Dari enam bersaudara laki-laki aku adalah anak keempat, dari lima bersaudara. Ayahku seorang buruh tani ditambah kerja serabutan, sementara ibuku seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurus kami anak-anaknya. Diantara saudara aku dan kedua adikku yang berdekatan usia, sementara kakak yang kami yang tiga sudah dewasa dan sudah mulai bekerja, yang paling tua guru honorer dan kakak yang kedua sudah bekerja di pabrik penggilingan padi sedangkan kakak kami yang ketiga sudah mulai bekerja sebagai pelayan toko.
Lingkungan tempat tinggal kami adalah pedesaan dengan penduduk mayoritas beragama Islam mata pencaharian sedikit petani tapi lebih banyak buruh tani dan ada juga pedagang, guru, pelayan toko, buruh serabutan dan pekerja kantoran lainnya.
Berdasarkan itulah kartu tanda penduduk atau KTP warga rata-rata beragama Islam pekerjaan petani, walau sebenarnya buruh tani. KTP ayah kami dalam pekerjaan petani dan juga KTP pekerjaan ibu petani tidak seperti jaman sekarang biasanya kalua ibu-ibu yang tidak punya pekerjaan tertentu seperti guru, dokter, polisi wanita pada bagian pekerjaan biasanya Ibu Rumah Tangga atau Mengurus Rumah Tangga.
Kampungku bernama Kelewih desaku bernama Saguling Kecamatan Baregbeg kini (dulu Kecamatan Ciamis). Jarak ke sekolah dasar terdekat sekitar 2,5 km dan jarak ke sekolah menengah pertama sekitar 5 km.
Riwayatku di mulai sejak sekolah taman kanak-kanak. Ketika itu umurku enam tahun, bersama-sama anak seusiaku aku ikut sekolah Taman Kanak-Kanak walau sebenarnya waktu itu belajarnya di Balai Pertemuan Kampung orang bilang Bale Kampung . Aku dan teman-temanku jadi perintis Pendidikan Anak Usia Dini yang waktu itu hanya baru ada di kota-kota atau paling tidak di desa yang padat penduduknya. Aku masih ingat betul ibu gurunya baru tamat Sekolah Pendidikan Guru belum diangkat PNS namun sangat bersemangat mensosialisasikan wajib belajar Pendidikan usia dini. Ayah ibuku yang tamatan sekolah rakyat diberikan pemahaman pentingnya Pendidikan bagi anak-anak.
Ibu Esih tamatan SPG kala itu berhasil memberikan pengaruh positif tentang terhadap warga. Ayah dan ibuku paham maka aku ikut belajar di TK. Lagu Satu-satu adalah yang paling pertama dikenalkan dan kami semua cepat hafal karena liriknya sederhana dan familiar. Terbayang waktu itu dengan Gerak-gerik, mimik, raut muka serta peragaan lainnya dibumbui cerita tentang; sayang ibu, sayang ayah, sayang adik kakak dan sayang semuanya. Itulah aku dibentuk karakter harus sayang pada ayah, ibu dan saudara.
Yang masih teringat ketika belajar berhitung saya pernah jadi juara menghitung cepat dengan cara mengambil kelereng. Kenapa tidak sebab saya sehari-hari akrab dengan permainan kelereng.
Satu tahun berlalu bermain dan belajar di TK, pada akhir tahun kami ikut pesta kenaikan kelas di Sekolah Dasar. Betul-betul pesta yang sangat meriah, kami semua gembira tampil di panggung secara bergiliran; ada yang seorang, ada juga yang berkelompok dalam tampilan itu. Kami semua senang dan ibu guru pun senang pula termasuk orang tua kami semua. Kami semangat ketika lagu di sini senang di sana senang. Dalam kenaikan kelas tidak itu saja yang ditampilkan sebelumnya ada pidato Penilik, pidato Kepala Sekolah, pidato Dewan Guru dan juga pidato POMG kalua sekarang Komite Sekolah. Itu bagi kami anak-anak tidak tertarik terasa membosankan, namun untuk orang tua momen itulah yang dinantikan membahas tentang kemajuan pendidikan di sekolah.
Semua pidato selesai dilanjutkan tampilan pagelaran seni dari anak-anak sekolah dasar, tadi pada awal kegiatan tampilan anak-anak TK pertimbangannya mungkin kasihan masih kecil-kecil serta dandanannya kalau siang sudah acak-acakan semrawut tak karuan.
Sementara suasana hening…..
