KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 6. INOVASI DI TENGAH KRISIS

    BAB 6. INOVASI DI TENGAH KRISIS

    BY 05 Nov 2026 Dilihat: 14 kali
    KILAU YANG SEMU_alineaku

    Gelombang krisis akibat pandemi yang melanda secara global belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dampaknya menghantam seluruh sektor kehidupan, tak terkecuali industri otomotif. Di dalam pameran showroom mobil mewah tempat Arina bekerja, hawa dingin pendingin udara serasa kian menusuk hingga ke tulang. Lampu-lampu sorot yang memantulkan kilau cat mobil-mobil premium berharga miliaran rupiah itu seolah-olah hanya memamerkan kesunyian. Kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat dan kelesuan ekonomi membuat target penjualan dari direksi pusat menjadi benteng raksasa yang amat tinggi dan seolah mustahil dipanjat.

    Namun, Arina bukan tipe perempuan yang mudah menyerah atau meratapi nasib. Pahit getirnya dikhianati mantan suaminya, Husni, serta perjuangannya keluar dari rumah megah tanpa membawa harta apa pun telah menempa jiwanya menjadi sekeras baja.

    Apalagi di tengah situasi krisis ini, gaji pokok dari kantor yang terpotong dan komisi penjualan yang nihil membuat Arina tidak bisa hanya berpangku tangan menggantungkan nasib pada satu tempat. Demi memastikan dapur kontrakan tetap ngebul, melunasi biaya kontrakan, serta membayar SPP sekolah TK Jia, Arina melipat gengsinya rapat-rapat dan mengambil berbagai pekerjaan sampingan sekaligus.

    Setiap hari, perjuangan Arina dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Pukul tiga pagi, di saat kota masih lelap tertidur dalam dingin, Arina sudah bergelut dengan asap dapur kontrakan sempitnya. Dengan telaten, ia membuat puluhan porsi jajanan pasar dan kue basah—seperti risoles, kue talam, pastel, hingga peyek kacang yang renyah. Begitu matahari terbit, sebelum berangkat bekerja, Arina mengantarkan wadah-wadah jajanan buatan tangannya untuk dititipkan di kantin sekolah TK Jia dan beberapa warung kelontong sekitar gang.

    Tak berhenti di situ, Arina juga memanfaatkan waktu luangnya di sela-sela jam istirahat atau malam hari dengan menjual berbagai barang kebutuhan harian secara daring (reseller) hingga menjual pakaian bekas berkualitas (thrifting) milik rekan-rekannya yang butuh uang cepat. Dengan sabar, ia memotret barang-barang tersebut di atas meja lipat kontrakan, mengunggahnya ke media sosial, dan membungkus pesanan satu per satu usai menidurkan Jia di malam hari.

    Rasa lelah yang sangat kerap membuat sendi-sendi tubuh Arina terasa linu dan matanya berkaca-kaca karena kurang tidur. Namun, setiap kali melihat deretan toples kue buatan tangannya dan lembaran uang ribuan hasil titipan kantin yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam celengan plastik, Arina mengusap dadanya seraya mengucap syukur. Setiap rupiah halal dari cucuran keringatnya adalah bukti cinta tanpa batas untuk putri tunggalnya.

    Suasana di kantor tempat Arina bekerja tetap menuntut profesionalisme penuh. Sejak gelombang pandemi merebak, lalu lintas calon pembeli merosot hingga titik terendah. Para salesman duduk melamun di meja mereka masing-masing dengan masker medis yang menutupi separuh wajah, menatap layar ponsel yang sepi dari pesanan calon konsumen.

    Arina melangkah tegas menuju ruang rapat utama. Ia mengenakan blazer hitam yang rapi dan hijab abu-abu yang terpasang sempurna, menyembunyikan rapat-rapat rasa lelah dari pekerjaan sampingannya sejak subuh tadi. Di tangannya, ia memegang sebundel berkas proposal strategi baru yang telah ia susun.

