KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 2. MANISNYA MASA MENANTI

    BAB 2. MANISNYA MASA MENANTI

    BY 05 Nov 2026 Dilihat: 7 kali
    KILAU YANG SEMU_alineaku

    Memasuki bulan kedua kehamilan Arina, suasana di dalam rumah megah dua lantai itu benar-benar berubah. Jika sebelumnya rumah tersebut dipenuhi oleh ritme kehidupan dua insan pekerja keras yang serba cepat, kini segalanya bergerak lebih lambat, lebih lembut, dan dipenuhi oleh kehangatan yang melelehkan hati. Husni benar-benar membuktikan janjinya. Bagi pria itu, Arina bukan hanya seorang istri, melainkan amanah bernilai tinggi yang di dalam rahimnya tersimpan masa depan keluarga mereka.

     

    Suatu pagi di hari Selasa, bayangan sinar matahari terbit menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama. Cahaya keemasan itu menyinari kamar yang tenang dan harum aroma terapi lavender. Arina baru saja selesai menunaikan sholat Dhuha dua rakaat di sudut kamar. Ia sedang melipat sajadah dan merapikan hijab instan bahan kaos yang nyaman untuk dipakai bersantai di rumah ketika pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Husni yang baru saja selesai berwudhu.

     

    Husni menyisir rambut hitamnya yang basah dengan jemari, lalu berjalan mendekati Arina. Wajah pria itu tampak segar. Ia tidak langsung mengenakan jas mewahnya seperti biasa. Pagi ini, Husni hanya mengenakan kemeja katun santai dengan lengan yang digulung hingga ke siku.

     

    “Sudah sholat Dhuha, Bidadariku?” tanya Husni dengan suara berat khas yang terdengar sangat hangat di telinga Arina.

    Arina mendongak, menyunggingkan senyum manis yang selalu berhasil membuat lelah Husni sirna. 

    “Sudah, Mas. Mas kok belum rapi-rapi? Bukannya ada jadwal bertemu klien jam delapan pagi ini?”

    Husni tidak langsung menjawab. Ia justru berlutut di hadapan Arina yang sedang duduk di tepi ranjang. Tangan kanan Husni yang hangat terulur, mengusap lembut perut Arina yang masih tampak rata di balik gamis rumahan berwarna krem.

    “Jadwalnya Mas undur jadi jam sepuluh,” bisik Husni pelan. Matanya menatap perut Arina dengan binar keharuan yang tak pernah pudar sejak hari pertama mereka tahu tentang kehamilan itu. 

    “Mas mau memastikan kamu sarapan dengan benar dulu. Kemarin malam kamu muntah lagi, kan? Mas khawatir kalau ditinggal pagi-pagi begini.”

    “Mas… aku ini cuma mual hamil muda biasa, bukan sakit parah,” kekeh Arina sambil mengusap pipi suaminya yang ditumbuhi brewok tipis nan rapi. 

    “Klien Mas itu investor penting dari Surabaya, jangan dibiasakan menunda rapat cuma karena khawatir berlebihan padaku.”

    “Bagi Mas, tidak ada investor yang lebih penting daripada kesehatan istri dan anak Mas,” tegas Husni penuh kesungguhan. Ia berdiri, lalu mengecup kening Arina cukup lama hingga Arina memejamkan mata, meresapi rasa kasih sayang yang begitu pekat.

    Husni kemudian melangkah ke arah meja kecil di sudut kamar. Di sana sudah tertata nampan kayu yang telah ia siapkan sendiri sebelum Arina bangun. Di atas nampan itu terdapat semangkuk sup ayam kampung hangat dengan potongan wortel dan kentang, segelas susu khusus ibu hamil rasa cokelat yang masih mengepulkan uap tipis, serta setangkai bunga mawar merah segar yang dipetik langsung dari taman belakang rumah mereka.

     

    Di samping cangkir susu, terselip selembar kertas kecil berwarna merah muda. Arina meraih kertas itu dan membaca tulisan tangan Husni yang rapi dan tegas:

     

    “Untuk Ibunda dari calon anakku, Semoga sup hangat ini bisa meredakan rasa mual di perutmu pagi ini. Jangan lupa diminum vitamin dari dokter ya, Sayang. Ingat, setiap hela napasmu dan setiap rasa lelahmu saat mengandung adalah pahala menggugurkan dosa. Aku mencintaimu dan calon debay kita karena Allah.

    – Suamimu, Husni.”

