Di ruang guru tengah diadakan briefing para wali kelas dengan pengurus di sekolah dimana pada hari itu akan mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa dari masing-masing kelas. Kepala Sekolah serta jajarannya memberikan arahan apa saja yang harus disampaikan kepada wali murid. Dari mulai peraturan hingga tata tertib. Sehingga tak akan ada ketimpangan di antara pihak sekolah dengan orang tua.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Seluruh wali murid telah memasuki masing-masing ruangan sesuai dengan kelas anak mereka. Kaisya mulai memasuki kelas VII F dengan sopan dan senyum khas yang menghiasi wajahnya menyapa seluruh isi ruangan. Belum semua tamu undangan hadir. Terlihat baru beberapa orang saja. Kaisya mempersilahkan orang tua yang sudah hadir untuk menandatangani kehadiran yang berisi nama siswa, alamat, kontak telepon wali dan tanda tangan.
Dirasa sudah cukup banyak yang hadir, Kaisya mulai memperkenalkan diri. Setelah itu, ia mulai mengabsen nama siswa satu per satu meskipun yang mengangkat tangan adalah orang tuanya. Bukan tanpa sebab, ia hanya ingin mengetahui wali dari anak-anak didiknya. Namun tanpa diduga, saat beberapa menit berlangsung, seorang pria datang dengan pakaian rapi menghampiri Kaisya dan memberi salam.
“Assalamu’alaikum. Maaf saya terlambat, Bu. Kebetulan tadi ada keperluan dulu. Saya orang tua dari Mikayla Anindita. Benar ini kelas tujuh F?”
“Wa’alaikumsalam. Oh, iya benar. Tidak apa-apa, Bapak. Kebetulan memang baru perkenalan saja. Sebelumnya, silahkan Bapak isi terlebih dahulu daftar kehadirannya,” ujar Kaisya.
Lelaki itu pun mulai menulis. Setelah beres, dipersilahkannya untuk menuju kursi yang tersedia.
“Terima kasih, Bu,” ucap lelaki itu lantas berlalu mencari tempat duduk yang masih kosong.
“Baiklah, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih atas waktunya sehingga bisa menyempatkan diri untuk menghadiri acara ini dimana dengan tujuan untuk bersilaturahmi antara pihak sekolah, khususnya Wali Kelas dengan orang tua siswa.”
“Setelah kita saling memperkenalkan diri tadi, mungkin disini saya ingin sekedar menyampaikan beberapa peraturan dan tata tertib yang harus dipatuhi oleh siswa dan diketahui wali murid. Pertama, mengenai seragam. Hari Senin dan Selasa memakai putih biru. Hari Rabu dan Kamis memakai batik bawahan putih. Untuk Jumat pakaian pramuka. Jika berkerudung, maka warna dari kerudung disesuaikan dengan warna bawahan. Artinya, Senin Selasa pakai biru dan Rabu Kamis pakai putih, sedangkan Jumat pramuka. Mengapa sampai hari Jumat karena memang Full Day School,” terang Kaisya.
Di saat sedang menjelaskan, tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada lelaki yang datang terlambat tadi. Detak jantungnya tak beraturan, ditambah dengan senyuman khas dari sosok tersebut. Ya, akhirnya ia mengenal siapa orang itu. Dengan cepat Kaisya kembali berfokus pada apa yang harus disampaikan. Selain keseragaman pakaian dan perlengkapan lain, juga tentang buku poin yang harus diikuti sebagai rambu-rambu jika terdapat pelanggaran dalam proses pembelajaran atau sedang berada di lingkungan sekolah. Agar menjadi perhatian bagi peserta didik juga orang tua.
“Jika ada pertanyaan, silahkan Bapak dan Ibu boleh mengajukan,” ucap Kaisya.
Nampak tidak ada yang mengacungkan tangan untuk melempar pertanyaan. Mungkin sudah begitu jelas Kaisya menyampaikan hal berkaitan dengan peraturan dan tata tertib. Hingga kerja sama orang tua agar bisa lebih memperhatikan kegiatan anak dirumah. Karena jika hanya berfokus pada sekolah tidak akan ada hasilnya.
