BAB 11: TEH UNTUK MURID YANG NILAINYA DISEMBUNYIKAN
Resep: Teh untuk Murid Akademi yang Dianggap Biasa
Hari keempat Lumi menjaga gubuk.
Hari itu siang. Kabut Tanah Fajar tipis. Aroma Veylara turun ke tanah.
Kriiieekkk…
Yang masuk seorang anak laki-laki. Berusia 12 tahun. Jubah Akademi Biru Langit masih dipakai. Ia membawa gulungan perkamen bersegel emas. Tangannya gemetar.
“Duduk,” kata Tio. “Mau ramuan apa?”
Anak itu duduk di ujung kursi. “Air dari mata air saja.”
Seraphina menyalakan lampu kristal. “Namanya siapa?”
“Derek,” jawabnya pelan. Matanya melihat lantai kayu yang diukir rune.
Buku kayu di meja terbuka di halaman 11. Kosong. Tinta menunggu.
Veylara di luar berdesir. Akarnya merambat pelan ke kaki Derek, seperti sedang mengetesnya.
Lumi menata cangkir tanah liat. “Baru pulang Ujian Tengah Semester Akademi, ya?”
Derek mengangguk. “Baru pengumuman di Aula Cahaya.”
Alistair dari dapur bertanya: “Hasilnya gimana?”
Derek diem lama. Ia membuka gulungan. Cahaya keemasan keluar.
“Ranking 1. Semua ujian sihir dasar lulus sempurna. Sihir Api, Ramuan, Teori Rune.”
Hening.
Seraphina berhenti mengaduk. Tio berhenti mengasah pisau rune.
“Terus?” tanya Lumi lembut. “Guru Pembimbing melafalkan mantra apa?”
Derek tertawa pahit.
“Pak Guru cuma bilang Valen’tir. Lumayan. Lalu ia sibuk dengan murid lain yang gagal pakai mantra Sanare atau mantra pemulihan.”
Gulungan di tangan Derek sudah kusut. Ada segel emas Akademi Tanah Fajar. Tapi tidak ada yang menyentuhnya.
Lumi menyeduh teh. Daun melati dari Veylara. Madu lebah hutan. Seiris kulit jeruk ajaib.
“Ini teh untukmu,” kata Lumi sambil meletakkan cangkir di depan Derek.
Derek nengok. “Untukku?”
“Untuk murid yang sudah bekerja keras,” kata Lumi. “Biarpun tidak ada yang melafalkan Aethel’ran, Mantra Penghargaan.”
Tegukan pertama. Mata Derek langsung memerah.
“Aku latihan mantra Ignis Aeternum, Nyala Abadi sampai jam satu malam,” bisiknya. “Aku kira kalau aku ranking 1, Ayah akan mengucapkan Sol’vera, Aku Bangga.”
Buku bergetar. Tinta keemasan muncul pelan, menulis sendiri.
Resep 11: Teh untuk Murid yang Nilainya Disembunyikan
Bahan: Air mata air jam 2 siang, daun melati yang mekar saat ujian, madu dari lebah Tanah Fajar, satu kalimat mantra: Vey’lara en’to = Aku melihat usahamu.
Cara: Seduh sambil mendengarkan tanpa memotong. Jangan bandingkan dengan murid lain. Minum sampai habis.
Catatan: Sihir tidak tumbuh dari pujian. Sihir tumbuh dari “Vey’lara” = Dilihat. Benar-benar dilihat dengan mata hati.
Di bawahnya coretan kecil, tinta abu-abu:
Untuk Derek dan semua murid yang cahayanya dianggap biasa.
– Nenek Ysra.
Seraphina duduk di samping Derek. “Derek, boleh aku membaca gulungan itu?”
Derek menyodorkan. Tangannya gemetar.
Seraphina buka. Ignis: Perfectus. Sanare: Perfectus. Rune: Perfectus…
Dia menatap Derek. Menaruh tangan di kepalanya, lalu berbisik lembut.
“Vey’lara en’to. Sol’vera. Aku melihat usahamu. Aku bangga.”
Derek langsung menutup muka. Ia menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena lega.
“Aku lelah, Bu…” isaknya. “Lelah harus selalu kuat dengan mantra Lacrimare Vincula. Menahan Tangis.”
Tio menyodorkan selendang abu-abu. “Tidak apa-apa menangis. Di Tanah Fajar kita tidak memakai Lacrimare Vincula.”
Alistair mengambil gulungan itu. Dia tempel di dinding gubuk pakai paku kristal bercahaya.
“Nih. Biar semua tamu yang masuk melihat. Derek. Primus Discipulus. Murid Ranking 1 di Akademi.”
Derek mengangkat kepala. Kaget. “Boleh ditempel di sini?”
“Boleh,” kata Lumi. “Ini juga Domus Academiae, Rumah Akademi. Rumah untuk semua cahaya.”
Langit berubah Sore. Kabut bergerak.
Seorang pria berjubah ungu masuk. Aura guru pembimbing.
“Derek! Cur es hic. Mengapa di sini?!”
“Pak Pembimbing,” ucap Derek lirih.
Guru itu melihat gulungan di dinding. Melihat mata Derek yang bengkak.
Dia langsung menunduk. Membungkuk.
“Mea culpa… Non dixi Vey’lara en’to. Maafkan aku… Aku tidak mengucapkan ‘Aku Melihatmu’.”
Derek terdiam.
“Aku hanya ingin Audiri. Didengar, Pak.”
Sebelum pulang, guru itu menunduk ke arah Lumi.
“Gratias. Pro tea. Terima kasih. Untuk tehnya.”
Lumi tersenyum.
“Teh Yang diseduh dengan sihir Audire Cor, Mendengarkan dengan hati.”
Setelah mereka pergi, Lumi menanam satu bibit di kebun Akademi.
“Ini Pohon Luminara,” kata Tio sambil menabur bubuk cahaya. “Ut meminerit. Biar dia ingat, cahayanya tidak akan padam selama ada Vey’lara.”
Malamnya Lumi menulis di buku:
Hari ini aku belajar. Luka paling sakit di Tanah Fajar bukan ‘Maleficia’ atau Kutukan. Tapi diabaikan saat ‘Lux Tua’, Cahayamu paling terang.
Kriiieekkk…
Pintu berderit lagi.
Angin membawa suara anak kecil.
“Permisi… boleh minta diajari mantra Fortis atau Mantra Keberanian?”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 11 dari novel Rahasia buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.