KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 5. LANGKAH KECIL DAN JAJANAN PERTAMA

    BAB 5. LANGKAH KECIL DAN JAJANAN PERTAMA

    BY 05 Nov 2026 Dilihat: 6 kali
    KILAU YANG SEMU_alineaku

    Waktu bergulir bagai air yang mengalir tenang namun tak pernah berhenti. Lima tahun telah berlalu sejak badai pengkhianatan dan perceraian yang menghancurkan masa depan Arina. Kontrakan kecil beratap seng di pinggiran kota itu kini bukan lagi sekadar tempat bernaung, melainkan saksi bisu tumbuh kembang seorang anak manusia yang dibesarkan penuh cinta dan kesabaran di tengah keterbatasan.

    Mengurus seorang bayi hingga menjadi balita sendirian tanpa dampingan suami bukanlah perkara mudah bagi Arina. Di tahun-tahun awal pasca perceraian, harinya dipenuhi oleh ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Saat Jia masih berusia beberapa bulan, Arina sering terbangun di sepertiga malam karena tangisan sang bayi yang demam tinggi usai imunisasi. Dengan mata yang sembab dan tubuh yang letih usai seharian bekerja di kantor, Arina menyeka dahi Jia dengan kain hangat, memangkunya berjam-jam sambil mengayunkan tubuhnya pelan, dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga Jia kembali tertidur lelap di dada hangatnya.

    Arina melewati masa-masa emas balita Jia dengan kesabaran yang tak terhingga. Saat Jia belajar merangkak dan mulai aktif mengeksplorasi setiap sudut kontrakan sempit mereka, Arina harus membagi fokusnya antara menyiapkan popok kain, memasak Bubur Pendamping ASI (MPASI) secara mandiri agar gizinya terjaga, hingga merawat Jia yang sering mengalami batuk pilek. Arina menolak merasa lelah. Setiap fase tumbuh kembang Jia—mulai dari tumbuh gigi pertama, langkah kaki pertamanya yang sempoyongan di atas kasur busa, hingga ucapan kata “Mama” yang pertama kali keluar dari bibir mungilnya—dilewati Arina dengan linangan air mata haru dan rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Maha Pencipta.

    Kesabaran dan kelembutan Arina mendidik Jia di masa balita itu membuahkan hasil yang sangat indah. Jia tumbuh menjadi bocah perempuan berusia empat setengah tahun yang sangat cerdas, aktif, dan bertutur kata lembut. Wajahnya adalah perpaduan keindahan fisik dan ketenangan jiwa Arina. Di usia sekecil itu, Jia tumbuh menjadi anak yang sangat peka terhadap keadaan ibunya. Ia tidak pernah menangis menjerit-jerit meminta barang mahal atau mengamuk seperti anak-anak sebayanya. Bagi Jia, pelukan hangat Mamanya di malam hari adalah dunia yang sudah lebih dari cukup.

    Pagi itu, mentari menyusup di antara celah ventilasi udara kontrakan mereka. Arina sibuk menyisir rambut hitam Jia yang halus lalu mengikatnya menjadi dua kuncir mungil berhias pita merah sederhana. Hari ini adalah hari pertama Jia resmi masuk Taman Kanak-Kanak (TK) Islam Terpadu yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah kontrakan mereka.

    “Nah, anak Mama yang cantik sudah siap sekolah,” ujar Arina seraya mengecup kedua pipi mulus Jia.

    Jia tersenyum lebar hingga memamerkan deretan gigi susunya yang putih bersih. Ia merapikan seragam TK warna hijau muda dan putih yang melekat manis di tubuh kecilnya. Tas punggung bergambar kartun kelinci—yang dibeli Arina dari pasar kaget mingguan—terikat rapi di pundak mungilnya.

    “Mama, Jia nanti punya banyak teman ya di sekolah?” tanya Jia dengan suara kekanak-kanakan yang amat bening.