    Arina mengumpulkan seluruh tim sales, pemasaran, dan bagian keuangan. Ia berdiri tegak di depan papan tulis putih, memegang spidol hitam dengan tatapan mata yang memancarkan keyakinan dan wibawa seorang manajer.

    “Teman-teman, situasi krisis dan pembatasan karena pandemi ini memang berat. Jika calon pembeli perorangan tidak lagi bisa atau ragu untuk datang melangkah ke showroom kita, maka kitalah yang harus menjemput bola dan memanfaatkan pendekatan digital serta jalur korporasi,” buka Arina dengan suara tenang namun bergetar penuh ketegasan dari balik maskernya.

    Siska, sekretarisnya, serta para salesman saling pandang dengan raut wajah ragu dan cemas.

    “Tapi Bu Arina, pasar sedan dan SUV mewah sedang lesu total di mana-mana,” sahut Roy, salah satu salesman senior dengan nada pesimistis. “Masyarakat kelas atas dan para pengusaha pun saat ini sedang menahan uang tunai mereka menghadapi ketidakpastian kondisi kesehatan dan ekonomi ini.”

    “Betul, Roy. Untuk pembelian individu kelas atas, mereka memang sedang menahan diri,” Arina mengangguk menyetujui tanpa sedikit pun menunjukkan rasa panik. Ia kemudian membalikkan badan dan menuliskan sebuah kata kunci dengan huruf kapital di papan tulis putih:

    DIGITAL PRESENTATION & CORPORATE FLEET PARTNERSHIP

    “Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan skema konvensional seperti penjualan tunai di tempat atau pameran tatap muka,” lanjut Arina menjelaskan seraya menatap mata anggota timnya satu per satu. “Kita akan mengubah haluan. Pertama, kita optimalkan virtual tour showroom dan presentasi privat via panggilan video untuk calon konsumen perorangan. Kedua, kita fokus menawarkan skema kerja sama armada dinas (fleet) serta penyewaan jangka panjang bergaransi perawatan penuh kepada perusahaan-perusahaan BUMN, kedutaan asing, serta korporasi multinasional di sektor logistik, pertambangan, dan farmasi yang justru tetap beroperasi aktif di masa krisis ini.”

    Arina membagikan salinan berkas proposal yang telah ia buat. Rencana itu dirancang dengan sangat detail, lengkap dengan simulasi efisiensi pajak bagi perusahaan pembeli, analisis nilai sisa kendaraan, hingga skema layanan antar unit untuk uji kendara (test drive) yang disterilisasi penuh sesuai protokol kesehatan.

    Melihat keseriusan, kerapian data, serta konsep adaptif yang ditawarkan oleh Arina di tengah ketidakpastian pandemi, raut pesimisme di wajah timnya perlahan-lahan luntur. Semangat para salesman yang tadinya redup mendadak kembali membara. Mereka melihat sosok pemimpin wanita yang tidak hanya pandai menuntut target dari balik meja, tetapi juga turun langsung memberikan peta jalan, strategi komprehensif, dan solusi nyata di tengah krisis.

    Sementara Arina berjuang keras menguras energi di dunia kerja dan pekerjaan sampingannya, Jia menjalani hari-harinya di masa pandemi dengan keteguhan yang mengharukan. Ketika kebijakan sekolah berganti-ganti antara pembelajaran tatap muka terbatas dengan proteksi ketat dan pembelajaran jarak jauh dari rumah, kesabaran serta pola asuh Arina benar-benar membuktikan hasilnya. Jia tumbuh menjadi pribadi yang matang, santun, dan peka melebihi usia anak-anak sebayanya.

    Di sekolah, Jia dikenal oleh para guru dan teman-temannya sebagai anak yang sangat ramah, disiplin, dan memiliki empati yang tinggi. Ketika anak-anak lain kerap mengeluh repot menggunakan masker, lupa mencuci tangan, atau berebut mainan hingga menangis, Jia dengan lapang dada selalu menjadi anak yang paling tertib mengikuti arahan guru.

