KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1. Pelarian Masa Luka

    Bab 1. Pelarian Masa Luka

    BY 09 Jun 2026 Dilihat: 6 kali
    Bab 1. Pelarian Masa Luka_alineaku

    Sang fajar terlihat mulai merekah di balik cakrawala. Sinarnya dengan lembut menyingkap tirai malam yang menutupi atap dunia. Udara sejuk membuat suasana di awal hari terasa segar.

    Satu per satu jendela rumah mulai dibuka demi menyambut hangatnya sang surya. Orang-orang bersiap penuh semangat untuk memulai aktivitas mereka.

    Di luar, sapaan para tetangga terdengar riuh. Bahkan diantara mereka ada beberapa ibu-ibu yang sempat mengobrol sejenak, sebelum kembali melanjutkan kesibukan masing-masing.

    Diantara semua orang yang menyambut pagi  dengan harapan penuh suka cita baru, ada satu pria yang saat ini tidak merasakan hal yg sama.

     

    Maru, pria berusia tiga puluh sembilan tahun terbaring miring beralaskan kasur lantai. Kamar itu masih temaram. Seberkas sinar mentari menyelinap dari balik celah tirai, memotong gelapnya ruangan.

    Di dekat pojok pintu kamar beberapa botol minuman kosong tampak berserakan. Bahkan aroma alkohol pun terasa kuat memenuhi seisi kamar.

    Bagi semua orang, pagi hari merupakan awal dari menyambut harapan baru. Tapi tidak bagi Maru.

    Bagi Maru, pagi hanyalah pengingat bahwa luka dihatinya masih tetap tinggal dan enggan untuk pergi.

    Sudah empat bulan terakhir ini, Maru mencoba bangkit dari keterpurukannya. Dia pergi ke beberapa tempat untuk mencari pekerjaan.

    Awalnya, sebelum dia jatuh dalam keterpurukan. Maru memiliki usaha toko sembako yang cukup besar. Selain menjual barang dagangannya langsung ke konsumen, ia juga memasukkan barang-barang dari tokonya ke toko lain. Tapi, semua itu hancur runtuh setelah dia mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Mawar, istri yang dia cintai.

    Bayangan akan luka itu masih tetap ada sampai sekarang, seakan tak berniat untuk meninggalkannya. Bahkan menghantui di setiap tidurnya.

    Rumah tangga yang tujuh belas tahun ia bina bersama sang istri, runtuh. Dia sendiri tidak mengerti, entah apa yang salah dari dirinya. Hingga membuat istri yang dicintai berubah, berpaling dan memilih pergi bersama laki-laki lain.

    Selama menjalani rumah tangga, Maru sebagai suami, tidak pernah menuntut apapun dari istrinya. Ia tahu Mawar, wanita yang menjadi istrinya, jauh lebih muda darinya. Ia berusaha membimbing, memahaminya serta mencukupi kebutuhan lahir dan batin. Apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan mawar selalu ia usahakan. Bahkan dirinya sendiri pun tak diperdulikannya.

    Jadi apa yang salah dari dirinya?

    Maru mengetahui Mawar, istrinya sudah lama berselingkuh. Dua kali ia memergoki pengkhianatan itu. Dan dua kali pula ia memilih memaafkan. Menerima kembali Mawar dengan harapan sang istri mau berubah

    Sebenarnya, maru pernah berfikir untuk bercerai, namun niat itu selalu terpatahkan, setiap kali ia melihat wajah putra satu-satunya, buah cinta kasih yang dulu ia banggakan bersama Mawar.

    Maru pernah bersujud simpuh di bawah kaki istrinya, merendahkan seluruh harga diri, menangis, dan memohon agar Mawar tidak melakukan pengkhianatan itu lagi dan mau berubah.

    Namun semua itu seolah tak berarti bagi Mawar. Mawar tetap tidak berubah.

    Dan untuk yang ketiga kali ini, pengkhianatan itu kembali terjadi. Bahkan sikap Mawar pada Maru semakin parah.

    Mengapa?

    Karena kali ini Mawar menertawakan keruntuhan hati Maru. Dengan nada penuh kesombongan ia berkata,

    Tanpa aku, kau tidak akan punya apa-apa. Tanpa diriku kau akan sengsara. Akulah yang membuatmu berada sampai seperti sekarang ini

    Kata-kata itu bagaikan ujung bilah pedang menembus jantung. Sakit dan perih.