    “Iya, Sayang. Di sekolah nanti Jia bakal punya banyak teman, belajar mewarnai, membaca doa, dan main bersama Bu Guru,” sahut Arina lembut. Tangannya mengusap lembut kening Jia, menyelipkan doa-doa keselamatan di dalam hatinya.

    “Jia harus jadi anak yang penurut ya, Ma? Nggak boleh nakal,” tutur bocah itu polos.

    Arina tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. Ia merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Rasa lelah yang menumpuk di pundaknya seolah menguap begitu saja setiap kali mendengar tutur kata luhur dari putri tunggalnya.

    Namun, realitas kehidupan orang tua tunggal tak pernah benar-benar ramah.

    Usai mengantar dan menunggu Jia hingga jam pelajaran TK usai, Arina bergegas menaiki sepeda motor matiknya menuju kantor tempat ia bekerja. Sebagai Manajer Operasional, Arina dibebani tanggung jawab besar untuk menjaga kelangsungan hidup showroom mobil mewah tersebut.

    Kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih membuat penjualan kendaraan roda empat kelas atas merosot tajam. Hari-hari Arina di kantor diisi dengan ketegangan yang menguras emosi. Showroom berpendingin udara yang megah dan beralaskan keramik mengilap itu kini terasa teramat dingin dan hampa. Jajaran mobil sedan premium dan SUV mewah berwarna hitam elegan hanya terparkir membisu tanpa terjamah jemari calon pembeli.

    Satu per satu salesman dan staf administrasi mengeluhkan sepinya calon pembeli. Dalam seminggu, kadang hanya ada dua atau tiga pengunjung yang sekadar datang untuk melihat-lihat atau meminta brosur tanpa pernah melakukan pemesanan unit.

    “Bu Arina, laporan komisi penjualan bulan ini turun drastis lagi,” ujar Siska, saat menyerahkan map tebal di meja kerja Arina. Wajah Siska tampak muram. “Direksi pusat terus menanyakan target kuartal ini. Kalau begini terus, bonus operasional kita bisa-bisa dihapus.”

    Arina memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia menatap deretan angka finansial di atas meja. Pendapatannya kini murni bergantung pada gaji pokok yang pas-pasan tanpa lagi ditopang bonus penjualan seperti tahun-tahun lalu. Sementara di sisi lain, biaya kontrakan, kebutuhan pokok, serta biaya pendidikan TK Jia mulai menagih kepastian setiap bulannya.

    “Terima kasih, Siska. Nanti saya yang akan menyusun strategi promosi baru dan menyampaikannya langsung ke direksi,” jawab Arina berusaha tenang, mencoba mengalirkan energi positif pada timnya meski dadanya sendiri bergemuruh cemas.

    Hingga sore menjelang dan lampu pameran dimatikan, Arina duduk sendirian di meja kerjanya. Suasana kantor begitu hening. Dalam kesendirian itu, bayangan kelelahan fisik dan beban finansial kerap hinggap menghantui pikirannya. Namun, Arina menolak menyerah. Ia tahu bahwa setiap tetes keringat yang ia keluarkan secara jujur adalah makanan halal bagi darah dan daging Jia.

    Sore hari, usai menjemput Jia dari rumah tetangga yang dititipi sementara setelah jam sekolah selesai, Arina mengajak Jia berjalan kaki menyusuri trotoar menuju toko kelontong di simpang jalan untuk membeli beras dan telur.

    Udara sore bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah sisa hujan gerimis. Jia berjalan kecil seraya menggenggam erat telunjuk tangan kanan Arina. Langkah-langkah kecilnya yang bersemangat membuat rok seragam TK-nya berayun-ayun manis.

    Saat mereka melintasi depan sebuah minimarket modern yang terang benderang dengan pintu kaca otomatis, Jia mendadak menghentikan langkahnya. Matanya yang bulat menatap lurus ke balik kaca transparan toko tersebut.

    Di sana, tepat di dekat kasir, terpajang rak khusus jajanan anak-anak bernuansa warna-warni cerah: cokelat kotak kemasan mewah, es krim manis dengan gambar buah segar, serta mainan rakitan plastik dalam kemasan telur kejutan yang sedang viral di kalangan anak-anak TK.