     

    Mata Arina berkaca-kaca membaca pesan singkat itu. Dada wanita itu berdesir hangat oleh rasa syukur yang membuncah. Di saat banyak suami yang menyerahkan sepenuhnya urusan kehamilan dan kebutuhan gizi kepada istri atau asisten rumah tangga, Husni justru mengambil alih hal-hal kecil tersebut dengan tangannya sendiri. Pria yang di luar sana memimpin puluhan rapat penting dan mengelola aset miliaran rupiah itu, di dalam rumah rela berdiri di depan kompor pagi-pagi sekali hanya untuk memastikan sup ayam buatan tangannya pas di lidah sang istri.

    “Mas… terima kasih ya,” ucap Arina, menatap suaminya yang kini duduk di sampingnya seraya mengambil mangkuk sup.

    “Jangan cuma bilang terima kasih, ayo dihabiskan. Mas suapin, ya?” tawar Husni manis. Ia menyendokkan sup hangat, menyuapnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkannya ke mulut Arina.

    Arina menerima suapan itu dengan hati berbunga-bunga. Rasa sup yang pas dan hangat perlahan menenangkan gejolak mual di lambungnya. Sepanjang pagi itu, kamar mereka dipenuhi tawa kecil dan obrolan hangat tentang masa depan calon bayi mereka—mengenai kamar bayi yang ingin didesain warna apa, hingga nama-nama Islami yang mulai Husni catat di buku catatan pribadinya.

     

    Perhatian dan keromantisan Husni tak berhenti pada urusan sarapan. Husni juga membuat aturan ketat di kantor Arina. Ia menyempatkan diri datang ke kantor dealer mobil tempat istrinya bekerja hanya untuk berbicara secara pribadi dengan jajaran staf dan sekretaris Arina.

    “Tolong pastikan Bu Arina tidak mengangkat dokumen yang berat, tidak naik turun tangga terlalu sering, dan pastikan jam satu siang beliau sudah makan siang,” pesan Husni kepada staf Arina hari itu dengan nada tegas namun sopan.

    Sore harinya, sekitar pukul empat, Arina baru saja menyelesaikan rapat evaluasi penjualan mobil bulanan. Ketika ia berjalan kembali ke ruangan kerjanya sambil memegang berkas laporan, ia dikejutkan oleh sosok pria yang berdiri di dekat meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung dan celana bahan katun berwarna hitam.

    “Mas Husni?” panggil Arina terperanjat. “Kok sudah ada di sini? Bukannya jadwal Mas selesai jam lima sore?”

    Husni langsung menoleh. Begitu melihat Arina, senyum hangat langsung terbit di wajah tampannya. Ia melangkah mendekati istrinya, mengambil alih tumpukan berkas yang dipegang Arina tanpa meminta izin terlebih dahulu.

    “Mas memajukan semua jadwal rapat sore ini, Rin,” ujar Husni santai seolah membatalkan janji bisnis adalah hal sepele. Ia menyambut tangan kanan Arina, mengecupnya lembut di hadapan beberapa karyawan yang tersenyum-senyum melihat keromantisan bos mereka.

    “Mas, ini kan masih jam kerja…” bisik Arina malu-malu, pipinya memerah di balik hijab ungu muda yang dikenakannya.

    “Jam kerja Mas sudah selesai,” balas Husni sambil mengedipkan sebelah matanya. “Ayo kita pulang. Mas sudah minta Bi Nah menyiapkan es buah kesukaanmu di rumah.”

    Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil yang dikemudikan supir, Husni tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Arina. Ia memangku tangan istrinya, sesekali mengusap punggung tangan Arina dengan ibu jarinya.

    “Mas,” panggil Arina pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Husni. “Aku merasa bersalah. Karena kehamilanku, pekerjaan Mas di perusahaan investasi jadi sering terbengkalai, ya?”

    Husni menoleh, lalu mencium puncak kepala Arina yang tertutup kain hijab dengan penuh kelembutan. 

    “Kenapa bicara begitu? Perusahaan dan harta itu cuma titipan, Rin. Kalau Mas fokus cari uang tapi mengabaikan kamu dan calon anak kita, untuk apa semua harta itu? Kebahagiaan kalian berdua itu kunci rezeki Mas. Makin Mas membahagiakan kamu, Mas yakin Allah akan makin mudahkan urusan pekerjaan Mas.”

    Jawaban Husni yang begitu bijak dan sarat akan nilai-nilai agama membuat Arina makin mengagumi sosok suaminya. Pria ini tidak hanya tampan dan kaya raya, tetapi juga memiliki kedalaman agama dan kasih sayang yang tulus.

    Malam harinya, kehangatan itu berlanjut. Usai menunaikan sholat Isya berjamaah di mushola rumah mereka, Arina merasakan pegal yang luar biasa di bagian pinggang dan pangkal paha. Efek perubahan hormon dan perkembangan rahim di usia hamil muda mulai membuat tubuhnya terasa serba salah saat berbaring.