    Maru akhirnya mengerti akan satu hal- semakin seseorang memohon, semakin pula ia direndahkan.

    Dan untuk yang ketiga kali ini, ia memutuskan untuk bercerai.

    ¤¤¤¤¤

    “Mar, kamu sudah bangun?” suara pria terdengar berseru dari luar pintu.

     “Ini aku bawakan sarapan buatmu” lanjutnya.

    Maru yang mendengar itu mulai bergerak. Sesaat ia duduk menatap pintu. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mulai melangkah untuk membuka pintu.

    ”Masuk, Bang.”

    Maru membuka pintu lebar. Dia mengambil batu seukuran kepalan tangan, lalu menaruhnya tepat di ujung bawah pintu, sebagai pengganjal.

    Bang Hendra, pemilik kos tempat Maru tinggal, pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan tubuh gempal. Yang merupakan sahabat Maru.

    “Sarapan dulu, isi tenagamu,” ucap Bang Hendra sambil mengulurkan sebungkus plastic berisikan makanan. Ia masuk lalu duduk di lantai.

    Di Kamar kos milik maru memang tidak ada kursi ataupun perabotan lainnya. Kamar itu kosong. Dan di dalamnya hanya ada kasur lantai tempat maru tidur.

    “Makasih, Bang,” ucap Maru sambil menerima bungkusan itu. Lalu duduk berjongkok di dekat pintu.

    “Sekarang apa rencanamu?” tanya Bang Hendra ringan.

    Maru menggeleng, “Tidak tahu Bang,” dia menghela nafas berat. “Sekarang aku hanya  mau fokus mencari pekerjaan, Bang. Buat modal usaha lagi … dan  bayar hutang.”

    “Yang sabar ya! Kau bisa tinggal disini selama yang kau inginkan. Aku tidak akan meminta uang. Ingat!kau sudah kuanggap sebagai adikku”

    “Terima kasih, Bang,” Maru mengangguk sambil tersenyum.

    “Semua pasti berlalu. Jangan putus asa. Ingat kau memiliki anak,” tambah Bang Hendra memberi nasihat ringan.

    “ Terima kasih, Bang.”

    “Ya sudah, aku pergi dulu. Sesekali mainlah ke rumah. Jangan sendirian terus,” ujarnya sambil beranjak dari duduk.

    “Terima kasih, Bang,” ucap Maru sekali lagi sambil ikut berdiri.

    “Ya sudah, aku pergi!” Ucap Bang Hendra sambil melangkah pergi.

    Maru menatap punggung Bang Hendra. Dalam pikirannya dia benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti Bang Hendra yang mau menampungnya selama beberapa hari ini.

    Setelah Bang Hendra pergi, Maru menatap makanan di hadapannya tanpa ada niat untuk menyentuhnya. Ia lalu menutup pintu kembali.

    Tepat saat dia ingin kembali merebahkan tubuhnya. Suara notifikasi dari ponselnya terdengar.

    Maru mengambil ponsel dari dalam tas ransel miliknya. Saat layar menyala, dahi maru mengernyit.

    Ayra membalas story:

    Ya! Apa yang kau lakukan?”

    Maru terdiam, menatap teks di layar ponsel.

    “….?”

    “Kau baik-baik saja?”

    Dia menatap pesan itu cukup lama, ada rasa percaya dan ragu  dalam benaknya saat membaca nama pengirim pesan.

    Tanpa Maru sadari, tangannya bergerak membuka tirai.

    Ia mengerjap saat cahaya matahari menyilaukan matanya. Namun, perlahan ia kembali membuka mata.

    Cahaya itu masuk, mulai mengisi sebagian kamar kos yang baru ia tempati beberapa hari terakhir.

    Ia mulai membuka jendela, menghirup udara pagi. Entah kenapa ada rasa hangat yang samar muncul di dalam hatinya.

    Ia lalu kembali menatap layar ponselnya, sebelum akhirnya duduk di bawah jendela.

    Untuk sesaat jari maru berhenti diatas layar.

    Lalu mulai mengetik,

    Maru: “Hatiku sakit, Ra.”

