KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 4. TANGISAN PERTAMA DAN PENGKHIANATAN

    BAB 4. TANGISAN PERTAMA DAN PENGKHIANATAN

    BY 05 Nov 2026 Dilihat: 6 kali
    KILAU YANG SEMU_alineaku

    Empat bulan berlalu sejak tragedi hilangnya uang kantor dan perhiasan di brankas kamar. Meskipun Husni telah mengganti seluruh kerugian uang kantor Arina dengan cara yang sangat mudah,  rasa ganjal di sudut hati Arina tak pernah benar-benar sirnah. Ada sesuatu yang janggal, sebuah teka-teki yang menggantung di udara, namun Arina memilih mengubur dalam-dalam segala prasangka buruk itu. Demi janin yang dikandungnya, demi kesehatan mentalnya, dan demi kedamaian rumah tangga mereka, Arina berusaha memfokuskan seluruh jiwa dan raganya untuk menantikan hari kelahiran sang buah hati.

    Malam itu, di sebuah ruang bersalin rumah sakit swasta bernuansa Islami yang tenang, udara terasa sangat dingin bercampur aroma antiseptik dan ketegangan yang kian membuncah. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Suara napas Arina terdengar berat, naik-turun dalam ritme yang tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi dahi, leher, dan lipatan hijab khusus persalinan yang dikenakannya. Kontraksi hebat menyerang perut bawahnya setiap dua menit sekali, memberikan rasa sakit luar biasa yang seolah mematahkan pinggulnya.

    Di samping ranjang, Husni berdiri dengan setia. Pria itu mengenakan pakaian steril, wajahnya dipenuhi raut cemas yang begitu nyata. Tangan kanannya menggenggam erat jemari Arina yang dingin dan bergetar. Ibu jari Husni tak berhenti mengusap punggung tangan istrinya, sementara bibirnya berbisik tanpa henti tepat di samping telinga Arina, melantunkan selawat, ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan doa-doa penguat jiwa.

    “Ayo Sayang… bertahan, ya. Bismillah, Allah bersamamu, Mas di sini menemani kamu…” bisik Husni dengan suara bergetar haru. Matanya berkaca-kaca menatap penderitaan fisik yang harus ditanggung istrinya demi melahirkan anak mereka.

    “Sakit sekali, Mas… Ya Allah…” rintih Arina dengan suara parau. Air mata menetes menyusuri pipinya yang pucat.

    Seorang dokter kandungan wanita bersikap sangat cekatan di ujung ranjang, didampingi dua orang perawat. “Pembukaan sudah lengkap, Bu Arina! Tarik napas dalam-dalam dari hidung, hembuskan lewat mulut. Saat dorongan mules itu datang lagi, angkat sedikit kepalanya dan mengejan yang kuat ya, Bu!”

    Arina mencengkeram tangan Husni begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Saat gelombang kontraksi berikutnya menghantam, Arina memejamkan mata rapat-rapat, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya dalam satu tarikan napas panjang.

    “Bagus, Bu! Kepala bayinya sudah terlihat! Ayo sedikit lagi, buang rasa lelahnya!” seru dokter memberi semangat.

    “Ayo Bidadariku, kamu wanita kuat… Bismillah!” Husni ikut menyemangati, menyeka keringat di dahi Arina dengan selembar tisu basah.

    Dengan jeritan tertahan yang sarat akan pengorbanan seorang ibu dan jeritan kepasrahan kepada Sang Pencipta, Arina mengerahkan dorongan terakhirnya. Tepat pukul 02.15 dini hari, di saat sepertiga malam terakhir sedang berada pada puncak kekhusyukannya, tangisan melengking seorang bayi mungil memecah kesunyian ruang bersalin.

    Oweeek! Oweeek! Oweeek!

    Suara tangisan itu terdengar begitu bening, begitu indah, dan seketika menyapu bersih seluruh rasa sakit, kepedihan, serta kelelahan luar biasa yang baru saja dialami Arina. Ruangan bersalin yang semula tegang berubah menjadi penuh haru dan kehangatan yang tak terlukiskan.

    Dokter tersenyam lebar seraya mengangkat tubuh bayi kecil yang kulitnya merah, bersih, dan berbalut cairan ketuban. “Alhamdulillah, Rabbil ‘Alamin! Selamat Pak Husni, Bu Arina! Putri pertama Anda telah lahir dengan selamat, sangat cantik dan sempurna tanpa kekurangan suatu apa pun!”

