
Deru mesin pesawat Boeing 737-800 milik maskapai pelat merah itu terdengar konstan, membelah awan-awan kumulus di atas perbatasan pulau Kalimantan dan Laut Jawa. Di dalam kabin kelas ekonomi yang sejuk, aromanya khas—perpaduan antara wangi kopi instan yang diseduh pramugari, sisa-sisa aroma minyak telon dari penumpang beberapa baris di depan, dan sirkulasi udara AC yang kering.
Bagi tim proyek infrastruktur PT. Megah Perkasa, penerbangan ini bukan sekadar perjalanan pulang. Ini adalah tanda tuntasnya kerja keras selama tiga bulan penuh di pedalaman Kalimantan Barat. Wajah-wajah lelah namun lega terlihat jelas di sepanjang baris kursi 14 hingga 18. Ada yang langsung memasang earphone untuk tidur, ada yang sibuk membolak-balik majalah dinding pesawat, dan ada pula yang asyik memandangi hamparan daratan yang kian mengecil di bawah sana.
Winar duduk di kursi 15A, tepat di samping jendela. Pemuda yang kini berusia 26 tahun itu memiliki rahang yang tegas, kulit yang sedikit menggelap karena sengatan matahari proyek, dan sepasang mata yang selalu memancarkan ketenangan. Dia menyandarkan kepalanya, menatap keluar jendela di mana daratan Kalimantan perlahan menghilang di balik gumpalan awan putih. Pikirannya tidak lagi berada di ruang kabin itu. Pikirannya sudah terbang jauh mendahului kecepatan pesawat, mendarat di sebuah rumah yang berada ujung gang daerah Jakarta Barat, tepatnya di depan sebuah rumah berpagar putih dengan pohon mangga di depannya. Rumah Eva.
Sementara itu, dua baris di belakang Winar, tepatnya di kursi 17D dan 17E, terjadi sebuah pemandangan yang tidak biasa bagi anggota tim lainnya. Ronald, salah satu teknisi senior yang terkenal dengan pembawaannya yang santai dan ceplas-ceplos, menoleh ke arah teman sebangkunya dengan alis bertautan. Di sebelahnya, duduk Sesil, staf administrasi proyek yang biasanya selalu mencari cara untuk bisa berada di dekat Winar.
Sesil siang itu terlihat anggun dengan blus kasual berwarna pastel. Rambutnya yang sebahu ditata rapi, namun ada semburat ekspresi yang sulit diartikan di wajahnya—antara lega, pasrah, dan sedikit geli.
Ronald membetulkan posisi duduknya, lalu menyenggol lengan Sesil dengan sikunya, sengaja memecah keheningan di antara mereka.
“Sil, gue perhatiin dari pas di ruang tunggu bandara tadi sampai kita naik boarding, lo kok ganteng banget sih?” tanya Ronald dengan nada menyelidik, khas gaya bicaranya yang menggunakan bahasa gaul Jakarta yang kental namun tetap menjaga kesopanan. “Tumben banget lo nggak nyari taktik buat duduk dekat Winar? Biasanya kan lo paling gencar minta tukeran kursi sama anak-anak biar bisa mepet sama Pak Ketua Proyek kita itu.”
Sesil menoleh, lalu mengembuskan napas pelan dari hidungnya. Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. Dia memperbaiki posisi duduknya agar lebih menghadap ke arah Ronald, memastikan volume suaranya tidak mengganggu penumpang lain di sekitar mereka.
“Ih, apa sih lo, Nald. Gosip aja kerjaannya,” sahut Sesil, nadanya santai, tidak menunjukkan kekesalan yang biasanya dia perlihatkan jika digoda soal Winar. “Gue sengaja kali. Lagian, ngapain juga gue ganggu orang yang pikirannya udah nggak di sini lagi?”
Ronald mengernyitkan dahi, merasa tertarik dengan arah pembicaraan ini. “Maksud lo? Pikirannya nggak di sini gimana? Winar kan fisiknya jelas-jelas duduk manis di kursi 15A itu, sambil mandangin awan kayak pujangga kurang tidur.”
Sesil terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. “Nald, asal lo tahu ya, Winar itu udah ada yang punya. Dia udah punya pacar.”
Mendengar ucapan Sesil, Ronald hampir saja tersedak air liur sendiri. Mata Ronald membelalak, dia memajukan badannya, merasa mendapat berita eksklusif yang selama tiga bulan ini luput dari radar pencariannya. Dia pura-pura kaget saat mendengarnya. Tapi sebenarnya Ronald kaget juga sih…, kok Sesil tau kalau Winar punya pacar. Tapi sebenarnya tepatnya gadis impian yang diincar Winar sejak lama. Sebagai salah satu teman dekat Winar di kantor, Ronald sebenarnya tahu banyak hal tentang Winar, tapi informasi yang satu ini benar-benar dia jaga jangan sampai orang lain tahu..
“Demi apa lo, Sil? Seriusan?” Ronald berbisik setengah berteriak, memastikan suaranya tidak terdengar sampai ke baris kursi Winar. “Winar punya pacar? Kok bisa? Sejak kapan? Siapa ceweknya, wey? Jangan bikin gue penasaran gini deh.” Pernyataannya seolah-olah dia baru dengar gossip ini.
Sesil tersenyum melihat reaksi Ronald yang berlebihan namun menghibur. “Seriuslah, masa gue bohong soal ginian. Ya… gue tahu diri aja sekarang. Makanya gue nggak mau jadi orang ketiga atau pengganggu yang nggak tahu tempat.”
Ronald mengusap dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis, otaknya langsung bekerja mengabsen nama-nama perempuan yang sekiranya dekat dengan Winar di lingkungan kerja mereka. “Bentar, bentar… let me guess. Siapa pacarnya Winar? Apa jangan-jangan Mayang? Anak divisi keuangan yang di lantai empat itu bukan? Soalnya gue inget banget, sebelum kita berangkat ke Kalimantan tiga bulan lalu, Mayang sering banget tuh main ke kubikelnya Winar. Alasan nanyain reimbursement lah, nanyain nota dinas lah. Padahal mah modusnya kelihatan banget. Apa bener Mayang ceweknya?”
Sesil mendengarkan tebakan Ronald dengan senyum yang perlahan berubah menjadi agak kikuk. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
“Bukan, Nald. Bukan Mayang. Tadinya gue pikir juga Mayang. Tapi ternyata bukan.” Jawab Sesil lirih
“Lho, kalau bukan Mayang, siapa dong? Anak kantor kita juga tapi beda divisi lagi? Atau jangan-jangan klien kita yang di Balikpapan kemarin?” cecar Ronald pura-pura penasaran.
Sesil menggelengkan kepala. Pikirannya langsung melayang kembali ke masa beberapa hari sebelum mereka semua bertolak ke Kalimantan untuk proyek ini. Ingatannya berputar pada sebuah obrolan empat mata antara dirinya dan Winar di area merokok kantor, sebuah momen yang akhirnya mengubah sudut pandangnya secara total.
Kala itu, seminggu sebelum keberangkatan tim ke Kalimantan, atmosfer kantor PT. Megah Perkasa memang sangat sibuk. Semua orang mengejar tenggat waktu penyelesaian dokumen penawaran dan logistik. Di tengah kesibukan itu, Sesil memberanikan diri mengajak Winar mengobrol di kantin belakang kantor saat jam istirahat sore hampir usai. Sesil yang saat itu memang menaruh hati pada Winar, mencoba mengulik sejauh mana kedekatan mereka dan bagaimana perasaan Winar yang sebenarnya terhadap dirinya.
Ronald yang duduk di sebelah Sesil di dalam pesawat, sebenarnya pernah mendengar cerita versi singkat dari Winar sendiri mengenai obrolan itu, namun dia tidak tahu detailnya dari sudut pandang Sesil.
“Sebenernya, Nald,” Sesil melanjutkan bicaranya dengan suara yang sangat tenang, “Winar tuh pernah ngobrol jujur banget sama gue. Waktu itu gue yang nanya duluan, sih. Kaya gue coba nembak dia duluan . Gue nanya ke dia, gimana pandangan dia tentang gue selama kita kerja bareng.”
Ronald mendengarkan dengan saksama, menahan diri untuk tidak memotong.
“Terus, Winar jawab apa?” tanya Ronald pelan.
“Winar bilang…” Sesil tersenyum, tidak ada rasa sakit hati di wajahnya, melainkan rasa hormat yang mendalam. “Dia bilang kalau dia sama sekali nggak ada perasaan istimewa yang mengarah ke hubungan asmara sama gue. Dia ngomongnya sopan banget, Nald. Nggak bikin gue ngerasa ditolak mentah-mentah atau dipermalukan. Dia bilang, ‘Sesil, lo itu temen kerja yang hebat, temen yang sangat baik, dan gue respek banget sama profesionalitas lo. Itu aja, nggak lebih.’ Gitu katanya.”