“Namun, mungkin saya disini mengingatkan kembali bahwa kita punya tanggung jawab dan amanah untuk membimbing dan mendidik anak kita. Pasti Ibu dan Bapak tentu sudah paham dengan pola asuh anak-anak. Apalagi saya disini masih muda, sehingga perlu juga arahan dari Ibu Bapak sekalian. Mungkin sekian dari saya untuk pertemuan ini. Semoga apa yang disampaikan ada bermanfaat dan mohon maaf jika ada salah kata yang mungkin tak sengaja saya ucapkan. Sekian dan terima kasih. Assalamu’alaikum,” ujar Kaisya.
Satu per satu para orang tua mulai meninggalkan ruang kelas. Hingga tiba giliran sosok lelaki tersebut. Ia menghampiri Kaisya dan duduk di hadapannya.
“Gimana kabarnya? Sehat?” tanya lelaki tersebut sontak membuat Kaisya membulatkan matanya terkejut.
“Alhamdulillah, sehat. Gian, kan?”
Lelaki itu mengangguk. “Gimana denganmu?”
“Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah ya sudah menjadi guru sesuai dengan cita-citamu dulu,” ucapnya.
“Alhamdulillah,” ucap Kaisya.
“Gak menyangka kamu jadi Wali Kelas anakku. Nitip ya. Kalau ada apa-apa kamu kontak saja,” ujar Gian.
“Insya Allah,” kata Kaisya.
“Boleh minta kontaknya? Biar bisa komunikasi nantinya,” ucapnya.
Kaisya memberikan kontaknya pada Gian. Lalu dengan cepat lelaki itu meneleponnya. Muncul kontak di WA-nya, panggilan dari kontak baru.
“Kalau ada hal yang ingin disampaikan mengenai Mikayla langsung saja pada kontak itu,” ucap Gian.
Tanpa basa-basi Kaisya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Meskipun memang detak jantungnya tak beraturan. Entah mengapa terjadi lagi padahal kini dirinya sudah memiliki suami dan anak. Apakah mungkin rasa pada lelaki dihadapannya itu belum sepenuhnya musnah? Padahal sudah belasan tahun lamanya tak pernah saling bertatap muka.
Gian berpamitan karena ada urusan lain yang harus diselesaikan. Sepeninggal lelaki itu, Kaisya tampak termenung. Dirinya masih belum percaya jika yang barusan pergi adalah sosok lelaki yang pernah bersemayam di hatinya. Meskipun tanpa adanya hubungan asmara, namun rasa itu tumbuh begitu saja tanpa permisi.
“Bu Kay, sudah beres?” Tiba-tiba seorang guru datang menghampirinya.
“Alhamdulillah sudah. Bu Okta sendiri?” tanya Kaisya.
“Sudah. Kalau begitu kita ke ruang guru yuk,” ajak Bu Okta.
Keduanya beranjak dan menuju ruang guru. Tampak sedikit perbincangan dari keduanya saat membicarakan tentang pertemuannya dengan wali murid.
Sesampainya di ruang guru. Kaisya kembali menatap ponselnya. Matanya tertuju pada kontak panggilan dari Gian. Jujur saja, hatinya berbunga-bunga saat ini bagaikan tengah kasmaran. Namun, ia kembali pada kenyataan bahwa ada dua sosok yang sangat jelas dan nyata selalu berada di sampingnya, suami dan anak yang sudah menemaninya mengarungi kehidupan rumah tangga.
Segera ia tepis rasa aneh itu dalam benaknya. Dia tidak mungkin mengkhianati suami yang begitu menyayangi dan mempercayainya lebih dari apapun. Dan seorang anak pintar, lucu juga menggemaskan hasil buah cinta keduanya tak mungkin harus membuatnya kecewa.
Di sela bayangan kedua orang yang disayanginya, muncul notifikasi pesan WA di ponselnya. Betapa terkejutnya bahwa yang mengirimi ia pesan adalah Gian. Matanya membulat sempurna. Jantungnya berdebar kembali diambang batas normal.
“Kay, jangan lupa simpan kontak ini.”
Entah apa yang ada di pikiran Gian. Padahal tadi ketika bertemu sudah ia sampaikan untuk menyimpan kontaknya. Tapi lelaki itu pun kembali mengingatkan dengan memberikan pesan singkat melalui pesan WA.
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 1. Pertemuan
Sorry, comment are closed for this post.