    Dokter meletakkan bayi mungil itu di atas dada Arina untuk menjalani proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Begitu kulit hangat sang bayi menyentuh dadanya, Arina menangis sejadi-jadinya. Air mata kebahagiaan yang polos membasahi wajahnya. Ia menyentuh jemari kecil putri mungilnya yang bergerak-gerak liar mencari sumber kehangatan.

    Husni langsung mendekap kepala Arina. Pria itu mencium dahi Arina berkali-kali dengan linangan air mata yang tak terbendung. “Terima kasih, Sayang… Terima kasih sudah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anak kita. Jazakillahu khairan, Istriku…”

    Husni kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga kanan putri kecil mereka yang masih menangis pelan. Dengan suara bergetar sarat akan keharuan, Husni melantunkan kalimat azan yang sangat merdu, dilanjutkan dengan iqamah di telinga kiri. Kehangatan yang terpancar di dalam ruangan itu terasa begitu sempurna—sebuah potret keluarga muslim ideal yang dipenuhi cinta, kepasrahan, dan kebahagiaan yang melimpah.

    Anak perempuan mungil yang cantik dan bermata bening itu mereka beri nama Aurelia jia elanora. Kehadiran Jia kecil di rumah megah dua lantai milik mereka membawa warna baru yang sangat indah. Rumah yang dulu sepi kini dipenuhi oleh aroma minyak telon, pakaian bayi berwarna merah muda yang tergantung di jemuran, serta tawa bahagia dari kedua orang tuanya. Husni menunjukkan figur seorang ayah yang sangat penyayang. Setiap pulang kerja, hal pertama yang dicarinya adalah Jia. Ia rela memangku Jia jam berapa pun, menggantikan popoknya di tengah malam, dan membantu Arina yang masih dalam masa pemulihan pasca persalinan.

    Namun, indahnya dongeng kebahagiaan itu ternyata hanya bertahan beberapa minggu saja. Kebenaran adalah seperti air yang selalu menemukan celahnya untuk mengalir—tak peduli seberapa rapat seseorang berusaha menyembunyikannya di bawah tanah.

    Pagi itu, Jia kecil yang berusia tepat satu bulan sedang tidur lelap di dalam boks bayinya yang berhias kain kelambu putih. Arina, yang sudah mulai pulih dan mengenakan gamis rumahan serta jilbab instan sederhana, baru saja selesai menyusui Jia. Ia berjalan mendekati meja kerja di sudut kamar untuk memilih beberapa jas kerja Husni yang menumpuk untuk diantar ke tempat laundry.

    Husni sendiri sedang berada di dalam kamar mandi, terdengar suara gemericik air shower yang menandakan suaminya sedang mandi pagi sebelum berangkat ke kantor.

    Arina mengambil salah satu jas bahan wol berwarna hitam milik Husni. Namun, ketika Arina melipat jas tersebut, saku bagian dalam jas yang tebal agak menggelembung. Saat Arina secara tidak sengaja membalikkan jas itu, sebuah benda keras kecil dan selembar kertas tebal tergelincir jatuh dari dalam saku, jatuh meluncur di atas lantai kayu kamar.

    Kring!

    Bunyi logam kecil beradu dengan lantai membuat Arina menunduk. Benda itu adalah sebuah kunci kecil kuningan berukir dengan bentuk yang sangat spesifik. Dan di sampingnya, tergeletak selembar kertas kuitansi transaksi bank berwarna biru dan sebuah buku catatan saku bersampul kulit hitam.

    Arina berjongkok. Ia meraih kuitansi bank tersebut terlebih dahulu. Niat awalnya hanya ingin menyimpan kembali milik suaminya, tetapi begitu matanya menangkap angka dan rincian transaksi yang tertera pada kertas tersebut, napas Arina mendadak tercekat.

    Itu adalah kuitansi setoran tunai berkala bernilai puluhan juta rupiah ke sebuah akun rekening atas nama sebuah lembaga gadai swasta dan toko perhiasan ternama di pusat kota. Tanggal-tanggal transaksi yang tertera pada lembaran kuitansi tersebut diurutkan secara rapi:

    12 Oktober – Rp 15.000.000 

    19 November – Rp 50.000.000 

    28 November – Penjualan Logam Mulia dan Perhiasan Emas.

    Mata Arina membelalak sempurna. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak lemas. Tanggal-tanggal yang tertera pada kuitansi setoran tunai itu… adalah tanggal yang persis sama dengan hari di mana uang tunai lima belas juta raib dari brankas kecil kantornya, hari di mana uang DP lima puluh juta hilang dari laci mejanya, dan hari di mana brankas kamar mereka dibobol!