Tari jaipong sebagai pembuka hening menjadi riuh bergemuruh dengan suara tepuk tangan, siulan dan sorak-sorai tanda suka ria bersama. Pentas seni anak-anak SD dari lagu, pembacaan puisi, tari-tarian, calung, qasidah selesai, sebagai pentas terakhir adalah seni drama.
Aku masih kecil tapi aku tak merasa cape untuk menikmati pesta kenaikan kelas. Sewaktu pidato bersama teman-teman aku pergi ke warung untuk jajan beberapa makanan ringan dan es dawet kesukaan untuk menghilangkan rasa haus.
Selesai jajan aku kembali lagi ke ruang kelas yang ditata sebagai aula pertunjukan pesta kenaikan kelas. Drama tentang Doa Ibu Yang Dikabulkan sudah dimulai. Aku terhanyut dengan cerita, bagaimana saktinya doa ibu begitu keramat. Aku menonton sampai selesai.
Sebelum pulang diantar ibu aku pamit kepada Ibu Esih guru TK yang kebetulan berdiri bersama bapak guru sedang berbincang-bincang.
“Bu guru maaf mengganggu,” kata ibuku
“Oh, tidak apa-apa. Memangnya kenapa?” kata Ibu Esih sambil memegang pundak saya serta memandang ke arah ibuku.
“Ini permisi mau pulang, sekalian bertanya kapan mulai masuk sekolah SD?” tambah ibuku.
“Sekolah masuk dua minggu mendatang hari Senin Tanggal 14 Januari 1973 dan ini Bapak guru kelas Satu di SDN Saguling 1 Pa Suherli yang akan mendidik dan mengajar anak ibu, Didi ya.” Kata Bu Esih memberikan penjelasan sambil mengenalkan guru kelas saya nanti.
“Pa Eli, ini Didi murid paling kecil tapi pintar dan cekatan, mudah-mudahan nanti sudah besar jadi guru yang akan menggantikan kami jika sudah pensiun.” Kata Bu Esih memperkenalkan saya kepada Pa Suherli dengan panggilan Pa Eli.
“Didi sini calon guru ayo salaman dulu sama bapak” Pa Suherli menyambut saya dari pegangan Ibu Esih guru TK dan saya menghampiri Pa Suherli.
Hari menjelang malam, suasana sepi hanya ada suara gemerisik suara angin menerpa dedaunan di belakang rumah. Semua telah tertidur pulas hanya aku yang tidak bisa memejamkan mata, pikiran ku menerawang berputar ke sana ke mari tentang cita-cita.
Sosok ibu guru yang bisa merubah pandangan orang-orang desa sepertinya sakti, dikumpulkan diberi pengarahan, tanya jawab berakhir setuju.
“Kok bisa ya ?” hatiku bertanya
“Luar biasa!” jawabku pula
Aku mencari jawaban sendiri, bisakah saya jadi guru? Ayahku petani apa mungkin, kakak ada yang tamatan SPG tapi belum diangkat katanya uangnya gak cukup, kakak yang lain buruh di penggilingan padi apa mengikuti jejaknya dia sering pulang bawa beras. Kakak satu lagi pelayan toko tiap hari berpenampilan rapi sering tersenyum dan ramah lagi, tidak usah cape sekolah. Apa mengikuti kakak yang ini ya.
Pertanyaan dan jawaban tidak ditemukan, itu hanya bayangan Didi kecil yang baru tamat TK.
Terngiang kata Ibu guru tadi di sekolah
“Didi sini calon guru ayo salaman dulu sama bapak” Pa Suherli menyambut saya dari pegangan Ibu Esih guru TK dan saya menghampiri Pa Suherli.
Akhirnya jawaban itu memberi ketenangan sebab ibu guru itu sakti bukankah orangtua pun tunduk pada pepatahnya. Pa Ustad juga pernah berkata jika ada kemauan pasti ada jalan, berusahalah sambil berdoa.
Didi kecil terus berpikir tentang cita-cita jadi guru. Bukan tanpa sebab karena pigur guru yang digugu ditiru. Ibu guru TK yang telah menggoreskan tinta emas ke dalam memori Didi.
Setelah jawaban itu ditemukan dan ingat pula pesan Pak Ustad mintalah do’a kepada kedua orang tua Insya Allah do’a itu dikabul.
Malam semakin larut akhirnya kantuk pun mulai datang. Aku perlahan membaca doa Allahummaghfir lii waliwaalidayya, warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”(Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidikku dalam waktu kecil. Sebelum mata terpejam karena terbiasa aku baca do’a sebelum tidur. “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut
Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.
Kreator : Sahdi
Comment Closed: Bab 1 Masa Kecil
Sorry, comment are closed for this post.