    Suatu hari di pertengahan bulan, saat sekolah menggelar sesi pertemuan terbatas dengan protokol kesehatan bertema “Bekal Sehatku”, setiap anak diminta untuk membawa kotak bekal makanan buatan rumah, memamerkannya dari bangku masing-masing, dan menceritakan masakan ibunya.

    Anak-anak lain dari keluarga mampu membawa kotak bekal bermerek mahal dengan berbagai karakter kartun. Bekal mereka berisi sosis impor berukuran besar, nugget olahan berbentuk lucu, keju slice, serta buah-buahan impor yang ditata rapi.

    Sementara itu, Jia duduk dengan tenang di bangkunya yang berjarak. Ia meletakkan sebuah kotak bekal plastik sederhana berwarna hijau—kotak bekal murah yang dibeli Mamanya di pasar kaget. Begitu penutupnya dibuka, tercium aroma harum yang khas: nasi goreng telur dengan irisan telur dadar tipis di atasnya, dihiasi dua potong mentimun segar yang dipotong rapi oleh Arina tadi pagi.

    Saat giliran Jia dipanggil untuk berdiri di samping mejanya, bocah lima tahun itu berdiri dengan percaya diri. Senyum manis menyungging di balik masker kainnya seraya kedua tangan kecilnya memegang erat kotak bekal tersebut.

    “Assalamu’alaikum teman-teman dan Bu Guru,” tutur Jia dengan suara kekanak-kanakannya yang amat bening dan sopan.

    “Wa’alaikumsalam, Jia cantik. Ayo coba ceritakan, apa bekal yang dibawakan Mama hari ini?” tanya Bu Rahma hangat dari depan kelas.

    “Ini bekal buatan Mama Jia,” ujar Jia polos seraya menunjukkan isi kotak plastiknya. “Nasi goreng telur dadar. Mama bikinnya pagi-pagi sekali waktu subuh, sambil bikin jajanan pastel yang dititip di kantin sekolah kita. Nasi goreng buatan Mama ini adalah nasi goreng yang paling enak di seluruh dunia, karena bikinnya pakai kasih sayang Mama yang sangat banyak!”

    Suasana kelas mendadak hening sejenak. Bu Rahma tertegun membisu, matanya berkaca-kaca menatap pendar kebahagiaan dan kebanggaan yang murni di mata bening anak kecil itu. Ibu guru itu tahu betul, jajanan pastel dan kue talam yang laris manis dijual di kantin sekolah setiap pagi adalah hasil olahan jemari lelah ibunya Jia. Tidak ada sedikit pun rasa minder, canggung, atau rasa iri pada bekal teman-temannya yang serba mewah. Bagi Jia, keahlian dan kerja keras ibunya adalah sebuah kebanggaan terbesar yang tak bisa ditukar dengan apa pun di dunia ini.

    Sore harinya, saat jam kepulangan dan Arina datang menyusuri halaman TK dengan sepeda motor matiknya untuk menjemput Jia sekaligus mengambil wadah titipan jajanan kantin yang sudah kosong bersih, Bu Rahma berjalan menghampiri Arina di luar pagar.

    “Ibu Arina…” panggil Bu Rahma dengan senyuman yang sangat hangat dari balik maskernya.

    Arina merapikan letak helmnya lalu menyalami sang guru dengan santun dari jarak aman. “Iya, Bu Rahma? Terima kasih banyak ya Bu sudah mengizinkan saya menitip jajanan di kantin.”

    “Sama-sama, Ibu Arina. Jajanan buatan Ibu selalu habis bersih disukai anak-anak dan para guru,” tutur Bu Rahma seraya menangkupkan kedua tangan di dada. “Tapi selain itu, saya hanya ingin menyampaikan… Jia adalah anak yang luar biasa istimewa. Tutur katanya sangat santun, hatinya bersih, dan ia sangat bangga pada Ibunya. Di tengah situasi krisis ini, kepolosan dan rasa empati Jia benar-benar menyentuh hati kami. Ibu Arina sungguh telah berhasil mendidik dan menanamkan akhlak mulia dalam diri Jia.”

