KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 7. PESTA BULAN JUNI

    BAB 7. PESTA BULAN JUNI

    BY 05 Nov 2026 Dilihat: 8 kali
    KILAU YANG SEMU_alineaku

    Bulan Juni selalu membawa aroma kehangatan yang berbeda di sudut-sudut kontrakan sederhana milik Arina. Namun tahun ini, kehangatan itu tidak sekadar hadir sebagai hembusan angin biasa, melainkan meledak menjadi gelombang kebahagiaan yang meluap-luap. Tanggal dua Juni bukan lagi sekadar deretan angka yang lewat tanpa makna di kalender dinding rumah mereka, melainkan hari paling keramat, paling membahagiakan, dan paling bersejarah bagi Arina: hari kelahiran putri tunggalnya, sang lentera jiwa, Aurelia Jia Elanora, yang pada hari istimewa ini resmi menginjakkan usianya yang ke-enam tahun.

    Bagi Arina, mencapai titik ini adalah sebuah keajaiban yang harus dirayakan dengan penuh puji syukur. Setelah bertahun-tahun ia diterjang gelombang badai kehidupan yang menghancurkan—mulai dari pengkhianatan pahit yang dilakukan oleh Husni, pergi dari rumah megah yang penuh kenangan palsu, penderitaan menjadi janda miskin yang dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar, hingga perjuangan membanting tulang melunasi sisa-sisa utang masa lalu yang menumpuk—Arina akhirnya berhasil berdiri di atas kakinya sendiri. Keberhasilan tender besar di kantor tempatnya bekerja, dipadukan dengan pesatnya perkembangan bisnis kuliner rumahan serta usaha reseller barang yang ia rintis dengan cucuran keringat, membuat ekonomi Arina melonjak drastis. Kini, ia tidak lagi harus memutar otak hanya untuk membeli sekantong beras atau memikirkan bagaimana cara membayar sewa kontrakan bulan depan.

    Maka, untuk ulang tahun Jia yang ke-enam ini, Arina bertekad bulat memberikan sebuah perayaan yang tak pernah terlupakan. Pesta ini sama sekali bukan bentuk kesombongan atau pamer kekayaan kepada dunia, melainkan sebuah wujud sujud syukur Arina kepada Sang Pencipta, sekaligus bentuk pemenuhan janji pada dirinya sendiri: bahwa Aurelia Jia Elanora tidak boleh lagi merasa berkecil hati, bahwa anak manisnya layak mendapatkan semua cinta, perhatian, dan kemewahan sederhana yang mampu diusahakan oleh jemari ibunya.

    Sejak H-2 sebelum hari keberuntungan itu tiba, rumah kontrakan sederhana mereka telah berubah menjadi gelanggang kesibukan yang riuh namun dipenuhi gelak tawa. Arina secara khusus mengambil cuti kerja selama dua hari penuh. Ia tidak ingin ada satu pun detail yang terlewat. Ruang tamu mereka yang biasanya hanya berisi sofa kain tua dan meja kayu biasa, kini disulap total menjadi sebuah arena dongeng cilik yang didominasi warna-warna lembut kesukaan Jia: merah muda, krem, dan aksen emas yang berkilauan.

    Arina memesan puluhan balon helium berbentuk bintang dan hati yang mengapung anggun di langit-langit ruangan, menjuntaikan pita-pita satin warna-warni dari sudut-sudut lampu, serta memasang spanduk cetak berukuran besar di dinding utama yang bertuliskan huruf-huruf berkilau: “Happy 6th Birthday Aurelia Jia Elanora, Our Little Princess”. Di sudut kanan ruangan, sebuah meja panjang yang dilapisi taplak meja renda putih telah ditata sedemikian rupa untuk menampung seluruh sajian istimewa buatan tangan Arina sendiri.

    Pagi-pagi sekali pada tanggal dua Juni, ketika matahari baru saja melepaskan sinar keemasannya melintasi celah-celah ventilasi kayu rumah, aroma harum mentega yang dipanggang, wangi vanila yang manis, serta gurihnya bumbu risoles sudah memenuhi seluruh ruangan. Suasana di dalam kontrakan terasa begitu hidup, hangat, dan menggetarkan dada.

