
Usia kandungan Arina kini telah menginjak bulan kelima. Perutnya yang membuncit manis di balik balutan gaun hamil dan hijab syar’i berwarna pastel semakin melengkapi kebahagiaan di dalam rumah tangga mereka. Kehidupan Arina terasa begitu sempurna, seperti sebuah gambaran takdir yang diimpikan oleh setiap wanita. Ia memiliki seorang suami yang sangat penuh perhatian, calon buah hati yang tumbuh sehat dalam rahimnya, serta posisi karier yang dihormati di sebuah perusahaan distributor mobil mewah ternama di ibu kota.
Namun, di tengah kehangatan dan rasa syukur yang terus melimpah, sebuah kejanggalan mulai merayap pelan dari sudut-sudut ruang kerjanya. Seperti riak kecil di permukaan danau yang semula tenang, kejanggalan itu lambat laun berubah menjadi gelombang kecurigaan yang merusak ketenangan jiwanya.
Pagi itu, udara di dalam ruang kerja Arina terasa lebih dingin dari biasanya. Pendingin udara tersembur pelan, meniupkan hawa sejuk yang tak mampu mengusir rasa gelisah yang mendadak hinggap di dada Arina. Ia duduk di balik meja kayu jati yang luas, menatap layar monitor komputer dengan kening berkerut dalam. Sebagai seorang manajer operasional yang memegang kendali atas arus transaksi harian, Arina dikenal sangat teliti. Setiap pengeluaran, pembayaran uang muka, hingga dana operasional kecil selalu ia periksa secara berkala hingga ke rupiah terkecil.
Arina memegang selembar laporan audit internal mingguan, mencocokkan angka-angka di atas kertas itu dengan catatan kas fisik di dalam sistem. Jari-jarinya yang lentik mengusap ujung meja, menahan napas sejenak.
Ada selisih angka yang amat mencolok.
“Aneh…” gumam Arina pelan pada dirinya sendiri. Suaranya tenggelam di antara bunyi detik jam dinding yang menggantung di ruangan.
Uang tunai di dalam brankas operasional kantor berkurang sebesar lima belas juta rupiah. Bagi sebuah perusahaan yang mencatatkan omzet penjualan unit mobil miliaran rupiah setiap bulannya, angka lima belas juta mungkin terasa seperti tetesan air di lautan. Namun bagi Arina, setiap lembar uang yang keluar dari brankas wajib memiliki catatan peruntukan yang jelas, kuitansi resmi, serta tanda tangan persetujuan darinya.
Arina meraih gagang telepon interkom di sudut meja dan menekan tombol penghubung ke meja sekretarisnya. “Siska, tolong masuk ke ruangan saya sebentar. Bawa map laporan kas operasional minggu ini.”
Hanya dalam hitungan detik, ketukan halus terdengar di pintu kaca berstiker itu. Siska, wanita muda yang telah menjadi sekretaris Arina selama dua tahun terakhir, melangkah masuk dengan senyum sopan seraya membawa sebuah folder tebal.
“Iya, Bu Arina? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Siska ramah.
Arina meletakkan lembaran kertas audit di atas meja dan menatap sekretarisnya dengan raut tenang namun tegas. “Siska, tolong bantu saya periksa laporan brankas kecil minggu ini. Ada catatan pengeluaran sebesar lima belas juta rupiah pada hari Selasa lalu. Tapi di dalam folder penyimpanan, saya tidak menemukan kuitansi atau tanda bukti penerimaan sama sekali. Ini dikeluarkan untuk biaya apa, ya?”
Siska mengernyit bingung. Ia membuka folder di tangannya dan membalik lembaran kertas dengan cepat. “Lho… bukannya Bu Arina sendiri yang mengambil uang tunai itu pada hari Selasa lalu? Hari itu kan Ibu minta saya menjadwal ulang semua agenda rapat siang karena Ibu bilang ada urusan pribadi yang sangat mendesak?”
Kata-kata Siska membuat jantung Arina berdetak agak lebih cepat. “Saya? Siska, hari Selasa lalu kan saya ada jadwal pemeriksaan kandungan rutin dengan Pak Husni dari jam satu siang sampai sore. Saya bahkan tidak sempat menyentuh area brankas sebelum berangkat ke rumah sakit.”