    (Pesan terkirim)

    Maru menunggu balasan, dengan hati yang bergemuruh, ia menatap layar ponselnya.

    Ayra : “Sakit karena dianggap tidak menafkahi istrimu?”

    Maru terdiam lagi, dua alisnya melengkung.

    Maru: “Kau tahu?”

    Maru menggigit bibir bawahnya, merasa bingung.

    Ayra : “ Ya, dari Keponakan perempuanmu. Dia datang ke rumah kakakku dan membicarakan tentang masalahmu”

    Maru : “Keponakanku?”

    Ayra : “ Marni,”

    Maru : “Dia bilang apa?”

    Ayra : “Kau mengusir istri mu, karena dia ketahuan berselingkuh?”

    Maru terdiam, jarinya menggantung di udara.

    Ia mengetik sesuatu lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu kembali menghapusnya.

    Akhirnya mengirim satu kalimat

    Maru: “ Aku tidak mengusirnya.”

    Pesan itu terkirim.

    Maru menatap layar ponselnya, lalu kembali mengirimkan pesan yang lain.

    Maru:”Dia yang pergi sendiri malam itu. Bahkan aku sendiri tidak tahu dia pergi.”

    Tidak lama Ayra membalas pesan.

    Ayra : “ Pantas, aku sendiri sempat merasa aneh saat melihat status di akun media sosialmu. Katanya kau yang mengusirnya … tapi kau sendiri yang terlihat kacau sampai minum minuman keras.”

    Maru membaca pesan itu berulang kali. Ia tidak tahu harus bagaimana. Saat ini ia cukup merasa lelah.

    Lalu pesan berikutnya muncul.

     

    Ayra : “Apa setelah dia pergi kau mencarinya?”

    Maru terdiam. Kilatan bayangan kembali muncul di ingatannya.

    Ayra : “Maksudku, siapa tahu dia melakukan itu karena suatu alasan?”

    Maru membalas.

    Maru :”Sudah,”

    Maru terdiam. Untuk sesaat, jarinya terhenti di udara. Memandang layar ponsel penuh arti. Ia menghela nafas berat sebelum kembali mengetik.

    Maru :” Tapi semua itu tidak ada gunanya.”

    Maru kembali mengetik. Tapi kali ini ia tampak tidak langsung mengirimkannya. Ia menatap kalimat yang baru saja diketiknya Seolah, kalimat itu tampak berat untuk dia kirim.

    Maru:”Dia sudah menikah lagi.”

    Balasan Ayra kali ini jauh lebih cepat.

    Ayra :”Apa?”

    Ayra:” Bagaimana kau tahu?”

    Maru mematung, ingatan percakapan itu kembali muncul di kepalanya.

    Maru :”Kakaknya yang memberitahuku,”

    Ia menghela nafas, sebelum mengirimkan pesannya kembali.

    Maru:”Bahkan saat aku menelponnya, … Aku melihat dia seperti sedang dirias”

    Maru membuka gallery di ponselnya.

    Tangannya bergerak lambat saat mengirimkan beberapa file.

    Satu per satu file itu terkirim ke Ayra. Ia tidak menambahkan penjelasan apapun.

    Beberapa menit berlalu,ia tetap menatap layar ponsel itu.

    Lalu akhirnya ia mengetik lagi.

    Maru :” Kau tahu apa yang paling menyakitkan, Ra?”

    Maru tidak menunggu jawaban. Ia langsung mengirimkan pesan yang sudah diketiknya.

    Maru :”Keluargaku tidak ada yang percaya padaku”

    Maru :”Mereka lebih mempercayainya. Mereka membelanya. Bahkan mereka menyalahkanku sebagai penyebab dari perselingkuhan yang dia lakukan”

    Air mata maru jatuh mengenai layar ponselnya. Kali ini ia tidak bisa menahan emosi dalam dirinya.

    Maru :”Mereka lebih percaya padanya daripada aku … adik kandung mereka sendiri.”

    Layar ponselnya mulai terlihat buram. Ia mengusap matanya kasar. Menghapus air mata yang menghalangi penglihatannya, sebelum melanjutkan.

    Maru :”Aku selalu ada untuk mereka.”

    Maru :”Aku selalu membantu mereka selama ini.”