    Dengan tangan yang gemetar hebat hingga sulit dikendalikan, Arina meraih buku catatan kecil bersampul kulit hitam tersebut dan membolak balik lembarannya. Di sana, tertulis dengan sangat rapi dan jelas, dalam tulisan tangan Husni yang amat ia kenali:

    “Catatan Alokasi Dana Cepat – Penutupan Margin Call Saham & Kerugian Investasi Klien:” – Kas Operasional Kantor Arina (12 Oct): Lunas. – Kas DP Unit Mobil Arina (19 Nov): Lunas. – Emas Brankas Rumah (28 Nov): Digadaikan untuk talangan utang investor A.

    Dunia Arina seolah berhenti berputar seketika.

    Suara gemericik air di dalam dada Arina berubah menjadi gemuruh kehancuran yang sangat menakutkan. Kepala Arina berdenyut hebat. Keringat dingin keluar bercucuran dari balik hijabnya. Ia memegang kunci kecil kuningan yang jatuh tadi, dan ketika Arina mencocokkannya dengan ingatannya, kunci itu adalah kunci duplikat dari laci meja kerjanya di kantor, dan kunci darurat brankas kamar mereka.

    Seketika seluruh teka-teki yang selama ini menghantuinya tersusun dengan sangat sempurna dan menyayat hati.

    Bukan peretas. Bukan pencuri dari luar. Bukan kelalaian Siska. Dan bukan pula penjahat jalanan.

    Pelaku yang selama ini mencuri uang kantornya hingga membuat Arina hampir gila karena ketakutan, pelaku yang membuatnya terancam dipecat, pelaku yang menguras perhiasan kenangan dari ibunya… adalah suaminya sendiri. Pria yang setiap malam tidur di sampingnya, pria yang memijat kakinya saat pegal, pria yang membisikkan doa di perutnya, dan pria yang berakting sangat manis seolah menjadi pahlawan dengan pura-pura mengganti uang yang hilang!

    Husni membiayai kerugian perusahaan investasinya yang mulai goyah dengan cara mencuri uang istrinya sendiri dan merusak nama baik Arina di kantornya!

    “Ya Allah… Ya Rabbi… Tidak… Ini tidak mungkin…” jerit Arina dalam bisikan yang hancur. Air mata kekecewaan yang teramat dalam langsung meledak membasahi pipinya.

    Klek.

    Pintu kamar mandi terbuka. Husni melangkah keluar dengan mengenakan celana bahan dan kaos singlet putih, sambil mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk kecil. Pria itu menyunggingkan senyum hangatnya yang biasa.

    “Sayang, baju kerja Mas yang abu-abu sudah di—”

    Kalimat Husni terhenti di udara. Senyum di wajahnya mendadak lenyap sepenuhnya ketika matanya menangkap sosok Arina. Istrinya berdiri kaku di depan meja kerja, tubuhnya gemetar hebat, matanya sembab merah penuh air mata, dan di tangan Arina… tergenggam kunci duplikat, kuitansi bank, serta buku catatan kulit hitam itu.

    Keheningan yang teramat mencekam dan dingin melingkupi kamar itu selama beberapa detik.

    Husni membeku di tempatnya. Wajahnya yang semula cerah seketika berubah pucat pasi. Handuk di tangannya perlahan melorot ke lantai.

    “Rin…” panggil Husni dengan suara yang mendadak parau. Ia mencoba melangkah mendekat. “Kenapa… kenapa kamu membongkar saku jas Mas?”

    “Jangan mendekat!” jerit Arina dengan suara melengking penuh histeria. Arina mengangkat kertas kuitansi dan kunci duplikat itu ke udara. Matanya menatap Husni dengan pandangan kepedihan dan kehancuran yang tak tertahankan. “Jelaskan padaku, Husni! Jelaskan apa maksud dari semua catatan ini?!”

