Hai, namaku Zenaya Rusdi. Seorang perempuan yang dikenal strong girl. Orang terdekat sering memanggilku dengan sebutan Zen atau Zen-boy alias Zenaya tomboy.
Aku berkulit sawo matang, wajah mulus, mata besar, memiliki alis menyambung seperti ulat bulu, rambut pendek yang setiap bulan bisa berubah warna, kadang berwarna biru, bulan besoknya berwarna merah, besok bisa abu-abu. Yah, hampir seperti bunglon gitu, cara jalan lagi ditatar … agar kemayu.
Keluarga besarku itu terdiri ayah, ibu, lima kakak laki-laki diurutkan dari yang terbesar Jason, Jio, Juan, Jevan, dan Jordan. Mereka sudah menikah, masing-masing memiliki keluarga semua beranak dua laki-laki.
Ayah ibu, serta paman angkatku, Alex Ruslan yang sudah menikah mempunyai tiga anak bernama Taruna, Julfikri, Harri. Kami tinggal dalam satu lingkungan tapi berjarak beberapa jalan.
Semua kakakku laki-laki merasa cukup mempunyai dua anak, seperti program KB (Keluarga Berencana). Biasanya mereka datang berkunjung di hari libur bekerja sambil menjemput anak-anak yang dititipkan di rumah kecuali keluarga kakakku Jordan yang kelima, ia dinas di Bandung. Rumah tuh selalu rame, seperti daycare buka Senin sampai Jumat sampai sampai beberapa tetangga ada yang menjadi baby sitter, cleaning service, bagian koki, antar jemput sekolah. Kalau dipikir-pikir lucu banget rumahku tidak pernah sepi. Sekarang, aku berumur 35 tahun, beda 7 tahun dari kakak laki-laki kelima, padahal dari kakak pertama beda setahunan semua sampai kakak yang kelima.
Ayah dan Ibu bilang kalau diriku ini bonus nomplok. Aku tidak setuju karena merasa musibah punya lima kakak laki-laki semua tidak terlalu bisa mekanik mesin. Zen kesal kalau mengingatnya pernah ditelpon malam-malam suruh bawa mobil pick up bengkel buat angkutin motornya yang mogok karena bensin tidak diisi, terus pernah sampai gusi motor terbakar bilangnya mesinnya mati tiba-tiba, lebih kesalnya lagi kakak yang pertama punya mobil seperti jeep cakep tapi tidak boleh sentuh tuh mobil terus suruh kita panggil mobil derek buat antar ke bengkel temannya lebih edannya lagi kakak yang keempat waktu sudah tengah malam, motor besarnya mogok di jalan yang kanan kirinya kuburan, terus dia pulang lalu kunci sudah dipaketin ke rumah, Tapi… Zen paling senang sama kakak laki-lakinya yang ketiga serta kelima karena paling royal daripada kakak laki-laki yang lain. Bisa dibilang paling mengerti harga service mesin di tempat lain dan memberi uang jajan buat adiknya yang butuh perawatan kulit.
Saat di kondangan di Jakarta, aku bersama teman-teman lelaki maupun perempuan membicarakan zaman kuliah. Lalu, tiba-tiba dawainya berbunyi dengan ringtone.
“Angkat teleponnya! Ayah mau bicara penting!”
Teman-temanku dan aku sendiri mendengar suara itu dan melihat nama Ayah tertera dengan tanda hati.
‘Tumben-tumbenan Ayah telepon,’ pikirku tanpa sadar sampai mengerutkan dahi.
Aku mengangkat telepon. “Halo, Ayah? Ada apa?” sapaku.
Aku menjawab telepon dengan waswas, menunggu jawaban dari seberang.
“Ini Kak Jordan.”
‘Loh, kenapa HP Ayah ada sama Kak Jordan?’ pikirku tanpa sadar sampai mengerutkan dahi.