    Guna melengkapi momen istimewa ini, Arina melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia menyewa jasa seorang Make Up Artist (MUA) anak profesional—yang juga merupakan rekanan bisnisnya dalam jaringan reseller—untuk datang langsung ke rumah dan mendandani Jia secara khusus.

    Di dalam kamar tidur mereka yang beraroma wangi bunga lavender, Jia duduk tegak di atas sebuah kursi kayu berukir. Tubuh kecil bocah enam tahun itu sudah terbalut gaun pesta mekar berwarna krem keemasan berbahan tule halus, lengkap dengan lapisan kain satin yang lembut menempel di kulit mulusnya. Gaun itu memiliki renda-renda rumit di bagian dada dan pita besar yang terikat rapi di pinggang belakangnya.

    MUA wanita bernama Mbak Nia itu tersenyum gemas menatap paras cantik Jia yang mengagumkan. Dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan, Mbak Nia memoleskan tipis-tipis bedak tabur yang aman untuk kulit anak-anak di pipi mulus Jia, menambahkan sedikit blush on berwarna merah muda alami di tulang pipinya, serta mengoleskan pelembab bibir beraroma stroberi yang memberikan kilau manis pada bibir mungilnya. Tangan mahir Mbak Nia kemudian mulai menata rambut hitam lebat milik Jia. Rambut indah itu diangkat sebagian, digulung menjadi tatanan sanggul kecil yang amat anggun di bagian atas, sementara sisa gelombang rambutnya dibiarkan jatuh terurai di bahu kecilnya. Sebagai sentuhan akhir, sebuah mahkota tiara kecil berkilauan dari kristal tiruan disematkan dengan hati-hati di atas kepala Jia.

    Saat  cermin lipat berbingkai emas ditaruh tepat di hadapan wajahnya, mata bulat bening milik Aurelia Jia Elanora seketika membelalak lebar. Bocah kecil itu terpaku selama beberapa detik, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dipandangnya.

    “Mama… Mama!” seru Jia tiba-tiba dengan suara renyahnya yang melengking riang, memamerkan sepasang lesung pipit manis di kedua pipinya. “Lihat deh, Ma! Jia seperti putri raja yang ada di buku cerita dongeng yang sering Mama bacakan!”

    Arina yang sejak tadi berdiri bersandar di ambang pintu kamar—mengenakan gamis anggun berwarna krem senada dengan balutan hijab yang rapi—Seketika merasakan dadanya bergetar hebat. Air mata haru yang menumpuk di sudut matanya hampir saja menetes. Ia menyaksikan betapa bocah kecil yang dulu dilahirkannya di tengah tangisan dan rasa ketakutan akan masa depan, kini tumbuh menjadi sosok anak perempuan berusia enam tahun yang sangat cantik, sehat, dan dipenuhi binar kebahagiaan tanpa beban.

    Arina melangkah pelan mendekati kursi Jia. Ia merendahkan tubuhnya, berlutut di atas lantai kayu dingin di samping putri kecilnya, lalu menggenggam kedua jemari mungil Jia yang terasa halus. Arina mengecup pipi kanan dan pipi kiri Jia bergantian dengan penuh kelembutan seorang ibu yang cintanya tak pernah bertepi.

    “Jia bukan cuma mirip putri raja di dalam buku dongeng, Sayang…” bisik Arina dengan suara yang sedikit bergetar menahan haru, matanya menatap dalam-dalam ke dalam mata bulat milik anak tunggalnya. “Tapi Jia adalah putri paling cantik, paling pintar, dan paling berharga di seluruh dunia bagi Mama. Tidak ada pangeran atau kerajaan mana pun yang bisa menandingi indahnya senyum Jia hari ini. Selamat ulang tahun yang ke-enam ya, anak sholehah Mama. Semoga Jia panjang umur, selalu diberikan kesehatan oleh Allah, semakin pintar, dan tetap jadi anak yang lembut hatinya serta jadi kebanggaan Mama selamanya.”