Ronald mengangguk-angguk. “Ya, khas Winar sih itu. Dia emang cowok yang lurus dan nggak suka PHP-in cewek. Kalau nggak ya bilang nggak, tapi tetep jaga perasaan orang. Terus, dia nggak cerita apa-apa lagi gitu soal alasan dia?”
“Jadi begitulah …,” lanjut Sesil, matanya menerawang menatap langit-langit kabin pesawat. Ronald menatap Sesil dan berbicara pelan padanya,” Winar pernah sedikit cerita ke gue sebagai temen. Dia bilang kalau sebenernya dia lagi naruh hati, lagi mengincar seorang gadis yang rumahnya deket sama rumah dia di Jakarta. Winar bilang, cewek itu namanya Eva.”
Mendengar nama itu disebut, Sesil mendadak terdiam sesaat. Ingatannya kembali ditarik ke sebuah sore yang cerah, tepat satu hari sebelum tim berangkat ke pulau seberang. Hari itu, Sesil sengaja datang ke rumah Winar dengan alasan mengantarkan beberapa berkas cetak yang tertinggal dan perlu ditandatangani segera oleh Winar sebagai manajer proyek.
Saat Sesil tiba di depan pagar rumah Winar, dia melihat seorang gadis berhijab sedang berjalan kaki dengan langkah perlahan melewati depan rumah Winar. Sepertinya baru pulang kerja. Karena terlihat wajahnya sedikit lelah. Gadis itu mengenakan baju berwarna cream dan rok berwarna milo, berhijab warna pastel. Ada beberapa helai anak rambutnya yang keluar dari hijab yang dia kenakan. Hijab itu membingkai wajahnya yang oval. Kulitnya berwarna kuning langsat, dan senyumnya saat menyapa tetangga sekitar terlihat begitu tulus dan hangat. Winar yang keluar dari dalam rumah untuk menyambut Sesil, sempat memanggil gadis itu untuk sekadar menyapanya dan memperkenalkan Eva pada Sesil saat itu.
“Sil, kenalin, ini Eva, tetangga rumahnya disamping masjid itu,” kata Winar saat itu dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan.
Sesil mengingat bagaimana dia menyapa Eva kala itu. Dalam hati, Sesil sempat mengamati dan membandingkan warna kulit dirinya dengan Eva. Emang sih warna kulitnya lebih putih dari Eva. Namun sore itu, di dalam pesawat, Sesil bergumam pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri namun masih bisa didengar oleh Ronald.
“Eva emang manis sih… Ga ngebosenin kalau dilihat. Auranya tuh adem, tipikal cewek yang santun dan ngademin hati. Ya… wajar banget sih kalau Winar bisa tertarik dan jatuh cinta sama dia.”
Sesil menghela napas lagi, kali ini ada rasa penyesalan yang melintas di wajahnya. Dia menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, menutup matanya sejenak. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada satu nama lagi yang mendadak muncul dan membuat hatinya merasa tidak enak. Mayang.
Selama berbulan-bulan di kantor, karena kedekatan Mayang dan Winar yang sering terlihat membahas pekerjaan, Sesil diam-diam sering merasa cemburu. Dia bahkan tak jarang melontarkan sindiran halus atau berburuk sangka bahwa Mayang sengaja ingin merebut perhatian Winar darinya. Sesil sering menganggap Mayang sebagai rival utamanya dalam memperebutkan hati Winar. Namun sekarang, setelah tahu kebenarannya bahwa hati Winar justru berlabuh pada Eva—seorang gadis yang bahkan tidak berada di lingkungan kantor mereka—Sesil menyadari betapa kelirunya dia selama ini.
Mayang… maafin gue ya. Gue udah salah sangka banget sama lo selama ini, batin Sesil berbisik penuh penyesalan. Dia berjanji dalam hati, setibanya di Jakarta nanti dan saat kembali masuk kantor, dia akan bersikap jauh lebih baik dan tulus kepada Mayang.
Ronald memperhatikan perubahan raut wajah Sesil. Sebagai pria yang sudah cukup lama mengenal Sesil sebagai rekan kerja, dia tahu bahwa di balik sifat Sesil yang kadang ambisius mengejar cinta Winar, dia adalah perempuan yang berhati baik dan jujur pada perasaannya sendiri. Melihat Sesil yang kini sudah bisa merelakan Winar dengan begitu dewasa, ada rasa kagum yang diam-diam menyelinap di hati Ronald.
Ronald sendiri adalah seorang pria lajang yang menyenangkan. Dia memiliki postur tubuh yang tegap, pembawaan yang humoris, dan senyum yang selalu berhasil mencairkan suasana. Statusnya yang masih jomblo sering kali menjadi bahan candaan di antara tim proyek, namun Ronald selalu menanggapinya dengan santai.
Melihat momen kelengangan ini, Ronald memutuskan untuk mencairkan suasana yang sempat agak melankolis. Dia menegakkan posisi duduknya, memasang senyum jahil terbaiknya, lalu menatap Sesil dengan tatapan menggoda.
“Eh, Sil,” panggil Ronald dengan nada suara yang dibuat-buat manis.
Sesil membuka matanya, menoleh ke arah Ronald dengan kening berkerut. “Apaan lagi, Nald? Jangan mulai bikin gossip lagi lo!.”
“Bukan gosip ini mah, ini penawaran masa depan yang cerah,” kata Ronald sambil terkekeh. “Udah deh, daripada lo galau mikirin Winar yang udah ada pawangnya, mending lo sama gue aja gimana? Kan kita posisinya sama-sama jomblo nih sekarang. Pas kan?”
Sesil spontan tertawa mendengar ucapan Ronald. “Hah? Apaan sih lo, Nald! Tiba-tiba banget jalurnya belok ke sini.”
“Gue serius tahu, Sil,” lanjut Ronald, meskipun nadanya bercanda, matanya menunjukkan binar yang jujur. “Pikirin deh baik-baik. Keuntungan sama gue tuh banyak. Selain gue ini asyik dan pengertian, kita kan satu keyakinan nih. Lagian, kalau hari Minggu mau ke gereja, kita bisa barengan terus. Nggak usah pusing mikirin jemputan lagi. Gue siap jadi supir pribadi sekaligus temen ibadah lo seumur hidup. Gimana? Menarik kan proposal gue?”
Sesil terdiam mendengar kalimat terakhir Ronald. Dia tidak langsung menjawab, melainkan menatap wajah pria di sebelahnya itu dengan lebih saksama. Selama ini, karena fokusnya selalu terarah pada Winar, Sesil hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan Ronald sebagai seorang pria.
Sore itu, di bawah pendar lampu kabin pesawat yang mulai temaram karena hari menjelang malam, Sesil baru menyadari sesuatu. Ganteng juga ya ternyata si Ronald kalau dilihat-lihat dari deket gini, batin Sesil. Garis wajah Ronald yang ramah, dipadukan dengan sifatnya yang selalu bisa membuatnya tertawa, mendadak terasa seperti sebuah kenyamanan baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Sebuah senyuman manis dan tulus perlahan terukir di wajah Sesil. Rasa canggung yang sempat ada menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya.
“Lo… serius nih, Nald? Nggak lagi bercanda atau gabut karena bosen di pesawat kan?” tanya Sesil, matanya menatap langsung ke manik mata Ronald, menuntut kesungguhan.
Ronald menahan senyum jahilnya, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih hangat dan penuh keyakinan. “Seriuslah, Sesil. Gue nggak pernah seberani ini kalau cuma mau bercanda soal perasaan atau soal ibadah. Gue beneran mau buka hati buat lo, kalau lo juga mau ngasih kesempatan itu ke gue.”
Mendengar jawaban yang begitu mantap, Sesil tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia mengangguk pelan, memberikan lampu hijau yang selama ini mungkin dinantikan tanpa disadari oleh Ronald.
Mereka berdua kemudian tertawa bersama—sebuah tawa bahagia yang lirih namun sarat akan makna awal yang baru. Di tengah tawa itu, perlahan namun pasti, jemari tangan Ronald yang kokoh bergerak mendekati tangan Sesil yang berada di atas pembatas kursi. Dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh kelembutan, Ronald meraih jemari Sesil yang lentik, kemudian menggenggamnya dengan erat.
Sesil tidak menarik tangannya. Dia justru membalas genggaman itu, merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangan Ronald menuju hatinya. Di atas ketinggian ribuan kaki, di atas hamparan awan yang mulai menggelap seiring matahari yang terbenam di ufuk barat, sebuah kisah baru baru saja dimulai.
Waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB ketika roda-roda pesawat Boeing tersebut menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan hentakan halus. Suara gemuruh mesin yang berbalik arah untuk pengereman bergema di dalam kabin, disusul oleh pengumuman dari pramugari yang menyambut para penumpang kembali di Jakarta.