“Zen … kenapa kamu biarkan Ayah dan Ibu ke Bandung tanpa dampingan kamu?”
“Sewaktu Kakak di kantor, ada saudara teman yang telepon, yang bekerja di travel antar kota, bilang bahwa Ayah dan Ibu tanya-tanya orang, kebingungan mau naik apa. Jadi, Ayah dan Ibu dihantarkan sampai depan rumah dinas Kakak.”
Aku terdiam sambil menyerap setiap perkataan Kak Jordan.
‘Loh, jadi Ayah dan Ibu sekarang ada di Bandung?’
‘Gawat ini.’ Aku sampai menggaruk-garuk kepala walaupun tidak gatal.
“Dek, dari tadi loh teleponin kamu. Kok tidak diangkat-angkat? Kakak jadi kepikiran kamu kenapa-kenapa di Depok, makanya hanya orang tua yang datang?” ujar Kak Jordan.
“Tolong ya, Zen, kalau bisa besok pagi langsung berangkat saja. Urusan bengkel sementara kasih ke Taruna. Kakak tidak mau kamu terikat sekali sama bengkel itu. Mengerti?!”
Baru kali ini Kak Jordan bertanya sambil memberi perintah. Aku berpikir, kenapa nada Kakak begitu cemas?
“Baik, Kak. Five,” jawabku.
“Ini bukti transfer uang travel dan uang jajanmu ke Bandung, ya. Tidak usah bawa pakaian, biar beli di sini saja. Pokoknya, Kakak minta kamu seminggu temani kakak iparmu, Cloe, sekalian lihat dua keponakanmu, Luis dan Terbit, yang baru lahir tiga bulan. Ini permintaan Kakak. Mengerti?!”
Akhirnya, aku menjawab, “Mengerti, Kak. Five.”
Telepon diakhiri dari pihak seberang. Setelah kubuka aplikasi uang elektronik, wao, banyak benaran! Bisa beli tiga pasang baju dan tiket pulang pergi.
Kak Jordan tuh jarang bicara bertele-tele, apalagi sama aku. Dia suka langsung ke intinya. Mau jawab tidak dengan entengnya, dia sudah kasih solusi. Patutlah jadi kepala direktur yang tegas.
Dulu, aku pernah menutupi kelemahanku dengan bilang kuat, padahal dalam hati ini sedih dianggap cengeng. Ternyata, dia pura-pura percaya, padahal tahu kalau aku tidak jujur karena takut dibilang cengeng. Saat tidak ada siapa pun, baru ia berkata, “Kalau kamu merasa sedih dan mau meledak, lebih baik kamu jujur, ya, Dek. Jujurlah juga pada dirimu sendiri,” katanya lagi sambil memelukku.
“Kalau butuh apa-apa atau terdesak, datang ke Kakak, ya. Kita ini keluarga.”
Itulah ingatanku saat masa kuliah yang berat.
Aku akhirnya pulang ke rumah di Depok dulu dan sudah menghubungi anak Paman Alex. Saat Taruna sampai di rumah, aku menjabarkan segala pekerjaanku padanya, apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Lalu, aku mentransfer sedikit uang untuk membeli makanan buat menjaga bengkel dan rumah.
Urusan selesai. Aku memesan mobil online. Setelah mobilnya datang, aku bilang, “Kak Zen berangkat dulu, ya, Tar.”
Setelah mobil online datang, aku langsung berangkat menuju halte bus antarkota ke Bandung.
“Baik, Kak. Hati-hati di jalan ya, Kak Zen,” jawabnya sambil melambaikan tangan.
Tenanglah pikiran ini sudah menyerahkan tugas selama satu minggu dan belajar mempercayai saudara. Tenanglah pikiran ini sudah menyampaikan pesan dari rekamannya agar semua bisa dipelajarinya.
Kreator : Berta Sitorus (Asbee)
Comment Closed: Bab 1 – Permintaan
Sorry, comment are closed for this post.