    Jia menatap Mamanya dengan binar mata yang penuh cinta, lalu dengan cepat merengkuh leher Arina erat-erat. “Terima kasih, Mama cantik! Jia sayang banget sama Mama! Jia janji akan jadi anak yang paling pinter di sekolah!”

    Mbak Nia yang menyaksikan momen intim antara ibu dan anak tersebut tak sanggup menahan rasa harunya. Ia mengusap sudut matanya seraya tersenyum manis. “Mbak Arina, Jia ini benar-benar perpaduan sempurna. Cantik wajahnya, tapi yang paling mahal itu binar matanya… kelihatan sekali kalau dia dibesarkan dengan limpahan kasih sayang yang sangat luar biasa.”

    Arina hanya tersenyum tulus seraya mengangguk pelan, mengusap punggung Jia yang masih mendekapnya hangat.

    Menjelang pukul sebelas siang, suasana di luar rumah kontrakan Arina mulai berubah menjadi riuh dan semarak. Undangan yang disebarkan Arina ternyata disambut dengan antusiasme yang begitu tinggi. Para tetangga sekitar gang—mulai dari ibu-ibu yang dulu sering membagikan lauk pauk saat Arina masih dalam masa-masa sulit, hingga anak-anak kecil sebaya Jia—satu per satu mulai berdatangan. Tak ketinggalan, teman-teman sekolah tempat Jia belajar beserta orang tua mereka, serta Bu Rahma, guru favorit Jia, turut hadir mengenakan pakaian terbaik mereka.

    Ruang tamu dan halaman depan kontrakan yang telah dilapisi karpet merah bersih dan dinaungi tenda rakitan sederhana seketika dipenuhi oleh gelak tawa dan riuk-pikuk percakapan yang hangat. Udara Juni yang hangat seolah kalah menyengat dibanding semangat dan rasa persaudaraan yang mengudara di tempat itu.

    “Duh, Gusti… ini Jia ya? Pangling banget saya!” seru Bu RT yang baru saja melangkah masuk seraya membawa kado berbungkus kertas koran rapi. “Cantik banget kayak anak putri raja! Arina, kamu bener-bener luar biasa mendidik dan mengurus Jia sendirian sampai bisa sehebat dan sebahagia ini!”

    Ibu-ibu tetangga lainnya yang mengerumuni meja hidangan saling mengangguk setuju. Mereka yang menjadi saksi bisu bagaimana Arina dulu berjuang merangkak dari titik nol, menahan lapar demi menyuapi Jia, dan bekerja siang malam tanpa mengeluh sedikit pun, merasa sangat tersentuh melihat pemandangan hari ini. Tidak ada gurat kemiskinan atau penderitaan lagi di wajah Arina. Yang ada hanyalah sosok ibu yang mandiri, sukses, anggun, dan penuh dengan aura kebahagiaan.

    “Ayo ibu-ibu, anak-anak sekalian, silakan dinikmati hidangannya! Jangan malu-malu, semua ini dibuat khusus untuk merayakan hari bahagianya Jia!” seru Arina dengan suara ramahnya yang menggelegar hangat, mempersilakan para tamu yang hadir.

    Di atas meja panjang, tersaji mahakarya kuliner buatan tangan Arina sendiri yang menggugah selera. Di bagian tengah, berdiri kokoh sebuah kue ulang tahun bertingkat dua dengan hiasan krim warna krem dan pink, berhiaskan angka enam dari lilin emas yang berkilauan. Di sekeliling kue utama, tertata rapi piring-piring berisi puding buah segar berlapis kaca, risoles ragout ayam yang renyah dan gurih, pastel, mini burger, cangkir-cangkir es krim vanila dan stroberi, serta ratusan paket kantong hadiah berisi makanan ringan favorit anak-anak yang telah dikemas rapi dengan pita merah muda.

    Acara inti pun dimulai saat Bu Rahma memegang mikrofon kecil, berdiri di samping Jia dan Arina. Anak-anak kecil yang duduk bersila di atas karpet mendadak hening, mata mereka tertuju pada sosok Jia yang tampak begitu berkilau dengan tiara di kepalanya.