    Mendengar pujian yang tulus dari sang pendidik, dada Arina berdesir hebat. Air mata haru hampir saja menetes di balik kelopak matanya. Arina mengusap dadanya dan mengucap syukur yang teramat dalam kepada Allah di dalam hati. Rasa lelah usai bangun subuh membuat kue, mengurus titipan barang dagangan, serta ketegangan mengejar target kantor seketika sirna tanpa bekas. Segala pengorbanannya terasa terbayar tuntas ketika melihat buah hatinya tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia dan berhati emas.

    Kerja keras, ketekunan, dan strategi adaptif yang dirancang oleh Arina di kantor akhirnya mulai membuahkan hasil manis yang tidak sia-sia.

    Setelah tiga minggu melakukan pendekatan digital intensif, menyusun berkas persyaratan teknis tanpa kenal lelah, dan melakukan presentasi maraton secara daring di hadapan para pimpinan divisi pengadaan barang, Arina berhasil menembus benteng pertahanan sebuah perusahaan logistik dan pertambangan multinasional skala besar. Lewat konsep kerja sama armada (fleet) yang efisien di masa krisis, perusahaan tersebut memutuskan untuk menandatangani kontrak kerja sama pengadaan puluhan unit SUV operasional untuk jajaran pimpinan mereka.

    Penandatanganan kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah itu tidak hanya menyelamatkan target penjualan showroom untuk dua kuartal ke depan di tengah melesunya pasar akibat krisis pandemi, tetapi juga membawa angin segar dan menyelamatkan seluruh staf cabang tempat Arina bekerja dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemotongan gaji. Direksi pusat memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas kepemimpinan, kepiawaian, dan keteguhan Arina di masa yang sangat sulit ini.

    Pada akhir bulan, Arina menerima amplop bonus insentif pencapaian target operasional atas keberhasilan tender besar tersebut. Ketika Arina membuka amplop itu di dalam ruangan kerjanya, matanya berkaca-kaca menatap lembaran-lembaran uang tunai bernominal besar di tangannya. Gabungan dari bonus kantor, keuntungan jualan barang daring, serta hasil titipan kue di kantin akhirnya memberikan kelonggaran bernapas yang amat sangat berarti bagi kehidupan finansial keluarga kecilnya.

    Namun, Arina bukan lagi wanita yang gampang terbuai oleh kenyamanan sesaat. Pengalaman krisis global dan ancaman pandemi mengajarkannya bahwa pekerjaan sebagai karyawan tetap memiliki keterbatasan dan risiko ketidakpastian. Arina menyadari betul bahwa ia harus mulai merintis jalan mandiri yang lebih fokus demi membangun benteng ekonomi yang lebih kokoh untuk masa depan pendidikan Jia yang masih sangat panjang.

    Otak bisnis dan pengalaman Arina dalam memproduksi kue serta jajanan yang selalu laris manis di kantin sekolah mulai berputar cepat. Momen di mana banyak orang menyukai kuliner rumahan berkualitas dilirik Arina sebagai peluang emas untuk membesarkan usaha kuliner buatannya sendiri secara lebih profesional.

    Malam harinya, usai menunaikan sholat Isya berjamaah di atas sajadah sederhana mereka, suasana di dalam rumah kontrakan beratap seng itu terasa sangat hangat dan syahdu. Angin malam berembus pelan menyusup lewat celah jendela kayu.

    Arina duduk bersimpuh di atas karpet busa bersama Jia. Di atas meja kayu lipat kecil di depan mereka, Arina meletakkan sebuah kantong belanjaan berwarna putih dari minimarket modern—kantong belanjaan bertuliskan logo terang yang dulu hanya bisa ditatap Jia dari luar kaca trotoar.

    “Jia…” panggil Arina lembut seraya mengusap rambut hitam putrinya.

