dulu selalu ada. Kami tidak pernah tahu bahwa suatu hari nanti, hal-hal sesederhana itu akan menjadi bagian dari kehidupan yang paling kami rindukan.
Kreator : Indah Suprapty (Harsa)
Comment Closed: Bab 2 – Sampai Lonceng Berbunyi
Sorry, comment are closed for this post.