Raut wajah Siska seketika berubah pucat. Kebingungan yang nyata terpancar dari matanya. “Tapi… tapi Bu, kunci cadangan brankas kan hanya dipegang oleh Ibu dan Pak Direktur Utama. Ketika saya memeriksa brankas pada sore hari setelah Ibu pergi, uang tunai lima belas juta di amplop cokelat itu sudah tidak ada. Saya pikir Ibu yang menggunakannya untuk pembayaran mendadak dan belum sempat menyerahkan nota resminya…”
Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa saat. Arina merasakan desir halus hawa dingin menusuk tengkuknya. Ia berusaha menjaga napasnya tetap teratur, mengingat kondisi janin di dalam rahimnya yang tidak boleh terpapar stres berlebihan.
“Apakah ada orang lain yang masuk ke ruangan saya saat saya tidak ada di tempat hari Selasa lalu, Siska?” tanya Arina pelan, suaranya sarat akan kehati-hatian.
Siska tampak berpikir keras. tangannya gemetar pelan memegang pulpen. “Seingat saya tidak ada, Bu. Pintu ruangan Ibu selalu saya kunci saat Ibu pergi. Hanya ada petugas kebersihan yang menyapu di pagi hari, tapi itu pun di bawah pengawasan saya. Atau… oh iya, Pak Husni sempat datang ke sini sebentar untuk mengambil dokumen Ibu yang tertinggal sebelum menyusul Ibu ke rumah sakit. Tapi beliau kan suami Ibu, jadi saya tentu tidak berpikiran macam-macam.”
Arina terpaku. Nama suaminya yang disebut oleh Siska justru membuat Arina merasa bersalah karena sempat memikirkan hal-hal aneh. Husni? Tidak mungkin. Husni adalah pengusaha investasi yang bergelimang harta. Perusahaan Husni mengelola dana miliaran rupiah. Untuk apa seorang Husni menyentuh uang lima belas juta rupiah dari brankas kantor tempat istrinya bekerja? Itu adalah pemikiran yang absurd dan tidak masuk akal.
Arina menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran dadanya yang kian cepat. “Ya sudah siska, mungkin ini kelalaian saya yang lupa mencatat atau ada nota yang terselip di tas saya. Biar nanti saya cek kembali di rumah. Tolong masalah ini jangan dibicarakan ke staf lain dulu, ya.”
“Baik, Bu Arina. Maafkan saya kalau ada kesalahan pencatatan,” jawab Siska seraya membungkuk sopan dan perlahan mundur keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup rapat, Arina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit yang empuk. Ia mengusap perutnya yang membuncit dengan lembut, berbisik pelan mencoba menenangkan sang buah hati yang seolah bisa merasakan kegelisahan ibunya. Mungkin aku yang pikun karena bawaan hamil, batin Arina mencoba menghibur diri sendiri. Banyak ibu hamil yang sering lupa meletakkan barang. Jangan berpikir buruk, Arina.
Namun, dugaan bahwa itu hanyalah sekadar “lupa bawaan hamil” hancur berkeping-keping hanya dalam waktu satu minggu kemudian.
Kejadian serupa terulang kembali. Kali ini, dampaknya jauh lebih besar dan tidak lagi bisa ditoleransi.
Hari Jumat sore, suasana kantor dealer mobil sedikit renggang karena sebagian karyawan telah bersiap untuk pulang. Arina sedang merapikan berkas penjualan unit mobil mewah yang baru saja dibeli secara tunai oleh seorang klien VIP. Uang muka (down payment) sebesar lima puluh juta rupiah diserahkan dalam bentuk uang tunai pecahan seratus ribu oleh sang pembeli karena sistem transfer bank klien tersebut sedang bermasalah.
Uang tunai tersebut telah dimasukkan Arina ke dalam amplop tebal, dan akan disetorkannya ke kas kantor. Namun panggilan Direktur untuk rapat singkat di lantai dua, mengurungkan niatnya dan memasukkan amplop itu ke laci meja kerjanya. Arina mengunci laci mejanya, memasukkan kuncinya di dalam tas tangan, lalu berjalan menuju ruang direksi.