    Jia menoleh, dan matanya seketika membelalak bulat penuh kejutan. Dari dalam kantong belanjaan itu, Arina mengeluarkan satu kotak besar cokelat manis dengan kemasan berwarna keemasan, dua porsi wadah es krim rasa stroberi kesukaannya yang masih dingin berembun, serta sebuah wadah makanan ringan berhadiah mainan rakitan.

    “Mama… ini… ini semua buat Jia?” tanya bocah itu dengan suara bergetar seolah tak percaya pada penglihatannya sendiri.

    “Iya, Sayang. Ini janji Mama waktu kita jalan di trotoar hari itu,” ujar Arina seraya tersenyum manis, mengusap pipi mulus Jia dan merengkuh bahunya. “Mama kan sudah janji, kalau Allah kasih Mama rezeki lebih dari hasil kerja keras Mama dan jualan kue, Mama bakal belikan Jia jajanan yang paling enak dan paling banyak. Ini hadiah dari Allah untuk Jia, karena Jia sudah jadi anak yang pintar, sabar, dan sholehah.”

    Jia bersorak riang dengan suara khas anak-anak. Ia melompat kecil di atas karpet lalu merengkuh leher Arina erat-erat, mengecup pipi Mamanya berkali-kali. “Terima kasih banyak, Mama! Jia sayang banget sama Mama! Nanti es krim stroberinya kita makan berdua ya, Ma? Mama harus ikut makan!”

    Arina tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang sudah sangat lama tidak terdengar dari bibirnya. Ia membuka wadah es krim itu, menyuapkan sendok pertama ke dalam mulut Jia, lalu Jia balik menyuapkan sendok berikutnya ke mulut Arina. Rasa manis es krim stroberi itu meleleh di lidah mereka, menghadirkan rasa hangat yang menyusup hingga ke relung jiwa paling dalam.

    Di tengah momen kebahagiaan yang sangat sederhana namun berharga itu, Arina memegang kedua tangan kecil Jia, menatap mata bening putrinya dengan pandangan penuh rasa optimistis.

    “Jia…” panggil Arina lembut. “Mama mau cerita sesuatu.”

    “Cerita apa, Ma?” tanya Jia seraya memegang sendok plastiknya.

    “Mama punya rencana,” tutur Arina perlahan, mengutarakan impian kecil yang mulai membara di dalam benaknya. “Selain nitip di kantin sekolah, hari Sabtu dan Minggu nanti waktu kantor libur, Mama mau coba buat kue kering yang lebih banyak, puding buah, dan masakan enak di dapur kita. Nanti kue-kue itu mau Mama kemas yang rapi pakai merek buatan kita sendiri dan Mama tawarkan ke teman-teman kantor Mama, tetangga, dan lewat online. Kalau Mama mulai besarkan usaha kue ini, Jia mau bantu Mama di rumah?”

    Mendengar ajakan sang ibu, mata Jia berbinar penuh semangat. Tanpa ragu sedikit pun, bocah lima tahun itu mengangguk mantap dengan sisa noda es krim stroberi yang menempel lucu di sudut bibirnya.

    “Mau, Ma! Jia mau banget bantu Mama!” seru Jia riang. “Jia bisa bantu menempelkan stiker di toples kuenya! Jia juga bisa bantu menaruh pita merah di kotaknya biar cantik!”

    Arina tersenyum haru seraya menyeka sisa es krim di sudut bibir Jia dengan ibu jarinya.

    Malam itu, di dalam rumah kontrakan yang bersahaja di pinggiran kota, sebuah babak baru dalam lembaran hidup Arina resmi dimulai. Benih keberanian dan jiwa wirausaha tumbuh mekar di dalam dadanya. Krisis ekonomi, ancaman pandemi, dan beratnya pekerjaan sampingan telah berhasil ia hadapi dengan keteguhan, dan kini langkah-langkah kecil menuju kemandirian ekonomi yang sejati mulai dipijakkannya dengan penuh keyakinan—bergandengan tangan bersama putri kecil tercinta yang menjadi lentera hidupnya.

     

     

    Kreator : Naira Azzahra

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 6. INOVASI DI TENGAH KRISIS

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021