    “Anak-anak semuanya… hari ini kawan kita yang paling ramah, paling pintar, dan paling suka membantu, yaitu Aurelia Jia Elanora, sedang berulang tahun yang ke-enam!” seru Bu Rahma disambut sorak-sorai meriah dari anak-anak. “Mari kita bersama-sama menyanyikan lagu ulang tahun untuk Jia dengan suara yang paling keras dan paling ceria!”

    Lagu “Selamat Ulang Tahun” pun bergema hebat memecah langit siang bulan Juni. Semua orang yang hadir—anak-anak, ibu-ibu tetangga, hingga bapak-bapak yang berdiri di luar halaman—tepuk tangan serempak mengikuti irama lagu.

    Jia berdiri di samping Arina dengan wajah yang memerah karena malu sekaligus sangat gembira. Tangannya digenggam erat oleh jemari hangat Mamanya. Ketika lagu mencapai puncaknya dan semua orang berseru, “Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga!”, Jia memejamkan mata bulatnya sebentar, mengucapkan doa kecil di dalam hatinya yang polos, lalu memajukan bibir mungilnya dan menyemburkan napas kecil ke arah lilin angka enam di atas kue.

    Fuuuh!

    Api kecil pada lilin bernomor enam itu seketika padam, diiringi oleh asap tipis yang membumbung ke udara.

    Proooook! Yeay! Selamat ulang tahun Jia!

    Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana di dalam ruang tamu. Beberapa ibu tetangga bahkan terlihat mengusap air mata haru mereka menggunakan ujung kerudung. Arina langsung memeluk erat tubuh Jia dari samping, mencium pipinya yang hangat di tengah gemuruh tepuk tangan orang-orang yang mencintai mereka. Potongan kue pertama diberikan Jia kepada Mamanya, sebuah momen manis yang diabadikan oleh kamera ponsel para tetangga. Jia menyuapkan sepotong kecil kue berbalut krim lembut itu ke mulut Arina dengan jemari mungilnya.

    “Enak, Ma?” tanya Jia polos.

    “Enak banget, Sayang… kue terbaik yang pernah Mama rasakan sepanjang hidup Mama,” jawab Arina seraya mengusap sudut bibir Jia yang terkena sedikit krim.

    Usai sesi pemotongan kue dan makan bersama yang dipenuhi tawa renyah anak-anak, acara dilanjutkan ke segmen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua anak kecil di muka bumi: sesi unboxing atau membuka kado ulang tahun.

    Karpet merah di bagian tengah ruang tamu kini telah dipenuhi oleh tumpukan bungkusan kotak dan hadiah bersampul kertas kado warna-warni dengan berbagai ukuran. Ada yang berukuran kecil rapi, ada yang memanjang, hingga kado-kado berukuran besar yang dikirimkan oleh rekan-rekan bisnis Arina dari luar kota.

    Jia duduk bersimpuh tepat di tengah-tengah lautan kado tersebut. Gaun mewahnya dibiarkan menyapu karpet. Didampingi oleh Arina yang duduk santai di sampingnya seraya memegang gunting kecil, Jia mulai membuka bungkusan kado satu per satu dengan antusiasme yang begitu tinggi. Setiap kali kertas kado robek dan memperlihatkan isi di dalamnya, mata bulat Jia selalu berbinar-binar gembira, diiringi oleh teriakan riang yang memecah keseruan ruangan.

    Kado pertama yang dibuka berasal dari Bu Rahma. Ketika kertas sampul bermotif kartun itu terbuka, terlihat seperangkat alat menggambar super lengkap di dalam kotak kayu berengsel—terdiri dari pensil warna berbagai tingkat, cat air, kuas, dan dua buah buku mewarnai berukuran besar.

    “Wah! Mama, lihat! Ada cat airnya! Banyak sekali warnanya!” seru Jia dengan mata melebar gembira seraya memperlihatkan kotak kayu itu kepada Arina dan teman-temannya yang menonton di sekelilingnya.

    “Bilang apa sama Bu Rahma, Sayang?” bisik Arina lembut.

