“Apa yang sebenarnya dicari seseorang ketika ia memilih diam?. Apa yang dicari dalam diam dan kenapa memilih tinggal di sana? “
Epilog Coffee Yogyakarta, Ulang Tahun Arlingga
Hujan turun tanpa suara yang berarti. Di sudut kafe yang hampir tak pernah diperhatikan, meja nomor empat di sisi paling barat, Niken… duduk menghadap jendela berembun, dengan secangkir kopi yang telah kehilangan hangatnya.
Orang – orang datang dan pergi, membawa suara mereka masing – masing. Tawa menggelegar, percakapan saling bertabrakan, sendok beradu dengan cangkir.
Namun tak satu pun yang benar – benar tinggal.
Di meja – meja tengah, hidup tampak terang. Kursi penuh, cerita mengalir, nama – nama dipanggil dengan akrab. Sementara di sudut ini, waktu seolah lupa berhenti.
Bukan sebentar Niken bersahabat dengan bayangan dan diam. Meja kayu tua itu mengenal berat lengannya lebih dari siapa pun. Dan kursi di depannya… selalu kosong.
Sebagai sahabatnya, yang aku tahu… Niken pernah punya rencana untuk mengisinya. Seseorang yang seharusnya duduk di sana, menertawakan hujan, atau sekadar memandangi jendela bersamaku. Namun waktu menghapusnya lebih cepat daripada yang sempat dapat ia pahami tentang kehilangan.
Sejak saat itu, Niken tetap datang. Duduk di tempat yang sama. Memesan kopi yang sama. Dan membiarkannya dingin dengan cara yang sama.
Tahun demi tahun menjadi saksi, dan Niken masih saja mencintai Arkana Wibisono… dalam diam. Dan sementara itu, waktu mengikis segalanya, jejak – jejak harapan, dihapus ombak kesunyian.
Tak ada lagi tangis, tak ada lagi rindu. Hanya ada dirinya, dan keheningan, hidup berdampingan dalam kesendirian abadi. Cinta itu mati, bahkan sebelum sempat hidup, meninggalkannya dalam sunyi yang tak terperi.
Hari ini, aku ulang tahun dan ia mengajakku ke café yang sama. Pelayan kafe sempat melirik ke arahku.
Seolah ingin bertanya, lalu mengurungkan niatnya. Mungkin ia tahu… beberapa hal memang tidak membutuhkan jawaban.
Hujan di luar melukis garis – garis samar di kaca jendela. Dengan ujung jari, selain Niken… aku juga pernah menuliskan sebuah nama di sana. Lalu menghapusnya perlahan, seperti cara ia pergi… tanpa jejak, tanpa suara.
Sebuah nama yang pernah kupahat pada salah satu kayu penopang rumah pohon. Nama dari sosok tenang penuh kehati – hatian, yang tak pernah tahu kucintai sedalam itu.
Tiap kali ingat dirinya, desiran aneh masih memilih hadir daripada pergi tanpa pegangan. Padahal telah kulepaskan terbang dan tak pernah menahannya tinggal, karena aku tahu… ia pasti akan menolak untuk dimiliki.
“ Di tempat ini, aku belajar satu hal, bahwa tidak semua yang datang dimaksudkan untuk tinggal”, desahku dalam keluh getirku pada Niken saat itu.
Ia mengangguk pelan. Mungkin di dalam hatinya, dirinya membenarkan kata – kataku. Karena ia juga mengalami dan ikut merasakan hal yang sama.
Orang – orang terus berdatangan. Membawa cerita hangat, lalu pergi bersama ceritanya masing – masing.
Tak ada yang tersisa, selain kursi kosong dan sisa gema tawa yang cepat menghilang.
Terkadang ada seseorang yang hampir duduk di meja itu. Melirik sebentar, lalu memilih tempat lain. Seolah sudut itu memang ditakdirkan untuk tak dipilih. Dan aku… tak lagi mencoba mengubahnya.
Kopi di tanganku telah lama kehilangan hangatnya.
Namun aku tetap menyesapnya, perlahan, menikmati pahit yang jujur.
“Setidaknya, rasa ini tidak pura – pura”, aku akhirnya menjawab perkataannya tadi dengan ringan, setelah cukup lama mendiamkan.
Di luar, hujan mulai mereda. Kota perlahan kembali bergerak, lampu – lampu menyala satu per satu. Orang – orang terakhir meninggalkan kafe, membawa suara mereka keluar.
Tinggal aku, Niken, meja tua, dan sunyi yang setia. Untuk pertama kalinya, aku dan Niken tidak menunggu. Bukan karena yakin ia tidak akan datang, tapi karena kami akhirnya mengerti…
“Aku tidak perlu lagi bertahan di tempat yang tidak pernah benar – benar menahanku”, katanya sambil tersenyum perih.
Aku dan Niken berdiri. Meninggalkan cangkir kosong dan jendela yang mulai mengering. Di belakangku, meja pojok itu tetap diam, seperti biasa.
Tak pernah ditunggu, tak pernah dicari. Namun kali ini, aku tidak lagi merasa menjadi bagian darinya.
Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]
Comment Closed: Bab.1. Ruang Sunyi
Sorry, comment are closed for this post.