Setelah pesawat benar-benar berhenti di gerbang kedatangan dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan, seluruh penumpang mulai berdiri untuk mengambil barang di bagasi kabin. Tim proyek PT.Megah Perkasa berkumpul sejenak di area pengambilan bagasi besar (conveyor belt) untuk memastikan seluruh peralatan proyek dan koper pribadi tidak ada yang tertinggal.
Winar berdiri di tengah-tengah timnya, memberikan beberapa arahan terakhir mengenai laporan penutupan proyek yang harus diserahkan keesokan harinya di kantor pusat. Setelah semua koper berhasil dikumpulkan, Winar tersenyum dan menyalami anggota timnya satu per satu.
“Oke, semuanya. Terima kasih banyak atas kerja kerasnya selama tiga bulan ini di Kalimantan. Proyek kita sukses, dan itu semua berkat dedikasi kalian yang luar biasa. Sekarang, silakan pulang ke rumah masing-masing, istirahat yang cukup. Sampai ketemu di kantor besok pagi ya,” kata Winar dengan suara yang tegas namun penuh rasa kekeluargaan.
Saat bersalaman dengan Ronald dan Sesil, Winar sempat menyadari sesuatu yang berbeda dari kedua stafnya itu. Mereka berdua berdiri berdampingan dengan jarak yang lebih dekat dari biasanya, dan ada senyuman yang terus mengembang di wajah masing-masing. Namun, karena fokusnya yang sudah terbagi dengan urusan pribadinya, Winar tidak sempat menanyakan hal itu lebih lanjut. Dia hanya mendoakan agar mereka selamat sampai di rumah.
“Gue duluan ya, semuanya,” pamit Winar sambil melambaikan tangan.
Winar segera berjalan cepat menuju pintu keluar terminal kedatangan. Sambil berjalan, jemarinya dengan cekatan membuka aplikasi transportasi daring di ponsel pintarnya untuk memesan mobil online. Setelah mendapatkan konfirmasi pengemudi dan nomor pelat kendaraan, dia menunggu di titik penjemputan yang telah ditentukan.
Beruntung bagi Winar, arus lalu lintas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kediamannya di kawasan Jakarta Barat malam itu tergolong cukup lancar. Meskipun ada sedikit hambatan di beberapa titik masuk tol karena jam pulang kantor, mobil yang ditumpanginya dapat melaju dengan kecepatan stabil. Di sepanjang perjalanan, Winar kembali mencoba memeriksa ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Eva. Namun, nomor Eva masih tetap sama seperti beberapa hari terakhir: tidak aktif dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Hal ini sempat menimbulkan kerutan samar di dahi Winar, memicu rasa khawatir yang terus menumpuk di dadanya.
Tepat pukul 18.40 WIB, mobil daring yang membawa Winar memasuki kawasan rumahnya dan berhenti tepat di depan pagar. Setelah membayar ongkos perjalanan dan memberikan ucapan terima kasih kepada pengemudi, Winar menurunkan kopernya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Kedua orang tuanya menyambut kepulangan Winar dengan suka cita. Namun, Winar yang tahu waktu magrib akan segera usai, segera meminta izin untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dia bergegas ke kamar mandi, membasuh seluruh debu dan kelelahan perjalanan dengan air dingin yang menyegarkan. Setelah itu, dia mengenakan pakaian bersih dan kain sarung, lalu menunaikan salat magrib di dalam kamarnya dengan khusyuk.
Usai salat, Winar duduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya kembali tertuju pada Eva. Rumah mereka hanya berjarak beberapa bangunan saja di gang yang sama, namun Winar memutuskan untuk menahan diri. Dia berencana untuk menunaikan salat isya terlebih dahulu secara berjamaah di masjid jami yang terletak di ujung gang, samping rumah Eva. Baru kemudian setelah itu dia akan melangkahkan kaki menuju rumah Eva untuk memberikan kejutan sekaligus melepas rindu yang telah menggunung selama tiga bulan.
Tak lama berselang, gema suara azan isya mulai berkumandang dengan merdu dari pelantang suara masjid, memecah keheningan malam di lingkungan sekitar. Winar segera berdiri, merapikan pakaiannya, mengenakan peci hitam, dan melangkahkan kakinya dengan mantap keluar rumah menuju rumah Allah.
Suasana masjid malam itu cukup ramai oleh para jamaah dari warga sekitar. Mungkin karena hari Minggu banyak warga sekitar berada dirumah dan meyempatkan solat berjamaah dimasjid. Winar mengambil posisi di saf kedua, mengikuti seluruh rangkaian ibadah salat isya berjamaah dengan penuh kekhusyukan. Selepas doa bersama dan bersalam-salaman dengan para tetangga yang menyapa dan menyambut kepulangannya dari Kalimantan, Winar melangkah menuju teras masjid untuk mengenakan kembali alas kakinya.
Saat itulah, pandangannya menangkap sosok seorang pemuda yang sangat dia kenal sedang berdiri di dekat tiang pembatas masjid, bersiap untuk pulang. Pemuda itu adalah Indra, adik kandung Eva yang paling bungsu. Indra yang saat itu mengenakan baju koko putih dan celana panjang hitam, terlihat agak lesu, berbeda dari pembawaannya yang biasanya ceria dan penuh energi.
Winar segera mempercepat langkahnya, mendekati Indra, lalu menepuk pundak pemuda itu dengan lembut.
“Eh, Indra,” sapa Winar dengan senyum ramah.
Indra menoleh, matanya langsung berbinar saat mengenali siapa yang berdiri di depannya. “Eh, Bang Winar! Dengar kabar katanya tugas ke Kalimantan ya? Wah, kapan sampai Jakarta, Bang?””
“Iya, Ndra. Alhamdulillah baru banget sampai rumah tadi sebelum magrib,” jawab Winar, matanya kemudian menyiratkan rasa penasaran yang mendalam. “Gimana kabar orang rumah? Sehat semua? Oh iya… Kakak lo, Eva, gimana kabarnya? Kok beberapa hari ini gue coba telepon sama kirim pesan, nomornya nggak aktif terus ya? Kenapa ya?”
Mendengar pertanyaan Winar tentang kakaknya, raut wajah Indra kembali berubah menjadi sedikit mendung. Dia menghela napas panjang, bahunya tampak agak merosot.
“Aduh, Bang Winar… justru itu,” kata Indra dengan nada suara yang pelan dan sedih. “Kak Eva tuh sekarang lagi nggak ada di rumah, Bang. Dia lagi dirawat di Rumah Sakit Pelni udah dari tiga hari yang lalu. Dari hari Jum’at selesai pembagian Raport di sekolah.”
Bagai disambar petir di malam yang cerah, jantung Winar mendadak berdegup kencang mendengarnya. Rasa khawatir yang sejak di pesawat tadi dipendamnya, kini terbukti. Wajah Winar seketika berubah tegang.
“Innalillahi… sakit apa, Ndra? Kok bisa sampai dirawat di rumah sakit gitu? Ceritain ke gue, gimana ceritanya,” tanya Winar beruntun, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya yang mendalam.
Indra mengajak Winar untuk bergeser sedikit ke area teras masjid yang lebih sepi agar obrolan mereka tidak mengganggu jamaah lain yang masih berzikir di dalam. Setelah posisi mereka nyaman, Indra mulai menjelaskan kondisi kakaknya secara panjang lebar.
“Jadi gini, Bang… Kak Eva itu kan belakangan ini jadwalnya bener-bener gila-gilaan. Abang tahu sendiri kan, selain ngajar sebagai guru di sekolah dasar dari pagi sampai siang, sorenya dia masih lanjut lagi ngajar di bimbingan belajar (bimbel) sampai malam. Belum lagi kadang ada tugas-tugas koreksi ujian anak-anak sekolah yang dibawa ke rumah,” tutur Indra, tangannya bergerak memberikan gestur menggambarkan betapa sibuknya sang kakak.
“Bayangin aja, Bang. Saking sibuknya sama semua kegiatan itu, Kak Eva sering banget lupa makan. Berulang kali diingetin sama mama di rumah, tetep aja alasannya nanggung lah, lagi bikin materi ajar lah. Ntar lah , bentar lagi lah. Pokoknya sampai nggak sempat makan teratur deh. Gila kan, Bang? Keras kepala banget kalau udah urusan kerjaan.”
Indra menggeleng-gelengkan kepala seolah masih tidak habis pikir dengan kebiasaan buruk kakaknya itu. “Makanya, puncaknya pas hari Jumat tuh abis bagi raport anak-anak di sekolahnya itu badan kak Eva langsung tumbang. Pas diperiksa di IGD Rumah Sakit Pelni, dokter bilang asam lambungnya udah parah banget, terus ditambah hasil tes darahnya positif kena tipes juga. Ya udah, akhirnya dokter langsung mutusin kalau kak Eva harus opname, harus dirawat inap biar dapet infus dan istirahat total.”