Diskusi berjalan selama kurang lebih empat puluh lima menit. Ketika Arina kembali ke ruangannya dengan niat mengambil uang lima puluh juta tersebut untuk disetorkan, pemandangan di ruangannya tampak biasa saja. Pintu terkunci, meja rapi, tidak ada tanda-tanda pembongkaran paksa.
Namun, ketika Arina memasukkan kunci ke dalam lubang laci dan menariknya terbuka… laci itu kosong.
Amplop tebal berisi uang lima puluh juta rupiah itu hilang tanpa bekas.
“Astagfirullah! Ya Allah…!” jerit Arina tertahan. Arina terduduk lemas di kursinya. Tangan kirinya mencengkeram tepi meja sementara tangan kanannya meraba-raba dasar laci yang kini kosong melompong.
Rasa panik yang luar biasa mendadak menyerang Arina. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Uang lima puluh juta rupiah adalah jumlah yang sangat besar. Yang lebih menakutkan, kunci laci itu ada di dalam tas tangannya sepanjang waktu ia berada di lantai dua! Bagaimana mungkin seseorang bisa membuka laci terkunci tanpa merusak lubang kuncinya? Apakah ada kunci duplikat yang beredar tanpa sepengetahuannya?
Arina langsung memanggil kepala keamanan kantor. Pemeriksaan rekaman CCTV koridor dilakukan sore itu juga dengan penuh kepanikan. Namun, nasib buruk seolah sedang mempermainkannya. Kamera CCTV yang mengarah tepat ke pintu ruangan Arina ternyata mengalami kerusakan teknis.
Arina merasa bumi di bawah pijakannya seolah runtuh. Posisi dan reputasi yang ia bangun dengan susah payah dari bawah sebagai seorang wanita muslimah yang jujur dan profesional kini berada di ambang jurang kehancuran. Sebagai manajer operasional, dialah yang memegang tanggung jawab tertinggi atas keamanan transaksi di ruangan tersebut. Jika uang ini tidak ditemukan, ia tidak hanya terancam dipecat, tetapi juga bisa dilaporkan atas dugaan penggelapan.
Dengan tubuh yang gemetar dan dada yang sesak oleh penderitaan mental, Arina memutuskan untuk pulang lebih awal. Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil yang dikemudikan oleh supir pribadinya, Arina tak hentinya meneteskan air mata. Ia mengusap perutnya yang kian membesar, memohon kepada Allah agar melindungi bayi di dalam kandungannya dari dampak kebingungan yang sedang berkecamuk ini.
Namun, penderitaan Arina sore itu ternyata belum mencapai puncaknya. Apa yang menunggunya di rumah justru jauh lebih menyayat hati daripada sekadar hilangnya uang di kantor.
Setibanya di rumah megah dua lantai milik mereka, Arina melangkah masuk dengan tubuh lemas. Bi Nah, asisten rumah tangga yang sudah mengabdi padanya sejak ia belum menikah, menyambutnya dengan wajah cemas.
“Mbak Arina… kok pucat banget? Mbak sakit?” tanya Bi Nah seraya mengambil tas Arina.
“Gak apa-apa, Bi. Arina cuma mau istirahat di kamar,” sahut Arina dengan suara parau.
Arina berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua. Ia membuka pintu kamar, menguncinya dari dalam, dan berjalan menuju lemari pakaian besar yang berada di sudut ruangan. Ia berniat mengambil kotak perhiasan di dalam brankas pribadi kamar—tempat ia menyimpan beberapa perhiasan emas, serta uang tabungan. Arina berpikir untuk menjual perhiasan itu guna menutup kerugian uang kantor senilai lima puluh juta rupiah agar namanya tetap bersih.
Arina berlutut di depan brankas besi berwarna hitam yang tertanam di dasar lemari. Tangan Arina yang masih gemetar memutar kombinasi angka rahasia—tanggal pernikahan mereka—lalu memutar kunci utamanya.
Klek.
Pintu brankas besi itu terbuka perlahan.
Namun, begitu cahaya lampu kamar menerangi bagian dalam brankas, napas Arina seolah terhenti seketika. Jantungnya berdetak kencang dengan ketukan yang begitu menyakitkan di dada.
