Pagi itu, Eva berjalan santai menuju sekolah. Seragam SMP-nya terlihat rapi, sementara tasnya digantung di satu bahu dengan gaya khas anak sekolah. Di samping kanan dan kirinya ada May dan Nena—dua sahabat yang selalu jadi teman cerita, partner belajar, sekaligus tempat berbagi gosip receh setiap hari.
“Gila sih PR matematika semalem,” keluh Nena sambil manyun.
“Iya, gue sampe hampir nyerah. Untung kita video call,” timpal Eva sambil tertawa kecil.
May nyengir. “Kalo nggak, udah pasti dikumpulin kosong.”
Mereka bertiga tertawa bersama, merasa lega karena akhirnya soal yang bikin pusing itu bisa diselesaikan. Obrolan mereka mengalir santai. Kadang serius, kadang bercanda.
Di sisi lain jalan, seorang cowok berseragam SMA juga sedang berjalan pulang. Namanya Winar. Rambutnya agak berantakan, dasinya udah longgar, kelihatan capek tapi tetap santai.
Saat sedang berjalan, pandangannya tiba-tiba tertuju pada tiga gadis yang lagi asyik ngobrol. Lebih tepatnya… ke Eva.
Langkahnya perlahan melambat. Matanya diam-diam mengikuti gerak Eva yang sedang tertawa kecil bersama teman-temannya. Ada sesuatu dari gadis itu yang langsung menarik perhatiannya, padahal sebenarnya mereka sudah cukup sering lewat di jalan yang sama.
“Siapa ya?” gumam Winar pelan.
Eva sama sekali tak sadar. Dia terlalu fokus dengan obrolannya.
“Eh nanti istirahat kita ke kantin ya. Gue lapar banget,” ajak May.
“Setuju. Tapi jangan lupa bawa buku, takut ada dadakan ulangan,” jawab Eva.
Nena langsung protes, “Ih jangan ngomongin ulangan pagi-pagi!”
Mereka bertiga lewat di depan Winar, jaraknya cuma beberapa meter. Winar sempat berharap Eva akan menengok atau sekadar sadar kalau ada yang memperhatikan dia. Sayangnya, nihil.
Eva terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Winar cuma bisa melihatnya dari belakang, meringis tipis, bercampur rasa penasaran.
“Padahal kayak pernah liat…” pikirnya.
Dan sebenarnya, mereka memang bukan orang asing sepenuhnya.
Rumah Eva dan Winar cuma beda satu gang. Tapi karena tinggal di kota yang sibuk, masing-masing jarang keluar rumah selain untuk sekolah atau keperluan penting. Tidak ada momen buat sekadar kenalan, bahkan menyapa pun jarang. Ironis sih, tetangga tapi rasanya seperti orang asing.
Hari itu jadi awal yang aneh buat Winar. Sepanjang jalan pulang, pikirannya masih tertuju pada Eva.
“Kenapa gue kepikiran ya…” Winar geleng-geleng sendiri.
Sementara itu, Eva sudah sampai di gerbang sekolahnya. Dia masih ngobrol dengan May dan Nena, sama sekali tidak kepikiran soal cowok yang tadi sempat memperhatikannya.
Hari berjalan seperti biasa buat Eva. Belajar, bercanda, dan mengeluh soal tugas.
Tapi buat Winar, hari itu berbeda.
Sejak pertemuan singkat di jalan itu, ada rasa penasaran yang tidak bisa dijelaskan. Bukan cuma soal siapa Eva, tapi juga kenapa gadis itu bisa langsung nyangkut di pikirannya.
Dan, tanpa Eva sadari, pagi itu bukan cuma sekadar perjalanan ke sekolah.
Itu adalah awal dari cerita yang perlahan akan mengubah takdir mereka berdua.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil Akbar )
Comment Closed: BAB 1 – Satu Gang, Dua Dunia, Satu Tatapan
Sorry, comment are closed for this post.