Raka melihat jam dinding di depannya menunjukkan hampir pukul tiga pagi.
Lagi.
Sudah beberapa malam terakhir ini, ia selalu terbangun di jam yang sama.
Suara AC terdengar pelan di sudut kamar sementara hawa dinginnya membuatnya menarik selimut menutupi kakinya. Farah masih tertidur di ranjang seberang dengan selimut sampai leher. Nafasnya teratur dan berirama.
Raka menarik nafas dan menghembuskannya pelan seperti yang ibunya ajarkan untuk menenangkan diri saat ia panik.
Lalu ia mendengarnya.
Ding… dong…
Ding… dong…
Ding… dong…
Jam besar di lantai bawah berdentang tiga kali.
Suara itu bergema ke seluruh rumah sampai membuatnya merinding. Ia turun dari ranjang, memakai sandal beruangnya, lalu berjalan keluar kamar.
Koridor lantai dua gelap. Hanya ada cahaya bulan yang masuk dari jendela dekat tangga.
Raka berhenti di depan kamar orang tuanya. Dadanya terasa tidak enak. Udara di depan pintu kamar itu lebih dingin dibanding tempat lain. Tangannya mulai gemetar saat memegang gagang pintu.
Pelan-pelan ia membuka pintu kamar. Engselnya berbunyi lirih. Dan saat pintu terbuka, tubuhnya langsung terdiam kaku.
Di atas tubuh mamanya, ada bayangan hitam seperti asap tebal yang bergerak pelan. Bentuknya berubah-ubah. Kadang mirip orang, kadang hanya seperti kabut gelap yang menggumpal. Persis seperti dalam mimpinya tadi.
Mamanya terbaring di atas ranjang dengan mata terbuka. Tubuhnya tidak bergerak. Bibirnya bergerak pelan seperti sedang membaca doa, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Ma…” bisik Raka pelan. “Mama…”
Bayangan hitam itu berhenti bergerak. Perlahan kepalanya menoleh ke arahnya. Dua titik merah menyala terlihat di wajahnya yang gelap.
Jantungnya langsung berdegup keras. Ia ingin mundur, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Udara di kamar itu terasa semakin berat. Napasnya mulai sesak.
Lalu suara lirih terdengar di kepalanya. “Anak itu… ada celah untuk masuk.”
Raka tidak tahu suara siapa itu. Yang ia tahu tubuhnya semakin dingin.
Bayangan hitam itu mulai bergerak mendekatinya. Kabut gelap merayap dari lantai dan dinding menuju tubuhnya.
Ia mencoba berteriak. Tapi suaranya tidak keluar.
Kabut itu menyentuh kakinya lebih dulu, lalu naik perlahan ke tubuhnya. Ia merasa sesuatu masuk ke dalam dirinya lewat mulut, hidung, telinga, dan matanya.
Pandangannya mulai gelap.
“Mama…” Suaranya terdengar jauh.
Lalu semuanya berubah gelap. Di tengah gelap itu, potongan-potongan kenangan muncul satu per satu.
Farah yang tertawa.
Papanya yang menggendongnya.
Mamanya yang marah saat ia mengganggu adiknya.
Raka menangis pelan. “Maaf, Mama…” bisiknya. “Aku janji nggak nakal lagi…”
Tiba-tiba ada dua cahaya muncul di depannya. Satu berwarna biru. Satu lagi emas. Dua anak laki-laki berdiri di sana. Wajah mereka tidak terlihat jelas, tapi tubuh mereka bersinar samar.
Anak yang bercahaya emas berjalan mendekat lalu menyentuh bahunya. Tubuhnya langsung terasa hangat. Rasa takutnya perlahan menghilang.
Di dalam kamar, tubuhnya perlahan terangkat dari lantai. Kabut hitam yang tadi masuk ke tubuhnya mendadak berhenti.
Lalu cahaya keemasan muncul dari dahinya dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Ibunya yang tadi tidak bisa bergerak akhirnya bisa bangun.
Laras menatap anaknya tanpa berkedip. Tubuh kecil itu melayang beberapa sentimeter di atas lantai.
Bayangan hitam di atas ranjang mulai bergetar. Bentuknya pecah seperti asap tertiup angin lalu hilang begitu saja.
Kamar itu mendadak sunyi. Tubuh anak itu jatuh pelan ke lantai.
“Raka!”
Laras langsung memeluk anaknya. Tangannya gemetar saat memegang wajahnya yang pucat.
“Astaghfirullah… Astaghfirullah…”
Air mata Laras jatuh satu per satu. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada anaknya. Masih bergerak. Anaknya masih bernapas.
Laras langsung memeluknya lebih erat.
“Alhamdulillah…”
Di luar jendela, langit mulai terang. Cahaya pagi masuk pelan lewat celah tirai. Rumah itu kembali tenang. Namun Laras tahu, malam tadi bukan mimpi biasa.
Malam yang baru berlalu meninggalkan bekas—bukan hanya di tubuh, tetapi juga pada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang belum mampu ia mengerti.
Di luar jendela, kabut pagi mulai menipis. Cahaya matahari masuk pelan lewat celah tirai, membuat kamar itu terlihat lebih terang daripada sebelumnya.
Laras masih duduk di lantai sambil memangku tubuh anaknya. Tubuh anak itu sudah tidak sekaku tadi. Napasnya juga mulai teratur, meski wajahnya masih pucat.
Kamar itu memang sudah tenang, tetapi Laras belum bisa benar-benar merasa lega. Matanya sesekali melihat ke sudut ruangan, ke arah tempat bayangan hitam itu tadi menghilang.
Tidak ada apa-apa di sana.
Hanya dinding.
Hanya lemari.
Hanya cahaya pagi.
Namun Laras tahu, sesuatu baru saja terjadi di kamar itu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah.
***
Pada waktu yang hampir sama, jauh dari rumah Raka, seorang anak lain perlahan membuka mata di kamarnya. Anak itu bangun seperti pagi-pagi biasanya. Ia tidak tahu bahwa pada malam yang sama, seorang anak lain baru saja mengalami sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan.
Mereka belum saling mengenal. Belum pernah bertemu.
Namun sejak malam itu, tanpa mereka sadari, jalan hidup mereka mulai bergerak ke arah yang sama.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 1 – Mimpi Jadi Nyata
Sorry, comment are closed for this post.