“Ma… Lihat hasil karyaku… Dapat nilai terbaik..”
“Apa ini??! Gak guna!! Pikirkan sekolahmu! Bukan barang rongsokan ini..”
Denny merasa sedih karena hasil karyanya tidak dianggap oleh ibu kandungnya yang suka mabuk sejak ayahnya meninggal. Denny yang meneruskan dagang sayuran ayahnya di pasar. Hampir tiap hari Denny tertekan dengan keadaan ibunya yang kerap memukulnya. Hasil karya keramiknya di sekolah selalu mendapat pujian dari berbagai kalangan, bahkan dijuluki seniman jenius. Denny berusia sembilan tahun, tapi terpaksa menjadi tulang punggung keluarga sebab dia adalah anak satu-satunya.
Keesokan harinya, Denny terbangun karena terkejut dengan keributan yang terjadi di lantai bawah.
“Hei!! Aku udah bayar kamu… Sekarang berikan yang aku minta.. Dasar ga berguna!!” Seorang pria sedang menendang ibunya dengan kejam. Melihat kejadian itu, tentu Denny tidak terima dan segera memukul pria itu dengan pemukul baseball. Pria itu sempat terjatuh dan bangkit lalu menendang keras Denny hingga kepalanya terkena tembok dan pingsan. Pria itu langsung kabur, sedangkan ibunya segera menghampiri Denny dan berteriak minta tolong. Orang-orang di sekitar langsung membawa Denny ke rumah sakit.
“Denny.. Denny… Maafin Mama.. Mama jahat sama Denny… Denny, Mama janji.. Bila dirimu sadar dan pulih.. Mama akan menjadi Mama yang terbaik buat Denny… Maafin Mama….”
Ibunya menyesal akan semua perbuatannya, tapi Denny masih terbaring koma. Selama Denny masih di rumah sakit, ibunya berusaha menjadi ibu yang baik. Perlahan rokok ditinggalkan, minuman beralkohol dikurangi dan banyak berolahraga. Ibunya bekerja meneruskan dagang sayur di pasar, banyak yang memberikan bantuan dana untuk Denny.
Seminggu Denny masih dalam keadaan koma, tiap hari ibunya berdoa di samping Denny. Air mata telah habis untuk dikeluarkan lagi dan tinggal ketegaran untuk menjadi seorang ibu yang terbaik.
“Heh… Kamu lupa dengan janjimu.. Awas kalo kamu bohong..” Pria itu muncul di hadapan ibunya.
“Aku gak akan menuruti dirimu.. Ini ambil uangmu.. Aku ga butuh pecundang sepertimu..”
Pria itu marah sehingga ibunya berteriak.
“Tolong… Tolong… Dia yang udah buat anakku celaka.. Tolong!!!”
Mendengar teriakan itu, orang-orang orang di rumah sakit langsung menangkap pria itu.
“Awas kamu… Nisi…….!”
Sebulan telah berlalu dan Denny masih koma. Ibunya tetap berjuang untuk biaya rumah sakit anaknya.
“uhuk.. Uhuk….”
“Nisi.. Nisi… Woiii tolong….”
Ibunya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
“Ibu… Sudah berapa lama ibu alami batuk?” Dokter bertanya dengan rinci dan hasilnya ibunya mengidap kanker stadium dua dan harus dirawat.
“Dok… Udah liat anak saya kan? Maaf dok.. Dari pada biaya untuk diriku.. Lebih baik untuk anakku… Maaf..” Tekad seorang ibu sangatlah tinggi dan tidak bisa diubah lagi.
Setahun telah berlalu dan Denny masih dalam keadaan koma. Biaya didapatkan dari pemerintah dan teman-teman kerja ibunya di pasar. Ibunya pergi ke kamar Denny, begitu banyak kerajinan yang hancur karena ibunya.
“Denny… Mama.. Kangen Denny… Maaf….”
Tiba-tiba ia teringat pada karya terbaik yang pernah ditunjukkan Denny, lalu mulai mencarinya di kamar. Karya itu adalah sebuah mangkuk ramen yang cantik dengan ukiran-ukiran luar biasa. Denny memang sangat menyukai ramen dan sering menggambar mangkuk ramen. Melihat kecintaan putranya pada hal itu, sang ibu pun bertekad untuk belajar membuat kerajinan keramik.
Tiga tahun berlalu dan Denny dinyatakan sadar, tanpa ragu ibunya berlari ke rumah sakit. Akan tetapi sebelum sampai di rumah sakit ibunya bertemu dengan pria jahat itu.
“Tolong…. Tolong….”
Orang-orang langsung menghampirinya, tetapi ibunya tiba-tiba terjatuh dengan sebuah tusukan pisau pada perutnya.
“Denny.. Selamat ulang tahun….” itu kata terakhir yang diucapkan oleh ibunya.
“Mama… Mama…!! Di mana Mama…?” teriak Denny panik.
Denny syok karena baru saja terbangun dari koma yang telah membuatnya tertidur selama tiga tahun. Seorang dokter datang menghampirinya dan hanya memberikan sebuah kado. Setelah dibuka, di dalamnya terdapat sebuah mangkuk ramen keramik buatan ibunya serta sepucuk surat yang bertuliskan:
“Denny… Mama minta maaf… Tahu tidak, Denny? Mama sudah tidak merokok dan minum-minum lagi. Denny pasti senang mendengarnya…”
“Denny… Maafkan Mama karena sudah menjadi ibu yang jahat selama lebih dari dua tahun. Denny sudah banyak menderita selama ini. Maafkan Mama…”
“Denny… Ini adalah hasil karya terbaik yang pernah Mama buat untuk Denny. Mama berharap suatu hari nanti kamu menjadi seniman keramik yang hebat…”
“Selamat ulang tahun, sayangku. Mama sayang kamu.”
“Dokter… Mama mana? Aku mau bilang terima kasih… Mama di mana, Dok…?”
Dokter dan semua orang di ruangan itu hanya menundukkan kepala. Mereka kemudian mengantarkan Denny ke tempat ibunya berada.
“Ma… Ma… Bangun, Ma… Denny sudah di sini…”
Denny terus menangis sambil mengguncang tubuh ibunya yang telah tiada.
Di Dunia Imajinasi, semua tempat terbentuk dari imajinasi yang terhapus, kenangan yang terlupakan, atau perasaan yang begitu kuat hingga meninggalkan jejak. Tiga tahun yang lalu, lahirlah sebuah tempat baru yang diberi nama Sirkus Air Mata.
Konon, di tempat itu terdapat sebuah Mangkuk Ramalan. Setiap satu tetes air mata yang jatuh dan menyentuh mangkuk tersebut akan memunculkan sebuah kisah kesedihan dalam bentuk hologram air. Kisah itu kemudian disebarkan ke seluruh penjuru Dunia Imajinasi sebagai dongeng baru bagi para makhluk yang tinggal di sana.
Sejak saat itu, berdirilah sebuah tempat bernama Sirkus Air Mata, sebuah tempat yang menyimpan dan menampilkan sejarah kesedihan dari dunia nyata.
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: Bab 12. Sirkus Air Mata
Sorry, comment are closed for this post.