KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab.1. Ruang Sunyi

    Bab.1. Ruang Sunyi

    BY 11 Jul 2026 Dilihat: 10 kali
    Ruang Sunyi_alineaku

    “Apa yang sebenarnya dicari seseorang ketika ia memilih diam?. Apa yang dicari dalam diam dan kenapa memilih tinggal di sana? “

     

    Epilog Coffee Yogyakarta, Ulang Tahun Arlingga

     

    Hujan turun tanpa suara yang berarti. Di sudut kafe yang hampir tak pernah diperhatikan, meja nomor empat di sisi paling barat, Niken… duduk menghadap jendela berembun, dengan secangkir kopi yang telah kehilangan hangatnya.

     

    Orang – orang datang dan pergi, membawa suara mereka masing – masing. Tawa menggelegar, percakapan saling bertabrakan, sendok beradu dengan cangkir.
    Namun tak satu pun yang benar – benar tinggal.

     

    Di meja – meja tengah, hidup tampak terang. Kursi penuh, cerita mengalir, nama – nama dipanggil dengan akrab. Sementara di sudut ini, waktu seolah lupa berhenti.

     

    Bukan sebentar Niken bersahabat dengan bayangan dan diam. Meja kayu tua itu mengenal berat lengannya  lebih dari siapa pun. Dan kursi di depannya… selalu kosong.

     

    Sebagai sahabatnya, yang aku tahu… Niken pernah punya rencana untuk mengisinya. Seseorang yang seharusnya duduk di sana, menertawakan hujan, atau sekadar memandangi jendela bersamaku. Namun waktu menghapusnya lebih cepat daripada yang sempat dapat ia pahami tentang kehilangan.

     

    Sejak saat itu, Niken tetap datang. Duduk di tempat yang sama. Memesan kopi yang sama. Dan membiarkannya dingin dengan cara yang sama.

     

    Tahun demi tahun menjadi saksi, dan Niken masih saja mencintai Arkana Wibisono… dalam diam. Dan sementara itu, waktu mengikis segalanya, jejak – jejak harapan, dihapus ombak kesunyian.

     

    Tak ada lagi tangis, tak ada lagi rindu. Hanya ada dirinya, dan keheningan, hidup berdampingan dalam kesendirian abadi. Cinta itu mati, bahkan sebelum sempat hidup, meninggalkannya dalam sunyi yang tak terperi.

     

    Hari ini, aku ulang tahun dan ia mengajakku ke café yang sama. Pelayan kafe sempat melirik ke arahku.
    Seolah ingin bertanya, lalu mengurungkan niatnya. Mungkin ia tahu… beberapa hal memang tidak membutuhkan jawaban.

     

    Hujan di luar melukis garis – garis samar di kaca jendela. Dengan ujung jari, selain Niken… aku juga pernah menuliskan sebuah nama di sana. Lalu menghapusnya perlahan, seperti cara ia pergi… tanpa jejak, tanpa suara.

     

    Sebuah nama yang pernah kupahat pada salah satu kayu penopang rumah pohon. Nama dari sosok tenang penuh kehati – hatian, yang tak pernah tahu kucintai sedalam itu. 

     

    Tiap kali ingat dirinya, desiran aneh masih memilih hadir daripada pergi tanpa pegangan. Padahal telah kulepaskan terbang dan tak pernah menahannya tinggal, karena aku tahu… ia pasti akan menolak untuk dimiliki.

     

    “ Di tempat ini, aku belajar satu hal, bahwa tidak semua yang datang dimaksudkan untuk tinggal”, desahku dalam keluh getirku pada Niken saat itu. 

     

    Ia mengangguk pelan. Mungkin di dalam hatinya, dirinya membenarkan kata – kataku. Karena ia juga mengalami dan ikut merasakan hal yang sama.

     

    Orang – orang terus berdatangan. Membawa cerita hangat, lalu pergi bersama ceritanya masing – masing.
    Tak ada yang tersisa, selain kursi kosong dan sisa gema tawa yang cepat menghilang.

     

    Terkadang ada seseorang yang hampir duduk di meja itu. Melirik sebentar, lalu memilih tempat lain. Seolah sudut itu memang ditakdirkan untuk tak dipilih. Dan aku… tak lagi mencoba mengubahnya.

     

    Kopi di tanganku telah lama kehilangan hangatnya.
    Namun aku tetap menyesapnya, perlahan, menikmati pahit yang jujur. 

     

    “Setidaknya, rasa ini tidak pura – pura”, aku akhirnya menjawab perkataannya tadi dengan ringan, setelah cukup lama mendiamkan.

     

    Di luar, hujan mulai mereda. Kota perlahan kembali bergerak, lampu – lampu menyala satu per satu. Orang – orang terakhir meninggalkan kafe, membawa suara mereka keluar.

     

     Tinggal aku, Niken, meja tua, dan sunyi yang setia. Untuk pertama kalinya, aku dan Niken tidak menunggu. Bukan karena yakin ia tidak akan datang, tapi karena kami akhirnya mengerti… 

     

    “Aku tidak perlu lagi bertahan di tempat yang tidak pernah benar – benar menahanku”, katanya sambil tersenyum perih.

     

    Aku dan Niken berdiri. Meninggalkan cangkir kosong dan jendela yang mulai mengering. Di belakangku, meja pojok itu tetap diam, seperti biasa. 

     

    Tak pernah ditunggu, tak pernah dicari. Namun kali ini, aku tidak lagi merasa menjadi bagian darinya.

     

     

    Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab.1. Ruang Sunyi

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021