Winar mendengarkan setiap kalimat Indra dengan dada yang terasa sesak. Dia membayangkan betapa lemahnya kondisi Eva saat ini, berjuang melawan sakit di bangsal rumah sakit sementara dirinya berada jauh di pulau seberang tanpa tahu apa-apa.
“Terus… soal ponselnya yang nggak bisa dihubungi itu gimana, Ndra? Kenapa bisa mati total gitu?Abang coba hubungi berkali-kali kok ga bisa ya? ” tanya Winar lagi, mencari jawaban atas teka-teki yang mengganggunya selama beberapa bulan terakhir.
“Nah, kalau soal HP, itu apes banget, Bang,” jawab Indra, nadanya berubah menjadi kesal. “Ponselnya kak Eva itu kena retas, Bang. Ada orang jahat yang nge-hacker akunnya, terus disalah gunain buat nipu orang-orang di kontak kak Eva dengan modus minta pinjaman uang darurat. Untungnya kak Eva dan mama cepet sadar, jadi langsung kita matiin total nomornya dan akun-akun sosmednya kita amankan dulu biar nggak makin banyak korban. Makanya nomor kak Eva sama sekali nggak bisa dihubungi beberapa waktu yang lalu.Sekarang kak Eva udah ganti nomor baru.Nomor yang lama ga dipake lagi. “
Mendengar penjelasan itu, Winar mengangguk-angguk perlahan. Di dalam hatinya, ada rasa lega yang sedikit mengembang di tengah rasa cemasnya. Pantesan aja Eva nggak bisa dihubungi dari kemarin-kemarin. Ternyata HP-nya diretas orang, bukan karena dia sengaja ngehindarin gue atau lupa sama gue, batin Winar berkata, meluruskan segala prasangka yang sempat mampir di kepalanya.
“Oh, jadi begitu ceritanya… kasihan banget ya Eva,” ucap Winar lirih, matanya menatap lantai teras masjid dengan tatapan prihatin. “Terus, sekarang udah berapa hari Eva di sana, Ndra? Rencana kapan dia dibolehin pulang sama dokter?”
“Sekarang udah masuk hari ketiga, Bang,” jawab Indra, mencoba mengingat-ingat informasi dari mamanya. “Dan kalau nggak salah denger nih dari mama tadi sore, dokter sih bilang katanya kalau kondisi kak Eva besok pagi terus membaik dan hasil labnya bagus, besok sore udah boleh pulang ke rumah.”
Winar secara refleks melirik jam dinding besar yang terpasang di area teras masjid. Jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Winar menghela napas pelan. Waktu berkunjung atau jam bezuk rumah sakit untuk sesi malam pasti sudah ditutup sejak pukul 19.00 WIB tadi. Tidak mungkin bagi dirinya untuk memaksakan diri datang ke Rumah Sakit Pelni malam ini juga.
Dengan hati-hati, mencoba menyembunyikan getaran rasa cemburu atau cemas yang berlebihan, Winar mencoba memancing pertanyaan lebih lanjut pada Indra untuk mengetahui situasi di sekitar Eva selama dirawat di rumah sakit.
“Oh… gitu. Terus, temen-temennya Eva udah pada tahu belum, Ndra? Maksudnya, apa udah banyak yang datang ngejenguk dia di rumah sakit?” tanya Winar dengan nada suara yang dibuat sesantai mungkin.
“Banyak banget, Bang,” jawab Indra tanpa curiga sedikit pun. “Kak Eva kan orangnya emang supel ya. Jadi dari kemarin itu silih berganti yang dateng. Ada temen-temen sesama guru dari sekolahnya, ada perwakilan orang tua murid yang sengaja dateng bawa parsel buah, terus ada juga temen-temen ngajarnya yang dari lembaga bimbel. Rame deh pokoknya ruangannya, untung kak Eva dapet kamar yang nyaman. Suster disana aja pada bingung lihatnya.”
Winar mengangguk-angguk, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mengajukan pertanyaan yang sebenarnya paling ingin dia ketahui jawabannya. “Terus… kalau cowok yang… itu, yang biasanya suka main atau datang ke rumah lo, apa dia udah kelihatan datang ngejenguk Eva juga di rumah sakit?”
Indra langsung mengernyitkan dahinya, matanya bergerak ke atas seolah sedang memutar memori ingatan mengenai siapa saja tamu pria yang datang ke rumah sakit selama dua hari ini. “Cowo yang suka datang ke rumah? Siapa ya, Bang? Oh… maksud Abang, Mas Romi?”
Mendengar nama ‘Romi’ disebut oleh Indra, jantung Winar terasa sedikit berdesir. Oh Romi Namanya. Batin Winar berbisik. Romi adalah seorang pria yang diketahuinya memang sepertinya terlihat menaruh hati pada Eva dan sering kali mencari alasan untuk berkunjung ke rumah Eva, memanfaatkan kedekatannya dengan keluarga besar Eva.
“Ah, iya… Romi,” kata Winar, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap terdengar datar dan biasa saja.
“Oh, kalau Mas Romi… kayaknya belum deh, Bang,” jawab Indra sambil menggelengkan kepala. “Kemarin sih dia sempet telepon ke nomor mama, nanyain kabar kak Eva karena dia tahu kabar dari temannya yang juga temannya kak Eva. Kalau ga salah pak Toro Namanya. Tapi kalau datang langsung ke rumah sakit, sampai sore tadi sih gue belum liat dia muncul. Mungkin dia lagi sibuk sama kerjaannya juga kali.”
Mendengar jawaban Indra, ada semacam rasa kompetisi yang sehat namun kuat mendadak muncul di dalam dada Winar. Dia bertekad bahwa dirinyalah yang harus berada di sana untuk menyambut kesembuhan Eva sebelum orang lain mendahuluinya.
Sebelum mereka berdua berpisah untuk melangkah menuju rumah masing-masing yang berlawanan arah di dalam gang, Winar memastikan sekali lagi informasi yang dia butuhkan.
“Ndra, makasih banyak ya infonya. Oh iya, satu lagi… kalau jam berkunjung atau jam bezuk di Rumah Sakit Pelni itu kalau sesi sore dari jam berapa sampai jam berapa ya? Lo tahu nggak?” tanya Winar memastikan.
“Kalau nggak salah sih, Bang, aturan di Pelni itu buat sesi sore dimulai dari jam 17.00 sampai jam 19.00 WIB,” jawab Indra dengan yakin. “Kenapa, Bang? Abang mau nengok kak Eva besok?”
Winar tersenyum mantap, lalu menepuk pundak Indra sekali lagi. “Iya, Ndra. Insya Allah besok sore sepulang dari kantor, gue bakal langsung meluncur ke Rumah Sakit Pelni buat nengok Kakak lo. Salam ya buat mama di rumah.”
“Siap, Bang Winar! Nanti gue sampaikan ke mama kalau Abang udah pulang dan nanyain kabar kak Eva. Gue duluan ya, Bang. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam,” jawab Winar, memandangi langkah kaki Indra yang kian menjauh di kegelapan gang. Winar kemudian membalikkan badannya, berjalan pulang menuju rumahnya dengan pikiran yang kini sepenuhnya terfokus pada rencana esok hari. Dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor secepat mungkin agar bisa tiba di rumah sakit tepat waktu.
Keesokan harinya, hari Senin, atmosfer di kantor pusat PT. Megah Perkasa berjalan dengan ritme yang sangat cepat bagi Winar. Sejak pukul 08.00 WIB pagi, dia sudah berkutat dengan tumpukan dokumen laporan pertanggungjawaban proyek Kalimantan, melakukan rapat koordinasi dengan jajaran direksi, dan memastikan seluruh administrasi timnya—termasuk Ronald dan Sesil—berjalan tanpa kendala.
Tepat pukul 15.30 WIB, setelah memastikan seluruh tugas krusialnya hari itu selesai dan mendelegasikan sisanya kepada asisten manajer, Winar merapikan meja kerjanya. Dia mengambil kunci mobilnya, berpamitan singkat pada rekan-rekan di divisinya, lalu melangkah mantap menuju area parkir bawah tanah.
Winar menghidupkan mesin mobil sedan Honda Accordnya, lalu melajukannya membelah jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menuju arah Jakarta Barat, tempat Rumah Sakit Pelni berada. Di tengah perjalanan, Winar menyempatkan diri untuk menepi sejenak guna menghubungi ponsel milik Indra, memastikan apakah ada perubahan rencana mengenai kepulangan Eva hari itu.
“Halo, Assalamualaikum, Ndra. Ini gue, Winar,” kata Winar saat panggilannya tersambung.
“Waalaikumussalam, iya Bang Winar. Gimana?” sahut Indra dari seberang telepon.
“Gue baru aja keluar kantor nih, lagi mengarah ke Rumah Sakit Pelni. Gimana kondisi Eva? Apa dia masih di rumah sakit atau udah dibolehin pulang sama dokter?” tanya Winar memastikan dengan saksama.