    Jia menoleh ke arah Bu Rahma yang tersenyum di dekat pintu. “Terima kasih banyak, Bu Rahma! Jia suka sekali!”

    Proses pembukaan kado berlanjut dengan penuh keseruan. Satu per satu bungkusan mengungkapkan kejutan-kejutan manis.

    Setiap kali membuka kado dan menemukan barang baru, Jia tak pernah lupa untuk bersorak girang seraya memamerkan hadiah tersebut kepada Mamanya. “Look Mama! Ini ada tempat pensil yang kalau dipencet tombolnya bisa keluar penghapusnya sendiri! Bagus bangett!”

    Arina tertawa renyah melihat tingkah polos putrinya. Namun, di tengah tumpukan kado warna-warni dari para tamu yang melimpah ruah itu, ada satu kado yang paling berharga, paling istimewa, dan telah disiapkan Arina dengan penuh linangan air mata kerinduan serta rasa syukur.

    Ketika semua kado dari para undangan selesai dibuka dan anak-anak lain mulai sibuk bermain dengan mainan baru mereka di sudut ruangan, Arina beranjak sebentar berdiri menuju kamar tidur. Beberapa saat kemudian, Arina kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus rapi menggunakan kain beludru berwarna merah hati dan terikat pita emas yang anggun.

    Arina duduk kembali di samping Jia. Ia meletakkan kotak beludru merah itu tepat di atas pangkuan putri kecilnya yang sedang memeluk boneka beruang.

    “Jia…” panggil Arina dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan dalam. “Ini kado khusus dari Mama untuk ulang tahun Jia yang ke-enam.”

    Jia menatap kotak beludru merah di pangkuannya dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi. “Dari Mama?”

    “Iya, Nak. Buka pelan-pelan ya,” ujar Arina seraya mengusap lembut tiara kecil di kepala Jia.

    Dengan jemari mungilnya yang bergetar penuh rasa ingin tahu, Jia menarik pita emas tersebut hingga terlepas, lalu perlahan menyingkap penutup kain beludru merah itu. Di dalam kotak yang dilapisi busa sutra putih tersebut, terbaring dua buah benda yang membuat napas siapa pun yang melihatnya tertahan.

    Benda pertama adalah sebuah perhiasan indah: liontin kalung emas murni berbentuk hati kecil berukir rumit. Di bagian tengah liontin emas berkilauan itu, terukir rapi nama lengkap putri kecilnya dengan font tulisan indah: Aurelia Jia Elanora.

    Namun, benda kedua di dalam kotak itulah yang memegang jiwa dan inti dari seluruh perjuangan Arina selama ini. Benda itu adalah sebuah album foto berukuran tebal dengan sampul kulit berwarna cokelat tua berukir klasik.

    “Mama… ini apa?” tanya Jia polos seraya menyentuh sampul kulit album foto tersebut.

    Dengan mata yang mulai berkaca-kaca dipenuhi air mata bahagia, Arina membawa tubuh mungil Jia ke dalam pangkuannya. Ia memangku Jia dari belakang, membimbing tangan kecil putrinya untuk membuka lembar demi lembar album foto tebal tersebut.

    Album foto itu bukan sekadar tumpukan kertas bergambar, melainkan sebuah rekam jejak visual, sebuah jejak sejarah perjuangan, dan bukti keabadian cinta seorang ibu bernama Arina dalam membesarkan Aurelia Jia Elanora.

    Di lembaran paling awal, terdapat foto hitam-putih hasil pencitraan USG saat Jia masih berada di dalam kandungan Arina—sebuah titik kecil di dalam rahim seorang wanita yang saat itu sedang hancur hatinya karena dikhianati suami.

    Di lembaran berikutnya, terpasang foto bayi Jia yang baru lahir dengan kulit merah bersih, terbungkus kain bedong di sebuah rumah sakit. Lalu ada foto-foto Jia saat masih balita ketika mereka masih tinggal di rumah megah milik Husni.