    Beberapa anak sebayanya tampak keluar dari minimarket itu bersama orang tua mereka, memegang kantong plastik berisi aneka jajanan lezat dan es krim cone yang memikat.

    Arina merasakan hentikan langkah putri kecilnya. Ia ikut berhenti dan berjongkok di samping Jia, menyejajarkan posisinya dengan mata sang anak. Arina mengamati tatapan Jia yang tertuju pada rak cokelat dan es krim tersebut.

    Hati Arina terasa teriris. Di dalam dompetnya saat ini, ia hanya memiliki dua lembar uang lima puluh ribu rupiah yang dihematnya erat-erat untuk membeli beras lima kilogram dan kebutuhan makan mereka hingga akhir pekan. Jika ia membelikan makanan manis dan mainan mahal itu, jatah belanja bahan pokok mereka akan terancam berkurang.

    Arina mengusap lembut bahu mungil Jia. “Jia… Jia mau es krim atau cokelat itu, Sayang?” tanya Arina halus, siap mengalah dan menggunakan sisa pegangan uangnya demi menyunggingkan senyum di bibir sang putri.

    Jia menoleh menatap Mamanya. Bocah lima tahun itu melihat raut wajah Mamanya yang letih, melihat bekas lingkaran hitam di bawah mata Arina yang kelelahan usai bekerja seharian. Jia kemudian mengalihkan pandangannya sebentar ke arah rak minimarket yang berkilauan, lalu kembali menatap mata Arina dengan senyuman paling polos dan tulus yang pernah ada.

    Genggaman jemari mungilnya pada telunjuk Arina makin dieratkannya.

    “Nggak usah, Mama,” jawab Jia pelan dengan suara menggemaskan. Ia menggeser tubuhnya menyender ke lengan Arina. “Jia nggak mau jajan es krim. Jia mau makan nasi goreng buatan Mama saja di rumah. Nasi goreng Mama kan paling enak di seluruh dunia!”

    Arina tertegun membisu. Kata-kata sederhana yang keluar dari bibir mungil bocah lima tahun itu mendarat tepat di relung jiwanya yang paling dalam. Tidak ada rautan kekecewaan, tidak ada rengekan manja, tidak ada tatapan iri pada anak-anak lain. Yang ada hanyalah pancaran kasih sayang yang begitu murni dari seorang anak yang seolah mengerti betapa berat perjuangan ibunya.

    Air mata Arina tak sanggup ditahannya lagi. Pelan-pelan, bulir air mata hangat menetes menyusuri pipinya. Arina merengkuh Jia ke dalam pelukannya yang erat di tepi trotoar jalan sore itu. Ia menciumi kepala putrinya, menghirup aroma minyak telon dan keringat anak-anak yang terasa begitu suci.

    “Makasih ya, anak pintar… Anak sholehah Mama…” bisik Arina parau di balik tangis harunya. “Suatu hari nanti, Mama janji… Mama bakal belikan Jia jajanan yang paling enak dan paling banyak. Mama janji, Sayang.”

    Jia menepuk-nepuk punggung Mamanya dengan tangan kecilnya. “Iya Mama, Jia janji bakal jadi anak pinter biar Mama nggak capek lagi.”

    Sore itu, di balik temaram cahaya lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, Arina bangkit berdiri kembali. Rasa lelah, cemas, dan ketakutan akan beban hidup yang menghimpitnya seketika sirnah digantikan oleh gelombang kekuatan baru yang sangat dahsyat. Di dalam genggaman tangan mungil Jia, Arina menemukan alasan utamanya untuk terus berdiri tegak, melawan setiap badai ujian, dan membuktikan bahwa kejujuran serta kasih sayang seorang ibu akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju kemenangan.

     

     

    Kreator : Naira Azzahra

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 5. LANGKAH KECIL DAN JAJANAN PERTAMA

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021