“Masih di rumah sakit kok, Bang. Ini gue lagi di rumah lagi siap-siap, tapi di kamar rumah sakit sekarang lagi ada Kak Yana sama suaminya yang nungguin kak Eva. Dokter tadi siang udah periksa, katanya fix boleh pulang sore ini setelah urusan administrasi beres. Jadi Abang langsung aja ke sana, kamarnya masih di tempat yang kemarin, Ruang Tulip nomor 304,” jelas Indra panjang lebar.
“Oke, siap, Ndra. Makasih banyak ya informasinya. Gue langsung meluncur ke sana,” ucap Winar sebelum mengakhiri panggilan.
Winar kembali melajukan mobilnya dengan hati yang lebih tenang namun penuh kedisiplinan waktu. Dia tiba di area parkir Rumah Sakit Pelni tepat pukul 16.20 WIB. Karena waktu berkunjung sesi sore baru akan resmi dibuka empat puluh menit lagi—yaitu pukul 17.00 WIB—Winar memutuskan untuk tidak terburu-buru menuju gedung perawatan.
Dia melangkah menuju masjid yang berada di dalam lingkungan kompleks rumah sakit. Kebetulan, gema azan ashar baru saja berkumandang beberapa saat yang lalu. Winar memanfaatkan waktu luang tersebut untuk membersihkan diri dengan berwudu, kemudian menunaikan ibadah salat ashar berjamaah dengan khusyuk. Di dalam sujudnya, Winar menyelipkan doa khusus untuk kesembuhan total bagi gadis yang selama ini selalu mengisi ruang di hatinya itu.
Tepat pukul 17.00 WIB, suasana di area pintu masuk gedung perawatan utama mulai terlihat ramai oleh para pengunjung yang mengantre. Petugas keamanan atau security rumah sakit yang mengenakan seragam rapi mulai membuka barikade pintu besi, memeriksa barang bawaan pengunjung dengan ramah namun tetap tegas sesuai prosedur keselamatan rumah sakit.
Winar berjalan beriringan dengan pengunjung lain, melangkah masuk ke dalam gedung yang bernuansa bersih dengan aroma khas antiseptik yang tidak terlalu menyengat. Dia menaiki lift menuju lantai tiga, tempat Ruang Tulip berada.
Langkah kaki Winar terasa mantap namun ritmis di atas lantai penutup lorong yang sunyi. Setibanya di depan pintu kayu berwarna cokelat muda dengan papan nama kecil bertuliskan “Tulip 304”, Winar berhenti sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat, lalu dengan perlahan dan sopan, jemarinya mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali sebelum memutar knop pintu dan membukanya dengan lembut.
Pintu terbuka dengan suara gesekan halus. Aroma ruangan itu bersih, berpadu dengan kehangatan pendingin udara yang diatur pas. Pandangan mata Winar langsung tertuju pada sebuah ranjang perawatan besi yang terletak di tengah ruangan. Di atas ranjang itu, terlihat Eva sedang berbaring dengan posisi bantalan kepala yang sengaja ditinggikan agar dia bisa bersandar dengan nyaman.
Eva sore itu mengenakan baju pasien berwarna biru muda. Wajahnya yang biasanya ceria dan segar memang masih tampak agak pucat, dan di punggung tangan kirinya masih menancap jarum infus yang terhubung ke botol cairan steril di tiang penyangga. Namun, saat pintu terbuka dan sosok Winar melangkah masuk, sepasang mata Eva yang awalnya terlihat layu langsung membelalak lebar karena terkejut. Winar sedang berjalan menghampirinya.
Winar berjalan mendekat dengan langkah kaki yang tenang, seulas senyum hangat dan penuh kerinduan terukir jelas di wajahnya yang tegas.
Eva yang sedang menyandarkan punggungnya, mendadak membeku. Dia menatap wajah Winar yang kian mendekat tanpa berkedip sedikit pun. Pikirannya mendadak menjadi kacau oleh rasa tidak percaya. Selama tiga bulan ini, dia tidak mendengar suara dan kabar Winar sama sekali baik lewat sambungan telepon satelit apalagi berinteraksi secara langsung, ditambah lagi beberapa hari terakhir ini dia bahkan terputus sama sekali dari dunia luar karena masalah peretasan ponselnya. Kehadiran Winar secara tiba-tiba di depan matanya terasa begitu tidak nyata.
Saat Winar sudah berdiri tepat di samping kanan ranjang perawatannya, Eva dengan gerakan refleks yang polos mendadak menggerakkan tangan kanannya yang bebas dari infus, lalu mencubit kulit lengan kirinya sendiri dengan cukup kuat.
“Aduh…” desis Eva pelan, merasakan sensasi perih yang nyata di kulitnya.
Winar yang melihat tingkah polos Eva tersebut, tidak bisa menahan tawa kecilnya. Dia melangkah selangkah lebih dekat, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh rasa hormat, tangan kanan Winar bergerak meraih telapak tangan kanan Eva, mengusapnya dengan kelembutan yang menenangkan. Tidak berhenti di situ, dengan ibu jarinya, Winar dengan penuh kasih sayang menyentuh dan menjawil pelan pipi Eva yang masih tampak pucat, menyalurkan kehangatan nyata dari telapak tangannya. Eva merasakan kehangatan sentuhan lembut dan hangat dipipinya membuat rona wajahnya menjadi tersipu malu.
“Ini beneran aku, Va. Ini bukan mimpi,” ucap Winar dengan nada suara yang sangat lembut, bergetar oleh emosi kerinduan yang mendalam.
Mendengar suara bariton Winar yang begitu dekat dan merasakan kehangatan sentuhan jemarinya di pipinya, barulah Eva benar-benar tersadar. Benar. Ini bukan mimpi! Dia beneran udah pulang dari Kalimantan! batin Eva berteriak penuh suka cita yang membuncah di dalam dadanya, meskipun dia mencoba menahan ekspresinya agar tetap terlihat santun sebagai seorang perempuan.
“Bang Winar…” suara Eva terdengar lirih, agak serak namun sarat akan rasa bahagia yang tidak bisa disembunyikan. “Kapan… kapan Abang sampai di Jakarta? Kok tiba-tiba udah ada di sini? Tau dari siapa aku dirawat di sini”
Winar menarik sebuah kursi besi yang ada di dekat ranjang, lalu duduk di samping Eva tanpa melepaskan genggaman lembutnya pada jemari gadis itu.
“Abang baru sampai rumah semalam, Va, tepatnya sebelum magrib,” jawab Winar santai, matanya tidak lepas memandangi wajah Eva dengan tatapan penuh perhatian. “Terus pas salat isya di masjid, gue ketemu sama Indra. Dari dialah abang tahu kalau kamu lagi dirawat di sini. Makanya sore ini, sepulang dari kantor, abang langsung buru-buru ke sini buat ngelihat kondisi kamu.”
Eva menundukkan kepalanya sedikit, merasa agak malu karena Winar harus melihatnya dalam kondisi yang lemah dan pucat seperti ini. “Maaf ya, Bang… jadi bikin Abang kepikiran dan repot-repot langsung ke sini, padahal Abang pasti masih capek banget baru pulang dari perjalanan jauh di proyek Kalimantan.”
“Nggak . sama sekali ga repot, Va,” potong Winar cepat namun lembut, membuat pipi Eva yang pucat mendadak memunculkan rona merah tipis. “Justru abang yang khawatir banget pas beberapa hari kemarin nyoba telepon tapi nomor kamu nggak bisa dihubungi sama sekali. Tapi untung Indra udah ceritain semuanya soal HP kamu yang kena hack itu.”
Mereka berdua kemudian mulai berbincang dengan mengalir pas. Winar menanyakan kembali detail penyebab sakitnya Eva, berpura-pura belum tahu banyak dari Indra agar Eva memiliki kesempatan untuk mencurahkan isi hatinya. Eva pun bercerita dengan nada menyesal tentang bagaimana dia terlalu memaksakan diri bekerja di sekolah dan bimbel tanpa memedulikan asupan makanan, yang akhirnya berujung pada vonis asam lambung akut dan tipes dari dokter.
Sebagai gantinya, Winar juga membagikan cerita-cerita seru dan menarik selama dia bertugas tiga bulan di pedalaman Kalimantan. Dia menceritakan tentang bagaimana timnya harus menerjang medan jalanan tanah yang berlumpur saat hujan, interaksi unik dengan warga suku Dayak setempat yang sangat ramah, hingga keindahan alam hutan Kalimantan yang masih asri namun menantang. Eva mendengarkan setiap cerita Winar dengan mata yang berbinar-binar, rasa sakit dan lemas di badannya seolah menguap begitu saja digantikan oleh kenyamanan obrolan mereka.
Saat mereka berdua sedang asyik bertukar cerita dan tawa kecil, suara pintu ruangan kembali terbuka memecah keheningan. Sosok seorang perempuan dewasa yang memiliki kemiripan wajah dengan Eva melangkah masuk. Dia adalah Yana, kakak kandung tertua Eva. Yana masuk ke dalam kamar bersama suaminya setelah menyelesaikan beberapa urusan di luar.
