Malam itu, di ballroom sebuah hotel bintang lima, gema lantunan sholawat dan musik instrumen gambus yang lembut mengisi udara. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilau keemasan di setiap sudut ruangan, memberi kesan elegan dan penuh keberkahan. Di tengah kerumunan tamu berbusana muslimah anggun dan para pria bertuksedo serta berkemeja rapi, dua orang berdiri menjadi pusat dari seluruh perhatian.
Husni dan Arina.
Husni adalah gambaran sempurna dari seorang pengusaha muda yang sukses. Posturnya tinggi, rahangnya tegas, dan setelan jas buatan penjahit ternama membalut tubuhnya dengan sangat pas. Wajahnya yang bersih dihiasi senyum penuh percaya diri.
Di sampingnya, Arina berdiri sangat anggun. Gaun pengantin muslimah berwarna putih gading bercorak payet halus melekat di tubuhnya, dipadukan dengan hijab syar’i bermaterial sutra yang terurai indah menutup dada. Manik-manik kecil di pinggiran hijabnya memantulkan cahaya, mempertegas kecantikan alaminya yang teduh.
Malam itu adalah malam pernikahan mereka yang diawali dengan doa bersama. Sebuah pernikahan yang menjadi buah bibir di kalangan pengusaha dan eksekutif papan atas. Husni, pendiri dan pemilik perusahaan investasi yang sedang melesat cepat, baru saja menyunting Arina, seorang wanita muslimah cerdas yang menjabat sebagai manajer operasional di salah satu distributor mobil mewah terbesar di ibu kota.
“Lihat mereka,” bisik seorang tamu di pojok ruangan.
“Sama-sama sukses, taat, dan menawan. Masya Allah, seperti pasangan yang memang ditakdirkan untuk saling melengkapi.”
Di atas panggung utama, Husni menggenggam lembut jemari Arina yang terbalut sarung tangan kain halus. Ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya, seolah memastikan bahwa kebahagiaan malam itu nyata.
“Kamu lelah, Sayang?” tanyanya pelan, menunduk sedikit agar suaranya hanya terdengar oleh Arina.
Arina mendongak dari balik hijab putihnya, menatap mata suaminya dengan binar kebahagiaan yang jujur.
“Sedikit, Mas. Tapi melihat Mama dan Papa tersenyum, rasa lelahku hilang.”
“Alhamdulillah… Terima kasih sudah memilihku, Arina,” bisik Husni lembut, matanya menatap Arina dengan kedalaman emosi yang hangat.
“Aku berjanji demi Allah, kehidupan yang kubangun untukmu tidak akan pernah kekurangan kebahagiaan. Apa pun yang kamu butuhkan, akan berusaha kuberi.”
Arina tersenyum manis dari balik polesan riasannya yang natural.
“Aku tidak butuh kemewahan yang berlebihan, Mas. Aku cuma butuh kamu yang bimbing aku jadi istri solehah, keterbukaan kita, dan ridho Allah dalam rumah tangga kita.”
Husni tersenyum, lalu memegang lembut kedua tangan istrinya sambil mengecup kening Arina dengan lembut diiringi ucapan Barakallahu lakuma. Tepuk tangan riuh dan seruan doa dari para tamu menyambut momen hangat itu. Di mata dunia, mereka adalah pasangan impian. Kehidupan yang dibangun atas dasar cinta, nilai agama, kesuksesan karier, dan kemewahan yang berlimpah. Tak ada satu orang pun di ruangan itu—termasuk Arina sendiri—yang menduga bahwa semua kilau kebaikan ini menyimpan retakan kecil di bawah pondasinya.
Bulan pertama pernikahan mereka berjalan begitu menentramkan. Pasangan suami istri baru itu tinggal di sebuah rumah megah bergaya modern di kawasan elit. Rumah dua lantai dengan halaman asri yang hijau.
Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi oleh perhatian-perhatian kecil yang manis. Setiap sepertiga malam, Husni selalu membangunkan Arina untuk sholat tahajud bersama. Usai sholat Subuh berjamaah, Husni yang terbiasa sibuk memimpin rapat investor selalu menyempatkan diri untuk membuatkan Arina secangkir teh hangat sebelum istrinya merapikan hijab dan berangkat kerja.
“Jangan terlalu lelah di kantor, Rin,” ujar Husni suatu pagi, sembari merapikan bahu hijab Arina di dekat pintu utama. “Kalau kamu merasa lelah, berhenti saja bekerja. Rezeki yang Allah titipkan lewat perusahaanku lebih dari cukup untuk membiayai kita.”
Arina tersenyum sambil membetulkan posisi kerah baju Husni.