Dua buah gelang emas murni, satu kalung berlian hadiah pernikahan, serta tiga bundel uang tunai pecahan seratus ribu senilai puluhan juta rupiah yang ia susun rapi di dalam amplop cokelat… semuanya telah lenyap.
Brankas itu kini benar-benar kosong. Hanya tersisa lembaran kertas garansi perhiasan yang tak berharga.
“Ya Allah… Tidak… Tidak mungkin…” bisik Arina lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Arina meraba-raba bagian dalam brankas dengan histeria yang tertahan. Ia membalikkan kotak beludru tempat perhiasan, mengguncang-guncang amplop kosong, namun kenyataan pahit itu tidak berubah. Benda-benda berharga bernilai puluhan juta rupiah itu telah hilang tanpa tersisa satupun.
Seketika rasa dingin yang teramat sangat menjalar dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala. Tubuh Arina gemetar hebat. Ia terduduk di lantai kayu kamar, menyandarkan punggungnya pada pintu lemari dengan kedua tangan menutupi wajahnya di balik hijab.
Sistem keamanan rumah ini sangat ketat. Ada CCTV di halaman, pintu depan menggunakan kunci digital, dan brankas pribadi di dalam lemari ini hanya diketahui kode kombinasinya oleh dua orang di muka bumi ini: dirinya sendiri dan Husni, suaminya. Bahkan Bi Nah tidak pernah diberi tahu di mana letak brankas tersebut.
Pikiran Arina menjadi sangat kacau, bak benang kusut yang tak mampu diurai. Uang kantor tempatnya bekerja hilang berturut-turut dalam kondisi yang sangat misterius, dan kini perhiasan serta tabungan pribadinya di dalam rumah sendiri ikut raib tanpa ada bekas pembobolan paksa. Siapa yang bisa masuk ke dalam kamarnya? Siapa yang bisa membuka brankas pribadinya tanpa merusak sistem kode kuncinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar gila di dalam kepala Arina, memicu rasa curiga yang teramat mengerikan—sebuah rasa curiga yang bahkan tak berani ia katakan pada hatinya sendiri karena terlalu menyakitkan jika sampai itu terbukti benar.
Di tengah isak tangis Arina yang pecah di kegelapan kamar, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di halaman depan rumah. Beberapa menit kemudian, langkah kaki yang mantap dan tergesa-gesa terdengar menaiki anak tangga.
Pintu kamar diketuk dari luar. “Rin? Arina? Kamu di dalam, Sayang?” suara Husni terdengar memanggil dengan nada penuh kehangatan seperti biasanya.
Arina mengusap air matanya dengan cepat, berusaha merapikan hijab dan pakaian tidurnya yang kusut sebelum perlahan berdiri dan membuka pintu kamar.
Husni berdiri di ambang pintu dengan senyum merekah di wajahnya yang tampan. Di tangan kanannya, ia memegang seikat besar bunga lili putih segar—bunga favorit Arina—dan sebuah kantong kertas dari toko kue terkenal.
“Assalamu’alaikum, Bidadariku…” sapa Husni dengan nada lembut yang sangat memanjakan. Namun, senyum di wajah Husni mendadak luntur saat matanya menatap wajah Arina. Matanya menangkap sembab di kedua bola mata istrinya dan bibir Arina yang gemetar pucat.
Husni meletakkan bunga dan kantong kue di atas meja konsol dekat pintu, lalu dengan sigap merengkuh kedua bahu Arina. “Allahuakbar, Rin! Kamu kenapa? Kok menangis begini? Ada apa dengan calon anak kita? Perut kamu sakit?” tanya Husni bertubi-tubi dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi kecemasan yang teramat sangat.
Arina menatap mata suaminya lekat-lekat. Ia mencari binar kejujuran, mencari perlindungan, mencari jawaban dari pria yang selama ini menjadi sosok suami sempurna dalam hidupnya.
“Mas…” suara Arina bergetar hebat, nyaris tenggelam oleh isak tangis yang kembali pecah. “Hari ini… uang kantor tempatku bekerja hilang lagi, Mas. Lima puluh juta rupiah raib dari laci mejaku saat aku ditinggal sebentar ke ruang direksi…”
Husni tampak sangat terkejut. Matanya melebar, dan rahangnya mengeras. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… Lima puluh juta? Kok bisa, Rin? Bukannya ruanganmu selalu dikunci?”