Melihat keberadaan Winar yang sedang duduk di samping ranjang adiknya, Yana sempat tertegun sejenak sebelum seulas senyum penuh arti terukir di wajahnya. Dia melirik ke arah Eva yang tampak jauh lebih segar dibandingkan pagi tadi, lalu menyapa Winar dengan hangat.
“Eh, dik Winar! Wah, alhamdulillah udah sampai Jakarta ya,” sapa Kak Yana sambil berjalan mendekat. “Kapan datengnya nih? Langsung dari tempat kerja ya?”
Winar segera berdiri dari kursinya, memberikan salam hormat kepada Kak Yana dan suaminya dengan membungkukkan badan sedikit. “Eh, iya Kak Yana. Baru aja sampai sekitar jam lima tadi pas pintu bezuk dibuka. Kebetulan semalam dapet kabar dari Indra kalau Eva lagi dirawat di sini.”
Kak Yana tersenyum, matanya kembali melirik Eva yang tampak tersipu malu. “Pas banget deh kalau dik Winar ada di sini sekarang. Soalnya, dokter baru aja visit lagi tadi dan mutusin kalau sore ini Eva udah boleh langsung pulang ke rumah. Ini Kakak sama suami baru aja selesai ngurusin seluruh berkas administrasi dan pelunasan pembayaran di kasir bawah.”
Mendengar kabar tersebut, Winar melihat ke sekeliling ruangan. Di sudut kamar, memang sudah terlihat beberapa tas pakaian dan perlengkapan mandi milik Eva yang sudah dikemas dengan rapi di dalam tas jinjing besar, tinggal diangkat saja menuju kendaraan.
Mengingat kondisi fisik Eva yang baru saja dinyatakan pulih dan jarak rumah Kak Yana yang berada di daerah Pamulang, Tangerang Selatan tergolong cukup jauh dari Jakarta Barat, Winar langsung memikirkan sebuah solusi yang sekiranya bisa membantu. Apalagi, jam menunjukkan pukul 17.45 WIB, yang berarti jalur menuju arah Pamulang dari Slipi pasti sedang mengalami puncak kemacetan parah karena jam pulang kantor warga urban.
Winar menoleh ke arah Kak Yana dengan sikap yang sangat sopan. “Kak Yana, kalau boleh… gimana kalau biar saya aja yang mengantarkan Eva pulang ke rumah kan kita rumahnya dekatan ya? Kebetulan saya bawa mobil sendiri sore ini, dan perjalanan pulang ke arah rumah kita kan searah sama jalan pulang saya dari kantor. Jadi Kak Yana sama abang bisa langsung jalan pulang ke Pamulang tanpa harus muter jauh dulu ke Jakarta Barat, apalagi ini jam-jam rawan macet parah di jalan tol maupun jalan arteri.”
Kak Yana terdiam sejenak, menimbang tawaran Winar. Dia menatap suaminya yang juga tampak mengangguk setuju dengan pertimbangan logis mengenai kemacetan Jakarta di hari Senin sore. Kak Yana kemudian menoleh kembali ke arah Winar dengan senyum jenaka yang sengaja mengoda pemuda itu.
“Wah… beneran nih, dik Winar? Nggak bakal ngerepotin nih?” tanya Kak Yana dengan nada bercanda sambil melirik Eva yang wajahnya makin merona merah. “Pasti sampai kan ya Eva di rumah dengan selamat? Nggak dibawa kabur muter-muter dulu kan?”
Winar tertawa kecil, menyadari godaan dari kakak perempuan Eva tersebut. Dia mengangguk dengan penuh keyakinan dan kesungguhan hati. “Insya Allah, Kak Yana. Saya jamin Eva bakal sampai di rumah dengan selamat tanpa kurang satu apa pun.”
“Ya udah kalau gitu, Kakak titip Eva ya, dik Winar,” ucap Kak Yana sambil menepuk pundak Winar penuh kepercayaan.
Suami Kak Yana membantu seorang perawat yang masuk untuk melepaskan selang infus dari punggung tangan Eva dengan hati-hati. Setelah perawat memberikan plester pelindung dan menyatakan proses selesai, Eva perlahan turun dari ranjang perawatan, mengenakan alas kakinya dengan dibantu oleh Kak Yana . Dan menaiki kursi roda yang dibawa oleh perawat.
Winar dengan cekatan langsung melangkah menuju sudut ruangan, mengangkat tas jinjing besar yang berisi pakaian dan perlengkapan selama Eva dirawat. Dia membawanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tangan Eva yang duduk dikursi roda didorong oleh seorang suster.
Mereka berlima—termasuk perawat yang membawa kursi roda cadangan untuk protokol rumah sakit hingga pintu keluar—berjalan beriringan keluar dari Ruang Tulip 304, melintasi lorong panjang gedung perawatan menuju lift utama.
Namun, di ujung lorong yang lain, dekat dengan meja penjagaan perawat (nurse station), langkah kaki seorang pria mendadak terhenti dengan kaku. Pria itu mengenakan kemeja kerja yang rapi, membawa sebuah kantong plastik besar berisi parsel buah-buahan segar pilihan di tangan kanannya. Pria itu adalah Romi.
Romi sengaja memacu kendaraannya dari kantor tempatnya bekerja di kawasan sudirman secepat mungkin, berusaha memanfaatkan sisa waktu jam berkunjung sore untuk menjenguk Eva yang diketahuinya sedang sakit. Namun, pemandangan yang tersaji di depan sepasang matanya saat ini membuat seluruh tenaganya seolah lenyap seketika.
Dari kejauhan, Romi memperhatikan dengan saksama bagaimana gerak-gerik Winar yang begitu perhatian menjinjing tas pakaian Eva, berjalan beriringan dengan jarak yang sangat dekat di samping kursi roda yang membawa Eva, sambil sesekali melemparkan senyuman yang dibalas dengan tatapan penuh kehangatan oleh gadis itu. Di belakang mereka, tampak Kak Yana dan suaminya mengikuti dengan ekspresi wajah yang penuh restu dan keakraban yang mendalam bersama Winar.
Romi berdiri mematung di dekat dinding lorong. Sepasang matanya menatap lekat-lekat punggung Winar dan Eva yang perlahan masuk ke dalam lift yang terbuka. Detik itu juga, ada rasa hampa yang luar biasa mendadak merayap masuk, memenuhi seluruh sudut di dalam hati Romi. Genggamannya pada kantong parsel buah di tangannya perlahan melonggar.
Sebagai pria dewasa yang memiliki kepekaan rasa, Romi menyadari satu kenyataan pahit yang tidak bisa dia sangkal lagi malam itu. Tatapan mata Eva kepada Winar, kehangatan atmosfer di antara mereka, dan restu yang tersirat dari sikap keluarga Eva… semuanya menunjuk pada satu kesimpulan: Eva sudah memiliki kekasih hati yang sejati, dan pria itu bukanlah dirinya. Romi menarik napas panjang yang terasa sesak, mencoba berlapang dada menerima kenyataan bahwa perjuangannya terpaksa harus berhenti di sini sebelum sempat dimulai kembali.
Di area parkir luar Rumah Sakit Pelni, atmosfer perpisahan berlangsung dengan penuh kehangatan. Setelah memberikan beberapa wejangan terakhir mengenai jadwal makan yang ketat, mengingatkan Eva untuk tidak melewatkan minum obat dari dokter, dan memastikan semua dokumen kontrol medis tersimpan rapi, Kak Yana dan suaminya berpamitan.
“Dik Winar, Kakak jalan duluan ya ke arah Pamulang. Jaga Eva baik-baik,” ucap Kak Yana dari dalam kaca mobilnya yang terbuka.
“Siap, Kak Yana. Hati-hati di jalan, semoga lancar tolnya,” jawab Winar sambil melambaikan tangan.
Setelah mobil Kak Yana bergerak menjauh membelah gerbang keluar rumah sakit, Winar membalikkan badannya menghadap Eva yang berdiri di sampingnya. Dengan gerakan yang sangat sopan, Winar melangkah mendahului, membukakan pintu depan sebelah kiri dari mobil sedannya untuk Eva.
“Silakan masuk, Tuan Putri,” goda Winar dengan nada bercanda yang sopan.
Eva terkekeh pelan, menyembunyikan rasa senangnya. “Makasih ya, Bang Winar.” Eva melangkah masuk, mendudukkan dirinya di jok kulit yang empuk dan nyaman, lalu mengenakan sabuk pengaman dengan rapi.