    Husni menarik napas pendek, matanya berputar cepat mencoba mencari alasan. “Rin… dengarkan Mas dulu. Itu… itu cuma catatan keuangan bisnis investasi Mas. Kamu salah paham—”

    “SALAH PAHAM KAMU BILANG?!” potong Arina dengan teriakan yang memecah kesunyian rumah. Air matanya mengalir deras tanpa terbendung lagi. “Tanggal-tanggal di kuitansi ini adalah hari di mana uang kantorku hilang! Hari di mana perhiasan di brankas rumah raib! Dan kunci di tanganku ini adalah kunci duplikat laci kantor dan brankas rumah kita! Kamu… kamu yang mencuri semuanya, Husni! Kamu yang melakukan ini padaku!”

    Melihat semua bukti tertulis yang tak terbantahkan lagi di tangan istrinya, kepura-puraan yang dibangun Husni selama ini runtuh total. Topeng suami Islami, penyayang, dan pahlawan yang dipakainya mendadak mengelupas habis.

    Raut wajah Husni yang semula panik perlahan-lahan berubah menjadi dingin, keras, dan sinis. Pria itu menegakkan tubuhnya, menghembuskan napas kasar tanpa ada sedikit pun raut penyesalan di matanya.

    “Iya! Memang aku yang mengambil uang dan perhiasan itu! Lalu kenapa?!” bentak Husni tiba-tiba dengan nada suara yang sangat tinggi dan kasar.

    Arina tersentak mundur. Ia memegang dadanya yang serasa dihantam palu godam. Ia tak pernah mendengar suara sekejam ini keluar dari mulut suaminya. “Mas… kamu… kamu mengakuinya tanpa rasa bersalah sedikit pun?”

    “Untuk apa aku merasa bersalah?!” seru Husni tanpa rasa malu sedikit pun, melangkah maju dengan wajah mengancam. “Perusahaan investasiku sedang mengalami krisis margin call! Aku butuh dana tunai cepat ratusan juta dalam hitungan jam untuk menyelamatkan aset bisnisku dari kebangkrutan! Uang lima belas juta dan lima puluh juta dari kantormu cuma uang kecil bagi bisnisku! Aku cuma meminjamnya sebentar!”

    “Tapi kamu bikin aku hampir gila, Husni!” jerit Arina histeris, tangisnya makin pecah hingga Jia kecil di dalam boks bayinya terbangun dan mulai menangis ketakutan. “Kamu bikin aku dituduh mencuri di kantor! Kamu bikin aku stres parah di saat aku sedang hamil tua mengandung anakmu! Dan kamu berpura-pura jadi pahlawan mengganti uang itu pakai uang hasil penjualan emas milikku! Kamu jahat, Husni! Kamu kejam!”

    “Jaga mulutmu, Arina!” bentak Husni seraya menunjuk wajah Arina dengan telunjuknya. “Ingat, aku ini suamimu! Dalam Islam, harta istri itu juga boleh digunakan untuk membantu kesulitan suami! Perusahaanku itu sumber kehormatan keluarga ini! Kalau perusahaanku hancur, kamu juga yang malu! Lagi pula aku sudah ganti semua uang kantor kamu, kan?!”

    “Kamu tidak membantu diriku, kamu MENCURI, Husni!” tegas Arina dengan kepedihan yang luar biasa. “Kamu mencuri kejujuranku, kamu menghancurkan kepercayaanku, kamu mempermainkan hukum Allah! Kamu menggunakan topeng agama dan kasih sayang hanya untuk memanipulasi aku demi menyelamatkan utang-utang bisnismu!”

    “Cukup, Arina! Jangan sok suci di depanku!” potong Husni kasar. “Kalau bukan karena aku, kamu tidak akan tinggal di rumah megah ini! Jangan lupa siapa yang memberi kamu fasilitas mewah selama ini!”

    “Aku tidak pernah minta rumah megah ini jika hasilnya dari kebohongan dan pengkhianatan!” jerit Arina.

    Tangisan Jia kecil di boksnya makin melengking, seolah meratapi kehancuran yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya. Arina melangkah tergesa-gesa menghampiri boks bayi, mengangkat Jia kecil ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh mungil itu seraya menangis sesenggukan.

    Husni berdiri di tengah kamar dengan berkacak pinggang, menatap Arina dan bayi mereka tanpa ada setetes pun air mata atau keinginan untuk meminta maaf.

    Arina menatap Husni dari balik air matanya yang buram. Rasa cinta, rasa kagum, dan rasa hormat yang selama ini ia pupuk untuk suaminya telah hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak berharga. Pria di hadapannya ini bukanlah suami soleh yang membimbingnya sholat Tahajud, melainkan seorang penipu berdarah dingin yang tega mengorbankan kehormatan istrinya sendiri demi harta dan gengsi.

