BAB 12: RAMUAN UNTUK HATI YANG GEMETAR
Hari ke-5 Lumi jaga gubuk.
Malam. Kabut turun.
Kriiieekkk…
Yang masuk anak kecil. Berusia sembilan tahun. Ia mengenakan jubah Akademi Kebesaran. Rambutnya basah. Di lehernya ada goresan rune yang pudar.
“Duduk,” kata Lumi pelan. “Mau ramuan apa?”
Anak itu menggigil. “Aku… aku disuruh Nenek Ysra.”
Hening.
Seraphina, Tio, Alistair langsung menengok.
“Lewat mimpi,” lanjut anak itu berbisik. “Nenek bilang… kesini kalau mau belajar Fortis.”
Buku di meja terbuka di halaman 12. Kosong.
Veylara di luar berdesir. Akarnya melingkar melindungi kaki anak itu.
Lumi berjongkok. “Namanya siapa?”
“El,” jawabnya. Suaranya hampir tidak kedengaran. “Murid tahun pertama Akademi.”
Alistair menyodorkan selimut. “Kenapa mau belajar Mantra Keberanian?”
El menunduk. Bahunya naik turun.
“Karena… di asrama. Mereka bilang aku lemah. Aku nggak bisa mantra Ignis. Lalu, mereka… mereka mencoret jubahku.”
Dia menarik lengan jubah. Ada coretan arang: Gagal.
Seraphina mengepal. Tio mendesis pelan.
Lumi menyeduh teh. Jahe. Madu. Daun Veylara muda.
“Ini teh untukmu,” kata Lumi. “Buat hati yang gemetar.”
El memegang cangkir dengan kedua tangan.
“Aku takut, Bu. Kalau aku pake Fortis… terus tetap kalah, gimana?”
Buku bergetar. Tinta perak muncul.
Resep 12: Ramuan untuk Hati yang Gemetar
Bahan: Air hangat dari keberanian kecil, jahe untuk menghangatkan, madu untuk manis yang berani, satu kalimat mantra: Ego sum fortis = Aku berani
Cara: Minum pelan. Ucapkan mantra walau suara gemetar. Keberanian bukan tidak takut. Keberanian adalah maju walau takut.
Catatan: Nenek Ysra mengirimmu ke sini. Karena keberanian dimulai dari diakui.
Di bawahnya coretan:
Untuk El. Dan semua yang dipaksa diam.
– Nenek Ysra
Lumi duduk di depan El. “Boleh aku ajarin?”
El mengangguk pelan.
Lumi pegang tangan El. “Ulangi. Ego… sum… fortis!“
“Ego… sum… fortis,” bisik El. Gemetar.
“Lebih keras,” kata Tio. “Di Tanah Fajar kita tidak pakai Lacrimare Vincula.“
El menarik napas. “EGO SUM FORTIS!”
Cangkirnya bergetar. Cahaya kecil keluar dari dada El.
El terkejut. “Itu… itu aku?”
“Iya,” kata Seraphina sambil senyum. “Itu Lux Tua. Cahayamu.”
El menangis. Tapi kali ini bukan takut.
“Aku… aku berani bilang ke guru besok.”
Alistair menepuk kepala El. “Bagus.”
“Dan kalau mereka masih ganggu, bilang kepada kami. Domus Academiae melindungi.”
Jam 11 malam. El pamit. Sebelum pergi, dia memeluk Lumi erat.
“Gratias, Bu Lumi. Pro Fortis.”
Setelah El pergi, Lumi menanam 1 bibit.
“Ini Pohon Corfortis,” kata Lumi. “Pohon untuk semua hati yang belajar berani.”
Tio menatap kabut. “Nenek Ysra benar. Dia kirim yang paling butuh.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Kadang mantra Fortis bukan untuk melawan. Tapi untuk berani tetap berdiri.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… ada surat untuk Ayah…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 12 dari novel rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.