Winar memutari bagian depan mobil, masuk ke kursi pengemudi, lalu menghidupkan mesin dan sistem pendingin ruangan. Mobil hitam itu perlahan bergerak meninggalkan kompleks Rumah Sakit Pelni, bergabung dengan arus kendaraan malam kota Jakarta yang padat namun tetap bergerak stabil mengarah ke wilayah Jakarta Barat.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar empat puluh lima menit itu, suasana di dalam kabin mobil terasa sangat hangat. Alunan musik instrumental instrumental ber-volume rendah dari pemutar audio mobil menemani obrolan ringan mereka. Winar berkendara dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada guncangan kasar yang bisa membuat perut Eva yang baru sembuh dari asam lambung menjadi mual.
Tepat ketika mobil sedan hitam milik Winar memasuki area gang rumah mereka, gema suara azan magrib terdengar berkumandang dengan syahdu dari pengeras suara masjid jami di ujung jalan, menandakan waktu transisi dari siang menuju malam telah tiba. Winar mengarahkan mobilnya lurus menuju depan rumah Eva, lalu menghentikannya dengan perlahan tepat di depan pintu pagar hijau yang terbuka setengah.
Mama Eva yang rupanya sudah menunggu kepulangan putrinya sejak sore, langsung keluar dari dalam rumah dengan wajah yang penuh rasa lega dan bahagia. Mama diberitahu kak Yana Kalau Eva pulang Bersama Winar, putranya bu Hilmi.
Winar turun dari mobil, membantu menurunkan tas pakaian Eva dari bagasi, lalu menyapa Ibunda Eva dengan takzim dengan mencium punggung tangan beliau.
“Assalamualaikum, ibu. Ini Eva udah saya antar pulang dengan selamat sampai rumah,” kata Winar dengan senyum hormat.
“Waalaikumussalam… Ya Allah, dik Winar! Makasih banyak ya udah repot-repot jemput dan anterin Eva dari rumah sakit. Ibu bener-bener kebantu banget ini,” ucap mamanya Eva dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.
Winar melirik jam tangannya, suara azan magrib masih berkumandang menyelesaikan bait-bait terakhirnya. “ibu, Eva… kalau boleh, saya izin ke masjid sebelah rumah dulu ya untuk menunaikan salat magrib berjamaah. Nanti selesai salat, kalau diizinkan, saya mau balik lagi ke sini untuk ngobrol sebentar sama Eva.”
“Oh, iya… silakan, nak Winar. Bagus itu, langsung ke masjid aja dulu. Nanti selesai salat langsung main ke sini lagi ya, Ibu tunggu,” jawab Ibunda Eva dengan penuh keramahan.
Eva menatap punggung Winar yang melangkah cepat menuju masjid dengan perasaan yang kian membuncah. Ada rasa kagum yang makin mendalam di hatinya melihat bagaimana pria itu tidak pernah meninggalkan kewajibannya kepada Sang Pencipta di tengah kesibukan apa pun.
Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah rangkaian salat magrib berjamaah selesai, Winar kembali melangkahkan kakinya menuju rumah Eva. Malam telah sepenuhnya turun, menyisakan hawa sejuk sisa hujan gerimis tipis yang sempat turun di beberapa sudut kota.
Winar dipersilakan masuk oleh mamanya Eva dan diarahkan untuk duduk di area teras depan rumah. Teras itu cukup asri, dihiasi oleh beberapa pot tanaman hias gantung dan sebuah meja kayu bundar kecil dengan dua kursi rotan yang nyaman. Tak lama kemudian, Eva keluar dari dalam rumah mengenakan pakaian rumah yang santai namun tetap sopan, wajahnya tampak jauh lebih segar setelah membasuh diri dan mengenakan pakaian bersih miliknya sendiri. Dia membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat aromatik yang diletakkannya di atas meja.
“Diminum dulu, Bang, ini teh hangatnya,” kata Eva sambil mendudukkan diri di kursi rotan seberang Winar.
“Makasih ya, Va,” jawab Winar, mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya sedikit, merasakan kehangatan cairan itu membasahi tenggorokannya.
Obrolan pertama mereka di teras malam itu masih berkutat seputar pembahasan kesehatan Eva. Winar dengan detail memastikan kembali apakah Eva sudah memakan bubur halus yang disiapkan ibunya dan apakah obat lambungnya sudah diminum sesuai instruksi dokter rumah sakit tadi. Eva menjawab semuanya dengan kepatuhan yang membuat Winar merasa sangat dihargai.
Setelah memastikan urusan kesehatan selesai dan suasana di antara mereka berdua terjalin dengan sangat rileks dan tenang, Winar memperbaiki posisi duduknya. Dia menatap mata Eva dengan tatapan yang berubah menjadi lebih dalam dan serius.
Winar kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana kainnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang yang dilapisi kain beludru berwarna merah marun yang elegan. Dia meletakkan kotak itu di atas meja kayu, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Eva.
“Va… ini ada sedikit oleh-oleh dari abang selama tiga bulan tugas di Kalimantan kemarin. Silakan dibuka, semoga kamu suka ya,” ucap Winar dengan nada suara yang tenang namun sarat akan harapan.
Eva menatap kotak beludru itu dengan mata yang berbinar terkejut. “Eh? Oleh-oleh buat aku, Bang? Apa ini?”
“ Ayo dibuka ….” Pinta Winar.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena rasa penasaran dan bahagia, Eva membuka penutup kotak beludru tersebut secara perlahan. Begitu kotak terbuka, sepasang mata Eva langsung membelalak kagum. Di dalam kotak itu, beralaskan kain satin putih, terbaring sebuah gelang yang dirangkai dari butiran batu alam asli khas Kalimantan. Batu-batu tersebut memiliki potongan yang sangat rapi, memancarkan kilau warna gradasi alami antara merah, jingga dan hijau zamrud. Terlihat sangat indah saat terkena pendar cahaya lampu teras rumah. Desainnya sangat elegan, tidak berlebihan, namun memancarkan kelas tersendiri.
“Ya ampun… Bang Winar, ini indah banget,” puji Eva tanpa bisa menahan rasa kagumnya. Dia mengangkat gelang itu dengan hati-hati, meraba permukaan batunya yang terasa dingin dan halus. “Ini pasti mahal banget harganya ya, Bang? Abang repot-repot banget sampai nyari ginian di sana.” Winar membantu memakaikan gelang tersebut ke pergelangan tangan Eva.
Eva mendongakkan kepalanya, memandang Winar dengan seulas senyuman manis terbaik yang dia miliki, senyuman yang seketika meruntuhkan seluruh rasa lelah Winar akibat proyek tiga bulan penuh. “Makasih banyak ya, Bang Winar. Aku suka banget, bener-bener suka.”Sambil memandangi gelang yang kini sudah melingkar dipergelangan tangannya.
Winar yang melihat respons kebahagiaan yang begitu tulus dari Eva, merasa hatinya dipenuhi oleh rasa puas dan kebahagiaan yang tidak terukur dengan materi. Dia bersandar ke kursi rotannya, menatap wajah Eva dengan kelembutan yang kian mendalam.
“Abang seneng banget kalau kamu suka, Va. Harganya nggak seberapa dibandingin sama rasa bahagia kamu setelah sembuh dari sakit ini,” kata Winar lembut. Dia terdiam sejenak, menatap lekat-lekat netra mata Eva, sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang merendah, penuh misteri yang manis.
“Sebenernya… ada satu lagi hadiah spesial yang paling berharga yang mau abang kasih buat kamu, Va. Tapi… nggak sekarang ya. Nanti ada waktunya sendiri.”
Eva mengernyitkan dahinya, merasa penasaran namun juga merasakan ada debaran aneh yang makin kencang di dalam dadanya mendengarkan perubahan nada suara Winar. Sikap Winar agak berubah. Selama beberapa bulan tidak bertemu atau tepatnya tiga bulan dua minggu, Winar terlihat lebih dewasa dalam bersikap dan untaian kalimat lembut yang keluar dari bibirnya begitu lancar dan penuh percaya diri. Winar memang sudah berubah.
Karena waktu terus bergulir dan malam kini sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB, Winar menyadari bahwa Eva yang baru saja keluar dari rumah sakit membutuhkan waktu istirahat tidur malam yang panjang agar kondisinya tidak drop kembali. Winar memutuskan untuk menyudahi kunjungannya malam itu.
“Va, udah makin malam nih. Kamu baru sembuh, jadi harus langsung istirahat tidur ya. Hmmm, aku pamit pulang dulu ya,” ucap Winar sambil menggeser kursinya dan berdiri dari duduknya.
Eva ikut berdiri dari kursinya untuk mengantarkan Winar sampai ke depan pintu pagar teras. Namun, sesaat sebelum Winar melangkah membalikkan badannya, pria itu mendadak menghentikan gerakannya. Winar membalikkan badannya perlahan ke arah menghadapi Eva yang berdiri dibelakangnya.
Dengan gerakan yang sangat natural namun penuh keberanian jantan, Winar menjulurkan tangan kanannya, meraih jemari tangan kanan Eva, menggenggamnya dengan kelembutan yang erat. Winar kemudian melangkah. Melangkah lebih dekat lagi ke Eva, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma wangi parfum maskulin milik Winar tercium jelas oleh Eva.