    “Kita selesai, Husni,” ucap Arina dengan suara bergetar namun sarat akan ketegasan yang tak bisa diganggu gugat.

    Husni tertawa sinis. “Selesai? Kamu mau minta cerai? Jangan konyol, Arina! Kamu itu cuma wanita karir kecil tanpa keluarga kaya! Kamu mau hidup di mana membawa bayi satu bulan tanpa uangku?!”

    “Allah adalah pelindungku dan anakku!” tegas Arina menatap mata Husni tanpa rasa takut sedikit pun. “Lebih baik aku hidup miskin dan tinggal di kontrakan sempit dengan kejujuran, daripada harus tinggal di istana megah bersama seorang pencuri dan pembohong sepertimu!”

    Hari itu juga, tanpa menunda satu jam pun, Arina berkemas. Dengan tangan yang masih gemetar dan dada yang hancur luluh, Arina memasukkan pakaian-pakaiannya dan perlengkapan bayi Jia ke dalam dua buah koper sederhana. Ia menolak menyentuh satu rupiah pun uang pemberian Husni yang tersisa di kamar.

    Arina melangkah keluar dari rumah megah dua lantai itu seraya menggendong Jia kecil yang tertidur di dadanya. Ia tidak menoleh lagi ke belakang, meninggalkan Husni yang berdiri di pintu utama dengan raut wajah penuh kemarahan dan kesombongan.

    Proses perceraian di Pengadilan Agama berlangsung dengan cepat. Husni, yang terlalu sombong dan takut reputasi bisnisnya tercemar jika kasus ini mencuat ke publik, tidak memberikan perlawanan berarti dan menyetujui gugatan cerai Arina. Hak asuh atas Jia jatuh sepenuhnya ke tangan Arina.

    Demi memastikan urusan administrasi dan nama baiknya di kantor bersih sepenuhnya tanpa campur tangan uang haram mantan suaminya, Arina mengambil keputusan paling berat. Ia mendatangi toko perhiasan dan menjual seluruh sisa perhiasan emas pribadi yang masih ia simpan—termasuk barang-barang peninggalan almarhumah ibunya. Seluruh uang hasil penjualan perhiasan tersebut ia gunakan untuk menutupi seluruh riwayat kejanggalan kas kantor, sehingga pembukuan di tempat kerjanya benar-benar bersih dan transparan.

    Berbeda dari dugaan banyak orang, Arina tidak mengundurkan diri. Ia memilih tetap bertahan sebagai manajer operasional di dealer mobil mewah itu. Ia membutuhkan pekerjaan itu demi menyambung hidup dan membesarkan Jia seorang diri tanpa menggantungkan nafkah dari Husni.

    Namun, bertahan di kantor ternyata menghadirkan gelombang ujian baru yang tak kalah berat.

    Dunia otomotif dan perekonomian mendadak dihantam krisis. Pembelian mobil-mobil mewah kelas atas menurun drastis. Showroom tempat Arina bekerja, yang dulunya selalu ramai oleh deretan pengunjung berkantong tebal, kini berubah menjadi sangat lengang. Satu per satu unit mobil hanya terparkir berdebu di balik kaca pamer.

    Lantai pameran yang dulu riuh dengan transaksi penjualan miliaran rupiah, kini berubah sepi dan sunyi. Peminat mobil kian sedikit dari hari ke hari. Tekanan dari direksi makin memuncak, komisi penjualan yang biasanya menjadi penopang pendapatan Arina merosot tajam, sementara biaya operasional kantor membengkak. Sebagai manajer operasional, Arina harus memutar otak sendirian di tengah sepinya pembeli, menanggung beban target perusahaan yang seolah tak masuk akal, sembari tetap membagi fokus dan tenaganya untuk mengurus Jia bayi yang sering sakit-sakitan di kontrakan sederhana mereka.

    Setiap sore usai mematikan lampu pameran showroom yang sepi, Arina menatap jajaran mobil mewah yang tak kunjung terjual dengan napas berat. Ia lelah secara fisik dan mental, namun ketika melihat foto Jia kecil di layar ponselnya, semangatnya muncul.

    Ia tahu, jalan di depannya penuh dengan kerikil tajam. Namun demi Jia, Arina bersumpah tidak akan pernah menyerah pada keadaan.

     

     

    Kreator : Naira Azzahra

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 4. TANGISAN PERTAMA DAN PENGKHIANATAN

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021