    Arina mencoba mengubah posisi tidurnya berkali-kali. Ia mencoba miring ke kiri, lalu ke kanan, namun rasa pegal di punggungnya tak kunjung hilang. Husni yang sedang membaca dokumen bisnis di sofa kamar langsung menyadari kegelisahan istrinya. Ia meletakkan berkas-berkas itu di meja, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

    “Kenapa, Sayang? Pinggangnya sakit lagi?” tanya Husni lembut sambil duduk di tepi ranjang.

    “Iya, Mas… Agak pegal di bagian belakang. Miring salah, terlentang juga serba salah,” aduh Arina pelan dengan wajah agak meringis.

    Tanpa mengucap sepatah kata pun, Husni beranjak ke kamar mandi dan kembali membawa botol minyak zaitun hangat serta selembar handuk kecil. Ia menggulung sedikit bagian bawah gamis tidur Arina dan meminta istrinya berbaring miring membelakanginya.

    “Mas pijat pelan-pelan, ya. Jangan ditahan kalau kesakitan,” tutur Husni halus.

    Dengan penuh ketelatenan, jemari tangan Husni yang besar dan hangat mulai memijat lembut area punggung bawah dan pinggang Arina. Ia meneteskan minyak zaitun secukupnya, mengusapnya dengan gerakan memutar yang sangat hati-hati. Rasa hangat dari minyak dan tekanan lembut dari tangan Husni perlahan-lahan meredakan ketegangan otot di punggung Arina.

    “Enak, Mas… Masya Allah, pas banget pijatannya,” bisik Arina sambil memejamkan mata, merasakan kenyamanan yang luar biasa.

    “Alhamdulillah kalau terasa nyaman,” sahut Husni seraya terus memijat tanpa raut wajah lelah sedikit pun. “Kalau nanti malam terbangun dan pegal lagi, langsung bangunkan Mas, ya. Jangan ditahan sendiri.”

    “Mas nanti capek. Padahal Mas sendiri seharian sudah kerja keras di kantor,” kata Arina merasa iba melihat suaminya yang masih mengenakan kemeja kerja merawatnya dengan telaten.

    Husni tersenyum, lalu menunduk untuk mengecup bahu Arina dari balik pakaian tidurnya. “Capeknya Mas langsung hilang begitu lihat kamu bisa tidur nyenyak, Rin. Bagi suami, melayani istri yang sedang berjuang mengandung buah hatinya itu adalah kehormatan besar.”

    Ujian keromantisan dan kesabaran Husni kembali diuji pada suatu malam di bulan ketiga. Malam itu sekitar pukul dua dini hari, ketika seluruh isi rumah terlelap dalam kesunyian, Arina mendadak terbangun. Perutnya tidak mual, tetapi lidahnya mendadak mengidamkan sesuatu yang sangat spesifik dan tak masuk akal untuk dicari di tengah malam.

    Arina menginginkan buah mangga muda asam yang dipadukan dengan bumbu rujak kacang yang manis dan pedas. Rasa ngidam itu begitu kuat hingga membayangi pikirannya dan membuat matanya tak bisa dipejamkan lagi.

    Arina menoleh ke samping. Husni sedang tidur tertidur lelap dengan napas yang teratur. Wajah suaminya tampak agak lelah setelah seharian menghadiri tiga rapat di tempat berbeda. Arina merasa sangat ragu untuk membangunkan suaminya hanya demi sebuah keinginan ngidam yang konyol.

    Arina mencoba memejamkan mata dan mengabaikan rasa inginnya, namun bayangan kesegaran mangga muda itu justru makin menjadi-jadi. Tanpa sengaja, Arina mendesah agak keras seraya mengubah posisi duduknya.

    Suara desahan pelan itu ternyata cukup untuk membuat Husni terbangun. Pria itu langsung membuka matanya, duduk tegak, dan menatap Arina dengan pandangan siaga.

    “Rin? Kenapa? Ada yang sakit? Perutnya mules?” tanya Husni bertubi-tubi dengan suara khas bangun tidur, matanya langsung tertuju pada perut istrinya.

    Arina merasa bersalah. “Enggak, Mas… Enggak ada yang sakit. Maaf ya, aku bikin Mas terbangun.”

    Husni mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk mengumpulkan kesadaran, lalu merangkul bahu Arina. “Lalu kenapa terbangun jam dua malam begini, Sayang? Ada yang dipikirkan?”

    Arina menunduk. “Aku… aku mendadak pengen makan sesuatu, Mas.”

    “Pengen makan apa? Bi Nah masih ada di kamar belakang, atau mau Mas buatkan sesuatu di dapur?” tanya Husni sigap.