    Saat membalik halaman berikutnya, suasana foto berubah. Terlihat foto-foto kesederhanaan mereka di rumah kontrakan lama: foto Jia kecil yang bermain dengan sendok kayu di lantai semen saat Mamanya sedang memasak pesanan katering malam-malam, foto Jia saat pertama kali belajar berjalan di lorong gang sempit, hingga foto-foto terbaru ketika Jia mulai masuk sekolah dengan seragam barunya yang rapi. Setiap foto ditempeli tanggal, catatan kecil, dan hiasan stiker bunga yang ditempel Arina dengan sangat telaten.

    Di halaman paling depan album foto tebal itu, tepat di bawah foto Jia yang tersenyum manis mengenakan pakaian ultah hari ini, Arina telah menuliskan sebuah pesan panjang menggunakan tinta emas berkaligrafi indah:

    “Untuk putri tunggalku, lentera jiwaku, Aurelia Jia Elanora.

    Hari ini usiamu genap enam tahun, Nak. Enam tahun yang lalu, saat pertama kali Mama mendengar jerit tangismu di ruang bersalin, Mama berjanji pada langit dan bumi bahwa Mama akan melindungimu dengan seluruh napas yang Mama miliki.

    Setiap detik perjuangan Mama, setiap tetes cucuran keringat yang jatuh di malam hari, setiap rasa lelah yang menghantam tubuh Mama, dan setiap doa yang Mama bisikkan di atas sejadah sepertiga malam… semuanya adalah demi melihat senyum manis dan lesung pipit di wajahmu ini.

    album ini adalah bukti bahwa kamu tidak pernah sendiri. Kita telah melewati badai tergelap bersama-sama, dan kita berhasil keluar sebagai pemenang.

    Tetaplah tumbuh menjadi anak yang penuh kasih sayang, memiliki jiwa yang kuat, santun kepada sesama, dan berhati emas. Jangan pernah takut menatap masa depan, karena cinta Mama akan selalu membentang menjadi pelindung di mana pun kamu melangkah.

    Mama menyayangimu melampaui batas waktu dan semesta.

    Peluk hangat selamanya, Mamamu, Arina.”

    Jia yang membaca tulisan tersebut—meski belum sepenuhnya memahami setiap kata rumit di dalamnya—dapat merasakan getaran cinta yang begitu dahsyat meluap dari tulisan tangan ibunya. Bocah enam tahun itu menoleh ke belakang, menatap wajah Arina yang kini telah dibasahi oleh air mata bahagia yang menetes pelan di pipinya.

    Jia membalikkan tubuhnya, merengkuh leher Arina dengan kedua lengan kecilnya sekencang yang ia bisa. Ia menyandarkan kepalanya di bahu hangat ibunya, membiarkan mahkota tiara kecilnya menyentuh pipi Arina.

    “Mama… terima kasih…” bisik Jia dengan suara kecilnya yang polos namun begitu tulus. “Jia janji akan simpan album ini selamanya. Jia sayang banget… banget… banget sama Mama.”

    Arina memeluk tubuh mungil dalam balutan gaun krem keemasan itu erat-erat, memejamkan matanya seraya hirup dalam-dalam wangi minyak telon dan aroma stroberi yang menempel pada tubuh anak tunggalnya. Di luar kontrakan, matahari bulan Juni bergerak pelan menuju sore hari, membiaskan cahaya keemasan yang hangat menyusup lewat jendela ruang tamu, menerangi ibu dan anak yang saling memeluk di tengah tumpukan kado, bunga, dan cinta yang melimpah.

    Pesta ulang tahun ke-enam bagi Aurelia Jia Elanora itu pun berakhir dengan keindahan yang sempurna. Pesta itu bukan hanya menutup masa-masa sulit perjuangan mereka di masa lalu, tetapi juga terpatri menjadi sebuah monumen kenangan paling indah, paling hangat, dan paling abadi yang pernah diukir dalam lembaran hidup Arina dan putri kecilnya—sebuah memori manis yang akan terus membekas di dalam jiwa Jia hingga ia tumbuh dewasa kelak.

     

     

    Kreator : Naira Azzahra

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 7. PESTA BULAN JUNI

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021