“Mas, bekerja di dealer mobil itu pencapaianku sendiri dari bawah. Aku suka kesibukanku dan ingin tetap produktif. Lagipula, niatku kan bantu sesama dan cari keberkahan juga,” tutur Arina lembut.
Husni tersenyum bangga, lalu mengusap puncak hijab Arina dengan kasih sayang.
“Iya, iya, Manajer kesayanganku. Tapi ingat janji kita, akhir pekan ini milik kita berdua. Waktu untuk istirahat total, no gadget.”
“Insya Allah, deal,” jawab Arina mantap.
Keromantisan mereka terpancar dari kepedulian tulus. Di rumah, Husni sering kali memanjakan Arina dengan kejutan-kejutan kecil. Kadang ia membawa pulang buket bunga lili favorit Arina, menyewa koki untuk menyiapkan makan malam romantis, hingga membelikan perlengkapan ibadah premium dan perhiasan.
Namun, Arina bukanlah wanita yang silau oleh harta. Sebagai manajer operasional, Arina terbiasa mengelola transaksi bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Ia tahu betul arti penting kejujuran dan rasa syukur. Karena itulah, walau suaminya sangat royal, Arina tetap mempertahankan kesederhanaan dan selalu rajin bersedekah.
Tiga bulan berlalu dalam kehangatan yang indah. Hingga pada suatu pagi di pertengahan bulan keempat pernikahan mereka, sebuah perubahan mulai menampakkan dirinya.
Pagi itu, usai sholat Subuh, Arina merasa mual yang luar biasa. Perutnya terasa diaduk-aduk. Ia berlari ke kamar mandi, berlutut di depan wastafel, dan memuntahkan cairan bening. Husni yang baru saja merapikan sajadah langsung bergegas menghampiri dengan wajah panik. Ia memijat tengkuk Arina yang tertutup rambut acak-acakan sebelum Arina sempat mengenakan hijab hariannya.
“Rin? Kamu kenapa, Sayang? Masuk angin? Kita ke klinik atau rumah sakit sekarang, ya?” tanya Husni cemas.
Arina menyeka bibirnya dengan tisu, wajahnya pucat tetapi matanya memancarkan rasa haru. Ia menatap Husni melalui cermin.
“Mas… sepertinya aku terlambat datang bulan sudah dua minggu.”
Husni terpaku. “Maksudmu…?”
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arina mengambil sebuah benda kecil dari dalam laci meja riasnya—alat tes kehamilan (pack test) yang sudah ia gunakan beberapa menit lalu. Ia menunjukkannya kepada Husni. Di sana, tertera dua garis merah yang amat jelas.
Husni menatap alat itu, lalu menatap Arina. Tanpa mengucapkan satu kata pun, ia langsung merengkuh Arina ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala istrinya berulang kali.
“Alhamdulillah… Ya Allah… Aku bakal jadi ayah? Kita bakal punya anak, Rin?” suara Husni bergetar hebat, dan air mata kebahagiaan menetes di bahu Arina.
“Iya, Mas. Alhamdulillah, Allah titipkan kepercayaan ini di dalam rahimku,” bisik Arina lembut sambil mengusap perutnya.
Kabar kehamilan itu membawa kebahagiaan luar biasa. Hari itu juga, Husni membatalkan seluruh agenda bisnisnya demi menemani Arina ke dokter kandungan. Saat dokter mengonfirmasi bahwa kandungan Arina berusia lima minggu dan sangat sehat, tak henti-hentinya mereka mengucap rasa syukur kepada Allah SWT.
Sejak hari itu, perlakuan Husni menjadi kian perhatian. Ia selalu memastikan Arina meminum vitamin kehamilan tepat waktu, tidak mengangkat barang berat, dan menyewa supir pribadi agar Arina tak perlu kelelahan menyetir mobil sendiri ke kantor.
“Ingat ya, Rin, di dalam sini ada buah cinta kita. Kamu dan calon anak kita adalah amanah terbesar dalam hidupku,” ucap Husni suatu malam, sembari mengelus lembut perut Arina yang terbalut baju tidur longgar.
Di kegelapan kamar, Arina tersenyum mengucap syukur. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki suami yang mapan, penyayang, dan taat agama.
Semua terasa begitu sempurna. Namun, di balik senyum hangat dan doa-doa indah sang suami, sebuah benih teka-teki mulai tertanam tanpa disadari Arina. Sebuah misteri kecil yang akan menjadi awal dari ujian terberat dalam rumah tangga mereka, tepat di saat calon buah hati mereka mulai tumbuh di dalam rahimnya.
Kreator : Naira Azzahra
Comment Closed: BAB 1. KILAU YANG SEMU
Sorry, comment are closed for this post.