    Maru :” Tapi sekarang …  saat aku jatuh … tidak ada yang membelaku. Tidak ada yang percaya padaku.”

    Ia berhenti sebentar, menarik nafas yang terasa mengikat dadanya. Lalu kembali mengetik.

    Maru :”Kau tahu Ra,Wanita itu … wanita yang menjadi istriku selama tujuh belas tahun. Dia bahkan dengan beraninya bilang ke semua orang kalau aku selama ini tidak pernah menafkahinya. Katanya, Kerjaanku hanya tidur dan main game. Dia bilang aku tidak pernah bekerja. Dia bilang selama berumah tangga denganku, dia lah yang menjadi tulang punggung”

    Maru terkekeh, seolah sedang mengejek dirinya sendiri.

    Ia menatap langit-langit kamar.

    Melihat angka-angka yang berputar di kepalanya.

    Tujuh belas tahun.

    Maru : “Tujuh belas tahun, Ra”

    Maru:”Selama tujuh belas tahun ini, dari mana dia mendapatkan uang untuk perawatan kecantikannya?”

    Maru :”Dari mana, dia bisa mendapatkan uang untuk liburan dengan teman-temannya?”

    Maru :”Dari mana Ra?Dari mana?Kalau bukan dari aku yang bekerja banting tulang tanpa kenal waktu. Baik siang maupun malam, Ra.”

    Jarinya berhenti. Sesak di dadanya kembali terasa, ketika ingatan akan ucapan wanita itu kembali muncul di kepalanya.

    Lalu satu pesan terakhir kembali terkirim.

    Maru :”Aku benar-benar merasa dikhianati oleh semuanya.”

    Maru menaruh ponsel di sampingnya. Menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.

    Ada pepatah yang  mengatakan ‘Laki-laki tidak boleh menangis’

    Tapi kali ini untuk pertama kalinya, ia benar-benar menangis. Melepaskan semua sesak yang selama ini tertahan di dadanya. Di Dalam kamar yang kosong itu, ia  menangis sejadi-jadinya.

    Di saat  ia tenggelam dalam  tangisnya, suara notifikasi kembali terdengar. Ia menoleh ke arah ponselnya. Pesan dari Ayra kembali muncul.

    Ayra :”Aku percaya padamu, Mar”

    Ayra :”Jangan pernah merasa sendiri. Ada aku. Jika saat ini kau ingin menangis dan meluapkan semuanya. Kau bisa meluapkan semua itu padaku. Aku ada disini bersamamu”

    Pupil mata maru bergetar. Menatap pesan itu. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mengatakan hal itu padanya. Ada  rasa hangat menyentuh hatinya ketika membaca pesan itu. Senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibirnya.

    Ia tidak langsung membalas hanya menatap pesan itu berulang kali. Seolah ia ingin meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah membaca.

    Sampai pesan lain kembali muncul.

    Ayra : “Kalau boleh tahu, kamu dimana sekarang?”

    Maru mengusap pipinya dengan cepat, lalu segera membalas.

    Maru :”Aku di Garut, di rumah salah satu temanku”

    Tanpa menunggu balasan, iia kembali mengetik lalu mengirimkannya.

    Maru “Aku sedang mencari pekerjaan disini. Tapi sayangnya, aku belum mendapatkanya.”

    Ayra :”Aku tidak bermaksud untuk mematahkan semangatmu. Tapi dengan keadaanmu sekarang, ku rasa kau bukan sedang mencari pekerjaan.

    Ayra:” Tapi lebih tepatnya kau saat ini sedang melakukan pelarian dari masa  lukamu.”

    Maru termenung membaca pesan itu. Ia merasa apa yang ditulis Ayra memang benar. Ia baru menyadari  sesuatu.

    Jika ditanya apakah saat ini ia benar-benar membutuhkah pekerjaan jawabannya mungkin iya. Namun, yang sebenarnya ia butuhkan adalah waktu. Waktu untuk memulihkan dirinya. Waktu untuk memperbaiki  mental dan hatinya yang hancur.

    Ia tidak benar-benar mencari pekerjaan.

    Ia hanya sedang mencari pelarian untuk lukanya.

     

     

    Kreator : Ayra (Pisces aqua)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1. Pelarian Masa Luka

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021