    “Aku pengen mangga muda… disiram bumbu rujak manis pedas,” ucap Arina pelan hampir tak terdengar. “Tapi ini kan jam dua malam, Mas. Nggak mungkin ada penjual buah yang buka. Udah deh, abaikan aja. Aku tidur lagi aja.”

    Husni terkekeh pelan, tawa renyah yang terdengar sangat manis di kegelapan kamar. Ia mengusap kepala Arina dengan gemas.

    “Kenapa harus ditiadakan kalau Bidadariku dan calon anakku yang minta?” ujar Husni santai. Ia langsung menyibakkan selimut, turun dari ranjang, dan berjalan menuju lemari pakaian.

    “Mas! Mas mau ke mana?” tanya Arina kaget melihat suaminya meraih jaket tebal dan kunci mobil.

    “Cari mangga muda dan bumbu rujak lah,” jawab Husni sambil mengenakan jaketnya.

    “Tapi ini jam dua malam, Mas Husni! Dimana mau cari mangga muda jam segini? Jangan aneh-aneh, Mas, besok pagi saja!” cegah Arina cemas.

    Husni berjalan mendekati Arina, berlutut di samping ranjang lalu menggenggam kedua tangan istrinya. Matanya menatap Arina dengan penuh kehangatan dan rasa cinta yang meluap-luap.

    “Pasar induk buah buka 24 jam, Rin. Mas bakal keliling ke sana sampai dapat. Kamu tunggu di rumah, sholat Tahajud atau istirahat. Mas janji enggak akan pulang sebelum bawa mangga muda untuk kamu,” tutur Husni mantap. Ia mengecup dahi Arina, lalu mengusap perut istrinya pelan. “Debay, tunggu Papa sebentar ya, Papa carikan makanan buat Mama.”

    Tanpa membuang waktu, Husni melangkah keluar kamar di tengah dinginnya udara malam. Arina terpaku di tepi ranjang. Matanya meneteskan air mata haru. Ia tidak pernah membayangkan ada seorang pria yang begitu tulus mengasihinya, yang rela menembus dinginnya malam kota hanya demi menuruti keinginan kecil dari kehamilannya.

    Hampir satu setengah jam berlalu, pintu kamar terdengar terbuka. Arina yang sedang duduk bersila di atas sajadah usai menunaikan sholat Tahajud langsung menoleh ke arah pintu.

    Husni berdiri di ambang pintu. Wajahnya agak pucat terkena angin malam, dan rambutnya sedikit berantakan. Namun, di tangan kanannya, ia memegang sebuah kantong plastik bening berisi buah mangga muda yang sudah dikupas dan dipotong rapi, serta satu wadah kecil berisi bumbu rujak kacang yang masih segar.

    Senyum merekah lebar di wajah Husni saat memamerkan kantong plastik itu. “Dapat, Sayang! Mas tadi sempat minta tolong penjual di pasar induk untuk kupaskan sekalian supaya kamu bisa langsung makan.”

    Arina berdiri dari sajadahnya, berlari kecil dan langsung menghambur ke dalam pelukan Husni. Ia memeluk pinggang suaminya erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang Husni yang masih terasa dingin oleh udara malam.

    “Mas… kamu nekat banget. Terima kasih banyak ya, Mas… Terima kasih,” bisik Arina terisak pelan karena rasa haru yang tak tertahankan.

    Husni membalas pelukan itu dengan erat, mengusap punggung Arina dengan penuh kelembutan. “Sama-sama, Bidadariku. Apapun demi senyuman kamu dan kesehatan calon buah hati kita.”

    Malam itu, di dalam kamar yang hangat, Arina menikmati setiap gigitan mangga muda berbalut bumbu rujak dengan perasaan gembira yang luar biasa. Husni duduk di sampingnya, mengamati setiap ekspresi gembira di wajah istrinya sambil tersenyum puas, seolah rasa lelah dan dinginnya malam sirna begitu saja.

    Bulan-bulan awal kehamilan itu dilalui Arina bagaikan sebuah mimpi indah yang tak ingin ia akhiri. Kehangatan, kasih sayang, perhatian, dan bimbingan agama dari Husni benar-benar membentengi rumah tangga mereka dengan kebahagiaan yang sempurna. Arina merasa dialah wanita paling beruntung di muka bumi ini.

    Namun, Arina tidak pernah tahu bahwa masa-masa manis dan penuh limpahan kasih sayang ini adalah puncak tertinggi dari keharmonisan mereka—sebelum sebuah badai misterius yang tak terduga mulai berhembus pelan, siap menguji ketahanan cinta dan kepercayaan di antara mereka.

     

     

    Kreator : Naira Azzahra

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 2. MANISNYA MASA MENANTI

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021