Dunia Imajinasi itu luas hingga tak ada ujungnya. Dunia ini adalah kumpulan pemikiran manusia, dimana mereka tuangkan dalam tulisan atau gambar. Kisah kali ini datang dari satu kelompok penjelajah. Seperti apa sih mereka, yuk kita simak kelanjutannya.
Penjelajah Imajinasi, mereka bertugas mencari keunikan tiap lokasi di dunia imajinasi yang terus bertambah seiring waktu. Mereka ada tiga makhluk, Jingga Mawar dari negara Bunga, Kerikil Bulan Merah dari desa Kerikil Merah, dan Domi Gamelan dari kota Gamelan Jawa. Mereka bertiga sudah lama menjelajah dan dikenal sebagai Sang Penjelajah. Akan tetapi, kisah ini bukan tentang penjelajahan mereka, melainkan mengapa mereka dikenal sebagai Penjelajah Imajinasi.
Ada sebuah tragedi besar di dunia imajinasi, yaitu gempa hebat yang mengguncang sebagian dunia imajinasi banyak retakan dan kehancuran di daerah yang terkena gempa. Banyak yang panik, banyak juga yang saling membantu, dan tidak sedikit korban yang berjatuhan. Seorang relawan, Domi Gamelan, tertimpa reruntuhan dari sebuah gedung.
“Tolong…. Tolong…” Domi kesakitan meminta tolong.
Para penyelamat menghampirinya dan menolongnya, tetapi kaki kiri Domi terpaksa harus diamputasi karena tulangnya hancur tertimpa reruntuhan.
Domi Gamelan hanya bisa bersedih, hingga Prof. Dust datang dan menawarkan kesembuhan total dengan menggunakan kaki palsu dari kayu Jati Hitam yang ditempa khusus oleh pengrajin Metal Orange serta diberikan sihir Seranuke dari penyihir Hujan Gemuruh Ungu.
Domi Gamelan menyetujuinya, tetapi ada persyaratannya.
“Persyaratannya apa?”
Persyaratannya adalah ia harus bergabung pada tim khusus untuk menjelajah dan membawa peralatan yang mungkin bisa berguna untuk menolong orang, serta meninggalkan semua kemewahan baik uang maupun kekayaan lainnya.
Domi Gamelan merupakan anak dari pengusaha terkenal di bidang kain sutra angin. Dia memang memiliki keinginan untuk menjelajah ke dunia luar dan dia pun menyetujuinya.
Prof. Dust memperkenalkan salah satu anak didik yang ditemukannya. Kerikil Bulan Merah dari desa Kerikil Merah adalah yatim piatu, kedua orang tuanya terbunuh karena pembantaian perampokan di rumahnya. Mereka pun berkenalan.
Keesokan harinya, Domi dan Kerikil Bulan pergi untuk menjelajah dan membantu orang dan makhluk yang dijumpainya. Kejadian gempa menimbulkan banyak kelaparan sehingga mereka ingin sekali membantu, tetapi yang mereka punya hanyalah alat dari Prof. Dust dan tidak ada alat yang bisa membantu menciptakan makanan.
Mereka berdua sedih tidak bisa menolong dan kembali melanjutkan perjalanan. Seminggu lamanya mereka melakukan perjalanan dan ada keanehan di sebuah desa.
“Ada apa ini?”
Mereka berdua heran orang dengan makhluk yang berlarian membawa gumpalan putih yang besar. Jawab mereka, “Kami diberi makanan oleh penolong kami.”
Mereka berdua menghampiri pusat dari keramaian itu. Mereka bertemu satu makhluk bernama Jingga Mawar dari negara Bunga. Mereka berdua bertanya apa gumpalan itu, tapi Jingga Mawar hanya mengetahui itu adalah makanan.
“Domi.. Kita kan ada alat pengenal benda…”
“Oh… Iya…”
Alat tersebut diarahkan pada gumpalan itu dan terbilang “satu butir nasi” mereka bertiga baru mengetahui bahwa itu nasi. Malam telah tiba mereka bertiga berdiskusi untuk membantu korban bencana lainnya, supaya bencana kelaparan bisa mereda.
“Domi dan Kerikil… Bolehkah aku gabung ke tim jelajah kalian?”
Mereka pun menyetujuinya.
Jingga Mawar menunjukkan sebuah gunung yang tinggi dan itu adalah nasi.
“Domi… Bukannya kita punya alat pemanggil itu?”
Alat yang dimaksud adalah sebuah terompet Elang Macan berwarna hitam dengan ukiran kayu putih yang berfungsi memanggil pasukan langit, pasukan itu bisa diminta tolong untuk melakukan apapun selama masih dalam situasi aman. Mereka setuju dan Domi Gamelan meniup terompet itu, muncul dari langit sebanyak dari sepuluh ribu pasukan di kedua pihak, Doni meminta tolong antarkan satu butir nasi dari gunung nasi pada setiap makhluk di penjuru dunia yang membutuhkan makanan.
Langit dipenuhi dengan kedua pasukan itu. Mereka mempertanyakan pada makhluk sekitar siapa yang mengirimkan satu butir nasi raksasa. Disampaikan oleh pasukan “Penjelajah Imajinasi” dari sana mulai tersebar nama penjelajah Imajinasi yang dikenal sebagai pemberi makan dari gunung Nasi.
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: Bab 11. Penjelajah dari Gunung Nasi
Sorry, comment are closed for this post.