Winar mencondongkan badannya sedikit, mendekatkan wajah dan bibirnya tepat di samping telinga kanan Eva. Di bawah pendar temaram lampu teras malam itu, Winar membisikkan sebuah kalimat dengan suara yang sangat rendah, lembut, namun penuh dengan ketegasan rasa yang mutlak.
“Eva… aku cinta sama kamu.”
Deg.
Jantung Eva seolah berhenti berdetak selama satu detik mendengar kalimat deklarasi cinta yang begitu langsung dan intim dari Winar. Winar perlahan menjauhkan kembali wajahnya, menatap langsung ke dalam sepasang mata Eva dengan tatapan mata yang mengunci seluruh kesadaran gadis itu.
Eva yang ditatap seperti itu mendadak kehilangan seluruh perbendaharaan katanya. Dia tidak bisa menjawab lewat kata-kata. Eva reflek menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah sandal yang dipakainya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang dalam sekejap berubah menjadi merona merah padam, sehangat bara api. Di tengah rasa malu dan bahagia yang bercampur aduk itu, tanpa disadari oleh dirinya sendiri, merespon secara tiba-tiba jemari tangan Eva bergerak meremas balik jemari tangan Winar yang sedang menggenggamnya. Terasa sangat hangat, kokoh, dan memberikan rasa aman yang luar biasa.
Eva merasa seluruh situasi malam ini bagaikan sebuah mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Hatinya mendadak berbunga-bunga dengan sangat indahnya, memancarkan rasa bahagia luar biasa yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.
Winar yang merasakan remasan balik di jemarinya dan melihat reaksi malu-malu Eva yang penuh arti itu, tersenyum dengan sangat puas. Dia tahu perasaannya telah bersambut dengan sempurna.
“Aku pulang ya, Va. Selamat istirahat,” pamit Winar sekali lagi dengan lembut. Dia melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan, lalu melangkah keluar dari pagar rumah Eva, berjalan menyusuri gang menuju rumahnya sendiri dengan langkah kaki yang terasa sangat ringan.
Malam itu, di kamar mereka masing-masing yang hanya dibatasi oleh beberapa dinding bangunan tetangga, Winar dan Eva melewati malam dengan hati yang dipenuhi oleh letupan kebahagiaan. Tidur mereka malam itu menjadi tidur yang paling nyenyak, ditemani oleh mimpi-mimpi paling indah yang pernah hadir dalam hidup mereka.
Keesokan paginya, hari Selasa pagi yang cerah, mentari terbit memancarkan sinar keemasannya, mengusir sisa-sisa kegelapan malam di langit ibu kota. Meskipun bagi sebagian besar warga Jakarta, pagi hari adalah waktu memulai kegiatan dari rutinitas kerja yang padat dan melelahkan, bagi Eva hari ini terasa sangat berbeda.
Sesuai dengan kebijakan dari kepala sekolah tempatnya mengajar, karena Eva baru saja keluar dari rumah sakit setelah opname, dia diberikan dispensasi masa liburan dan pemulihan kesehatan di rumah selama satu minggu ke depan sebelum kembali aktif mengajar di kelas. Jadi, praktis pagi hari ini Eva tidak perlu terburu-buru bersiap pergi ke sekolah.
Sekitar pukul 08.00 WIB pagi, Eva sedang duduk santai di ruang keluarga rumahnya, bersandar di sofa empuk di samping mamanya yang sedang menonton TV. Di atas meja di depannya, sudah tersedia segelas air putih hangat dan bubur ayam buatan ibunya yang sudah habis disantap setengah.
Tiba-tiba, sebuah nada dering telepon berbunyi nyaring dari ponsel baru milik Eva yang baru saja selesai diaktifkan kembali nomornya oleh Indra pagi-pagi sekali dengan menggunakan perangkat cadangan. Eva melihat layar ponselnya, dan sebuah nama tertera di sana, membuat jantungnya kembali berdegup kencang: Bang Winar.
Eva dengan cepat menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Halo, Assalamualaikum, Bang Winar,” sapa Eva dengan suara yang sudah jauh lebih bertenaga dan ceria dibandingkan kemarin.
“Waalaikumussalam. Pagi, Eva,” sahut suara bariton Winar dari seberang telepon. Terdengar suara latar belakang sayup-sayup bising kendaraan, menandakan Winar sepertinya sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju kantornya. “Gimana kondisi kamu pagi ini? Udah sarapan belum?”
“Alhamdulillah udah enakan, Bang. Ini lagi santai sama mama di ruang keluarga, baru aja selesai makan bubur,” jawab Eva jujur, matanya melirik ke arah mamanya yang tampak meliriknya dengan senyum penuh selidik yang menggoda. Segera mama Eva mengecilkan volume TV agar Eva tidak terganggu menjawab telpon dari Winar.
“Bagus kalau gitu. Jangan lupa ya, obat dari dokter yang di dalam plastik putih kemarin harus langsung diminum setelah makan ini. Harus dihabisin biar kuman tipesnya bener-bener hilang dan kamu bisa cepet sembuh total,” kata Winar dengan nada suara penuh perhatian yang protektif, khas seorang pria yang sangat menjaga wanitanya.
“Iya, Bang Winar … eh, maksudnya iya Bang, ini mau langsung diminum juga baru mau diminum kok obatnya,” jawab Eva terbata-bata. Kok jadi gugup gini ya. Wajahnya mendadak kembali memerah karena malu dan gugup mengingat kejadian semalam.
Winar di seberang telepon terdengar terkekeh pelan menikmati kepolosan Eva, sebelum nada suaranya mendadak berubah menjadi lebih stabil, tenang, namun penuh dengan aura keseriusan yang sangat tinggi.
“Eva… dengerin aku baik-baik ya,” ucap Winar, nadanya kali ini membuat Eva secara refleks menegakkan posisi duduknya di sofa. “Kamu istirahat yang bener minggu ini, jangan mikirin kerjaan dulu. Jangan pergi kemana-mana. Fokus buat mulihin stamina kamu. Karena… aku mau kasih tahu soal hadiah kedua yang semalam aku janjiin ke kamu.”
Eva menahan napasnya sejenak. “Hadiah apa, Bang?”
“Hari Sabtu besok… jangan kemana-mana. Jangan bikin janji dengan teman ya, Va. Aku akan memberikan hadiah yang aku janjikan semalam ke kamu . Mama , papa sama seluruh keluarga besarku bakal datang secara resmi kerumah kamu. Aku akan melamar kamu di depan mama dan keluarga kamu. ” ucap Winar dengan satu tarikan napas yang sangat tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Cincin berlian yang dia beli ketika bertugas di Kalimantan sudah disiapkan untuk Eva. Akan dia berikan saat lamaran dan sudah dia bicarakan dengan keluarga dan semua menyetujuinya.
Deg.
Mendengar kalimat sakral itu meluncur langsung dari bibir Winar, ponsel di tangan Eva hampir saja terlepas karena rasa terkejut yang luar biasa luar, biasa mengguncang kesadarannya. Kalimat itu bukan sekadar pernyataan cinta biasa; itu adalah sebuah komitmen tertinggi dari seorang pria sejati untuk membawa hubungan mereka menuju gerbang pernikahan yang suci.
Mamanya Eva yang duduk bersebelahan di sofa dan sejak tadi diam-diam menguping pembicaraan putrinya karena volume speaker ponsel Eva yang agak keras, seketika langsung menghentikan aktivitas merajutnya. Sepasang mata wanita tua itu membelalak kaget, mulutnya sedikit terbuka karena tidak menyangka bahwa kejutan sebesar ini akan datang hal ini secepat ini pasca kepulangan Winar dari Kalimantan. Namun, keterkejutan itu dalam hitungan detik langsung meleleh, digantikan oleh semburat rona wajah yang memancarkan rasa bahagia dan haru yang luar biasa luar biasa mendalam. Ibunda Eva langsung menggenggam lengan putrinya, mengangguk-angguk dengan air mata kebahagiaan yang mulai menggenang di sudut matanya, memberikan restu mutlak bahkan sebelum kata persetujuan itu diucapkan secara resmi. Akhirnya…Takdir jodoh untuk putrinya pun tiba.
Di dalam ruangan yang hangat oleh sinar mentari pagi itu, di bawah tatapan penuh kebahagiaan dari ibundanya, Eva mendekatkan kembali ponselnya ke bibir, air mata haru yang bahagia kini luruh membasahi pipinya yang kini sudah kembali merona penuh kehidupan.
“Iya, Bang Winar… aku… aku tunggu Abang dan keluarga hari Sabtu besok di rumah,” jawab Eva dengan suara bergetar penuh kebahagiaan yang sempurna, menutup awal dari sebuah perjalanan panjang merajut masa depan bersama pria pilihan hatinya.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 10 – Arah pulang Menuju Hatimu ( Tamat )
Sorry, comment are closed for this post.