“Aku tidak tahu, Mas… Aku sungguh tidak tahu!” tangis Arina pecah. Ia memegang dada suaminya, meremas kemeja mahal yang dikenakan Husni. “Dan yang lebih menakutkan… saat aku pulang tadi, aku mau ambil perhiasan di brankas kamar kita untuk ganti rugi uang kantor… tapi perhiasan dan uang tabunganku di brankas kamar juga hilang semuanya, Mas! Brankasnya kosong!”
Mendengar ucapan Arina tentang brankas kamar, ekspresi wajah Husni sempat membeku selama satu detik—sebuah perubahan kecil yang teramat singkat namun tak luput dari penglihatan Arina yang sedang menatapnya lekat-lekat. Namun dengan cepat, Husni mengubah raut wajahnya menjadi keprihatinan yang sangat mendalam.
Husni langsung menarik Arina ke dalam pelukannya yang erat. Ia merengkuh tubuh istrinya yang gemetar, mengusap punggung Arina yang terbalut kain gamis dengan gerakan teratur dan penuh kehangatan.
“Innalillahi… Astagfirullahaladzim…” bisik Husni berulang kali tepat di samping telinga Arina. Ia mencium puncak kepala Arina dari balik hijab dengan penuh kelembutan. “Tenang, Sayang… Tenang dulu. Jangan panik begini, kasihan calon anak kita di dalam perut. Kesehatan kamu dan bayi kita jauh lebih penting dari uang manapun.”
“Bagaimana aku bisa tenang, Mas?” bisik Arina di dada suaminya, air matanya membasahi kemeja Husni. “Di kantor, namaku terancam hancur. Aku bisa dituduh mencuri uang perusahaan. Dan di rumah… bagaimana bisa perhiasan di brankas kamar kita hilang padahal kodenya cuma kita berdua yang tahu?”
Husni mengusap air mata di pipi Arina dengan ibu jarinya, menatap mata istrinya dengan pandangan yang begitu teduh dan penuh kepastian.
“Dengar Mas, Arina,” ucap Husni dengan suara berat namun menenangkan. “Mengenai uang kantor yang hilang, besok pagi Mas yang akan kirim uang lima puluh juta rupiah ke rekeningmu untuk ganti rugi. Kamu serahkan ke direksimu dan bilang itu salah transfer atau kelalaian administrasi. Jangan sampai namamu tercemar di kantor. Biar Mas yang ganti semuanya.”
Arina menatap suaminya dengan rasa haru yang bercampur aduk. “Mas… itu uang yang banyak…”
“Bagi Mas, kehormatan dan ketenangan pikiran istri Mas jauh lebih mahal dari lima puluh juta, Rin,” tegas Husni penuh keyakinan. “Soal brankas kamar yang hilang… nanti Mas akan panggil tim keamanan untuk periksa semua CCTV dan ganti kuncinya dengan sistem pemindai sidik jari. Mungkin ada peretas atau kecurian yang tidak kita sadari. Kamu tidak usah memikirkan itu lagi, ya? Biar Mas yang urus semuanya.”
Husni kembali memeluk Arina dengan hangat, menepuk-nepuk punggung istrinya hingga tangis Arina perlahan mereda. Di dalam dekapan suaminya yang begitu kokoh, Arina mencoba memejamkan mata, membiarkan dirinya dihanyutkan oleh kehangatan dan rasa aman yang selalu ditawarkan oleh Husni.
Namun, jauh di dalam relung hatinya yang paling dalam, sebuah keraguan kelam telah menancapkan akarnya. Senyum hangat Husni, kebaikan suaminya yang siap mengganti kerugian dengan mudahnya, serta lirikan mata Husni yang sempat membeku saat brankas kamar disebut… semuanya meninggalkan jejak misteri yang teramat sangat meresahkan.
Arina memeluk suaminya lebih erat, bukan hanya karena mencari ketenangan, tetapi juga karena ketakutan akan sebuah kebenaran pahit yang mungkin sedang bersembunyi di balik senyuman indah pria yang sangat dicintainya itu.
Kreator : Naira Azzahra
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 3. BAYANGAN DI BALIK RUANG KANTOR
Sorry, comment are closed for this post.